<?xml version="1.0" encoding="utf-8"?>
<!-- generator="wordpress/2.0.5" -->
<rss version="2.0" 
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>celoteh</title>
	<link>http://www.jalankenangan.net/celoteh</link>
	<description>karena celoteh kemarin adalah untuk hari ini dan esok</description>
	<pubDate>Thu, 28 Jan 2010 14:46:48 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.0.5</generator>
	<language>en</language>
			<item>
		<title>kilas balik semester pertama (2) - fashion and beauty</title>
		<link>http://www.jalankenangan.net/celoteh/?p=292</link>
		<comments>http://www.jalankenangan.net/celoteh/?p=292#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 28 Jan 2010 14:46:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yanti</dc:creator>
		
		<category>fesyen</category>

		<category>life without highheels</category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.jalankenangan.net/celoteh/?p=292</guid>
		<description><![CDATA[Duh, ini blog dan seluruh website saya sempat down beberapa hari nih. Gara2 telat bayar domain, hehe. Jadi malu.
Sekarang, karena sudah bayar, saya jadi semangat mau ngeblog lagi. Walaupun cuma satu post, tapi kan kelihatan kalau saya nggak percuma bayar domain dan hosting.
Tadinya saya mau bikin semacam &#8220;kaleidoskop&#8221; peristiwa2 yang paling berkesan selama tahun 2009. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span class="first">D</span>uh, ini blog dan seluruh <em>website</em> saya sempat <em>down</em> beberapa hari nih. Gara2 telat bayar <em>domain</em>, hehe. Jadi malu.<br />
Sekarang, karena sudah bayar, saya jadi semangat mau ngeblog lagi. Walaupun cuma satu post, tapi kan kelihatan kalau saya nggak percuma bayar <em>domain</em> dan <em>hosting</em>.<br />
Tadinya saya mau bikin semacam &#8220;kaleidoskop&#8221; peristiwa2 yang paling berkesan selama tahun 2009. Tapi kok rasanya banyak hal yang terlalu pribadi ya. Sementara yang cukup &#8220;umum&#8221; kan sebagian besar sudah sering diceritakan. Ya <em>sutra</em>, ganti topik ah!</p>
<p>Ingat nggak, <a href="http://www.jalankenangan.net/celoteh/?p=285">di awal kuliah</a> saya pernah bilang, <em>my chapter of life as a student will be a life without high heels. That is mostly true</em>: saya jarang2 pakai <em>high heels</em> ke sekolah, kecuali ada presentasi yang menuntut saya berpakaian lebih rapi. Atau saya lagi pengen <em>cecentilan</em> pake sepatu <em>boot</em> saya yang setinggi lutut dan berhak (maksudnya bukan berhak <em>as in</em> berkewajiban ya) 7 senti.</p>
<p>Walaupun saya nggak <em>fashionable</em> amat, walaupun saya nggak langsing2 amat, nggak terawat2 amat seperti seorang artis sinetron berinisial AS yang sedang kuliah di Australia juga, sepertinya seru juga mencatat tentang <em>fashion and beauty</em> saya selama kuliah. Karena biar bagaimanapun, hampir satu dekade saya kerja jadi <em>mbak2 kantoran</em> (istilahnya Trinity &#8220;Naked Traveler&#8221;) yang punya pakem berpakaian tertentu, pastilah ada perubahan yang cukup signifikan dengan penampilan saya saat saya kuliah. Saya nggak mau lah pakai blazer ke kampus. Tapi tetap pengen kelihatan gaya, nggak harus kelihatan seperti ABG, tapi sesuai umur saya, gitu. </p>
<p><strong><em>Deuh Neng, makan tuh gayaaaa!!!</em></strong><br />
<a id="more-292"></a><br />
Efek &#8220;makan gaya&#8221; adalah: bawaan saya ke Australia bulan Agustus lalu tuh asli banyak banget! Isinya sebagian besar tentu saja baju, sepatu, dan tas. Depkominfo yang baik hati berhasil dapat tiket pesawat dengan <em>baggage allowance</em> seberat 30kg. Tapi itu pun saya sudah nyaris <em>overweight</em>! Ya saya sadar diri aja, beasiswa pas2an, kan saya nggak mungkin banyak belanja di Adelaide. Jadi perlengkapan perang saya harus dibawa dari sini semua. Beberapa hal yang saya ingat pas berangkat:</p>
<ul>
<li>Adelaide punya musim dingin dan musim panas. Jadi saya harus menyiapkan kostum untuk rentang suhu <strong>10&deg; sampai 40&deg; Celcius</strong>. Serius, musim panas di sana ekstrem banget. Seperti berdiri di depan <em>hair dryer</em>. Dan musim dinginnya, walaupun nggak terlalu dingin dan nggak bersalju, sangat &#8220;basah&#8221; dan anginnya kencang.<br />&nbsp;</li>
<li>Pengalaman waktu S1 dulu, saya rada susah cari sepatu di negara2 Barat gara2 ukuran kaki saya relatif mini. Jadi saya siap2 dong, bawa 5 <strong>sepatu</strong> <em>flats</em> (yang dua pasang beli di kaki lima Jalan Kepatihan, haha!), 2 <em>high heels</em>, 1 <em>boots</em> pendek yang umurnya lebih tua dari Naila (waktu berangkat dipakai, biar nggak menuhin koper), plus 1 sandal. Semua bisa <em>compressed</em> jadi 1 <code>koper_besar.zip</code> dan 1 <code>cabin_luggage.zip</code>. Hebat juga ya saya <em>packing</em>nya, hehe.<br />
<br />Pssst, sebulan di Adelaide, <em>boots</em> tua itu jebol, jadi ada alasan buat beli <em>boots</em> selutut yang keren itu. Pas lagi <em>sale</em> dan ada ukuran saya. Huhuy!!<br />&nbsp;</li>
<li><em>&#8220;Kalau kopernya masih muat, bawa baju nasional atau kebaya,&#8221;</em> begitu pesan <strong>Ika Swatika</strong> yang alumnus CMU sebelum saya berangkat. Ya dimuat2in dong, kan saya bangga sama <strong>baju tradisional Indonesia</strong>! Jadi saya bawa satu stel kebaya dan sarung batik, <em>dress</em> batik, dan beberapa atasan batik gaya untuk sehari2. Kalau ini sih kayaknya berhubungan sama <em>signature style </em> saya yang emang maniak batik. Tuh lihat foto di bawah, itu waktu Batik Day tanggal 2 Oktober 2009, saya ikutan juga kan!<br />&nbsp;</li>
<li>Bawaan lain yang juga penting karena di Australia lebih mahal: perlengkapan lenong alias dandan, <strong>payung</strong> (penting!!), aksesoris sebangsanya kalung/gelang/anting2, dan buat saya sih <em>hair dryer</em> sang sahabat setia.</li>
</ul>
<p><span class="shadow" style="float:left"><img src="http://photos-g.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc1/hs252.snc1/9931_137333627214_553567214_2650824_8276511_n.jpg" width="240" height="180" /></span><strong>Fashion</strong></p>
<p>Saya datang ke Adelaide bulan Agustus, saat winter. Di sana winternya nggak dingin2 amat. Nggak harus pakai <em>winter coat</em> yang super tebal, pakai jaket dan <em>cardigan</em> sudah cukup. Saya sih hobi pakai <em>cardigan</em> dan dalaman <em>tanktop</em>, lalu pakai kalung. Bawahnya cukup jeans tanpa stocking dalaman. Kalau pakai rok, ya pakai stocking lah. Soal jaket, saya sukanya jaket yang agak panjang, biar nggak balapan kalau <em>cardigan</em> saya panjang juga. Tapi jaket pendek juga OK kok kalau pakai jeans.</p>
