liburan akhir tahun di Ranah Minang
*tarik nafas panjang dulu sebelum membaca, bakal ngos2an karena panjang banget!*
Sejak nikah dengan Abang yang berdarah Minangkabau, saya selalu tertarik untuk mengunjungi Sumatera Barat. Nggak adanya kewajiban mudik ke sana karena mertua di Jakarta, membuat keinginan ini baru tercapai akhir tahun 2008 lalu.
Awal Oktober, setelah libur Lebaran, kita mulai merencanakan perjalanan ini. Tiket pesawat PP, hotel2, sewa mobil, semua sudah dipesan sejak jauh2 hari. Cenderung berhati2 memang, mengingat ini perjalanan terjauh yang pernah kita tempuh bersama Naila. Rute2 perjalanan yang kita rencanakan pun selalu mempertimbangkan kemampuan dan minatnya. Trekking, jalan yang terlalu jauh, dan petualangan2 yang menantang harus dibuang dari agenda kali ini.
Kecamatan berhitung
Kita mendarat di Bandara Internasional Minangkabau, Kabupaten Padang Pariaman, pada hari Jumat siang dengan menggunakan maskapai Mandala. Bukan perjalanan yang mudah, karena harus duduk terpisah dari Abang, sementara Naila yang baru pertama kali terbang dengan pesawat jadi rewel karena sumbatan di telinganya (barotrauma.
Di bandara kita sudah dijemput supir mobil sewaan kita, Pak Edi. Dengan mobil Suzuki APVnya, kita mampir sebentar ke kota Padang memberikan oleh2 untuk seorang teman, lalu langsung menuju ke arah Bukittinggi.
Di nagari (desa) Pasar Usang, Kecamatan Batang Anai, kita berhenti untuk makan siang. Kebetulan ada rumah makan yang terletak di sebelah masjid besar, sehingga para laki2 bisa shalat Jumat. Di tukang gorengan depan rumah makan saya menemukan bayi kepiting yang digoreng dengan tepung bumbu. Renyah banget!
Nama2 kecamatan di Sumatera Barat ternyata cukup unik karena banyak menggunakan angka. Sebut saja “4 Koto Aur Malintang”, “7 Koto Sungai Sarik”, dan yang paling unik adalah daerah asal kakeknya Abang, Kecamatan 2 x 11 Enam Lingkung. Kata Abang, orang Minang selalu berhitung karena punya bakat dagang
.
Sekitar setengah jam perjalanan selepas istirahat, pemandangan berubah drastis. Dari sawah dan kebun yang cenderung datar, tiba2 bukit dan hutan menyambut. Kita ternyata sudah nggak jauh dari Lembah Anai. Air terjun Lembah Anai terletak di sebelah kiri jalan yang membelah Bukit Barisan itu. Sementara di sebelah kanan mengalir sungai Batang Anai yang berbatu2 besar, cantik sekali. Kita nggak lama singgah di sana, karena Naila ogah kecipratan air.
Perjalanan menuju kota Padangpanjang memukau saya. Rel kereta api yang dibuat Belanda memang sudah tak digunakan lagi, tapi jembatan2nya tetap terawat. Dicat oranye sangat kontras dengan hijau hutan di belakangnya. Lima belas menit sampailah kita di Padangpanjang, kota terbesar di Kabupaten Tanah Datar yang berkontur naik turun di lereng Gunung Singgalang dan Gunung Marapi ini. Bangunan2 megah beratap bagonjong bertebaran di kota yang bersih ini. Komentar Naila, “Di sini kok rumah2nya bertanduk sih!”.
