celoteh

life without highheels

Seminggu ini segalanya berubah dalam hidup saya. Hampir setengah hari perjalanan telah mengantar saya ke Adelaide, berkat “tendangan sayang” dari Depkominfo yang mengirim saya mendarat di Carnegie Mellon University untuk mengambil Master of Information Technology.

Saya berangkat tanggal 5 Agustus malam bersama Fajar. Hari itu saya diantar Abang, Naila, Papa, Mama dan tante saya Bu Tuti ke bandara. Saya bilang hari itu, karena berhari2 sebelumnya saya “diantar” oleh puluhan teman dalam berbagai acara perpisahan dengan berbagai komunitas. Termasuk penglepasan oleh direksi sehari sebelumnya, yang sudah bikin saya merasa tersanjung karena direksi memberi perhatian begitu besar untuk melepas saya.

Lebih dari 30 kg bagasi juga ikut menemani saya. Sepuluh kilogram lebih banyak karena tiket saya one-way dan visa saya visa pelajar. Itupun rasanya masih kurang. Dasar cewe, sepertinya banyaaak yang harus dibawa. Tapi akhirnya saya menemukan beberapa poin penting:

  • Nggak bisa hidup tanpa sambal? Takut nggak bisa menemukan mie instan di negara tujuan? Jangan takut, kamu kan “cuma” ke negara lain, bukan ke planet Mars. Walaupun mungkin kamu akan sulit menemukan tempe, tapi sambal botol, kecap, mie, dan sejenisnya bisa didapat di toko Asia. Lagipula banyak negara yang cukup ketat melarang masuknya makanan segar maupun kemasan, seperti Australia.
    Jadi daripada menghabiskan kuota bagasi dengan makanan, lebih baik diisi barang lain yang sepertinya lebih berguna. Pakaian misalnya, jauh lebih murah dibeli di Indonesia. Jadi setidaknya perlengkapan dasar seperti pakaian dalam, kaus kaki, t-shirt, sweater, bahkan jaket musim dingin pun bisa dibawa dari Indonesia.
  • Pakaian yang tipis2 seperti kaus dalam/singlet, tank top, kaus kaki, stocking, syal, dan sejenisnya, lebih baik jangan dilipat. Mending digulung saja, dijamin kopermu bakal muat lebih banyak.
  • Pada dasarnya, apa yang harus dibawa atau menjadi prioritas untuk masuk koper, sangat tergantung pada kebutuhan masing2 orang. Saya sih nggak bawa buku sama sekali, tapi ada beberapa e-book di laptop saya. Saya juga nggak bawa rice cooker karena saya fasih bikin nasi dengan cara ngeliwet. Saya juga nggak bawa selimut misalnya. Tapi saya bawa sepatu beberapa pasang, juga tas beberapa biji. Kenapa? Ya karena saya penggila tas dan sepatu, ingat?

Sekedar catatan, saya juga punya beberapa tips untuk terbang ke luar negeri secara umum:

  • Persiapkan bagasi carry-on (tentengan) sedemikian rupa sehingga tidak berisi barang2 yang dilarang masuk pesawat, seperti benda tajam dan cairan di atas 100 ml per botolnya. Ini termasuk gunting kuku, korek kuping, sabun, sampo, body lotion, air mineral. Kamu bakal kaget melihat koleksi sabun cair dari keamanan bandara yang sedang getol2nya membuka semua bagasi tentengan di pintu gate ruang tunggu.
  • Pastikan dokumen perjalanan seperti paspor, tiket dan boarding pass ada di tempat yang mudah diambil, seperti tas selempang kecil atau saku jaket, karena kita bakal bolak balik membutuhkan dokumen2 itu. Jangan lupa bawa bolpen untuk mengisi berbagai form. Juga nggak ada salahnya menyiapkan dokumen2 seperti Confirmation of Enrolment dan Scholarship Award Letter dalam tas tentengan.
  • Cek in dua jam sebelum keberangkatan, dan datang ke gate 30-60 menit sebelum boarding. Saat cek in, tanyakan apakah saat transit kita harus mengambil bagasi dulu, atau bagasi langsung diambil di tujuan akhir.
  • Langsung berpakaian sesuai dengan cuaca di kota tujuan. Kalau kota tujuannya dingin, siapkan beberapa lapis pakaian dan/atau jaket dalam tas tentengan. Tinggal dipakai bila perlu.
  • Persiapkan uang dalam mata uang lokal secukupnya. Nggak usah banyak2 sih, seperlunya saja. Penting terutama kalau kita sampai di kota tujuan di luar jam kerja atau pada akhir minggu.