<p>Seperti kota2 lain di Australia, Adelaide bisa punya <strong><em>four seasons in a day</em></strong>. Alias, cuacanya bisa berganti2 hanya dalam hitungan jam. <a href="http://accuweather.com">Ramalan cuaca</a> jadi sahabat saya biar nggak salah kostum. Yang paling aman sih sedia baju berlapis: jaket, baju atau <em>cardigan</em>, dan <em>t-shirt</em> atau <em>tanktop</em> di dalamnya. Kadang saya pakai baju lengan pendek dengan dalaman lengan panjang, seperti gaya mbak2 berjilbab gitu lho. Nanti kalau cuaca dingin, dalaman dan/atau jaketnya dipakai. Atau saat suhu udara naik, saya ke kamar mandi untuk melepas dalamannya. </p>
<p>Musim dingin sih &#8220;gampang&#8221;: kalau kurang hangat tinggal tambah lapisan baju, beres deh. Yang seru kalau musim panas nih. Masa mau telanjang? Salah2 kulit malah kebakar: ya kebakar matahari, ya kebakar malu juga, hehe. Dan saat teman saya yang orang Amerika atau Filipina pakai <em>tanktop</em> bertali spaghetti ke sekolah, saya kok ngerasa nggak bisa ya mengikuti gaya berpakaian seperti itu. </p>
<p>Saya sih hobinya pakai celana pendek, rok atau <em>dress</em> yang berlengan, panjangnya minimkal sedikit di atas lutut. Kalau suhunya masih seperti di Bandung gitu, nggak terlalu panas, pakai bawahannya legging juga enak. Bahan <em>dress</em> yang nyaman adalah dari kaos, campuran <em>lycra</em>, atau katun seperti -tentunya- batik! Kalau pakai celana pendek juga begitu, saya senang sesekali pakai atasannya batik. Nasionalis, gaya, dan adeeeeemmm&#8230; </p>
<p>Untuk aksesorisnya, biar nggak keramean dan pas dengan tema &#8220;anak kuliahan&#8221; (halah!), saya nggak pernah pakai lebih dari dua macam. <em>Less is more</em>. Kalau sudah pakai kalung, nggak usah pakai anting. Kalau sudah pakai gelang besar, nggak usah pakai cincin besar. Saat musim dingin, bisa juga pakai syal yang selain bikin hangat, juga menggantikan fungsi kalung. </p>
<p>Saran dari orang asli Adelaide sih, sebaiknya musim panas pakai topi untuk menangkal sengatan matahari. Sayangnya saya belum pede pakai topi euy. <strong>Kacamata hitam</strong> juga penting, sampai2 sebelum berangkat saya pesan kacamata minus dengan lensa warna hitam. Bukan semata2 buat gaya, tapi juga karena sinar mataharinya sangat menyilaukan dan bikin saya pusing. Soal alas kaki, kalau musim panas sih tinggal pakai sandal. Untungnya kampus saya nggak reseh soal pakaian, mau pakai sandal jepit juga boleh2 saja. Saya sih sukanya pakai sepatu <em>flats</em> atau sandal gladiator. </p>
<p>Tiap hari saya bawa laptop ke sekolah. Masalahnya, saya sering <strong>bosan pakai ransel</strong>. Dan kadang kan tema baju saya nggak cocok dengan ransel. Jadi kadang saya bawa tas model cewe yang agak besar, biar laptop saya berikut bungkusnya bisa masuk situ. Tapi seringnya saya masih harus bawa tas tambahan, semacam tas belanja yang bisa dipakai berulang2, untuk tempat bekal makan siang (saya masak sendiri biar irit). Akhirnya malah seringkali dibalik: bekal dan kabel2 masuk ke <em>handbag</em>, laptop masuk ke tas belanja, hehe.</p>
<p><strong>Beauty</strong></p>
<p>Soal kecantikan sebenarnya sangat erat dengan kesehatan kulit. Apalagi selama jadi mahasiswa, saya hampir nggak pernah pakai <em>foundation</em> kecuali untuk acara resmi. Jadi jelas kan, <strong>kulit yang sehat adalah kunci penampilan</strong>. Padahal kondisi dan situasi selama kuliah sangat nggak bersahabat buat kulit: udara kering, sering bergadang alias kurang tidur, dan sinar matahari yang sangat terik saat musim panas.</p>
<p>Untuk menjaga kesehatan kulit itu, saya rajin pakai <em>body lotion</em> dan <strong><em>sunblock</em></strong> di badan. Lalu pakai<strong> <em>moisturizer</em></strong> merangkap <em>anti aging serum</em> untuk wajah, diikuti <em>sunblock</em> khusus wajah dengan SPF 30. Lingkungan yang kering membuat saya mengantongi lipbalm dan bawa <em>hand cream</em> ke mana2. Dan sebagai salah satu resolusi saya saat ulang tahun,<strong> <em>never forget to apply eyecream</em></strong>! Yaaaa.. walaupun saya seorang ibu, punya anak, tapi saya lebih pengen kelihatan seperti mbak2 daripada ibu2. Dengan kata lain: awet muda, hehe.</p>
<p>Terus, gimana sih <strong>dandanan saya sehari2</strong>? Seperti saya sudah singgung tadi, saya jarang pakai <em>foundation</em>. Paling2 pakai <em>concealer</em> untuk menutupi bekas2 jerawat. Setelah itu pakai bedak tabur dan sedikit <em>blush</em> biar nggak pucat. Di bagian mata, saya cuma pakai <em>eyeliner</em> coklat dan maskara biar mata kelihatan lebih kinclong walaupun kurang tidur. Saya nggak pakai lipstik, cuma pakai <em>lipgloss</em> berwarna natural.</p>
<p>Yang juga penting adalah membentuk alis, karena alis adalah bingkai wajah. Selama ini sih saya selalu membentuk alis sendiri. Tapi kapan2 saya pengen nyoba juga ah, ke tempat &#8220;tukang alis&#8221; kenalannya teman sekelas saya <strong>Shweta</strong>. Hasil kerjaannya bagus, nggak terlalu tipis, dan tarifnya murah karena dia &#8220;praktek&#8221; di rumah.</p>
<p>Intinya, <strong><em>it&#8217;s not only about what you wear, but also how you wear it</em></strong>. Duh, emang ribet ya jadi cewe. Tapi saya nikmatin banget kok!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.jalankenangan.net/celoteh/?feed=rss2&amp;p=292</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>kilas balik semester pertama (1) - studi</title>
		<link>http://www.jalankenangan.net/celoteh/?p=289</link>
		<comments>http://www.jalankenangan.net/celoteh/?p=289#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 22 Dec 2009 17:57:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yanti</dc:creator>
		
		<category>life without highheels</category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.jalankenangan.net/celoteh/?p=289</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa waktu lalu saya dikontak oleh beberapa calon adik kelas yang akan kuliah di CMU bulan Januari 2010 yang akan datang. Sebenarnya saya mau bercerita tentang kesan2 semester pertama lewat pesan pribadi, tapi kemudian saya berubah pikiran. Tulisan ini moga2 bisa menjawab semua pertanyaan teman2, dan mungkin juga bisa berguna buat orang lain.