Meninjau Maninjau di Puncak Lawang
Antara Padangpanjang dan Bukittinggi ada beberapa tempat yang menarik untuk dikunjungi. Di Padangpanjang ada Sate Padang Mak Syukur yang juga membuka cabang di Jakarta. Lalu para penjual kue bika (semacam serabi, dari tepung beras dan kelapa) di nagari Koto Baru, Kecamatan Sapuluh Koto. Nggak jauh dari sana terdapat persimpangan ke kiri, ke arah nagari Pandai Sikek yang terkenal dengan songket benang emas dan sulam tangannya. Tapi karena terbatasnya waktu agar bisa melihat Danau Maninjau sebelum gelap, terpaksa tempat2 ini kita lewatkan.
Di nagari Padang Luar, Pak Edi membelokkan mobil ke kiri, menuju Maninjau. Jalannya hanya pas untuk dua mobil, tapi pemandangannya indah dan udaranya segar. Kita melalui beberapa desa kecil sebelum akhirnya sampai di Matur. Di sini terdapat persimpangan, lurus melalui Embun Pagi dan Kelok 44 ke Maninjau, sedangkan jalur ke kanan yang kita ambil, menuju Puncak Lawang.
Jalan ke Puncak Lawang lebih kecil, tapi sudah teraspal. Makin mendekati Puncak Lawang terdapat perkebunan tebu dan industri kecil pembuatan gula. Agak aneh buat saya, karena di Pulau Jawa perkebunan tebu biasanya terletak di dataran rendah.
Puncak Lawang adalah puncak tertinggi perbukitan di tepi timur Danau Maninjau. Dari ketinggian 900 m pandangan ke arah Danau Maninjau sangat jelas dan bersih. Di antara bukit2 di sisi barat tampak mengintip lepas pantai utara Pariaman.
Jam Gadang di waktu malam
Dari Puncak Lawang kita langsung menuju ke Bukittinggi. Waktu sudah tidak mengijinkan kita turun ke tepi Maninjau melalui Kelok 44 yang terkenal itu.
Kali ini Pak Edi mengajak kita melewati jalan di dasar Ngarai Sianok untuk kemudian muncul di Jalan Panorama, kota Bukittinggi. Lagi2 jalan yang kita lewati ini sempit, menanjak-menurun, dan penuh tikungan tajam. Benar2 bukan rute untuk yang langganan mabuk darat! Saya juga baru tahu bahwa di dasar Ngarai Sianok terdapat beberapa desa, yang bahkan dilalui rute angkot.
Kita menginap di Hotel Yuriko. Kamarnya lumayan, kelas hotel melati, tapi letaknya sangat strategis karena hanya berjarak 300 meter dari Jam Gadang yang merupakan pusat kota Bukittinggi. Musim liburan ini, Bukittinggi benar2 menjadi kota turis: hotel2 penuh, backpackers berkeliaran, dan berbagai dialek dari Malaysia hingga Jakarta terdengar di mana2.
Setelah mandi dan beristirahat sebentar, kita memutuskan mencari makan di seputar Jam Gadang. Ternyata taman di sekitarnya sangat ramai malam itu. Banyak pedagang mainan, kacang, juga jasa lukis wajah seperti di Malioboro. Naila senang sekali melihat mainan piring terbang yang bisa menyala, sehingga kita cukup lama juga berada di sana.
Rencananya kita mau makan di Simpang Raya. Memang sih, di seputar Jakarta – Bandung pun rumah makan ini punya banyak cabang. Tapi lokasinya strategis, dan masih lebih baik daripada makan di rumah makan Rindu Alam cabang Puncak toh?
Rencana tinggal rencana, karena Naila mengaku tidak lapar saat diajak masuk Simpang Raya. Beberapa langkah dari sana, di depan KFC, Naila dengan mata berbinar2 berkata, ”Nah kalo di sini aku lapar!” Ya sudah, ayam pop jatah buat besok saja deh.
Dari ngarai hingga sanjai
Pagi ini Naila bangun agak siang, mungkin karena semalam tidurnya terganggu serangan asma. Untung bawa nebulizer kecil.
Berbelanja di kota Bukittinggi adalah tujuan pertama. Di Pasar Atas kita beli bahan baju dan selendang bersulam tangan khas Bukittinggi untuk oleh2, serta kerajinan crochet berupa taplak meja dan sarung bantal.
