celoteh

yuk berbusana nasional!!

Ribet dan sulit adalah dua kata yang mungkin langsung terbayang saat kita diharuskan mengenakan busana nasional. Akhirnya kita lalu lebih memilih mengenakan gaun modern pada acara-acara resmi. Benarkah berbusana nasional itu ribet? Bisa jadi, tapi kalau kita tahu trik-triknya, mungkin kesan ribet itu bisa dikurangi seminimal mungkin.

Tidak Harus Kebaya

Busana nasional kita sebetulnya tidak hanya kebaya yang secara tradisional biasa dikenakan perempuan dari Pulau Jawa dan Bali. Kita punya banyak pilihan lain, seperti baju kurung dari Sumatera atau baju bodo dari Makassar. Tetapi mengingat kepraktisan mendapatkannya, agaknya kebaya dan baju kurung merupakan alternatif yang paling banyak dan mudah dipilih.

Kebaya bordir ala Sunda, dari wijayagallery.com

Kebaya pun ada berbagai macam model. Ada kebaya Sunda yang berkerah V atau berkerah siku, ada kebaya Jawa yang berkutubaru (kain yang melintang di tengah-tengah dada), kebaya Kartini yang berkerah lipat, dan sebagainya. Sebetulnya, model kebaya yang kita kenakan tidak terlalu menjadi masalah. Yang penting enak dipakai, dan kita PD mengenakannya.

Sekarang ini model Kartini dan kebaya Sunda lebih populer dibanding kebaya Jawa berkutubaru. Selain itu kita mengenal kebaya encim yang sebetulnya mirip kebaya Sunda juga, terbuat dari bahan katun atau sejenisnya, dan berbordir. Warnanya biasanya putih. Selain model tradisional, model kebaya modern seperti berleher sabrina atau berkerah cina bisa menjadi pilihan.

Baju kurung adalah alternatif yang sangat praktis. Atasannya panjang (setengah paha atau lebih), berkancing belakang, berkerah bulat (kadang dibelah di tengah), lengannya tigaperempat atau panjang, dan bisa diberi bordir atau payet. Modelnya tidak seketat kebaya, sehingga tetap bisa dipakai walaupun kita sedang “khilaf” kelebihan ngemil.

Agar kita percaya diri, pilih model yang sesuai dengan usia, warna kulit dan postur tubuh. Misalnya, kalau kita berpostur agak gempal, jangan mengenakan atasan yang terlalu ketat. Bordir yang penuh dan mewah tentunya lebih cocok dikenakan perempuan matang berusia di atas 35 tahun. Dan jika Anda mengenakan busana Muslimah, jangan memilih atasan yang ketat, menerawang dan terlalu pendek. Lebih baik panjangkan sedikit kebaya Anda agar menutupi pinggul.

Yang lebih menentukan dalam memilih baju nasional untuk suatu acara tertentu adalah kualitas bahan dan warnanya. Kalau acara sangat resmi di malam hari, di mana dresscode-nya adalah gaun malam warna hitam, sebaiknya kita juga mengenakan baju nasional berwarna gelap (setidaknya atasannya). Sebaliknya kalau acara siang hari, lebih baik kenakan warna yg lembut/muda. Kalau acaranya informal atau setengah resmi, jangan kenakan ornamen yang terlalu banyak berkilau-kilau (glitter atau payet).

Bahan yang banyak dipakai adalah bahan katun atau sutra (bisa juga sutra Thailand) yang dibordir, atau bahan lace (orang Indonesia menyebutnya “brokat”). Bahan yang paling mahal dan halus adalah lace Perancis, tapi jika harganya semeter bisa membuat Anda khawatir tak makan sebulan, lace Jepang bisa menjadi pilihan yang tak kalah bagus. Pada acara-acara formal, kenakan baju dari bahan yang agak mengilat dan berkesan mewah, misalnya lace, sutra atau organdi. Untuk acara informal, kenakan bahan katun. Bahan katun juga sangat dianjurkan untuk acara di siang hari atau dalam ruangan tidak berAC karena nyaman dikenakan.

Jangan lupa melapisi kebaya dengan lapisan dalaman yang warnanya sesuai. Modelnya bisa berupa voering yang dijahit pada kebaya, atau kamisol (kemben) yang lepasan. Kamisol sebetulnya lebih bagus jatuhnya, tetapi tidak semua penjahit mampu membuat kamisol yang pas. Jika Anda berbusana Muslimah, sebaiknya gunakan voering di seluruh bagian kebaya, termasuk lengan. Pilih bahan pelapis yang tipis dan nyaman agar tidak panas. Untuk pakaian dalamnya, sebaiknya pakai longtorso (korset) yang sekaligus bisa menahan kain panjang setelah diikat.

Kain dan Selendang

Kain songket dari zainalsongket.com

Pasangan yang tepat untuk baju nasional tentunya kain panjang, baik yang masih tradisional atau yang telah dimodifikasi sehingga berkesan modern. Pada acara-acara formal, sebaiknya busana nasional Anda dipercantik dengan selendang. Sebaliknya, pada acara informal atau kekeluargaan, selendang tidak mutlak diperlukan. Apalagi jika Anda dituntut untuk banyak bergerak, selendang akan mengganggu kelincahan Anda. Itu sebabnya pakaian pengantin Jawa dan orang tuanya (yang notabene banyak bersalaman dengan para tamu) tidak dilengkapi selendang.