Seperti sudah saya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span class="first">B</span>eberapa waktu lalu saya dikontak oleh beberapa calon adik kelas yang akan kuliah di CMU bulan Januari 2010 yang akan datang. Sebenarnya saya mau bercerita tentang kesan2 semester pertama lewat pesan pribadi, tapi kemudian saya berubah pikiran. Tulisan ini moga2 bisa menjawab semua pertanyaan teman2, dan mungkin juga bisa berguna buat orang lain.</p>
<p>Seperti sudah saya singgung <a href="http://www.jalankenangan.net/celoteh/?p=286">sebelumnya</a>, ada dua jurusan di CMU Australia, yaitu Master of Public Policy Management (PPM) dan Master of Information Technology (IT). Ada dua pilihan untuk menyelesaikan kuliah, yaitu secara penuh-waktu atau paruh-waktu. Mahasiswa asing umumnya mengambil program penuh-waktu, sementara program paruh-waktu biasanya diminati karyawan, dan bisa mengambil waktu sampai 5 tahun. Untuk program penuh-waktu jurusan PPM, kita bisa mengambil jalur 3 semester atau 5 semester. Sementara untuk IT hanya ada pilihan jalur 3 semester. Perlu diketahui bahwa yang disebut &#8220;semester&#8221; sebenarnya adalah caturwulan alias sepertiga tahun. Jadi jalur 3 semester akan memakan waktu satu tahun.</p>
<p><a id="more-289"></a><br />
<span class="shadow" style="float:left"><img src="http://photos-b.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs078.snc3/14540_186240707214_553567214_3044883_5301894_n.jpg" alt="My heart is in the work" width="240" height="180" /></span><br />
Di jurusan MSIT setiap mahasiswa harus menyelesaikan 144 unit alias kredit. Jadi dihitung2, minimal tiap semester ada 48 kredit yang harus diambil. Ada mata kuliah yang bobotnya 12 unit, yang artinya punya 12 pertemuan alias satu semester penuh, masing2 3 jam. Ada juga mata kuliah &#8220;mini&#8221; yang bobotnya 6 unit dan selesai cuma dalam 6 pertemuan alias setengah semester. Tapi yang namanya <em>mini course</em> ini bukannya lebih ringan, kadang malah bisa lebih berat. Karena materinya hanya beda2 tipis dengan yang satu semester penuh, tapi waktunya hanya separuh semester, maka biasanya <em>mini course</em> punya sejibun tugas.</p>
<p>Dari sekian banyak unit, untuk jurusan IT hanya ada 6 mata kuliah yang wajib, totalnya 66 unit. Sisanya mata kuliah pilihan. Ada dua catatan saya:</p>
<ul>
<li>Untuk mata kuliah yang wajib, kalau kita merasa sudah cukup punya pengetahuan dan pengalaman dalam bidang tersebut, nggak ada salahnya menghubungi dosen mata kuliah tersebut untuk minta <em>exemption</em>. Artinya kita dibebaskan dari mata kuliah yang bersangkutan, dan sebagai ganti unitnya kita bisa mengambil mata kuliah pilihan lain. Jadi jumlah unit yang kita ambil harus tetap, totalnya 144 unit dalam setahun. Biasanya dosen akan memberikan ujian di minggu2 orientasi atau selambat2nya pada pertemuan pertama mata kuliah yang bersangkutan. Saya beruntung bisa dibebaskan dari Object Oriented Programming (Java) dan Database Management, walaupun gagal dibebaskan dari Object Oriented Analysis and Design.</li>
<li>Untuk mata kuliah pilihan, sebisa mungkin mengambil mata kuliah yang ditawarkan oleh dosen2 dari CMU Pittsburgh lewat <em>video conference</em>. Walaupun nggak bisa bertemu fisik dengan dosennya, teknologi ini memungkinkan komunikasi dua arah secara <em>real time</em>. Secara umum, dosen2 dari Pittsburgh memiliki kualitas yang baik.</li>
</ul>
<p><span class="first">S</span>ecara umum kuliah di CMU Australia cukup berat buat saya. Selain karena prosesor otak saya sudah tua dan kapasitas memorinya terbatas, materi disampaikan dalam tempo yang cepat dan ekspektasi dosen juga sangat tinggi. Tiada hari tanpa mengerjakan tugas. Hampir setiap minggu punya 7 hari kerja, karena saya tetap harus belajar atau mengerjakan tugas. Sesekali bergadang, walaupun Satria Bergitar bilang jangan. Dan menjelang akhir semester saya ingin berteriak seperti <a href="http://www.youtube.com/watch?v=9uidygBUsVI">lagunya Oasis</a> yang nggak pernah dirilis: &#8220;STOP THE CLOCKS!!!!!&#8221;. Habis gimana, waktu 24 jam pun rasanya nggak cukup. Huwaaaa!</p>
<p>Iya, iya, saya ngerti. Kamu pasti mau bilang, sekolah di mana2 pasti susah. Basi banget, nggak ada cerita lain ya? <em>Well</em>, sekarang saya mau cerita tentang tiga hal yang cukup unik selama semester pertama saya kuliah di CMU: tugas kelompok, partisipasi kelas dan <em>blackboard</em>, dan plagiarisme.  </p>
<p><span class="shadow" style="float:right"><img src="http://photos-f.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs078.snc3/14540_180416587214_553567214_3000375_5771682_n.jpg" alt="My desk at study room" width="240" height="180" /></span><strong>Tugas kelompok</strong></p>
<p>Hampir semua mata kuliah yang saya ambil di semester pertama menuntut tugas atau proyek yang dikerjakan dalam kelompok. Setelah saya amati, yang krusial dalam tugas kelompok ternyata nggak cuma penguasaan materi atau bagaimana me-<em>manage</em> pembagian tugasnya, tapi juga memilih anggota tim yang tepat. Karena kadang ada orang yang <em>bossy</em> ingin selalu mengatur, atau malah ogah ikut kesepakatan tim karena merasa lebih tahu. Ada juga orang yang nggak berkontribusi dengan sejuta alasan. </p>
<p>Serunya lagi, ada orang yang menyenangkan sebagai teman, tapi kurang pas untuk bekerja sama dalam tim. Jadi memang sebaiknya kita dekat dengan semua teman. Dan juga tetap pasang mata dan telinga, biar jeli melihat siapa yang bisa dijadikan teman kerja dalam tim.</p>
<p><strong>Partisipasi dalam kelas dan <em>blackboard</em></strong></p>
<p>Pada pertemuan pertama, semua dosen wajib menjelaskan silabus mata kuliah yang dibinanya. Juga skema penilaian untuk mata kuliah tersebut, misalnya berapa persen diambil dari tugas, berapa persen dari ujian, berapa persen dari tugas kelompok, dan seterusnya. Nah, hampir semua mata kuliah punya nilai <em>class participation</em> yang diambil dari partisipasi dan aktivitas kita di kelas, baik itu bertanya, menjawab pertanyaan dosen, berdiskusi, dan sebagainya. Jadi kalau kita diam saja di kelas ya rugi sendiri.</p>
<p>Yang kedua masih mirip2, adalah partisipasi <em>blackboard</em>. <em>Blackboard</em> adalah sumber informasi <em>online</em> serbaguna tentang mata kuliah yang kita ambil, di mana dosen bisa memasang materi kuliah, soal2 tugas, dan nilai tugas atau ujian kita dengan privasi dan keamanan terjamin. <em>Blackboard</em> juga dilengkapi dengan forum diskusi yang fungsinya mirip Kaskus, hehe.. Tergantung kebijakan masing2 dosen, kadang aktivitas dan kontribusi dalam diskusi2 di forum ini juga diperhitungkan dalam nilai akhir. Saya sendiri sempat kehilangan beberapa poin karena kurang aktif dalam forum diskusi Telecommunication Management. Jangan ditiru ya!</p>
<p><strong>Plagiarisme</strong></p>