Masih untuk oleh2, kita mampir di Sanjai Nitta di jalan raya ke arah Padang untuk membeli berbagai makanan khas. Yang banyak ditawarkan di sini adalah keripik sanjai (singkong), dakak-dakak (sejenis keripik berbentuk kubus2 mungil berbumbu kunyit), dan berbagai jenis rendang kering dari daerah Payakumbuh.
Urusan belanja selesai, perjalanan dilanjutkan ke arah Payakumbuh sambil melalui beberapa tempat dalam kota Bukittinggi. Kita bertiga mengunjungi Taman Panorama untuk melihat Ngarai Sianok dari atas, setelah kemarin sore melewati dasar ngarai yang dalamnya 100 meter ini. Sayangnya Naila merasa nggak nyaman dengan angin besar di sana, sehingga kita nggak bisa berlama2. Sementara menyusuri Goa Jepang yang dulunya markas rahasia penjajah Jepang di dinding ngarai, sejak awal memang nggak direncanakan. Mana mau dia
.
Melintasi benteng Fort de Kock, lalu Pak Edi mengambil jalan utama Padang – Pekanbaru. Setengah jam dari Payakumbuh, ibukota Kabupaten Limapuluh Kota, kita sampai di Lembah Harau. Saat berdiri di dasar lembah, rasanya seperti dibentengi tebing2 cadas yang berdiri megah, tegak lurus di sekeliling. Menurut saya lembah ini nggak kalah menakjubkan dari Ngarai Sianok yang lebih terkenal itu.
Setelah melalui hamparan sawah dan menyusuri jalan di tepi tebing, sampailah kita di air terjun yang juga terletak di tepi jalan raya. Kabarnya masih ada beberapa air terjun lain, tapi waktu nggak mengijinkan kita ke sana. Air terjun yang kita datangi ini nggak sederas air terjun Lembah Anai, tapi lebih lebar sehingga terlihat seperti tirai air yang cantik.
Sisa istana terbakar di Batusangkar
Puas di Harau, Pak Edi membawa kita kembali ke arah Payakumbuh, lalu membelok ke Batusangkar. Sepanjang jalan yang semakin menanjak, dataran rendah Payakumbuh terlihat sangat memukau. Tempat terindah untuk melihat pemandangan ini adalah di Tabek Patah, sekitar 16 km sebelum kota Batusangkar. Konon di sini dulunya terdapat sebuah kolam (”tabek”) yang kemudian patah menjadi dua bagian.
Nggak jauh dari sana, kita mencicipi teh dari daun murbei di tempat Pak Satria Budiman. Sampai di Batusangkar sudah cukup siang, perut lapar, dan jam makan siang Naila sudah lama berlalu. Kita diajak Pak Edi ke Nasi Kapau Uni Gadih, di tepi jalan raya Batusangkar – Sawahlunto. Setelah minta digorengkan ayam yang nggak pedas khusus untuk Naila, kita makan di depan jendela yang menghadap ke sawah. Setelah makan dan shalat, kita melintasi kota Batusangkar menuju Istano Basa Pagaruyung, yang letaknya 5 km dari pusat kota. Abang yang pernah tinggal lima tahun di Batusangkar jadi sibuk bernostalgia melihat rumah dan SDnya dulu.
Awal tahun 2007 lalu, Istana Pagaruyung terbakar habis karena disambar petir. Walaupun sesungguhnya istana inipun merupakan replika dari istana aslinya di Bukit Batu Patah yang terbakar tahun 1804, tetap saja saya miris melihat bangunan bersejarah itu ludes tak bersisa. Namun melihat kegiatan pembangunan kembali istana, hati saya agak terhibur. Istana yang baru ini akan dibangun dengan fondasi dan rangka beton. Hanya dinding istanalah yang nantinya akan terbuat dari kayu berukir seperti aslinya.