Enam jam dalam burung besi Qantas ke Sydney lumayan menyenangkan. Saya sempat underestimate makanannya, yang ternyata enyakkkk! Hiburan juga terjamin, karena di kelas ekonomi ini penumpang mendapat display sendiri2 untuk menampilkan movie on demand. Akhirnya saya nonton “17 Again”-nya Zac Efron, BUKAN karena saya suka brondong yang satu ini ya, catet!

Dan setelah transit 3 jam di Sydney ditambah 2 jam penerbangan lokal, saya sampai di Adelaide. Kesannya? Sepi dan seperti “kota mainan” di SimCity. Karena sudah bulan Agustus yang berarti musim dingin sudah hampir berlalu, dan saya juga sudah pernah mengalami cuaca yang jauh lebih dingin daripada suhu belasan derajat Celcius saat ini, saya belum terlalu mengeluhkan soal cuaca.

Kent Town Student VillageSaya dijemput taksi yang dibayar kampus, langsung ke rumah. Rumah ini bisa dibilang dicarikan oleh pihak kampus. Saya tinggal di sebuah apartemen berkamar dua, dengan seorang teman sekelas dari India, Shweta. Rumah ini khusus untuk mahasiswa, nggak terlalu mahal, dan harga sewanya sudah termasuk listrik dan air. Mebel pun sudah lengkap alias furnished, kecuali bantal/selimut dan heater kecil yang bisa saya beli di semua toko yang menjual perlengkapan rumah. Letaknya di Kent Town, dipisahkan dengan Adelaide CBD di mana kampus saya berada oleh taman bernama Rymill Park, serta cuma sekitar 35 menit jalan kaki ke kampus (bisa pakai bis juga). Pasti ada rumah lain yang lebih murah, pasti ada rumah lain yang bisa saya huni bersama orang Indonesia, tapi pasti rumah2 itu jauh dari kampus. .

Kent Town Student VillageDi rumah ini ada sebuah common kitchen di mana kita bisa masak: ada kompor, microwave dan kulkas. Tapi masih harus menyediakan panci/wajan, piring, gelas, dan sendok garpu. Jadi di hari2 pertama saya sibuk bolak balik belanja melengkapi kamar dan perlengkapan masak. Alhamdulillah, saya nggak pernah punya sindrom khas perut melayu yang harus makan nasi. It does mean something when you’re away from home and have to prepare your meal on your own. Di sini nggak ada Bibi yang bisa saya suruh masak.

Segalanya memang berbeda. Banyak yang menanyakan apakah saya kangen rumah, kangen Naila. Tentu saja saya kangen setengah mati! Nggak cuma kangen orang2 yang saya sayangi. Saya juga kangen suasana lalu lintas Bandung yang biasanya bikin saya emosi pas pulang kantor, karena lalu lintas di sini damai banget. Saya kangen Neng Desi, karena saya di sini ke mana2 naik bis dan jalan kaki sambil kadang bertemu Getz silver di jalan. Saya kangen shopping di FO, karena di sini saya nggak punya keleluasaan finansial untuk shopping. Saya bahkan kangen dipanggil Neng atau Teteh karena di sini nggak ada yang manggil saya begitu. Dan masih banyak lagi.

Kangen itu manusiawi. Asal dalam batas wajar dan nggak jadi beban, harusnya nggak apa2 kan? Kangen bukan berarti saya nggak menikmati berada di sini. Saya masih merasa sangat adaptif dan fleksibel. Dan seharusnya saya bisa melewati satu tahun ini dengan baik. Puasa jauh dari rumah, Lebaran jauh dari rumah, bukankah saya sudah pernah melakukannya lima kali?

Banyak juga yang menanyakan kabar Naila. Di luar dugaan Naila nggak nangis sama sekali, baik di bandara maupun sesudahnya, sampai hari ini. Sepertinya usaha saya untuk memberi pengertian sejak pertama kali memulai proses aplikasi beasiswa, ada hasilnya. Dan memang, saya berusaha untuk nggak merusak suasana hatinya dengan menunjukkan emosi berlebihan. Saya percaya, anak sebetulnya butuh somebody to rely on, dan orang2 di sekitarnya harus menunjukkan bahwa kita bisa dan layak menjadi “sandaran” bagi mereka. Dan terlepas dari itu semua, saya kagum dan bangga banget punya anak seperti Naila :) .