<p>CMU cukup keras menerapkan aturan plagiarisme: ketahuan menyontek, menjiplak, mengkopi, atau lupa mencantumkan referensi akan berakibat fatal pada nilai kita. Banyak kasus teman2 di semester kemarin yang lupa mencantumkan referensi pada tugas Database Management, dan tugas itu tinggal mendapat nilai sekitar 30%. Sayang banget kan!</p>
<p>Masih berhubungan dengan plagiarisme dan tugas kelompok, saya punya pengalaman buruk nih. Jadi ceritanya, salah satu rekan satu tim saya mengerjakan tugas bagiannya dengan mengkopi mentah2 sebuah sumber dari internet. Sebagai <em>compiler</em>  yang bertugas mengumpulkan semua bagian dari semua anggota tim, saya sempat curiga pada tulisan tersebut, dan mengingatkan dia untuk menulis ulang. Tapi karena dia nggak bereaksi, dan <em>deadline</em> semakin dekat, saya dan seorang rekan lain mencoba mem-<em>paraphrase</em> tulisan tersebut sebisa kami. Walaupun begitu, ternyata tetap ketahuan oleh dosen mata kuliah tersebut, dan kelompok kami dapat teguran keras. </p>
<p>Dosen tersebut bilang, sebagai sebuah tim, kalian jatuh bangun bersama2. Kali ini beliau hanya memberi nilai jelek pada individu yang melakukan plagiarisme tersebut. Tapi yang akan datang, bisa jadi akan ada dosen yang langsung memberi nilai nol pada seluruh anggota tim. Beliau bilang, seharusnya kalian semua bertanggung jawab atas kualitas tugas yang diserahkan. Saya jadi agak menyesal, kenapa nggak lebih &#8220;galak&#8221; dan membuang seluruh bagian bermasalah tersebut dari tugas. Nggak perlu merasa <em>pakewuh</em> terhadap yang bersangkutan. Ah sudahlah, toh saya masih sangat bersyukur karena saya pribadi masih mendapat nilai hampir penuh untuk tugas tersebut.</p>
<p><em>Lesson learned well</em>.
</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.jalankenangan.net/celoteh/?feed=rss2&amp;p=289</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>uighur experience</title>
		<link>http://www.jalankenangan.net/celoteh/?p=288</link>
		<comments>http://www.jalankenangan.net/celoteh/?p=288#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 13 Sep 2009 15:40:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yanti</dc:creator>
		
		<category>keseharian</category>

		<category>life without highheels</category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.jalankenangan.net/celoteh/?p=288</guid>
		<description><![CDATA[Malam minggu kemarin, dalam rangka pembubaran (?) panitia Indopendence Day 2009, saya mendapatkan pengalaman kuliner yang unik dan menarik. Acara makan malam yang sedianya akan diadakan di Watermark, sebuah resto buffet yang rada &#8216;wah&#8217; di Glenelg, dipindahkan ke sebuah resto tak dikenal di 580 Port Road. Muti yang berbaik hati nebengin saya dan Sigit kemarin, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span class="first">M</span>alam minggu kemarin, dalam rangka pembubaran (?) panitia <strong>Indopendence Day 2009</strong>, saya mendapatkan pengalaman kuliner yang unik dan menarik. Acara makan malam yang sedianya akan diadakan di Watermark, sebuah resto buffet yang rada &#8216;wah&#8217; di Glenelg, dipindahkan ke sebuah resto tak dikenal di 580 Port Road. <strong>Muti</strong> yang berbaik hati nebengin saya dan <strong>Sigit</strong> kemarin, sampai harus berputar dua kali untuk menemukan resto mungil ini. Memang nggak seorangpun dari 18 orang peserta pernah makan di sini sebelumnya selain <strong>Angga</strong>, pak ketua.</p>
<p>Resto ini bernama <strong>Uighur</strong>, nama yang mana sumpah mati nggak berarti apa2 buat saya. Saya dan Sigit sempat sepakat bahwa nama ini berbau Mongolia. Jangan tanya kenapa, cuma <em>feeling</em> kok. Dan ketika memasuki restoran ini, saya seperti dikelilingi beberapa tanda tanya kecil2 di atas kepala. <u>Satu</u>, resto ini memajang logo halal besar, yang artinya dimiliki oleh muslim. <u>Dua</u>, pemiliknya berwajah oriental. <u>Tiga</u>, hiasan2 di resto ini berbau Timur Tengah. <u>Empat</u>, nama2 masakan di daftar menu tuh aneh2 banget, tapi ditulis dalam abjad Latin dan China. Euh, halo?</p>
<p><a id="more-288"></a><br />
<span class="shadow" style="float:left"><img src="http://crl.nmsu.edu/say/uighur/uighur_map.jpg" alt="Uyghur" /></span>Pulang dari sana, saya tanya Tante Wiki. Suku Uighur - atau tepatnya Uyghur - ternyata adalah bagian dari rumpun Turki yang tinggal di sisi paling barat China, dekat dengan Kazakhstan dan Mongolia. Seperti leluhurnya yang berasal dari Turki, mereka juga beragama Islam (Sunni). Merupakan bagian dari rute perdagangan yang tersohor sejak ribuan tahun yang lalu, <strong>Silk Road</strong> alias Jalan Sutra, sekarang kawasan itu menjadi bagian dari propinsi <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Xinjiang_Uyghur_Autonomous_Region">Xinjiang</a>. Walaupun secara resmi mereka menggunakan bahasa Mandarin, mereka tetap melestarikan bahasa asli Uyghur. Jadi empat pertanyaan saya di atas tadi terjawab sudah.</p>
<p>Makanannya sendiri sangat terpengaruh masakan Timur Tengah. Saya sempat kaget ketika hidangan pertama datang. Kebab alias semacam sate, dengan tusuk sate sebesar pedang (hiperbola.com). Bahan makanan yang paling banyak terdapat dalam menu adalah daging kambing dan ayam. Bumbu2nya pun rempah2 Timur Tengah, nggak pedas, tapi cukup &#8216;menyengat&#8217; lah. Beberapa hidangan disajikan dengan roti ala Turki. Walaupun begitu, pengaruh Cina juga terasa seperti pada <em>lamb stir-fry with spring onion</em>, atau <em>prawn stir-fry</em> yang aslinya tak mungkin dikenal di Uyghur yang terletak di tengah2 benua dan jauh dari pantai.</p>
<p><img class="blogimg" src="http://jalankenangan.net/images/12092009037a.jpg" alt="Arya &#038; Pedang Ayam :D" style="float:none" /></p>
<p>Semua porsi makanan berukuran jumbo. Jadi sebaiknya kita pesan makanan untuk di-<em>share</em> beramai2. Tapi yang paling menakjubkan sih harganya. Untuk porsi sebesar itu, harga makanan hanya dipatok $10 sampai $25. Menarik kan? Tapi kemarin sumpah deh, saya makan kambing2 enak itu sambil deg2an. Takut kolesterol naik tanpa permisi. Umur emang nggak bisa bohong, hehehe&#8230; </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.jalankenangan.net/celoteh/?feed=rss2&amp;p=288</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>jalan2 gratisan</title>
		<link>http://www.jalankenangan.net/celoteh/?p=287</link>
		<comments>http://www.jalankenangan.net/celoteh/?p=287#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 29 Aug 2009 10:07:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yanti</dc:creator>
		
		<category>perjalanan</category>

		<category>life without highheels</category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.jalankenangan.net/celoteh/?p=287</guid>
		<description><![CDATA[Selain semua &#8220;how-to&#8221; yang berhubungan dengan masalah akademis yang tentunya maha penting itu, yang paling ditunggu2 dalam Orientation Program adalah acara jalan2. Gratisan, fun, dan bisa mendekatkan semua teman dalam satu batch sebelum &#8220;the real fun&#8221; dalam masa perkuliahan tiba.
