celoteh

tentang dress code dan seragam

Hidup ini nggak pernah lepas dari aturan. Wajar kok, untuk menghindari persinggungan antara kepentingan2 pribadi. Dan sebagian besar aturan memang dirancang untuk tujuan itu. Tapi ada juga aturan yang gampang masuk ke zona “nggak masuk akal”. Aturan tentang dresscode misalnya.

Gue pernah mendapatkan undangan dengan catatan di bawahnya, dress code: casual.
OK, pesan diterima. Artinya gue disarankan berpakaian cukup santai seperti siap jalan2 ke mall. Jeans dan kaos atau tunik santai. Rok dengan atasan nggak resmi dan kalung lucu.
Masuk akal. Masih memberikan pilihan yang cukup luas untuk “menjadi diri sendiri”. Dan menyiratkan bahwa pengundang ingin tamu2, dus acaranya, nggak terlalu formal. Obrolan santai.

Tapi saat catatan itu berganti menjadi black and white atau jeans and white shirt, gue jadi agak sebal. Penting ya, semua tamu berpakaian sama? Gue jadi membayangkan berada di tengah clones party.
Mengada2. Nggak jelas tujuannya.


Mendukung suasana

Aturan dress code agaknya dibuat untuk membantu menciptakan suasana yang diinginkan lewat penampilan seluruh hadirin. Sulit membayangkan acara bisa jadi berambience formal kalau yang hadir pakai celana pendek jeans. Tapi memang susah berdebat masalah ini, karena parameternya adalah kepantasan. Beda budaya, beda ukuran kepantasan. Beda generasi, juga bisa beda ukuran kepantasan.

Mungkin karena itu orang Barat yang zakelijk membuat aturan dress code yang cukup baku. Bisa dilihat di sini. Intinya, ada jenis acara formal, semiformal, bisnis, casual, dan sebagainya, yang masing2 memiliki aturan berpakaian sendiri2.

susah berdebat masalah ini, karena parameternya adalah kepantasan

Salah satu aturan kunci ternyata adalah, lebih baik mengenakan pakaian satu tingkat lebih formal, daripada satu tingkat lebih santai. Dan ternyata aturan untuk laki2 lebih kaku daripada untuk perempuan yang bisa memvariasikan pilihannya. Gaun malam untuk acara formal contohnya, bisa sangat bervariasi warna dan modelnya, asal panjangnya sampai ke mata kaki. Sebaliknya untuk acara yang nggak terlalu formal, pilihannya lebih banyak. Di sini ada beberapa petunjuk untuk memilih pakaian yang tepat.

Sebagai orang Indonesia, kita selalu punya opsi mengenakan pakaian nasional untuk acara formal dan semiformal. Untuk cewe jelas lah, kebaya/baju kurung plus kain tradisional rasanya selalu pantas untuk acara seperti itu. Tapi apa kemeja batik bisa menggantikan white tie? Atau subsitusi yang tepat adalah beskap - kain batik - blangkon dan sejenisnya?

Jangan bilang koteka ya pliiiisss… :P

Bagaimana dengan acara resmi di Indonesia, seperti di Istana Negara misalnya? Seperti penerimaan tamu negara atau penganugerahan tanda jasa misalnya. Setahu gue ada aturan untuk mengenakan jas bagi laki2 dan pakaian nasional bagi perempuan untuk untuk acara2 seperti ini. Apakah jas bisa digantikan batik?

Heran

Beberapa waktu yang lalu gue baca di Kompas Online, sebuah grup musik anak muda ditolak masuk ke istana karena hanya mengenakan jeans, padahal sedianya mereka akan diberi penghargaan dari wakil presiden atas prestasinya. Bukan karena nggak tahu, tapi karena kesimpangsiuran informasi. Mereka yang baru mendarat dari pesawat, nggak sempat berganti pakaian dan sempat menanyakan kepada staf protokoler via telepon. Staf menyatakan mereka boleh masuk tanpa pakaian resmi, tapi nyatanya mereka ditolak di pintu masuk.

Gue jadi ingat saat berkunjung ke pura2 di Bali, yang selalu menyediakan kain untuk dililitkan menutupi paha bagi pengunjung yang bercelana pendek. Atau seperti cerita Riri di Al Fateh Mosque yang diberi pinjaman abaya hitam. Mungkin nggak ya, tempat2 seperti istana wakil presiden juga menyediakan peminjaman jas?

Nggak mungkin sepertinya ya :) . Ukurannya kan susah bisa pas.

Seragam

Masih berhubungan erat dengan dress code adalah baju seragam. Sejak TK sampai kerja (buat sebagian orang) sepertinya kita nggak pernah asing dengan seragam ya. Apalagi kalau kerjanya berhubungan dengan pelayanan publik seperti di front desk atau di pabrik. Dan memang ada profesi2 yang harus berseragam, seperti militer atau perawat.

Ada beberapa sisi positif baju seragam.

  • Mudah dikenali, apalagi kalau berkeliaran di mall dalam jam kerja/sekolah *look who’s talking*
  • Mengurangi kesenjangan sosial yang tercermin dalam pakaian *propaganda Orde Baru banget ya :D *
  • Nggak repot memilih baju setiap pagi *ini alasan lelaki banget :P *
  • Nggak akan ada yang overdressed atau malah improperly dressed

Tapi kalau untuk gue pribadi seragam itu banyak sisi negatifnya juga.

  • Mematikan kreatifitas!!!! Duuuh, gue kan juga ingin memilih baju sesuai selera pribadi. Buat gue ini penting, walaupun sebenarnya selera dan gaya gue termasuk mainstream.
    Apa sih yang masih pantas dan muat dipakai oleh emak2 segendut gue?
  • Bosaaaann.. bosaaann…. (masih berhubungan dengan yang di atas :D )
  • Kadang malah tambah merepotkan: ada seragam hari Senin, seragam olahraga, seragam baju muslim untuk hari Jumat, seragam upacara, ….
    Nggak asing kan dengan istilah PDU, PDH, PDL?
  • Tambah repot kalau ternyata bajunya nggak kering atau robek. Nggak bisa pakai yang lain sih! Atau malah jadinya harus punya cadangan untuk setiap jenis seragam.

Kamu sendiri, pro atau kontra baju seragam? Atau punya pengalaman unik tentang dress code?
Lalu baby sitter di lingkungan keluargamu (kalau ada), kamu beri seragam atau nggak?