ngebut menuju beasiswa (1) - aplikasi
Perjalanan saya menuju beasiswa Depkominfo ini nggak terlalu panjang. Tapi sumpah, penuh liku yang bikin jantung deg2an. Semua serba mendadak dan mepet. Lho, memangnya saya nggak siap2 dari jauh2 hari? Jawabnya tentu saja: nggak
.
(Kids, don’t try this at home. Pengalaman saya yang ini bukan untuk ditiru. Bagaimanapun, persiapan yang matang sejak jauh2 hari selalu lebih baik.)
Sebenarnya saya senang sekolah. Bukan berarti nggak senang kerja. Tapi yang jelas, saya nggak seperti sebagian teman2 yang sekolah ke jenjang postgraduate karena terpaksa. Awal tahun 2008 saya sempat kepikiran untuk sekolah lagi, lalu browsing berbagai situs beasiswa. Sayangnya niat itu kepentok alasan khas ibu2: nanti Naila gimana?
Saya ingat betul, salah satu beasiswa yang menarik minat saya adalah beasiswa luar negeri dari Departemen Komunikasi dan Informatika (Depkominfo). Diberikan untuk kuliah S2 dan S3 di universitas2 yang telah ditetapkan di negara2: Inggris, Belanda, Perancis, Swedia dan Australia. Bidang studi yang diambil harus sesuai dengan misi dan lingkup Depkominfo, seperti hukum (cyber atau telekomunikasi), e-commerce, ilmu komunikasi, teknik elektro/telekomunikasi, atau teknik informatika. Seru kan?
Dasar saya phlegmatis sejati yang perlu dipecut2, waktu itu saya nggak berani apply. Ralat, apply-nya sih berani dan mau2 aja. Tapi saya nggak berani membayangkan konsekuensinya kalau diterima. Expect the best, prepare for the worst. Yang mana saya rada nggak jelas juga, dapat beasiswa S2 ke luar negeri meninggalkan keluarga itu the best atau the worst
.
Setahun berlalu begitu saja, sampai pada suatu hari di pertengahan Februari 2009, saya ditelpon oleh atasan.
Boss (B): Yanti, ini ada beasiswa S2, berminat nggak?
Yanti (Y): S2 di mana Pak?
B: Hmm.. ITB mungkin ya? Eh sebentar saya liat dulu… (jeda sebentar) Oh ini ke luar negeri, ini banyak nih pilihan universitasnya.. Ada Inggris, Belanda, Australia… Gimana, mau ya?
Y: Wah, saya boleh pikir2 dulu Pak?
B: Ya silakan dipikirkan.. Tapi saya berharap Yanti mau. Ini dari Depkominfo, diutamakan yang di bawah 35 tahun. Sementara dari perusahaan kita mensyaratkan, harus sudah bekerja 5 tahun dan belum pernah sekolah S2. Kayaknya cuma Yanti yang masuk kriteria itu.
Y: Iya Pak. Saya bicarakan dulu di rumah ya Pak…
Sebenarnya saya masih punya pilihan untuk menolak ya? But knowing my family, saat itu saya berani taruhan bahwa mereka pasti akan mendorong saya untuk ikut proses seleksi beasiswa. Mirip seperti waktu tahun 2004 saya ke India 2 bulan lamanya, meninggalkan Naila yang masih bayi. Atau waktu saya tugas setahun lebih di Gandul, dan cuma pulang setiap akhir minggu mengunjungi Naila yang berumur 2-3 tahun. Tapi kan ini sekolah, minimal setahun dan nggak bisa sering2 pulang! Apalagi Abang nggak bisa dapat unpaid leave dari kantornya. Hanya pergi berdua dengan Naila, sepertinya juga kurang realistis. Keluarga khawatir, saya nggak fokus kuliah dan Naila juga nggak keurus.
Tapi toh seperti diduga, saya akhirnya mendapat lampu hijau untuk mendaftar beasiswa, dengan resiko diterima
. Syaratnya, saat liburan panjang saya pulang, dan kalau bisa cari program master yang cuma setahun.
Besoknya saat membaca dokumen2 beasiswa tersebut, saya kaget. Ternyata deadline aplikasi beasiswa tanggal 18 Februari. Yang artinya, ketika itu saya tinggal punya waktu satu hari saja. Aduh, kenapa Pak Boss kemarin nggak bilang apa2 ya? Bayangkan, saya harus:
- Mengisi formulir aplikasi yang berlembar2 itu, berikut menjawab beberapa pertanyaan esai yang ada di dalamnya.
- Melampirkan pasfoto, yang saya juga sudah nggak punya.
- Punya nilai TOEFL di atas 550. Paling lama diikuti 2 tahun yang lalu, padahal saya terakhir ikut TOEFL sebelum ke India tahun 2004.