Di minggu pertama, acaranya adalah jalan2 keliling kota Adelaide. Kota ini didesain oleh Colonel William Light [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span class="first">S</span>elain semua &#8220;how-to&#8221; yang berhubungan dengan masalah akademis yang tentunya maha penting itu, yang paling ditunggu2 dalam Orientation Program adalah acara jalan2. Gratisan, <em>fun</em>, dan bisa mendekatkan semua teman dalam satu <em>batch</em> sebelum <em>&#8220;the real fun&#8221;</em> dalam masa perkuliahan tiba.</p>
<p>Di minggu pertama, acaranya adalah jalan2 keliling kota Adelaide. Kota ini didesain oleh <strong>Colonel William Light</strong> pada tahun 1837. <a href="http://maps.google.com.au/maps?q=Adelaide,+Australia&#038;z=11&#038;utm_campaign=en&#038;utm_medium=ha&#038;utm_source=en-ha-apac-au-sk-gm&#038;utm_term=adelaide%20map">Desain</a> pusat kota ini berbentuk segiempat dengan jalan yang &#8220;kotak2&#8243;. Dijamin kita nggak akan lama kesasar deh!</p>
<p><a id="more-287"></a><br />
<span class="shadow" style="float:left"><img src="http://photos-f.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc1/hs169.snc1/6329_110429377214_553567214_2339029_4623536_n.jpg" width="200" height="150" alt="Stone garden" /></span>Perjalanan dimulai dari kampus yang terletak di pusat kota Adelaide, Victoria Square, kita menyusuri <strong>North Terrace</strong> yang di sisinya banyak terdapat bangunan2 penting seperti Royal Adelaide Hospital, <a href="http://www.adelaide.edu.au">University of Adelaide</a>, Museum of South Australia, Railway Station, dan sebagainya. Pihak universitas sempat mengingatkan, bahwa di Australia, memotret bangunan2 pemerintahan dan militer seperti pengadilan dan kantor polisi adalah <a href="http://www.4020.net/words/photorights.php">terlarang</a>. </p>
<p>Setelah itu kita dibawa ke <strong>Himeji Garden</strong> di South Terrace. Taman ini bergaya Jepang, termasuk dengan &#8216;taman batu&#8217; alias <em>stone garden</em> yang notabene merupakan susunan batu2 dan kerikil khas taman Jepang. Pada hari itu banyak penduduk senior kota yang duduk di taman dan melukis di sana. Sangat menarik, bagaimana mereka menghabiskan hari tua yang penuh waktu luang.</p>
<div align="center"><img src="http://photos-c.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc1/hs125.snc1/5369_117143912214_553567214_2430434_4229961_n.jpg" width="200" height="150" alt="Picnic" class="blogimg" />&nbsp;<img src="http://photos-d.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc1/hs169.snc1/6329_110429407214_553567214_2339035_2196947_n.jpg" width="200" height="150" alt="Haigh's Chocolate"  class="blogimg" /></div>
<p>Kita kembali menuju ke utara, ke <strong>Light&#8217;s Vision</strong> di Montefiore Hill, North Adelaide. Di sana berdiri patung Colonel Light, menunjuk ke arah kota Adelaide yang didesain olehnya. Dan setelah makan ala piknik di hamparan rumput <a href="http://www.environment.sa.gov.au/botanicgardens/">Adelaide Botanic Garden</a>, kita mampir ke <a href="http://haighschocolates.com.au/">Haigh&#8217;s Chocolate Factory</a>. Cokelatnya eksklusif, tak diekspor keluar Australia, dan perusahaan ini masih tetap bertahan menjadi perusahaan keluarga sampai sekarang.</p>
<p><span class="shadow" style="float:right"><img src="http://photos-h.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc1/hs189.snc1/6329_110429427214_553567214_2339039_1638705_n.jpg" width="200" height="150" alt="Glenelg and Yunni" /></span>Acara ditutup dengan mengunjungi pantai paling terkenal di Adelaide, yaitu <strong>Glenelg</strong>. Cuaca hari itu sangat mendukung, untuk menikmati pantai. Walaupun air masih terasa dingin, teman saya <strong>Yunni</strong> yang asal China nekat bermain air karena ini adalah pengalaman pertamanya pergi ke pantai.</p>
<p>Foto2 <em>City Tour</em> ada di <a href="http://www.facebook.com/album.php?aid=99048&#038;id=553567214">Facebook saya</a>.</p>
<p><strong>Adelaide Hills</strong></p>
<p>Minggu kedua kita pergi ke daerah perbukitan di sebelah timur kota Adelaide. Berbeda dengan acara jalan2 yang pertama, cuaca kali ini cukup dingin, dengan gerimis dan angin berkecepatan sama dengan mobil di dalam kota. Tapi toh itu semua nggak mengurangi keceriaan kita semua.</p>
<div align="center"><img src="http://photos-g.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc1/hs169.snc1/6329_114540147214_553567214_2396734_2353202_n.jpg" alt="Adelaide Hills Trip Route" width="150" height="200" class="blogimg"  />&nbsp;<img src="http://photos-d.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc1/hs169.snc1/6329_114435717214_553567214_2395427_3660867_n.jpg" alt="Francis @ Whispering Wall" width="150" height="200" class="blogimg"  /></div>
<p>Persinggahan pertama adalah Barossa Dam, sebuah bendungan sepanjang 140 m yang memiliki efek akustik yang unik. Kalau kita berbisik di ujung dinding bendungan yang satu, suara akan terdengar di ujung bendungan yang lain. Karena itu bendungan ini juga dikenal dengan nama <strong>&#8220;Whispering Wall&#8221;</strong>. Walaupun angin kencang menyambut kami di sana, kami tetap berjalan di atas dinding bendungan yang hanya selebar gang senggol itu, untuk mencoba efek unik ini.</p>
<p>Dari sana kami menuju <strong>Gumeracha</strong>, ke lokasi sebuah <a href="http://www.thetoyfactory.com.au/">pabrik mainan kayu</a>. Ada dua hal yang sangat menarik di sini selain <em>factory outlet</em> mainan. Yang pertama adalah &#8220;mainan kuda goyang&#8221; terbesar di Australia. Kuda yang memiliki panjang 10,5 meter dan tinggi total lebih dari 18 meter ini menjadi salah satu ikon negara Australia.  Hal menarik lainnya adalah sebuah kebun binatang mini di mana kita bisa bermain dan memberi makan kangguru, kambing, dan bermain dengan burung merak.</p>
<div align="center"><img src="http://photos-b.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc1/hs169.snc1/6329_114435747214_553567214_2395433_5679501_n.jpg alt="Biggest Rocking Horse in The World" width="200" height="150" class="blogimg"  />&nbsp;<img src="http://photos-d.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc1/hs189.snc1/6329_114435757214_553567214_2395435_5823337_n.jpg" alt="Feeding Mama Kangaroo" width="200" height="150" class="blogimg"  /></div>