Iya, seminggu ini segalanya berubah dalam hidup saya. Sejak Senin lalu saya sudah mengikuti Introductory Academic and Orientation Program di kampus. Sesuatu yang jauh berbeda dengan keseharian saya di Bandung, sebagai karyawan yang juga sibuk ngurus anak. Tapi seperti kata Charles Darwin,

it is not the strongest of the species that survive, nor the most intelligent, but the one most responsive to change

.

Jadi sepertinya memang kita harus selalu siap dengan perubahan.

The next few months will be a life without high heels. Selamat datang di dunia mahasiswa, Neng :) .

Popularitas: 4%

  1. Gravatar

    yaaaaannnnn….naha saya mah kalah ceurik baca postingan mu yang ini….*dasar emak-emak cengeng emang…. :oops: * apalagi baca yang bagian naila ga nangis……heraaan yaaahhh….saya terlalu melow kali yaah….

    apapun……sing sukses ya yaan……. :smile:

  2. Gravatar

    Welcome to Adelaide. Btw, aku mau tanya:
    - Udah ke Tuan Phat Groceries?
    - Udah makan Laksa pojok selatan food court central market?
    - Cerita donk ttg jalur trem baru ke arah UniSA?

    Hehehe…
    I miss Adelaide soooo much [ that’s what Yoga said ]

  3. Gravatar

    Yan, serasa baru pertama kali ke LN aja yah…:) hihi…padahal udah tetaunan di Jerman…Enjoy!!

  4. Gravatar

    lama gak mampir kesini, kamu hebat neng:)
    naila juga pasti bangga punya ibu seperti kamu…
    sukses ya neng…

  5. Gravatar

    I added your blog to bookmarks. And i’ll read your articles more often!

Berikan komentar

: Baris dan paragraf muncul secara otomatis.
Alamat e-mail Anda tidak akan ditampilkan, tetapi harus diisi.
HTML yang diijinkan: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>

Belum memiliki Gravatar? Dapatkan Gravatar Anda sekarang!
:
Nama dan alamat e-mail harus diisi
:
:
:confused: :mrgreen: :devil: :shock: :sleep: :smile: :think: :???: :cool: :grin: :kiss: :nerd: :oops: :razz: :roll: :siul: :wink: :cry: :doh: :lol: :mad: :sad:

 

Google
 

baca dulu
cari dalam celoteh
acak di gelar gambar
kilas
panjat pinang harus dilarang
21.08.2008

karena tidak sesuai dengan semangat “go green”, kata Pak Puji.

kecuali, tentunya, untuk setiap pinang yang ditebang, langsung ditanam bibit pohon baru :)

Popularitas: 4%

ngumpulin resensi
23.08.2007

di resensi rame2. ada yang mau gabung?

Popularitas: 4%

mantan jomblo
23.08.2007

banyak deh, keluhan2 suami (dan istri sebetulnya), tentang hal2 yang ga terbayangkan sewaktu masih jomblo dulu.
dirangkum dengan so sweet dan menghibur oleh Cak Moki.

Popularitas: 4%

sponsor
Text Link Ads
Your Ad Here
sindikasi

RSS 2.0 untuk celoteh RSS untuk celoteh
RSS 2.0 untuk komentar RSS untuk komentar

afiliasi
kenangan lawas
kategori
aktualita (RSS) (27)
buku (RSS) (9)
fesyen (RSS) (9)
film (RSS) (6)
ilham (RSS) (49)
karya (RSS) (9)
keseharian (RSS) (82)
kisah kecil (RSS) (84)
kuliner (RSS) (11)
life without highheels (RSS) (6)
musik (RSS) (11)
perjalanan (RSS) (6)
pribadi (RSS) (23)
resensi (RSS) (16)
celoteh terakhir
komentar terakhir
lia: saya sudah terlambat
payday loans: www.jalankenangan.ne
payday loans: www.jalankenangan.ne
payday loans: www.jalankenangan.ne
payday loans: www.jalankenangan.ne
celoteh terpopuler

 

JANGAN ASAL COPY PASTE..