- Punya nilai Tes Potensi Akademik (TPA) yang diselenggarakan oleh Bappenas, yang mana saya belum pernah ikut sama sekali
.
Karena sepekan itu saya sedang training di luar kantor, terpaksa saya bolos sehari untuk mengurus semua itu. Pagi2 saya ke studio foto, bikin foto langsung jadi beberapa buah. Setelah itu ke kantor. Telepon sana sini, saya dapat jadwal tes TOEFL berikutnya ada di ITB minggu depannya, dan jadwal TPA yang akan diselenggarakan Bappenas baru ada dua minggu kemudian di kelas jauh MM UGM di Jakarta. Padahal, masih ingat kan, deadline aplikasi beasiswanya besok!
Rada desperate, saya ke lantai delapan. Minta ngobrol2 dengan Manajer HRD yang langsung mengompori saya: “Pokoknya kalo belum sampe mampus bener, jangan berhenti, Yan! Masukkan aplikasi besok, hasil2 tesnya disusulkan aja. Siapa tahu bisa. Kalau sudah rejeki kamu, nggak akan ke mana deh!”
Hmm, okei Buuuuu…Jadilah siang itu saya habiskan untuk “mengarang bebas” menjawab esai: tentang motivasi studi, latar belakang memilih pekerjaan/profesi saat ini, hubungan program studi yang dituju dengan pekerjaan saat ini, manfaat studi untuk negara Indonesia, rencana jangka panjang, dan mengapa saya merasa layak untuk mendapatkan beasiswa ini. Lebih dari 500 kata bahasa Indonesia ternyata bisa berhamburan dari ujung bolpen saya. Dalam keadaan kepepet tentunya, sehingga terus terang saya nggak sempat berpikir panjang.
Saya juga menyuruh office boy untuk memfotokopi ijasah dan akte kelahiran yang pagi itu saya bawa dari rumah, lalu beli materei. Setelah itu saya ngebut seperti supir angkot ke ITB, daftar TOEFL, dan ngebut lagi kembali ke kantor. Sementara itu, Bu Manajer HRD tercinta mengusahakan surat rekomendasi dari direksi keluar sore itu.
Esoknya, tanggal 18, saya lagi2 bolos training (ndilalah gurunya sakit!). Naik kereta paling pagi ke Jakarta, dijemput di Gambir oleh Abang yang hari itu ijin masuk siang (so sweet deh..). Saya ke MM UGM di Gondangdia, daftar TPA, lalu ke Depkominfo di Medan Merdeka untuk menyerahkan aplikasi. Saya sempat bertanya, apakah masih memungkinkan menyusulkan nilai TOEFL dan TPA. Kata seorang petugas di sana, selama seleksi belum dilakukan ya masih bisa. Artinya saya masih punya harapan. Walaupun jujur saja, waktu itu saya sudah nggak berharap apa2, dan menjalani semuanya hanya untuk menyenangkan Bu Manajer HRD dan si Mamah yang sepertinya lebih bersemangat daripada saya
.
Setelah nyicip Pancious Pancake di Pacific Place (teuteuuup yaa.. makan nomer satu!), saya ke pool Cititrans di SCBD dan pulang ke Bandung. Capek. Saat menulis dan mengingat2 semua saja saya capek. Kalau kamu capek bacanya, saya juga bisa maklum. Jadi lanjutannya kapan2 ya…
Popularitas: 2%


yanti
5 
27.5.2009 @ 17:32 



menggunakan
Firefox 3.0.6 pada
Windows XP
berkomentar:
Serba ngebut berarti, aku yang ngebayanginnya aja sesak nafas apalagi yang ngejalanin. Semoga semua lancar ya jeng, sesuai dengan yang diharapkan..
menggunakan
Internet Explorer 6.0 pada
Windows XP
berkomentar:
Yaaahhhh, elu Yan, gantung deh
Tapi heibaaadddd euiii kamu masih semangat sekolah
menggunakan
Firefox 3.0.10 pada
Windows Vista
berkomentar:
ikutan hahehoh semangattt betul mun rejeki mah moal kamana teh. Btw pengumuman bea siswa d kntr ge sok telat wae mlh sok kadaluarsa dan jurusanna teh sok tara nyambung so bnyk nu kul uang sndr dgn jurusan yg nyambung soalna d dunia profesional sok teu di lieuk teh mun S2 na teu nyambung hihi malah curhat punten ah
menggunakan
Firefox 3.0.10 pada
Windows XP
berkomentar:
sukses yaaaa
hehehehhe
menggunakan
Safari 525.26.13 pada
MacOS X
berkomentar:
lanjuttttttttt