Di sekitar Istano Basa Pagaruyung terdapat beberapa istana kecil yang masih terawat baik. Kita berhenti di Istano Silindung Bulan untuk berfoto. Di bagian dalamnya terdapat empat bilik (“kamar” tidur) yang dipisahkan dengan tirai. Di ruang utama diletakkan meja2 rendah tempat makan bersama. Dinding bagian dalamnya yang berwarna gelap sangat kontras dengan tirai dan bantal2 yang sebagian besar berwarna merah, kuning dan keemasan. Ah, saya malah jadi sedih membayangkan indahnya Istano Basa Pagaruyung yang tentunya lebih besar, lebih megah dan lebih indah itu. Siapa tahu saya berkesempatan mengunjunginya lagi beberapa tahun mendatang.
Tertawan badai di Sikuai
Di hari ketiga, pagi2 kita sudah berangkat dari Bukittinggi ke Padang. Setelah early check-in di Hotel Nuansa yang terletak di pinggir pantai, kita menuju Dermaga Wisata Bahari di Muara untuk mengikuti one-day trip seharga 125 ribu rupiah ke Pulau Sikuai. Walaupun kapal baru berangkat pukul sepuluh pagi, sejak pukul 8.30 sudah banyak orang datang pada Minggu pagi itu.
Membawa Naila, kita memantau cuaca di situs BMG dan cuaca setempat pagi itu. Cuaca buruk yang sering hadir di musim hujan dapat membuat pelayaran tidak menyenangkan karena ombak besar. Untungnya cuaca cerah pagi itu. Naila yang sempat takut, akhirnya mulai menikmati pelayaran selama satu jam lebih itu.
Pulau Sikuai sebetulnya terletak nggak jauh dari lepas pantai Bungus, selatan kota Padang. Namun karena kapal berangkat dari Muara di dalam kota Padang, kita harus berlayar menyusuri pantai, melewati Teluk Bayur, hingga sampai di pulau kecil ini. Pantainya berpasir putih, dipagari pohon2 kelapa berjajar rapi, dan air biru yang nyaris tanpa ombak karena diapit semenanjung dan pulau2 kecil lainnya. Snorkeling melihat ikan2 aneka warna atau sekedar berjalan kaki mengelilingi pulau juga dapat dilakukan di pulau yang hanya memiliki satu resort hotel ini.
Naila senang sekali bermain pasir di pantai, ditunggui Bundanya yang minum kelapa muda dan makan rujak buah. Benar2 seperti surga dunia. Sayangnya pihak pengelola tampak kurang siap dengan banyaknya pengunjung hari itu, sehingga makan siang baru siap jam dua siang.
Kegembiraan kita nggak berlangsung lama
. Jam setengah tiga tiba2 datang badai, disertai angin kencang, hujan deras, kabut tebal dan ombak tinggi. Manusia boleh berencana dan berhati2, tapi cuaca ternyata nggak bisa ditebak. Kapal yang sedianya kembali ke Padang jam empat sore terpaksa ditunda menunggu cuaca membaik. Ratusan orang menunggu di dalam restoran dan lobi hotel, sehingga bisa dibayangkan betapa crowded-nya suasana saat itu.
Jam 6 sore kapal diberangkatkan. Tapi jumlah penumpang yang saya perkirakan lebih dari 200 orang itu nggak dapat terangkut sekaligus. Nasib membuat kita termasuk dalam rombongan yang nggak terangkut dan harus menunggu kapal berikutnya. Saat saya merasa kecewa itulah, ternyata Tuhan bermaksud melindungi Naila dari pengalaman yang lebih buruk. Kapal yang diberangkatkan barusan, kembali ke Sikuai karena dihadang ombak yang bermeter2 tingginya. ”Penumpang pada menangis, Bu. Saya sempat trauma naik kapal”, kisah Ibu Ruri yang pergi bersama suami, anak2 dan keluarga kakaknya.