Bahan kain panjang untuk pasangan busana nasional bisa bermacam-macam. Traditionally, batik dari Pulau Jawa berbahan mori, sejenis katun yang agak tebal. Bahan ini sangat nyaman dan adem. Kain batik tradisional Jawa tidak memiliki selendang yang matching. Jadi kalau mau memakai selendang, gunakan selendang dari bahan yang jatuh dan agak transparan seperti organdi atau chiffon. Warnanya bisa yang senada dengan kebaya, atau malah warna kontrasnya. Selendang bisa diberi bordir atau ornamen lain seperti rumbai-rumbai dan payet, tapi usahakan warnanya tetap senada dengan warna selendang agar tidak “bertabrakan” dengan komponen warna lain.

Sekarang ini terutama batik pesisir (Pekalongan, Cirebonan, Lasem, dll) banyak dibuat di atas kain sutra, satu stel dengan selendangnya. Batik pesisir memiliki motif yang khas, biasanya corak flora atau fauna (daun-daunan, bunga atau burung merak) dengan warna warni yang beragam, mulai dari kemerahan sampai kehijauan dan biru. Batik pesisir biasanya tidak digunakan dengan diwiru (lipit-lipit kecil di ujung kain) seperti batik SOlo/Jogja, tetapi seperti kain sarung yang dililit saja.

Alternatif dari kain batik adalah kain sarung ala Sumatera (songket) atau Makassar (atau daerah-daerah lain di Nusantara ini). Songket agak kaku bahannya, penuh dengan benang emas, dan biasanya juga satu stel dengan selendangnya, biasa dikenakan berpasangan dengan baju kurung.

Batik tradisional yang berwiru ala Solo/Jogja biasanya dililitkan cukup ketat dan meruncing di bawah. Sementara sarung yang tidak berwiru serta songket dapat dikenakan agak longgar. Agar lebih praktis, Anda dapat meminta penjahit untuk menjahit kain tersebut tanpa memotongnya.

Kalau kainnya sudah bermotif ramai, jangan memadankan dengan atasan yang ramai dengan motif dan warna. Lebih baik pilih atasan polos hiasannya cukup bordir dengan benang sewarna kain (atau senada) dan payet. Sebaliknya kalau kainnya bermotif dan berwarna “kalem” (misalnya warna sogan khas Solo), jangan takut bermain dengan berbagai corak dan motif kebaya.

Bagi Anda yang masih berusia muda, dan acara yang dihadiri tidak terlalu formal, kebaya atau baju kurung dapat dipadankan dengan celana panjang atau rok panjang polos. Bahkan pada acara informal, kebaya encim atau baju kurung dapat dikenakan bersama celana jeans.

Bagi Anda yang berkerudung, pilih kerudung berwarna polos yang senada dengan kebaya atau baju kurung dari bahan yang lembut dan jatuh. Selendang bisa juga dikenakan dikepala untuk mempercantik kerudung Anda.

Pelengkap yang Mempercantik

Jika berbusana nasional, alas kaki yang paling tepat tentunya sepasang selop yang cantik. Pada acara formal di malam hari, kenakan selop yang berkesan mewah dengan aksen kilau atau bebatuan. Warna selop sebaiknya sesuai dengan warna kain panjang atau bawahan yang Anda kenakan agar tidak berkesan bertabrakan, atau pilih warna-warna netral seperti hitam atau putih. Sebagai alternatif, selop sewarna dengan warna bahan perhiasan dapat juga menjadi pilihan, misalnya selop perak jika Anda menggunakan perhiasan perak. Selop tertutup lebih memberikan kesan resmi dibandingkan dengan selop terbuka.

Jangan lupa membawa tas tangan kecil yang cocok dengan selop Anda.

Bagaimana dengan tinggi hak selop? Kalau Anda mengenakan kain panjang berwiru, biasanya kain dikenakan sebatas mata kaki, sehingga selop yang sesuai adalah yang bertinggi sedang (sekitar 5 cm) agar tetap proporsional. Sebaliknya jika mengenakan kain sarung atau songket, Anda dapat dengan leluasa memilih selop bertumit lebih tinggi. Selop bertumit rendah atau datar sebaiknya hanya dikenakan pada acara informal atau jika Anda sedang hamil atau mengalami alasan kesehatan lainnya. Namun tentu saja, keputusan terakhir tetap di tangan Anda. Lebih baik memilih selop yang nyaman daripada sepasang selop yang membuat Anda tidak mampu berjalan ke mana-mana sepanjang acara.

Terakhir, pakailah perhiasan yang agak “lebih” daripada yang biasa dikenakan sehari-hari, tanpa harus berlebihan. Pilih satu warna perhiasan yang sesuai dengan warna pakaian: keemasan atau keperakan. Jika memilih perhiasan dengan bebatuan, sesuaikan juga warnanya. Kalau Anda sudah mengenakan bros besar, Anda tidak perlu lagi mengenakan kalung. Untuk wajah, berdandanlah sedikit lebih dari biasanya, dengan tetap menjadi diri sendiri. Kalau rambut Anda panjang buatlah sanggul cepol atau diblow rapi, tetapi sanggul tradisional tetap merupakan pilihan ideal jika Anda mengenakan kain batik tradisional yang berwiru. Sementara jika rambut Anda sangat pendek, tatalah dengan gel agar terlihat rapi dan berbeda.

Selamat berbusana nasional!