ngebut menuju beasiswa (4) - IELTS
Untuk butir yang pertama dari to do list, saya putuskan untuk mengambil tes IELTS di IDP Bandung. Karena pendaftaran di universitas-universitas di Australia rata2 tutup akhir April atau pertengahan Mei, saya mencari tes yang diadakan beberapa hari ke depan. Pokoknya ASAP!
Menurut website, ada tes IELTS yang akan diadakan di Bandung hari Sabtu berikutnya, 4 April. International TOEFL juga ada sih di Bandung, tapi IELTS bisa paper-based (TOEFL hanya bisa internet-based, males ah). Saya ingat banget, Kamis saya wawancara di Depkominfo. Hari Jumat pagi saya telepon IDP Bandung, diminta untuk telepon lagi jam 9 karena petugas IELTSnya baru datang jam segitu. Tepat jam 9 saya telepon lagi.
Saya (Y): Mba masih bisa daftar IELTS untuk tanggal 4 besok?
Mbaknya (M): Boleh, paling lambat hari ini jam 10 ya
Y: HAH? Satu jam lagi?
M: Iya
Y: OK deh mba saya sekarang ke sana
M: Caranya harus bayar biayanya dulu mba, ke Commonwealth Bank yang di Asia Afrika. Nomor accountnya punya?
Y: Iya ini nemu di website
M: Biayanya USD 180 ya, nanti tanya kurs saat ini berapa, bayarnya ke account yang rupiah.
Y: (lemes) OK deh mba, makasih ya
Jadi bisa diduga, langkah berikutnya saya ke ATM di depan kantor. Tarik 2,2 juta rupiah, lalu NGEBUT sengebut2-nya ke Asia Afrika. Duh mana harus nunggu satu orang lagi pula di teller. Setelah urusan duit selesai, saya ngebut sambil pasrah ke IDP di Sulanjana. Sampai di IDP, jamnya Neng Desi bilang sudah jam 10:05.
Jadi begitu masuk, saya langsung nanya ke mbak2 yang menerima saya, “Mba, kalo di sini udah jam 10 belum?”
Mbaknya (M): (bingung) Udah, kenapa emang mba?
Y: Mau daftar IELTS buat besok masih bisa?
Mbak yang di depan memandang Mbak Petugas IELTS.
Dan Mbak Petugas IELTS mengangguk!!!! Aduh, girangnya dakuuuu!!!
Saya cuma punya waktu satu hari buat mempersiapkan diri. Nggak main2, mempertaruhkan biaya tes sebesar dua juta lebih, bukan uang yang sedikit untuk saya. Tapi saya harus tetap optimis dan semangat kan? (lirik para motivator)
Pertama2, cari tahu tentang apa itu IELTS. Baca2 di brosur resminya, ya mirip jugalah dengan TOEFL. Persamaannya,
- Seperti juga International TOEFL, IELTS adalah tes bahasa Inggris untuk orang2 yang berbahasa ibu non-Inggris. Berlaku dua tahun, dan lumayan mahal, hehe..
- Sama2 menguji kemampuan membaca, mendengar, berbicara dan menulis dalam bahasa Inggris. Ini bedanya dengan Institutional TOEFL yang banyak diselenggarakan oleh lembaga2 bahasa: ada komponen berbicara dan menulis, dan nggak terlalu mementingkan tatabahasa (grammar).
- Skor International TOEFL dan IELTS pun sama2 dirinci untuk setiap bagian (reading, listening, writing, speaking), selain tentu ada skor totalnya.
Perbedaannya:
- TOEFL lebih fokus ke penggunaan akademis, sementara IELTS punya dua macam tes: academic dan general purpose.
- TOEFL di Indonesia harus internet-based, termasuk speaking-nya (tapi tetap hanya bisa dilakukan di tempat2 tertentu). IELTS bisa paper-based dan speaking-nya one-on-one dengan seorang native speaker.
- TOEFL itu berbasis Amerika Utara, sementara IELTS berbasis Inggris, Australia dan negara2 Commonwealth lainnya.
- Skala skor IELTS adalah 1 sampai 10. Sebagian besar universitas di Australia mensyaratkan skor minimal 6,5 dengan nilai writing minimal 6.
Sebaiknya memang persiapan untuk menjalani sebuah tes dilakukan sejak jauh2 hari. Ada tips yang bisa dipraktekkan di sini. Sayangnya saya nggak sempat melakukan itu semua. Tapi saya nemu sebuah situs yang sangat berguna untuk mengetahui tipe soal IELTS dan latihan sampe méjrét. Terutama saya memfokuskan diri pada latihan menulis dan mempersiapkan beberapa topik untuk speaking.
Apa daya, sejak Jumat sore Naila panas. Alhasil saya cuma sempat belajar sebentar di kantor. Malamnya ya boro2. Sabtu pagi itu, setelah mengantar saya ke tempat tes di TBI Dipati Ukur, Abang membawa Naila ke dokter. Parahnya lagi, Minggu pagi Naila mimisan, padahal Minggu siang itu saya tes speaking! Haduuuh, gini emang jadi ibu2
.
Secara Naila nggak pernah mimisan sebelumnya, saya dan Abang membawa Naila ke dokter, lalu tes darah karena khawatir demam berdarah. Alhamdulillaah thrombositnya masih normal. Semua orang menenangkan saya: Naila will be just fine, mereka akan menjaga Naila selama saya tes. Saya berusaha tenang dan menjalani tes speaking jam dua siang itu, dengan hati super deg2an (yang tentunya bukan karena tegang mau ujian!). Saya ingat kebagian topik tentang sport, dan kemudian mengarah kepada sport dan anak2.
Entahlah, rasanya semua sudah diatur oleh Sang Maha Pengatur. Saya “tinggal” melakukan semaksimal yang saya bisa, berdoa sebanyak yang saya bisa, dan minta didoakan oleh orang2 yang menyayangi saya. Saya hanya minta diberi yang terbaik, karena Dia Maha Mengetahui, apakah sebaiknya saya lolos atau nggak.
Moral of the story: persiapan jauh2 hari SELALU lebih baik. Terhindar dari resiko diserempet angkot atau nyerempet BMW (amit2), dan bisa belajar lebih banyak walaupun pas last minute anak sakit.
Popularitas: 4%


yanti
1 
12.7.2009 @ 17:28 



menggunakan
Firefox 3.6.3 pada
Windows XP
berkomentar:
Jadi akhirnya dapet skor berapa bu? saya kemarin ikut IELTS sayang skot writing baru dapet 5.5. harus ngulang lagi ni