Badai menawan kita di Sikuai. Lagi2 pengelola hotel kurang tanggap menyiapkan penginapan darurat. Makan malam dengan menu yang sama seperti siangnya, nasi goreng, baru muncul jam sepuluh malam. Kita dan beberapa keluarga lain yang membawa anak kecil akhirnya membuat pos di pub. Panggungnya yang hangat kita gunakan untuk membaringkan anak2. Dialasi sarung untuk shalat Ayahnya dan berbantalkan tas Bundanya, alhamdulillaah Naila bisa tidur nyenyak.
Jam enam paginya kita kembali ke Padang. Lebih dari 150 orang dijejalkan dalam satu kapal kecil, agak mengabaikan faktor keselamatan sepertinya. Sisa2 badai semalam masih cukup terasa, laut belum setenang kemarin pagi saat kita berangkat. Alhamdulillaah, kita bertiga nggak mabuk laut seperti sebagian besar penumpang. Nggak terlalu banyak menggerakkan kepala, selalu mengamati dan bersiap akan datangnya ombak, dan mendapatkan udara segar adalah resep yang kita praktikkan.
Sampai jumpa, Ranah Minang!
Hotel yang sudah kita bayar untuk semalam, terpaksa hanya dapat kita manfaatkan beberapa jam saja. Mandi dan beristirahat di atas kasur empuk tentu saja sangat kita rindukan setelah tegang semalaman ditawan badai dan tidur2 ayam dengan tubuh melengkung.
Siangnya setelah puas beristirahat, kita makan siang di restoran Nelayan tak jauh dari hotel. Salah satu restoran seafood paling terkenal (dan cukup mahal) di Padang ini menyajikan berbagai jenis ikan, cumi2, kepiting dan udang ala masakan Cina. Bahan bakunya memang supersegar, sehingga walaupun bumbunya standar, masakan tetap terasa nikmat.
Karena penerbangan kita ditunda hingga lewat jam lima sore, kita memuat semua barang ke dalam bagasi taksi dan berkeliling kota Padang. Karena belum terlalu lapar, kita pergi ke toko cindera mata ”Silungkang & Pandai Sikek” di Jl.Sudirman. Seperti namanya, toko ini terutama menjual songket, sarung, bordir dan sulam dari Silungkang dan Pandai Sikek, juga Koto Gadang. Harganya hamper sama dengan di Pasar Atas Bukittinggi.
Penjualnya menjelaskan, songket Pandai Sikek memiliki ciri khas lebih banyak benang emas, dan otomatis harganya juga lebih mahal. Sementara songket Silungkang terlihat seperti sarung, yang memang merupakan tenun khas Silungkang, dengan ornamen benang emas yang nggak terlalu banyak. Songket Koto Gadang memiliki lebih sedikit lagi benang emas, dengan kain katun tenunan tangan berwarna gelap. Songket Pandai Sikek dihargai 1,3 juta sampai 3 juta rupiah, songket Silungkang mulai 500 ribu rupiah ke atas, dan songket Koto Gadang harganya mulai 350 ribu rupiah. Mahal? Memang sih, tapi di Jakarta bisa sampai 2 kali lipatnya.
Saya yang rada fetish kain tradisional, membeli songket Silungkang, tanpa rencana. Untung bisa gesek tanpa biaya tambahan
. Dan sebelum saya tambah kalap, kita menuju daerah Kampung Cina untuk makan es duren Ganti Nan Lamo”. Berbeda dengan es duren Sakinah khas Bandung, es duren Padang ini mirip es campur dengan saus durian yang kental dan sedikit susu kental manis coklat. Rasanya? Luar biasa.
Akhirnya saatnya tiba bagi kita untuk menuju ke Bandara Minangkabau. Saya berjanji dalam hati, akan kembali kemari. Masih banyak tujuan wisata kuliner yang belum dicicipi, seperti Gulai Itiak Kedai Ngarai, Gulai Ikan Pauh Piaman, atau Sate Padang Mak Syukur. Saya ingin singgah di Singkarak, Danau Kembar dan menyusuri bekas tambang batubara di Sawahlunto. Dan siapa tahu, saat itu Istano Basa Pagaruyung sudah selesai dipugar.
