nak, jangan pipis sembarangan (1/2)
Bagian pertama dari dua tulisan
Beberapa waktu yang lalu Erfi menanyakan, bagaimana Naila dilatih untuk bisa bebas diaper. Alih2 membalas komentarnya, saya akhirnya memutuskan untuk menulis posting tentang toilet training alias latihan menggunakan toilet seperti layaknya orang dewasa.
Sebenarnya saya malu menulis tentang hal ini, karena pengalaman saya sebenarnya nggak banyak. Anak baru satu, itu pun nggak sepenuh waktu ada dalam pengawasan saya.
Tolong anggap saja dalam tulisan ini saya membagi pengalaman, ditambah dengan beberapa teori yang saya kumpulkan dari berbagai sumber.
Kapan sebaiknya anak mulai dilatih menggunakan toilet?
Generasi di atas kita biasa menatur bayi, yaitu membawanya ke kamar kecil setiap waktu2 tertentu untuk buang air kecil (BAK) sejak usia beberapa bulan. Konon cara ini cukup efektif untuk membiasakan anak BAK di kamar kecil.
Apakah cara ini cukup efektif? Bisa jadi.
Di sisi lain, penelitian di negara Barat menunjukkan bahwa latihan menggunakan toilet baru efektif jika anak sudah siap, yaitu mengerti apa tujuannya dan bagaimana prinsip penggunaan toilet.
Maksudnya? Ya itu, saat anak mulai mengerti bahwa pada waktu tertentu ia akan merasa ingin BAK atau buang air besar (BAB). Dan ia tahu bahwa ia harus melakukannya di toilet seperti orang2 dewasa. Kita bisa mengetahui kesiapan anak dari beberapa tanda fisik, mental dan kepandaiannya:
Fisik:
- Sudah dapat berjalan.
- Sudah nggak terlalu sering BAK, kira2 3-4 jam sekali.
- Sudah nggak terlalu sering BAB dalam sehari, lebih baik lagi kalau sudah teratur.
Mental:
- Sering merasa nggak nyaman kalau celananya basah atau diapernya penuh.
- Mulai menunjukkan keinginan untuk mandiri.
- Tertarik pada kegiatan BAK/BAB orang dewasa.
Kepandaian:
- Sudah bisa memberi tahu baik lewat ekspresi, gerakan atau kata2 jika ingin BAK atau BAB (biasanya BAB lebih cepat).
- Lebih baik lagi kalau sudah mengenal kata untuk BAK dan BAB.
Penelitian mengatakan bahwa anak baru bisa merasakan dan mengendalikan gerakan otot kandung kemih serta usus besarnya pada usia setidaknya 18-24 bulan. Maka sebagian anak mulai siap dilatih menggunakan toilet pada usia tersebut, bahkan banyak yang lebih besar dari itu.
Katanya sih, anak perempuan bisa lebih cepat dilatih. Dan anak pertama biasanya lebih lambat dibanding anak kedua dan seterusnya. Mungkin karena ada contoh dari kakaknya ya!
Naila sendiri sudah dilatih menggunakan toilet pada umur 18 bulan. Waktu itu dia sudah bisa berkata “mau pipis” dan “mau pup”. Kami cukup beruntung karena Naila termasuk anak yang cepat lancar bicara.
Nah, sekarang tanyalah diri kita sendiri selaku orang tua yang akan melatih. Apakah kita juga dalam keadaan siap? Kalau kita misalnya sedang ekstra sibuk, misalnya karena pindah rumah, atau tiba2 mendapat “Proyek Sangkuriang”, atau malah tengah mabok karena hamil muda, mungkin nggak ada salahnya pelatihan penggunaan toilet ini ditunda sementara beberapa minggu.
Intinya, memulai pada saat yang tepat adalah separuh kesuksesan. Bayangkan betapa banyak waktu, energi dan kesabaran yang dapat dihemat jika kita memulai pada saat anak sudah siap untuk BAK/BAB di toilet/pispot, dibandingkan jika kita memaksakan pada saat anak belum ingin atau memang belum siap.
Bagaimana caranya?
Ada dua cara dengan tujuan yang sama, tapi bisa dilihat dari sudut pandang yang berbeda:
1. Menciptakan rutinitas (anak pasif).
Untuk BAB:
Setiap pagi, atau pada saat di mana anak biasanya ingin BAB, anak didudukkan di toilet (atau pispot). Awalnya masih mengenakan baju dan diaper lengkap. Lalu setelah anak terbiasa, baru dalam keadaan “terbuka”.
Katakan apa tujuannya, yaitu agar ia mengejan dan BAB di situ, seperti yang biasa Anda lakukan setiap hari. Kalau anak masih takut, jangan dipaksa.
Tunggu beberapa menit, lalu turunkan anak dari toilet walaupun ia nggak jadi BAB.