<p><span class="shadow" style="float:left"><img src="http://photos-d.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc1/hs189.snc1/6329_114435797214_553567214_2395443_2448248_n.jpg" alt="Me cuddling Koala" width="150" height="200" /></span>Setelah acara makan siang (dan berteduh untuk kami yang berpuasa), kami bergerak ke <a href="http://www.gorgewildlifepark.com.au/">Gorge National Park</a>, masih dalam keadaan hujan rintik2. Bukan sebuah taman nasional yang besar, tapi di sini terdapat banyak jenis hewan. Mulai dari beraneka burung yang cantik2, kangguru, <em>wallaby</em>, kelelawar, sampai monyet. Yang menjadi <em>highlight</em> di sini adalah pada jam2 tertentu, kita bisa menggendong dan berfoto dengan koala. Lucu banget memang, ngemil2 daun kayu putih.Tapi taruhan, pasti mereka pasti bosen banget diajak berfoto begitu <img src='http://www.jalankenangan.net/celoteh/wp-images/smilies/tongue.gif' alt=':P' class='wp-smiley' /> .</p>
<p>Setelah mampir di (lagi2) pabrik coklat <a href="http://www.melbaschocolates.com/home/">Melba</a>, kami menuju <a href="http://www.adhills.com.au/tourism/towns/hahndorf/">Hahndorf</a>. Cuaca berubah cerah, matahari muncul, tapi udara masih terasa dingin karena angin bertiup sangat kencang.</p>
<p><span class="shadow" style="float:right"><img src="http://photos-a.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc1/hs189.snc1/6329_114435827214_553567214_2395448_313313_n.jpg" alt="Hahndorf" width="200" height="150" /></span>Hahndorf awalnya didirikan oleh pendatang dari Prusia yang dipimpin oleh Kapten Hahn tahun 1638. Pengaruh Jerman sangat terasa di sini. Banyak bangunan bergaya Jerman dengan konstruksi kayunya yang khas, toko2 yang menjual roti dan kue khas Jerman, sosis Jerman, dan tentunya bir Jerman <img src='http://www.jalankenangan.net/celoteh/wp-images/smilies/smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> . Sayangnya harga di sini nggak murah, mengingat Hahndorf adalah kota turis.</p>
<p>Foto2 <em>Hills Tour</em> ada di <a href="http://www.facebook.com/album.php?aid=101027&#038;id=553567214">Facebook saya</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.jalankenangan.net/celoteh/?feed=rss2&amp;p=287</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>CMU, kesan pertama</title>
		<link>http://www.jalankenangan.net/celoteh/?p=286</link>
		<comments>http://www.jalankenangan.net/celoteh/?p=286#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 13 Aug 2009 14:37:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yanti</dc:creator>
		
		<category>life without highheels</category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.jalankenangan.net/celoteh/?p=286</guid>
		<description><![CDATA[Hampir seminggu saya resmi menjadi mahasiswa di Carnegie Mellon University (CMU) Adelaide. Mungkin belum banyak yang tahu, CMU di Adelaide adalah satu dari dua cabang CMU di seluruh dunia, dan merupakan universitas asing pertama di seluruh Australia. Di Adelaide CMU hanya punya dua jurusan: Master of Public Policy Management, dan Master of Information Technology. Kampusnya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span class="first">H</span>ampir seminggu saya resmi menjadi mahasiswa di Carnegie Mellon University (CMU) Adelaide. Mungkin belum banyak yang tahu, CMU di Adelaide adalah satu dari dua cabang CMU di seluruh dunia, dan merupakan universitas asing pertama di seluruh Australia. Di Adelaide CMU hanya punya dua jurusan: Master of Public Policy Management, dan Master of Information Technology. <a href="http://www.heinz.cmu.edu.au/about-us/campus/index.asp">Kampus</a>nya pun terbilang kecil, menempati sebuah gedung tiga lantai yang punya nilai historis di <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Victoria_Square,_Adelaide">Victoria Square</a>.</p>
<p>Dengan total hanya sekitar seratus mahasiswa, nggak banyak orang di luar CMU yang tahu apa itu CMU, hehe.. Padahal konon, untuk Master of Information Technology, CMU Pittsburg adalah salah satu universitas terbaik di seluruh dunia.</p>
<p>Maka percakapan semacam ini sangat umum terjadi, dalam bahasa Indonesia, Inggris, atau apapun:<br />
<a id="more-286"></a><br />
<em>Q: Kuliah di mana, Adelaide Uni atau UniSA (South Australia)?</em><br />
A: Di Carnegie Mellon University, di Victoria Square<br />
<em>Q: HAH? Emang di situ ada kampus? CMU apaan sih?</em><br />
A: (menjelaskan kalimat ketiga dan keempat dari paragraf pertama di atas)</p>
<p>Kapan2 saya akan posting lebih banyak tentang Victoria Square dan bangunan tempat kampus saya berada.</p>
<p><span class="first">M</span>inggu pertama dan kedua di CMU adalah <strong>Introductory Academic and Orientation Program</strong>. Jangan bayangkan ini seperti masa orientasi kampus atau Ospek di Indonesia. Program yang ditawarkan benar2 berguna untuk membuat para mahasiswa baru merasa familiar dan <em>homey</em> di kampus, di Adelaide, dan di Australia secara umum.</p>
<p><span class="shadow"><img src="http://photos-b.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc1/hs189.snc1/6329_110429352214_553567214_2339025_319184_n.jpg" alt="CMU welcomes us!" width="320" height="240" /></span></p>
<p>Informasi yang ditawarkan kira2 ada empat bagian besar:</p>
<ol>
<li><strong>Pengenalan akademik</strong>, seperti sesi singkat tentang cara menulis essay/<em>paper</em>, informasi tentang plagiarisme, pengenalan aturan2 studi (jumlah kredit, matkul prasyarat, dll), <em>overview</em> matkul yang ditawarkan, cara menyusun rencana studi, dan sejenisnya.</li>
<li><strong>Pengenalan kampus</strong>, seperti perkenalan dengan pimpinan, staf, para dosen, layanan2 yang tersedia di kampus, pengenalan ruangan2 di kampus, dan yang serupa dengan itu. Seperti di sekolah2 di Amerika, semua mahasiswa di sini punya <em>locker</em> kecil dengan <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Combination_lock#Single-dial_locks">gembok ala Amerika</a> pula. Hehe, gaya banget deh!</li>
<li><strong>Pengenalan kehidupan di Adelaide</strong>, seperti akomodasi, pengenalan kota, transportasi, telepon seluler dan provider internet, budaya Australia, visa, kesehatan dan asuransi, serta isu keamanan.</li>
<li>Sesi informal untuk berkenalan dan mencari pengalaman dari para senior dan/atau alumni.</li>
</ol>
<p>Mereka juga memperkenalkan tempat2 perbelanjaan yang penting untuk berbelanja dan mencari makan siang, seperti <strong>Central Market</strong> dan <strong>Rundle Mall</strong>. Ini penting karena kampus kita nggak punya kantin, tapi lokasinya di pusat kota sehingga kita mudah untuk beli makan. Di <em>Student Lounge</em> tersedia air minum, kulkas, <em>microwave</em> untuk kepentingan makan ini juga <img src='http://www.jalankenangan.net/celoteh/wp-images/smilies/smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> .</p>