Selamat tinggal, Ranah Minang. Sampai jumpa lagi!
*eh, kamu belum ketiduran kan bacanya?*
Popularitas: 7%


yanti
37 
4.1.2009 @ 13:34 










menggunakan
Safari 525.27.1 pada
MacOS X
berkomentar:
nggak ketiduran kok, malah jd pengen ke sana
menggunakan
Firefox 3.0.5 pada
Windows XP
berkomentar:
huih.. seru banged akhir taonnya neng…. aku naksir pantainya tuh.. meni bersih gitu…
menggunakan
Firefox 3.0.5 pada
Windows XP
berkomentar:
lsg ketawa pas baca komentar Naila yg mendadak lapar di depan KFC .. hihihi… duh itu pengalaman yg terjebak badai lumayan juga tuh yaa… untunglah Naila gak terlalu rewel … kesan yg gw dapat siy. liburan yg sangat menyenangkaaannn..
menggunakan
Firefox 3.0.5 pada
Windows XP
berkomentar:
menggunakan
Internet Explorer 7.0 pada
Windows Vista
berkomentar:
seruu banget cerita ranah minangnya, jadi rindu kesana lagi (red: baru sampe bukit tinggi dan sekitarnya saja
)
Naila keren banget deh dipantai bejemur ya nai
menggunakan
Internet Explorer 7.0 pada
Windows XP
berkomentar:
Masyaallah yan..itu pemandangan kereeeeeen abis. Senangnya.
menggunakan
Firefox 3.0.5 pada
Windows XP
berkomentar:
menggunakan
Internet Explorer 6.0 pada
Windows 2000
berkomentar:
menggunakan
Firefox 3.0.5 pada
Windows XP
berkomentar:
hwaaaaaaa, kabitaaaaa…. duw, tfs yan … buat referensi kalo 2K udah siap dibawa jalan2 jauh
ngakak pas baca komentarnya naila : “Di sini kok rumah2nya bertanduk sih!” kekekek …
menggunakan
Internet Explorer 7.0 pada
Windows Vista
berkomentar:
Wah asyiknya bisa liburan ke Padang…huhuhu jadi pengen sate Mak Syukur.
Tulisannya keren Yan.
menggunakan
Internet Explorer 7.0 pada
Windows Vista
berkomentar:
eneng, pantainya keren ya.. gw aja lom pernah kesana.. hihi.. sayang ngga sempat nyicipin sate mak syukur ya… (hehe, biar eneng balik kesana lg)
menggunakan
Internet Explorer 7.0 pada
Windows Vista
berkomentar:
Liburan yang seruuuu. Nai tos sama Daffa yang matanya berbinar melihat KFC dimana pun hehehe. Dohhh kabita sama songket Padang euy, kaciptanya teh yang warna putih hehehe
menggunakan
Internet Explorer 7.0 pada
Windows XP
berkomentar:
makan lemang ga???mau dong songketnya salam kenal
menggunakan
Internet Explorer 7.0 pada
Windows Vista
berkomentar:
Asyiknya Yan, bagus ceritanya lengkap deh, aku serasa pulang kampung juga ( kampungnya nyokap berarti kan kampungku juga ya hehehe meski nggak pernah netap disana ).
Kami masih punya rumah gadang, kalau Yanti lihat penorama tabekpatah tuh itu lihat persawahan dikampungnya kami, Dan juga pasti dari Payakumbuh sebelum tabek patah melewati kampung kami juga, Tanjung Alam namanya.
Makasih ya sudah cerita lengkap, aku mikir.. ini nulis berdasarkan yang ada dikepala atau di catat nama namanya ya, tapi apapun yang yanti lakukan , aku angkat topi deh.. salut TOP banget, lengkap..