Untuk BAK:
Ajak anak ke toilet/kamar mandi setiap satu jam sekali. Buka bagian bawah bajunya, ajak jongkok atau duduk di toilet. Katakan pada anak BAK, bisa juga dengan menyiram2kan sedikit air di alat kelaminnya, sambil menyuarakan “cuuurrr..” atau “piiisss”.
2. Mengajari anak untuk bilang ingin ke toilet (anak aktif).
Ini bisa dilakukan setelah tahap pertama, atau paralel.
Katakan pada anak untuk memanggil Anda saat ingin BAK atau BAB. Ini dibutuhkan kesabaran, karena pada awalnya anak baru menyadari bahwa ia BAK/BAB pada saat hal itu telah terjadi. Alias: celana dan lantai sudah basah
.
Jangan khawatir, lama kelamaan ia akan mengenali sinyal dari tubuhnya sendiri.
Sewaktu Naila masih belajar dulu, kami nggak pernah menjalankan tahap pertama di atas untuk BAB, hanya untuk BAK. Ini karena jam BABnya dan frekuensi perharinya nggak pernah teratur. Kadang dua hari sekali, tapi kadang sehari bisa dua kali. Tapi begitu ia berdiri mematung sambil ngeden, kami harus bergerak cepat membawanya ke toilet.
Kemudian, tentukan di mana anak sebaiknya mulai berlatih BAK/BAB.
Untuk BAK, karena sebagian besar toilet/kamar mandi di Indonesia adalah kamar mandi “basah”, biasanya anak diajari BAK di lantai toilet.
Untuk BAB, dan juga untuk BAK jika toilet Anda adalah toilet “kering”, ada dua pilihan: menggunakan pispot (potty chair), atau menggunakan toilet orang dewasa yang diberi alas duduk tambahan (potty seat insert) agar anak mudah duduk di atasnya dan nggak gampang jatuh.
![]() Pispot |
![]() Alas duduk toilet |
Pispot, karena bentuknya yang kecil, kadang membuat anak lebih percaya diri dan nggak takut jatuh ke dalam toilet. Kelemahannya, pispot perlu proses pembersihan ekstra. Sebaliknya toilet lebih praktis dan membuat anak merasa sama seperti orang dewasa, tapi kadang anak ngeri jatuh ke dalam lubangnya yang besar itu.
Naila ternyata enggan menggunakan pispot, dan juga enggan duduk di toilet yang diberi alas tambahan. Jadi dia lebih suka berjongkok di atas bibir toilet. Ini mungkin dianggap nggak pantas untuk sebagian orang. Tapi kami memilih untuk berkompromi, dan mengajarinya untuk duduk jika dia semakin besar nanti.
Gambar diambil dari Babyuniverse
Popularitas: 8%


yanti
17 
25.1.2007 @ 9:59 





menggunakan
Firefox 2.0 pada
Mac OS X
berkomentar:
Ya, faktor kesiapan ortu juga penting. Setuju banget.
Gaya pipis juga macem-macem. Senyaman anaknya aja. Kalo nyamannya sambil pegangan bak mandi (di kamar mandi basah) ya hayuh. Risikonya, kalo baknya bukan yang itu, suka rada ngambek hihihi…
menggunakan
Firefox 2.0.0.1 pada
Windows XP
berkomentar:
wah, makasih buat tips-tips ini.
meskipun saat ini nayya belum sampai tahapan untuk toilet training, bahan ini bakal menjadi rujukan pada saat ayah, bunbun, dan nayya siap untuk menjalankannya.
saat ini sih lebih senang kalo air pipisnya jadi bahan mainan.
menggunakan
Internet Explorer 6.0 pada
Windows XP
berkomentar:
Aku susahnya ngajarin Qiyya pake toilet jongkok. Karena biasa pake toilet duduk kalo pipis di toilet jongkok maunya duduk di sana. Kalo di toilet umum kan emang lebih bersih yg toilet jongkok ya. Tapi Qiyya gag bisa jongkok, karena lebar banged. Yg ada malah dia mau duduk di sana.
Duuuh repotnya kalo musti begitu. Qiyya gag mau sama sekali pake diaper lagi.
menggunakan
Internet Explorer 7.0 pada
Windows XP
berkomentar:
waa naila dah ga pake nappy lagi yaaa .. ebad euuy
kalau ponakanku kebalik yan, ga bisa jongkok .. gawatnya pas lagi camping sama sekolahnya, emaknya udah khawatir aja nanti gimana bab nya .. ternyata dia nggak pup sama sekali .. ditahan kali ya .. hahah kasian .. untung cuma semalam campingnya ..
semoga krisis listrik cepat teratasi yaa …
menggunakan
Internet Explorer 6.0 pada
Windows XP
berkomentar:
kalo Rafa dulu gampang ngelatihnya. Dari umur 8 bulan Rafa udah rajin di’tatur’ sama susternya. Kan cowok emang lebih gampang di’tatur’. Di towel2 dikit aj audah mancur. Kalo BAK skrg pake alas toilet yg gambar kanan itu.