<p><span class="first">S</span>atu hal yang saya tangkap, kuliah di CMU sangat berat. Setiap mata kuliah menuntut begitu banyak tugas. Jangka waktu program yang hanya setahun membuat banyak materi menjadi dipadatkan. Jika mahasiswa di <a href="http://www.unisa.edu.au">University of South Australia (UniSA)</a> atau <a href="http://www.flinders.edu.au">Flinders University</a> banyak yang punya waktu untuk kerja paruh waktu, mahasiswa CMU jarang sekali punya kesempatan seperti itu. Paling2 menjadi asisten profesor atau pekerjaan sampingan lain di kampus. Saya yakin, senior2 saya di CMU seperti <strong>Ika</strong> dan <strong>Budi</strong> setuju akan hal ini. </p>
<p>Kita juga disarankan untuk segera mencari tempat tinggal permanen (bagi yang belum) dan <em>settle down</em> di Adelaide sebelum mulai punya banyak tugas nantinya. Dan yang sangat penting, bertemanlah! Karena teman sejati nggak akan meninggalkan kita di saat2 sulit.</p>
<p><em>Life won&#8217;t be so easy at CMU</em>. Walaupun saya kuliah di &#8220;cabang Adelaide&#8221;, yang notabene sebuah &#8220;kelas jauh&#8221;, toh ijasah saya nantinya akan sama dengan lulusan CMU Pittsburg yang punya peringkat sangat tinggi di dunia. Mereka nggak akan menurunkan standar untuk CMU Adelaide, dan pasti akan banyak yang harus saya berikan dan kerjakan untuk mencapai standar itu. <em>Sleepless nights, having Panda&#8217;s eyes, and becoming a Zombie</em>. Tapi itu adalah harga yang harus dibayar. </p>
<p><em>Maybe I should put myself into this kind of survival test. And when I finish it later, then I can say that I really have achieved something.</em>
</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.jalankenangan.net/celoteh/?feed=rss2&amp;p=286</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>life without highheels</title>
		<link>http://www.jalankenangan.net/celoteh/?p=285</link>
		<comments>http://www.jalankenangan.net/celoteh/?p=285#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 12 Aug 2009 14:57:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yanti</dc:creator>
		
		<category>perjalanan</category>

		<category>life without highheels</category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.jalankenangan.net/celoteh/?p=285</guid>
		<description><![CDATA[Seminggu ini segalanya berubah dalam hidup saya. Hampir setengah hari perjalanan telah mengantar saya ke Adelaide, berkat &#8220;tendangan sayang&#8221; dari Depkominfo yang mengirim saya mendarat di Carnegie Mellon University untuk mengambil Master of Information Technology.
Saya berangkat tanggal 5 Agustus malam bersama Fajar. Hari itu saya diantar Abang, Naila, Papa, Mama dan tante saya Bu Tuti [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span class="first">S</span>eminggu ini segalanya berubah dalam hidup saya. Hampir setengah hari perjalanan telah mengantar saya ke Adelaide, berkat &#8220;tendangan sayang&#8221; dari Depkominfo yang mengirim saya mendarat di <a href="http://www.cmu.edu.au">Carnegie Mellon University</a> untuk mengambil Master of Information Technology.</p>
<p>Saya berangkat tanggal 5 Agustus malam bersama <strong>Fajar</strong>. Hari itu saya diantar Abang, Naila, Papa, Mama dan tante saya Bu Tuti ke bandara. Saya bilang hari itu, karena berhari2 sebelumnya saya &#8220;diantar&#8221; oleh puluhan teman dalam berbagai acara perpisahan dengan berbagai komunitas. Termasuk penglepasan oleh direksi sehari sebelumnya, yang sudah bikin saya merasa tersanjung karena direksi memberi perhatian begitu besar untuk melepas saya.</p>
<p><a id="more-285"></a></p>
<p>Lebih dari 30 kg bagasi juga ikut menemani saya. Sepuluh kilogram lebih banyak karena tiket saya <em>one-way</em> dan visa saya visa pelajar. Itupun rasanya masih kurang. Dasar cewe, sepertinya banyaaak yang harus dibawa. Tapi akhirnya saya menemukan beberapa poin penting:</p>
<ul>
<li>Nggak bisa hidup tanpa sambal? Takut nggak bisa menemukan mie instan di negara tujuan? Jangan takut, kamu kan &#8220;cuma&#8221; ke negara lain, bukan ke planet Mars. Walaupun mungkin kamu akan sulit menemukan tempe, tapi sambal botol, kecap, mie, dan sejenisnya bisa didapat di toko Asia. Lagipula banyak negara yang cukup ketat melarang masuknya makanan segar maupun kemasan, seperti Australia.<br />
<strong>Jadi daripada menghabiskan kuota bagasi dengan makanan, lebih baik diisi barang lain yang sepertinya lebih berguna.</strong> Pakaian misalnya, jauh lebih murah dibeli di Indonesia. Jadi setidaknya perlengkapan dasar seperti pakaian dalam, kaus kaki, t-shirt, <em>sweater</em>, bahkan jaket musim dingin pun bisa dibawa dari Indonesia.</li>
<li>Pakaian yang tipis2 seperti kaus dalam/singlet, <em>tank top</em>, kaus kaki, <em>stocking</em>, syal, dan sejenisnya, lebih baik jangan dilipat. <strong>Mending digulung saja, dijamin kopermu bakal muat lebih banyak.</strong></li>
<li>Pada dasarnya, <strong>apa yang harus dibawa atau menjadi prioritas untuk masuk koper, sangat tergantung pada kebutuhan masing2 orang</strong>. Saya sih nggak bawa buku sama sekali, tapi ada beberapa <em>e-book</em> di laptop saya. Saya juga nggak bawa <em>rice cooker</em> karena saya fasih bikin nasi dengan cara <em>ngeliwet</em>. Saya juga nggak bawa selimut misalnya. Tapi saya bawa sepatu beberapa pasang, juga tas beberapa biji. Kenapa? Ya karena saya penggila tas dan sepatu, ingat?</li>
</ul>
<p>Sekedar catatan, saya juga punya beberapa tips untuk terbang ke luar negeri secara umum:</p>
<ul>
<li>Persiapkan bagasi <em>carry-on</em> (tentengan) sedemikian rupa sehingga <strong>tidak berisi barang2 yang dilarang masuk pesawat</strong>, seperti benda tajam dan cairan di atas 100 ml per botolnya. Ini termasuk gunting kuku, korek kuping, sabun, sampo, body lotion, air mineral. Kamu bakal kaget melihat koleksi sabun cair dari keamanan bandara yang sedang getol2nya membuka <strong>semua</strong> bagasi tentengan di pintu <em>gate</em> ruang tunggu.</li>
<li>Pastikan dokumen perjalanan seperti paspor, tiket dan <em>boarding pass</em> <strong>ada di tempat yang mudah diambil</strong>, seperti tas selempang kecil atau saku jaket, karena kita bakal bolak balik membutuhkan dokumen2 itu. Jangan lupa bawa bolpen untuk mengisi berbagai form. Juga nggak ada salahnya menyiapkan dokumen2 seperti <em>Confirmation of Enrolment</em> dan <em>Scholarship Award Letter</em> dalam tas tentengan.</li>