Btw, sate payakumbuh, sate batusangkar, sate kota pariaman, beda beda loh.. wajib di coba
Selamat tahun baru ya Yan, maaf jarang mampir
menggunakan
Firefox 3.0.5 pada
Windows XP
berkomentar:
laen kali kalo mau kesana, naila ditraining dulu yan supaya bs makan agak pedes… spy wisata kulinernya nanti puas… hehehe
Trivia: kenapa nagari Koto Gadang di Bukittinggi dan Kota Gede di Yogyakarta namanya bisa sama artinya dan sama2 terkenal dengan kerajinan perak bakarnya yah???
menggunakan
Firefox 2.0.0.20 pada
Windows XP
berkomentar:
Aku naksir sikuai islandnyaaaa
menggunakan
Firefox 3.0.5 pada
Windows XP
berkomentar:
bentar lagi de balas dengan posting Kampung Budaya Sindang Barang ya mbak. Udah nyiapin 12 foto. Kebayang kan brapa panjang tulisannya nanti
menggunakan
Internet Explorer 7.0 pada
Windows Vista
berkomentar:
Yan, harus coba lontong sayur gulai paku yang di padangpanjang dekat sate padang mak syukur tuh, adanya dipasarnya sih.
eh aku aslinya sih Batusangkar, itu tanjungalam sudah masuk tanahdatar batusangkar,satu desa sama bapaknya si Halimahnya BambangS. dia bikin mesjid disana. Tapi aku nggak kenal mereka loh..:) .. duh baca cerita mu lagi, serasa mengulang perjalanan kesana ..
menggunakan
Internet Explorer 7.0 pada
Windows Vista
berkomentar:
Yan, harus coba lontong sayur gulai paku yang di padangpanjang dekat sate padang mak syukur tuh, adanya dipasarnya sih.
eh aku aslinya sih Batusangkar, itu tanjungalam sudah masuk kabupaten tanahdatar batusangkar,satu desa sama bapaknya si Halimahnya BambangS. dia bikin mesjid disana. Tapi aku nggak kenal mereka loh..:) .. duh baca cerita mu lagi, serasa mengulang perjalanan kesana ..
menggunakan
Firefox 1.5.0.4 pada
Windows XP
berkomentar:
boro2 ketiduran…, yang ada malah pengen ikutan main2 ke sana…
siapa tahu tahun depan giliran saya dan keluarga yang liburan ke sikuai. yang pasti kalau soal makanannya kita pasti cucok ya bu…. hehehe
selamat tahun baru ya!
sukses selalu… amin.
:D
menggunakan
Firefox 3.0.5 pada
Windows XP
berkomentar:
thx 4 sharing, serasa ikutan ke ranah minang.
Pantainya Indah banget Yan..
menggunakan
Internet Explorer 7.0 pada
Windows XP
berkomentar:
wah senengnya yg abis mudik.. yan, kripik sanjai nya msh ada gak..? kabita euy..
menggunakan
Internet Explorer 7.0 pada
Windows Vista
berkomentar:
Met Tahun Baru Yan..
Wah.. asyiknya ke Ranah Minang. Gak ketiduran kok.. malah pingin ngajak anak2 kesana suatu hari. Makanya orang Padang pandai berdagang ya.. nama tempat aja berhitung..
menggunakan
Internet Explorer 7.0 pada
Windows Vista
berkomentar:
Waahhh jalan2 di Minang kabaunya mengingatkan pd masa laluku, aku besar disana selama 10 thnan deh tinggal di Sumbar, jadi bikin kangeeennn liat semua foto2nya kayaknya ngga banyak berubah deehh cm teteeepp masih asri jaman dulu hihihi…
Naila pasti seneng banget yaa walopun capek banget perjalanan sana kan jauh2 belum yg jalannya berbukit dan berkelok2 pasti bikin ngga nyaman anak2 yaa tapi liat foto Naila yg hepi tuuhhh pasti ngga kapok neh diajak jalan jauh lagi yaaa apalagi waktu maen ke pante yaaa asyiiikkk….
