pangandaran
WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
SHOW COLUMNS FROM wp_tla_data LIKE 'post_id'
WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
ALTER TABLE `wp_tla_data` ADD `post_id` BIGINT( 20 ) UNSIGNED NOT NULL DEFAULT '0' AFTER `id` ;
WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
ALTER TABLE `wp_tla_data` ADD INDEX ( `post_id` ) ;
WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
SELECT * FROM wp_tla_data
Liburan lalu kita jalan melulu. nggak dari awal liburan banget juga memang, karena Abang baru libur tanggal 25. Jadi beberapa hari pertama Naila di rumah saja, dan saya sibuk ‘ngempesin badan’ biar nggak kebangetan gendutnya waktu liburan nanti. Kita ke Pangandaran tanggal 26 sampai 28, lalu ke Bogor tanggal 30, ke Jakarta tanggal 1, dan kembali ke Bandung tanggal 3.
Seperti Nita juga, saya sempat khawatir nggak jadi liburan. Mau berangkat ke Pangandaran tgl 26 pagi, eh tanggal 24 malam Naila agak panas badannya. Alhamdulillah setelah diberi parasetamol dan dikompres, nggak naik2 lagi suhunya.
Day 1
Tanggal 26 kita berangkat jam 7 pagi, supaya jalan belum terlalu penuh. Alhamdulillaah lancar. Kita sempat berhenti sekali di SPBU sebelum Ciawi karena Naila mengeluh pusing. Maklum, antara Nagrek sampai Ciawi kan jalannya belok2 seperti rambut saya. Tapi syukur, kita nggak sampai muntah walaupun nggak ada yang makan obat anti mabuk.
Seperti waktu saya kecil, Naila nggak tidur di jalan. Dia sibuk memperhatikan, ini kota apa. Lalu saya menunjukkan tonggak batu putih (”pal”) di sisi jalan yang fungsinya menunjukkan jarak ke kota berikutnya. She was very excited.
Sampai di Pangandaran jam 11.30. Setelah bayar tiket masuk sebesar Rp.13.500,- untuk seisi mobil, kita langsung menuju hotel Mustika Ratu di Jalan Kalen Buaya. Kamarnya masih dibersihkan, jadi belum bisa check-in. Ya sudah, kebetulan jam makan siang. Kita ke daerah Pantai Timur, agak ke utara ada kumpulan resto seafood. Kita bisa memilih seafood mentahnya sendiri, ditimbang, lalu tinggal minta mau dimasak apa. Harga seafoodnya mah wajar, tapi kelapa mudanya nggak sopan! Lain kali kalau mau minum kelapa muda mending di warung2 aja. Siang ini kita makan bawal bakar, kerang simping saus tiram, dan ca kangkung.
Hotel kita ini letaknya nggak di tepi pantai, tapi lewat pintu belakangnya kita bisa mencapai pantai hanya dengan 3 menit jalan kaki. Rate-nya nggak terlalu mahal untuk hotel sekelasnya: saat musim liburan Tahun Baru yang lalu, untuk kamar standar yang dilengkapi AC dan TV hanya 400 ribu rupiah saja. Oke kan?
Kawasan Pangandaran ini bentuknya seperti semenanjung yang diapit dua teluk. Mirip2 bagian selatan Pulau Bali deh! Kalau di Bali ada Kuta di sisi barat semenanjung, di Pangandaran ada Pantai Barat. Di timurnya, kalau di Bali ada Sanur, di sini ada -logically- Pantai Timur. Di ujung selatan semenanjung terdapat Cagar Alam Pananjung.

Setelah istirahat di hotel, shalat, dll, kita ke Pantai Barat. Tujuan utama: main air! Nggak seperti waktu ke Anyer tahun 2007, atau ke Sikuai tahun 2008, kali ini Naila jauh lebih berani main dengan air laut. Pantainya sendiri walaupun ramai (thus agak kotor, hiks), tetap menyenangkan, lebar mirip Kuta cuma pasirnya hitam. Ada kawasan yang aman untuk berenang dan ada juga kawasan khusus untuk surfing. Bedanya di sini banyak kapal2 yang menawarkan wisata perahu ke Pasir Putih (sekitar 30 menit berlayar), atau bahkan mengelilingi semenanjung. Kios2nya juga tertata rapih. Pedagang2nya terbilang sopan dan ramah. Walaupun sempat dihantam tsunami tahun 2006 yang mengakibatkan kerusakan cukup parah, Pangandaran sanggup bangkit bahkan lebih baik daripada sebelum musibah.
Demi keamanan, pantai ini dilengkapi menara2 dan tim pengawas pantai. Dari menara2 itu selalu diumumkan bahwa pantai hanya dibuka untuk berenang dari jam 6 pagi sampai jam 5 sore, karena ombak di luar jam2 tersebut relatif besar dan berbahaya. By the way, saya baru tahu kalau pengawas pantai tuh punya nama keren: Badan Penyelamat Wisata Tirta (Balawista).
Habis maghrib kita cari makan. Biar nggak bosan, kita makan chinese food di Jalan Kidang Pananjung. Selesai makan Naila udah tepar, ngantuk. Ternyata biological clock-nya nggak berubah walaupun sedang liburan. Jam 19.30 sudah masuk ke standby mode. Jadi ya nggak ada deh yang namanya jalan2 menikmati malam. “Untung”nya cuaca mendukung: HUJAN DERAS!
Day 2
Paginya, dalam keadaan belum mandi dan belum sarapan, kita nyewa ATV. Karena musim libur jadi rada mahalan dikit nih, ATV ukuran besar yang muat 3 orang harganya jadi 150 ribu per jam. Kita jalan2 ke Pantai Timur. Berbeda dengan Pantai Barat, di Pantai Timur nggak boleh berenang. Tapi di sini tersedia olahraga air seperti banana boat, dan juga pelabuhan nelayan. Di Pantai Timur juga banyak warung2 yang menyediakan makanan untuk sarapan seperti kupat tahu atau bubur ayam, terutama bagi wisatawan yang menginap di pondokan2 yang nggak menyediakan makan pagi.
Pagi itu ada nelayan2 yang baru datang dari laut. Sedih deh, tangkapannya nggak banyak. Nggak kebayang ya, berjam2 di tengah laut, dalam hujan dan ombak besar, tapi cuma dapat ikan kecil2 yang sepertinya kalau dilelang juga nggak seberapa.