<li>Cek in <strong>dua jam sebelum keberangkatan</strong>, dan datang ke <em>gate</em> 30-60 menit sebelum <em>boarding</em>. Saat cek in, tanyakan apakah saat transit kita harus mengambil bagasi dulu, atau bagasi langsung diambil di tujuan akhir.</li>
<li>Langsung berpakaian <strong>sesuai dengan cuaca di kota tujuan</strong>. Kalau kota tujuannya dingin, siapkan beberapa lapis pakaian dan/atau jaket dalam tas tentengan. Tinggal dipakai bila perlu.</li>
<li>Persiapkan uang dalam <strong>mata uang lokal</strong> secukupnya. Nggak usah banyak2 sih, seperlunya saja. Penting terutama kalau kita sampai di kota tujuan di luar jam kerja atau pada akhir minggu.</li>
</ul>
<p><span class="first">E</span>nam jam dalam burung besi <a href="http://www.qantas.au">Qantas</a> ke Sydney lumayan menyenangkan. Saya sempat <em>underestimate</em> makanannya, yang ternyata enyakkkk! Hiburan juga terjamin, karena di kelas ekonomi ini penumpang mendapat <em>display</em> sendiri2 untuk menampilkan <em>movie on demand</em>. Akhirnya saya nonton &#8220;17 Again&#8221;-nya Zac Efron, BUKAN karena saya suka brondong yang satu ini ya, catet! </p>
<p>Dan setelah transit 3 jam di Sydney ditambah 2 jam penerbangan lokal, saya sampai di Adelaide. Kesannya? Sepi dan seperti &#8220;kota mainan&#8221; di SimCity. Karena sudah bulan Agustus yang berarti musim dingin sudah hampir berlalu, dan saya juga sudah pernah mengalami cuaca yang jauh lebih dingin daripada suhu belasan derajat Celcius saat ini, saya belum terlalu mengeluhkan soal cuaca.</p>
<p><span class="shadow" style="float:left"><img src="http://photos-f.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc1/hs169.snc1/6329_107712047214_553567214_2300125_1597078_n.jpg" width="240" height="180" alt="Kent Town Student Village" /></span>Saya dijemput taksi yang dibayar kampus, langsung ke <a href="http://www.studentliving.com.au/prop_detail.php?property_id=22">rumah</a>. Rumah ini bisa dibilang dicarikan oleh pihak kampus. Saya tinggal di sebuah apartemen berkamar dua, dengan seorang teman sekelas dari India, <strong>Shweta</strong>. Rumah ini khusus untuk mahasiswa, nggak terlalu mahal, dan harga sewanya sudah termasuk listrik dan air. Mebel pun sudah lengkap alias <em>furnished</em>, kecuali bantal/selimut dan <em>heater</em> kecil yang bisa saya beli di semua toko yang menjual perlengkapan rumah. Letaknya di <strong>Kent Town</strong>, dipisahkan dengan Adelaide CBD di mana kampus saya berada oleh taman bernama <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Rymill_Park,_Adelaide">Rymill Park</a>, serta cuma sekitar 35 menit jalan kaki ke kampus (bisa pakai bis juga). Pasti ada rumah lain yang lebih murah, pasti ada rumah lain yang bisa saya huni bersama orang Indonesia, tapi pasti rumah2 itu jauh dari kampus. . </p>
<p><span class="shadow" style="float:right"><img src="http://photos-f.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc1/hs169.snc1/6329_107712102214_553567214_2300133_5715083_n.jpg" width="180" height="240" alt="Kent Town Student Village" /></span>Di rumah ini ada sebuah <em>common kitchen</em> di mana kita bisa masak: ada kompor, <em>microwave</em> dan kulkas. Tapi masih harus menyediakan panci/wajan, piring, gelas, dan sendok garpu. Jadi di hari2 pertama saya sibuk bolak balik belanja melengkapi kamar dan perlengkapan masak. Alhamdulillah, saya nggak pernah punya sindrom khas perut melayu yang harus makan nasi. <em>It does mean something when you&#8217;re away from home and have to prepare your meal on your own.</em> Di sini nggak ada Bibi yang bisa saya suruh masak.</p>
<p><span class="first">S</span>egalanya memang berbeda. Banyak yang menanyakan apakah saya kangen rumah, kangen Naila. Tentu saja saya kangen setengah mati! Nggak cuma kangen orang2 yang saya sayangi. Saya juga kangen suasana lalu lintas Bandung yang biasanya bikin saya emosi pas pulang kantor, karena lalu lintas di sini damai banget. Saya kangen Neng Desi, karena saya di sini ke mana2 naik bis dan jalan kaki sambil kadang bertemu Getz silver di jalan. Saya kangen <em>shopping</em> di FO, karena di sini saya nggak punya keleluasaan finansial untuk <em>shopping</em>. Saya bahkan kangen dipanggil Neng atau Teteh karena di sini nggak ada yang manggil saya begitu. Dan masih banyak lagi.</p>
<p>Kangen itu manusiawi. Asal dalam batas wajar dan nggak jadi beban, harusnya nggak apa2 kan? Kangen bukan berarti saya nggak menikmati berada di sini. Saya masih merasa sangat adaptif dan fleksibel. Dan seharusnya saya bisa melewati satu tahun ini dengan baik. Puasa jauh dari rumah, Lebaran jauh dari rumah, bukankah saya sudah pernah melakukannya lima kali?</p>
<p>Banyak juga yang menanyakan kabar Naila. Di luar dugaan Naila nggak nangis sama sekali, baik di bandara maupun sesudahnya, sampai hari ini. Sepertinya usaha saya untuk memberi pengertian sejak pertama kali memulai proses aplikasi beasiswa, ada hasilnya. Dan memang, saya berusaha untuk nggak merusak suasana hatinya dengan menunjukkan emosi berlebihan. Saya percaya, anak sebetulnya butuh <em>somebody to rely on</em>, dan orang2 di sekitarnya harus menunjukkan bahwa kita bisa dan layak menjadi &#8220;sandaran&#8221; bagi mereka. Dan terlepas dari itu semua, saya kagum dan bangga banget punya anak seperti Naila <img src='http://www.jalankenangan.net/celoteh/wp-images/smilies/smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> .</p>
<p><span class="first">I</span>ya, seminggu ini segalanya berubah dalam hidup saya. Sejak Senin lalu saya sudah mengikuti <strong><em>Introductory Academic and Orientation Program</em></strong> di kampus. Sesuatu yang jauh berbeda dengan keseharian saya di Bandung, sebagai karyawan yang juga sibuk ngurus anak. Tapi seperti kata <strong>Charles Darwin</strong>, </p>
<blockquote><p>it is not the strongest of the species that survive, nor the most intelligent, but the one most responsive to change</p></blockquote>
<p>.</p>
<p> Jadi sepertinya memang kita harus selalu siap dengan perubahan.</p>
<p><em>The next few months will be a life without high heels.</em> Selamat datang di dunia mahasiswa, Neng <img src='http://www.jalankenangan.net/celoteh/wp-images/smilies/smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> .</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.jalankenangan.net/celoteh/?feed=rss2&amp;p=285</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>
