uighur experience
WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
SHOW COLUMNS FROM wp_tla_data LIKE 'post_id'
WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
ALTER TABLE `wp_tla_data` ADD `post_id` BIGINT( 20 ) UNSIGNED NOT NULL DEFAULT '0' AFTER `id` ;
WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
ALTER TABLE `wp_tla_data` ADD INDEX ( `post_id` ) ;
WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
SELECT * FROM wp_tla_data
Malam minggu kemarin, dalam rangka pembubaran (?) panitia Indopendence Day 2009, saya mendapatkan pengalaman kuliner yang unik dan menarik. Acara makan malam yang sedianya akan diadakan di Watermark, sebuah resto buffet yang rada ‘wah’ di Glenelg, dipindahkan ke sebuah resto tak dikenal di 580 Port Road. Muti yang berbaik hati nebengin saya dan Sigit kemarin, sampai harus berputar dua kali untuk menemukan resto mungil ini. Memang nggak seorangpun dari 18 orang peserta pernah makan di sini sebelumnya selain Angga, pak ketua.
Resto ini bernama Uighur, nama yang mana sumpah mati nggak berarti apa2 buat saya. Saya dan Sigit sempat sepakat bahwa nama ini berbau Mongolia. Jangan tanya kenapa, cuma feeling kok. Dan ketika memasuki restoran ini, saya seperti dikelilingi beberapa tanda tanya kecil2 di atas kepala. Satu, resto ini memajang logo halal besar, yang artinya dimiliki oleh muslim. Dua, pemiliknya berwajah oriental. Tiga, hiasan2 di resto ini berbau Timur Tengah. Empat, nama2 masakan di daftar menu tuh aneh2 banget, tapi ditulis dalam abjad Latin dan China. Euh, halo?
Pulang dari sana, saya tanya Tante Wiki. Suku Uighur - atau tepatnya Uyghur - ternyata adalah bagian dari rumpun Turki yang tinggal di sisi paling barat China, dekat dengan Kazakhstan dan Mongolia. Seperti leluhurnya yang berasal dari Turki, mereka juga beragama Islam (Sunni). Merupakan bagian dari rute perdagangan yang tersohor sejak ribuan tahun yang lalu, Silk Road alias Jalan Sutra, sekarang kawasan itu menjadi bagian dari propinsi Xinjiang. Walaupun secara resmi mereka menggunakan bahasa Mandarin, mereka tetap melestarikan bahasa asli Uyghur. Jadi empat pertanyaan saya di atas tadi terjawab sudah.
Makanannya sendiri sangat terpengaruh masakan Timur Tengah. Saya sempat kaget ketika hidangan pertama datang. Kebab alias semacam sate, dengan tusuk sate sebesar pedang (hiperbola.com). Bahan makanan yang paling banyak terdapat dalam menu adalah daging kambing dan ayam. Bumbu2nya pun rempah2 Timur Tengah, nggak pedas, tapi cukup ‘menyengat’ lah. Beberapa hidangan disajikan dengan roti ala Turki. Walaupun begitu, pengaruh Cina juga terasa seperti pada lamb stir-fry with spring onion, atau prawn stir-fry yang aslinya tak mungkin dikenal di Uyghur yang terletak di tengah2 benua dan jauh dari pantai.

Semua porsi makanan berukuran jumbo. Jadi sebaiknya kita pesan makanan untuk di-share beramai2. Tapi yang paling menakjubkan sih harganya. Untuk porsi sebesar itu, harga makanan hanya dipatok $10 sampai $25. Menarik kan? Tapi kemarin sumpah deh, saya makan kambing2 enak itu sambil deg2an. Takut kolesterol naik tanpa permisi. Umur emang nggak bisa bohong, hehehe…
Popularitas: 4%


yanti
4 
13.9.2009 @ 22:40 



menggunakan
Safari 525.20 pada
MacOS X
berkomentar:
Itu sate?????? Gede beneeerrr…..
menggunakan
Firefox 2.0.0.20 pada
Windows XP
berkomentar:
gw nanya yg beda ma kiky … “itu teman kuliah???? muda benneeerrr”
menggunakan
Firefox 3.0.14 pada
Windows XP
berkomentar:
Happy belated Idul Fitri…
maaf lahir bathin atas semua kesalahan… sengaja ataupun tidak disengaja.
Salam,
Tuteh
menggunakan
Firefox 2.0.0.20 pada
Windows XP
berkomentar:
Teteh beneran eta sate meuni sagede pedang, kacipta makanna pasti riweuh. Miss u