Nah untuk Fayra nih yang mungkin butuh latihan extra.
menggunakan
Firefox 2.0.0.1 pada
Windows XP
berkomentar:
wow, detail sekali tulisan ini. ga sabar nunggu bagian keduanya
tadi lagi pikir2 masalah toilet trainning, ga kebayang dr mana mulaiinnya.. terjawab sudah deh…
menggunakan
Internet Explorer 6.0 pada
Windows XP
berkomentar:
sama yan patrick juga ogah pake pispot lebih seneng ke toilet langsung syukur-syukur patrick udah lepas pempers lega jadinya
menggunakan
Firefox 1.5.0.9 pada
Windows 2000
berkomentar:
iya Yan, harus siap dan konsisten. Klo gak.. caur deh.
menggunakan
Firefox 1.5.0.9 pada
Windows XP
berkomentar:
perasaan kemaren udah pencet bilang!
gw juga ga mengalami kesulitan berarti waktu potty training Vito .. lebih cepet ketimbang masa melatih Abel
Vito mungkin krn BAB juga teratur .. dan gw inget kata mama mertua .. elusin punggung aja sambil duduk di toiletnya …. ehhh ternyata bener kejadian ama Vito .. langsung ekspresi “poop” gitu
.. beres deh sehari cuman sekali doang tiap abis sarapan … BAK seperti juga kata yg laen .. tinggal bunyi desis juga udah kluar langsung
waktu Abel ga sedini Vito mulainya .. tapi yahh setiap anak kan punya karakter yg beda ya .. sedikit susah juga pertamanya … abis waktu ngalamin Vito kegampangan kali ya masa trainingnya
.. tapi yahh lumayan deh .. masih lumayan cepet juga kalo keinget ada anak laen di kelas Abel [waktu itu nursery] masih pampers-an juga hihihihi …
*jadi keinget pernah pertama kali masih dalam “masa melepas pampers” si vito kebelet poop di PS .. jadi aja gw lari2 ke kamar mandi akhirnya pake acara “ngucek celana”
*
menggunakan
Firefox 2.0.0.1 pada
Windows 2000
berkomentar:
makasih ucapannya ya mbak,
jujur, aku sendiri mulai ngelatih Adam potty training tuh usia dia 1,5 th, dan dalam setengah tahun ke depan tuh dibikin sabar banget, target usia dia 2 th udah ga pipis/pup sembarangan, tapi pada tempatnya. alhamdulillah, mendekati usia 2 th nya, dia udah ngga pup/pipis sembarangan, bahkan juga udah ngga ngompol kalo tidur
btw, aku berhasil buka web nya mbak yanti… dr sini ngga tau kenapa lambat banget, lebih sering refresh mulu
menggunakan
Firefox 1.5.0.9 pada
Windows XP
berkomentar:
menggunakan
Firefox 1.5.0.9 pada
Windows XP
berkomentar:
anak laki ternyata lbh susah emang di trainned. Si Noona pas 2.5 th br gue potty trainned (gak nyoba sebelum itu).. ternyata cuma butuh waktu 1 bulan and gak pernah kecelakaan setelah itu. Sama OD sudah 2.5 th msh blm aja..
ato kali krn gue jg yg kurang konsisten.
menggunakan
WordPress 2.0.7
berkomentar:
[…] Ya, begitulah. Menjelang akhir pekan lalu, kami (suami dan saya yang juga diberdayakan) mendapat proyek -yang dijuluki mbak Yanti sebagai- sangkuriang. […]
menggunakan
Internet Explorer 7.0 pada
Windows XP
berkomentar:
Naila sama kyak Meyra udah bisa bilang pipis umur 17 bulan beda sebulan tok, hehehee.. Dia ngasih kasih pampers ke gw ato papanya kalo ee ato pipis ampe karang.
Cuma kita blum sempet taro dia ke toilet. Untung elo ngebahas free diaper, jadinya ingetin gw buat beli toilet kecil buat Meyra nih. Thanks ya Yan!
menggunakan
WordPress 2.0.7
berkomentar:
[…] Ketika teman anda dengan percaya diri berkata bahwa ia akan menyediakan segala yang diperlukan si kecil namun ternyata ia tidak memperhitungkan ketersediaan air panas, susu cair dingin, pispot (atau penyangga khusus untuk kloset duduk seperti yang dijelaskan mbak Yanti), yogurt, buah potong, dan sari buah. […]
menggunakan
Internet Explorer 6.0 pada
Windows XP
berkomentar:
stressss stressss….anakku 10 bulan, karna denger2 tentang tatur..jadi saya mulai tatur anak saya, nah saya shhh shhh…lamaa…sampe mulut pegel2…tapi ga kluar…yg adanya dia ktawa…tapi setelah di lepas…eh malah pipis..pernah sih sekali berhasil..itu saya senang sekali..sering2 saya tatur..tapi pipis ga kluar…saya dah hampir putus asa nih…tolong ada yg punya masukkan ?
menggunakan
WordPress 2.6
berkomentar:
[…] nak, jangan pipis sembarangan (1/2) […]