Ohya met tahun baru yaaa maapp telat *soalnya emang jarang bw*, semoga tahun 2009 memberikan kebahagiaan tersendiri buat keluarga Teh Yanti yaa amiinnn
menggunakan
Firefox 3.0.5 pada
Windows XP
berkomentar:
akhirnya kesampean deh baca cerita lengkap liburan ke Padangnya…wow pemandangannya spektakuler yaa… pantainya indah banget, walopun di terjang badai perahunya, but salut gak mabuk laut….
menggunakan
Firefox 3.0.5 pada
Windows XP
berkomentar:
huuhuhuh… gue nyaris ke sana, liburan akhir tahun. sayang gak jadi
jadi pengen ke sana lagi
menggunakan
Internet Explorer 6.0 pada
Windows XP
berkomentar:
wuiiih… akhirnya nginjakin ranah minang ya Yan. Coba itu sebelum menuju istana pagaruyung dari arah payakumbuh…. bisa mampir dulu di nagari sungayang… kampuang halamanku….
jadi ikutan berjanji dalam hati… next mudik …kesana ah
daku yg asli wong minang blum pernah nginjekin kaki ke sukai… ciyaaan ya
menggunakan
Firefox 3.0.5 pada
Windows XP
berkomentar:
Memang Endonesah itu cantik…gak kalah sama Eropah

Ja, wir sind jetzt in Budapest…biasa deh ngikut si papi ditugasin ke sini….jetzt muss ich wieder ne neue Sprache lernen, bin irgendwie schon zu alt dafür …
Aku udah lama gak pernah update blog maupun blogwalking…Naila udah gede….komentarnya lucu bgt…kok rumahnya di sini bertanduk..aku sampe ngakak bacanya kekekekeke
Na dann viel Spass in 2009 … semoga resesi dunia gak bikin kita stress, yg penting happy selalu bersama keluarga…ya gak
menggunakan
Firefox 3.0.5 pada
Windows XP
berkomentar:
Ya, maaf OOT….kamu itu album fotonya bisa integriet sama wordpress caranya gimana ya? albumnya pake 4images kan yah?
menggunakan
Firefox 3.0.1 pada
Windows XP
berkomentar:
duh jadi pingin jalan2 ke Sum-Bar…terutama karena paragraf-paragraf terakhir…kain songket dan es duren!
Yumm!
:D
menggunakan
Firefox 3.0.5 pada
Windows XP
berkomentar:
semua yg di atas udah gue kunjungi waktu gue kecil
Gue bacanya jadi seperti de javu … hehehe
menggunakan
Internet Explorer 6.0 pada
Windows XP
berkomentar:
Wuaaaaahhhh….indah sekali pemandangannya!!!!
menggunakan
Internet Explorer 7.0 pada
Windows XP
berkomentar:
Gak ketiduran kok… Malah senang, soalnya napak tilas tempat2 yang thn 2003 lalu gw kunjungi juga
menggunakan
Firefox 3.0.5 pada
Windows XP
berkomentar:
kirim ke ambo kripik belado bundo
menggunakan
Firefox 3.0.4 pada
Windows XP
berkomentar:
addduhh, Yan…laporannya lengkap banget.., jajanannya jg!
ammpun deh aku.., jadi kangennnn…pengen ke sana lagi.., terakhir aku ke sana thn juni 99, honeymoon…, jg ke bukittinggi…
ntar aaahhh…, moga2 beneran jd bisa bawa anak2 ke sana
menggunakan
Internet Explorer 6.0 pada
Windows 2000
berkomentar:
hm. hope to see same more info. Can we speake about it?
menggunakan
Internet Explorer 6.0 pada
Windows 2000
berkomentar:
отлично написано, у автора прям талант