ngebut menuju beasiswa (2) - TOEFL dan TPA
Mari kita lanjutkan acara kebut2an.
Untuk melengkapi persyaratan aplikasi beasiswa Depkominfo, saya harus melakukan tes TOEFL dan TPA. Tes TOEFL cukup yang berjenis ITP (Institutional Test Program), alias yang dilakukan oleh institusi lokal dan biasanya hanya berlaku lokal juga. Seperti sudah saya ceritakan sebelumnya, saya sudah daftar TOEFL di UPT Bahasa ITB.
Pada hari yang ditentukan, sekitar akhir Februari, saya menjalani test TOEFL tersebut. Benar2 tanpa persiapan, karena entah kenapa, malam sebelumnya saya malaaaaaas banget belajar. Jangan ditiru ya
. Dan jangan dikira perjalanan kali ini bebas kebut2an loh.. Saya berangkat rada mepet dari kantor, dan berakibat pensil 2B saya ketinggalan! Ampun Nyaaahh!!!!!
Jadi saya setengah lari2 dari tempat saya memarkir Neng Desi di pinggiran masjid Salman, ke kantin seberang lapangan basket untuk beli pensil. Lalu lari2 ke Labtek VIII, sekedar untuk tahu ruang tesnya. Lari2 lagi ke basement tempat diselenggarakannya tes. Dengan high heels ya, catat, secara saya memang jarang banget nggak pakai high heels. Alhamdulillaah, walaupun keringatan dan kaki pegal (tapi belum berhasil bikin saya kurusan) saya masih bisa menjalani tes dengan baik. Bahkan saat dua minggu kemudian hasilnya keluar, alhamdulillaah skor saya lumayan banget.
Tes Potensi Akademik (TPA)
Kali ini nggak pakai ngebut dong ah! Cape kaliii, ngebut mulu!
Jadi seminggu sebelum tes, saya beli buku contoh soal TPA di toko buku dekat rumah. Malam sebelum berangkat ke Jakarta, saya dengan tertib berlatih mengerjakan soal. Nggak lama2 sih, sekitar 2 jam doang, untuk mengetahui big picture tesnya kira2 seperti apa. Besoknya saya pulang kantor lebih cepat, lalu naik travel ke Jakarta.
Tes Potensi Akademik adalah semacam tes Graduate Record Examination (GRE) versi Indonesia. Terdiri dari empat bagian besar yang harus dikerjakan selama kira2 3 jam, yaitu
- Verbal (bahasa), meliputi tes sinonim (persamaan kata), antonim (lawan kata), padanan hubungan kata, dan pengelompokan kata.
- Numerik (angka), meliputi tes aritmetik (menghitung), deret angka dan huruf, logika angka dan soal berhitung dalam cerita
- Logika, meliputi tes logika umum, analisis pernyataan dan kesimpulan (silogisme), logika cerita dan tes logika diagram (semacam diagram Venn)
- Spasial(gambar), meliputi padanan hubungan gambar, deret gambar, pengelompokan gambar, bayangan gambar dan identifikasi gambar.
Menurut saya sih TPA nggak yang susaaaaah banget gitu, TAPI soalnya banyaaaaaaaaaaakkkkkk banget. Asli. Jadi nggak perlu khawatir kalau nggak bisa mengerjakan semua soal, karena sepertinya hampir nggak ada orang yang bisa mengerjakan semua soal kecuali yang jenius atau menghitung kancing. Cuma satu hal nih, mungkin karena saya cewe yg KATANYA secara kodrati kecerdasan spasialnya lebih lemah dibanding cowo, soal2 yang benda diputar2 (bayangan dan identifikasi) itu bener2 KARTU MATI buat saya, haha!
Sekedar tips:
- Sering2 latihan kali ya, soalnya kan muter2 di situ2
- Jangan tergoda untuk ngulik di satu soal. Kerjakan yg bisa dulu, karena semua soal kan bobotnya sama
- Kalau ada yang bisa dikira2 ya dikira2 aja, kalau dihitung malah kelamaan
- Hafalkan bilangan 2 pangkat 1-10 sama 3 pangkat 1-5, juga kuadrat bilangan 1-20. Ini mempersingkat waktu coret2
- Ingat2 aritmetika dasar seperti pecahan, persentase
- Tenang, nggak akan ada kalkulus rumit. Paling banter persamaan kuadrat, persamaan dengan 2 variabel, akar kuadrat, dan menghitung pecahan
- Be creative dalam menjawab soal2 deret
- Khusus untuk tes verbal, sering2 baca koran atau majalah2 yg sering memuat istilah2 asing, dan pahami benar padanan artinya dalam bahasa Indonesia.
Yang berhak mengadakan TPA ini adalah OTO (Overseas Training Office) Bappenas. Jadi semua penyelenggara TPA, misalnya panitia seleksi S2 di universitas2, selalu bekerja sama dengan OTO Bappenas ini. Kita bisa saja ikut TPA di manapun, karena selama penyelenggaranya bekerja sama dengan Bappenas, pasti skornya diakui sebagai skor TPA yang sah. Informasi tentang jadwal TPA bisa didapat di 021-3911627. Waktu itu saya ikut di kelas jauh MM UGM di Jakarta, biayanya sekitar 350 ribu rupiah.
Dan hasilnya…
Singkat kata, dua minggu kemudian saya sudah punya skor TOEFL dan TPA seperti yang disyaratkan Depkominfo. Lumayan banget ternyata, daripada lumanyuuuun.. Hasil2 tes segera saya fotokopi dan kirimkan ke panitia beasiswa. Seingat saya hari itu hari Selasa. Perkiraan saya sih Kamis tentunya panitia sudah menerima berkas2 tersebut.
Jumat jam lima sore, saya mendapat email undangan untuk wawancara di Depkominfo tanggal 2 April. Yang artinya saya sudah lolos seleksi tahap pertama. Jreng jreng!
Popularitas: 3%


yanti
4 
20.6.2009 @ 22:19 



menggunakan
Firefox 3.0.11 pada
Windows XP
berkomentar:
menggunakan
Internet Explorer 6.0 pada
Windows 2000
berkomentar:
Pretty nice post. I just came by your blog and wanted to say
that I’ve really enjoyed browsing your posts. Any way
I’ll be subscribing to your blog and I hope you write again soon!
menggunakan
Internet Explorer 7.0 pada
Windows Vista
berkomentar:
Nggak sabar kelanjutan ceritanya nih.. akhirnya jadi berangkat kan Yan? kemana?
menggunakan
Firefox 3.0 pada
Windows XP
berkomentar:
wuaaa….
u look so cool..
hehehe
u can handle that..
hope i can followin from behind..
n ill be better than u..