Dari sana kita berkeliling2 lagi. Lucu juga, ATVnya bisa dipakai menyusuri Pantai Barat, jalan di pasir gitu. Dan ternyata pagi2 begini pantai sudah mirip cendol aja! Kita juga sempat lihat2 kaos2 souvenir. Kita bertiga beli kaos barong: Abang warna biru, saya warna pink, Naila warna kuning. Kata Naila, kita jadi barong family, hehe.
Highlight of the trip buat saya adalah: Green Canyon! Sehabis mandi dan sarapan, kita langsung menuju ke sana. Sengaja pagi2, karena kalau makin siang bakal makin penuh dan antri. Letak objek wisata ini sekitar 30 km ke arah barat, melewati kota kecamatan Parigi dan Cijulang. Untuk sampai ke Green Canyon itu sendiri, kita harus naik perahu dari Dermaga Ciseureuh. Bayar 75 ribu rupiah per perahu yang bisa muat sampai 5 orang, lalu dapat nomor antrian. Setiap perahu diawaki satu “pengemudi” merangkap guide, dan satu juru mesin. Alhamdulillaah, pagi itu jam 8.30, kita bisa langsung naik perahu menyusuri Sungai Cijulang ke arah hulu.

Air sungai tampak hijau, dengan tepian yang sesekali bertebing. Airnya tenang yang menandakan sungai cukup dalam. Konon dalamnya sekitar lima sampai tujuh meteran, dan ada buaya yang hidup di sini. Perjalanan dengan perahu memakan waktu kira2 20 menit, dan sampailah kita di canyon yang menyerupai terowongan atau goa. Inilah batas akhir perahu. Penduduk sekitar menyebut tempat ini Cukang Taneuh alias Jembatan Tanah. Memang bagian atas goa merupakan jalan setapak, sementara di dalam goa terdapat banyak stalagmit dan stalaktit. Dari kiri kanan tebing air menetes seperti tirai. Cantik sekali, walaupun kesannya agak misterius.
Kalau mau, di sini kita bisa turun dari perahu, baik sekedar berdiri di batu2 karang ataupun berenang ke arah hulu. Konon pemandangannya cantik, bisa berenang di Kolam Putri (semacam cekungan kecil), atau meloncat dari ketinggian Batu Payung. Untuk itu kena biaya tambahan sekitar seratus ribu rupiah. Guide di kapal kita akan memandu, dan barang2 bisa dititipkan di perahu yang dijaga juru mesin.
Karena sedang musim libur, ternyata ada beberapa pengemudi perahu yang belum terampil atau belum terbiasa menjalani rute ini pun “memaksakan diri” membawa perahu ke canyon. Beberapa perahu sempat nyangkut di antara bebatuan canyon. Maklum, tempatnya sempit, padahal perahu yang bercadik cukup lebar itu harus memutar arah. Sempat heboh juga waktu itu. Untungnya perahu kita dikemudikan orang yang sudah pengalaman.

Mantap bukan?
Dari sana kita menuju Pantai Batu Karas, sekitar 10 km ke arah barat daya. Pantai ini nggak terlalu luas, ada sedikit tebing2 karang, dan masih lebih alami. Di sini kita nggak boleh berenang, tapi pantai ini sangat cocok untuk surfing. Penginapan2 mulai banyak, dan juga ada surfing course bagi yang mau belajar.

Setelah ngemil2 roti dan perbekalan lain, kita kembali ke Pantai Timur Pangandaran untuk makan siang. Kali ini menunya seafood lagi: kepiting saus padang, tumis genjer, dan kerang simping saus tiram untuk Naila. Setelah istirahat sebentar, kita kembali menghabiskan sore di pantai sampai kita bertiga basah dan berpasir dari ujung rambut sampai ujung kaki.
Day 3
Huhuhu, hujaaaaan sejak pagi. Ya sud daripada berlama2 di Pangandaran yang basah dan kelabu, kita memutuskan untuk pulang pagi ini. Setelah sarapan, kita belanja oleh2: sawo, manggis, gula merah, ikan asin kecil2, dan jambal roti (sekitar 50 ribuan sekilonya). Sebaiknya beli ikan asin di kompleks pertokoan dekat Jalan Eyang Jagalautan, karena jambalnya benar2 kering dan nggak akan ber-ulat walaupun disimpan agak lama.
Perjalanan pulang ke Bandung alhamdulillaah juga lancar, walaupun relatif lebih ramai. Nggak macet sih, cuma sedikit oray-orayan alias uler2an dari sejak Jamanis sampai lepas Nagrek. Kita sempat berhenti makan siang dan shalat Zhuhur di resto Sunda Ponyo di Cicalengka, dan sampai di Bandung jam 14:30.
Popularitas: 3%


yanti
0 
13.1.2010 @ 22:52 



