WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
SHOW COLUMNS FROM wp_tla_data LIKE 'post_id'
WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
ALTER TABLE `wp_tla_data` ADD `post_id` BIGINT( 20 ) UNSIGNED NOT NULL DEFAULT '0' AFTER `id` ;
WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
ALTER TABLE `wp_tla_data` ADD INDEX ( `post_id` ) ;
WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
SELECT * FROM wp_tla_data
WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
SHOW COLUMNS FROM wp_tla_data LIKE 'post_id'
WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
ALTER TABLE `wp_tla_data` ADD `post_id` BIGINT( 20 ) UNSIGNED NOT NULL DEFAULT '0' AFTER `id` ;
WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
ALTER TABLE `wp_tla_data` ADD INDEX ( `post_id` ) ;
WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
SELECT * FROM wp_tla_data
WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
SHOW COLUMNS FROM wp_tla_data LIKE 'post_id'
WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
ALTER TABLE `wp_tla_data` ADD `post_id` BIGINT( 20 ) UNSIGNED NOT NULL DEFAULT '0' AFTER `id` ;
WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
ALTER TABLE `wp_tla_data` ADD INDEX ( `post_id` ) ;
WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
SELECT * FROM wp_tla_data
Liburan lalu kita jalan melulu. nggak dari awal liburan banget juga memang, karena Abang baru libur tanggal 25. Jadi beberapa hari pertama Naila di rumah saja, dan saya sibuk ‘ngempesin badan’ biar nggak kebangetan gendutnya waktu liburan nanti. Kita ke Pangandaran tanggal 26 sampai 28, lalu ke Bogor tanggal 30, ke Jakarta tanggal 1, dan kembali ke Bandung tanggal 3.
Seperti Nita juga, saya sempat khawatir nggak jadi liburan. Mau berangkat ke Pangandaran tgl 26 pagi, eh tanggal 24 malam Naila agak panas badannya. Alhamdulillah setelah diberi parasetamol dan dikompres, nggak naik2 lagi suhunya.
Day 1
Tanggal 26 kita berangkat jam 7 pagi, supaya jalan belum terlalu penuh. Alhamdulillaah lancar. Kita sempat berhenti sekali di SPBU sebelum Ciawi karena Naila mengeluh pusing. Maklum, antara Nagrek sampai Ciawi kan jalannya belok2 seperti rambut saya. Tapi syukur, kita nggak sampai muntah walaupun nggak ada yang makan obat anti mabuk.
Seperti waktu saya kecil, Naila nggak tidur di jalan. Dia sibuk memperhatikan, ini kota apa. Lalu saya menunjukkan tonggak batu putih (”pal”) di sisi jalan yang fungsinya menunjukkan jarak ke kota berikutnya. She was very excited.
Sampai di Pangandaran jam 11.30. Setelah bayar tiket masuk sebesar Rp.13.500,- untuk seisi mobil, kita langsung menuju hotel Mustika Ratu di Jalan Kalen Buaya. Kamarnya masih dibersihkan, jadi belum bisa check-in. Ya sudah, kebetulan jam makan siang. Kita ke daerah Pantai Timur, agak ke utara ada kumpulan resto seafood. Kita bisa memilih seafood mentahnya sendiri, ditimbang, lalu tinggal minta mau dimasak apa. Harga seafoodnya mah wajar, tapi kelapa mudanya nggak sopan! Lain kali kalau mau minum kelapa muda mending di warung2 aja. Siang ini kita makan bawal bakar, kerang simping saus tiram, dan ca kangkung.
Hotel kita ini letaknya nggak di tepi pantai, tapi lewat pintu belakangnya kita bisa mencapai pantai hanya dengan 3 menit jalan kaki. Rate-nya nggak terlalu mahal untuk hotel sekelasnya: saat musim liburan Tahun Baru yang lalu, untuk kamar standar yang dilengkapi AC dan TV hanya 400 ribu rupiah saja. Oke kan?
Kawasan Pangandaran ini bentuknya seperti semenanjung yang diapit dua teluk. Mirip2 bagian selatan Pulau Bali deh! Kalau di Bali ada Kuta di sisi barat semenanjung, di Pangandaran ada Pantai Barat. Di timurnya, kalau di Bali ada Sanur, di sini ada -logically- Pantai Timur. Di ujung selatan semenanjung terdapat Cagar Alam Pananjung.

Setelah istirahat di hotel, shalat, dll, kita ke Pantai Barat. Tujuan utama: main air! Nggak seperti waktu ke Anyer tahun 2007, atau ke Sikuai tahun 2008, kali ini Naila jauh lebih berani main dengan air laut. Pantainya sendiri walaupun ramai (thus agak kotor, hiks), tetap menyenangkan, lebar mirip Kuta cuma pasirnya hitam. Ada kawasan yang aman untuk berenang dan ada juga kawasan khusus untuk surfing. Bedanya di sini banyak kapal2 yang menawarkan wisata perahu ke Pasir Putih (sekitar 30 menit berlayar), atau bahkan mengelilingi semenanjung. Kios2nya juga tertata rapih. Pedagang2nya terbilang sopan dan ramah. Walaupun sempat dihantam tsunami tahun 2006 yang mengakibatkan kerusakan cukup parah, Pangandaran sanggup bangkit bahkan lebih baik daripada sebelum musibah.
Demi keamanan, pantai ini dilengkapi menara2 dan tim pengawas pantai. Dari menara2 itu selalu diumumkan bahwa pantai hanya dibuka untuk berenang dari jam 6 pagi sampai jam 5 sore, karena ombak di luar jam2 tersebut relatif besar dan berbahaya. By the way, saya baru tahu kalau pengawas pantai tuh punya nama keren: Badan Penyelamat Wisata Tirta (Balawista).
Habis maghrib kita cari makan. Biar nggak bosan, kita makan chinese food di Jalan Kidang Pananjung. Selesai makan Naila udah tepar, ngantuk. Ternyata biological clock-nya nggak berubah walaupun sedang liburan. Jam 19.30 sudah masuk ke standby mode. Jadi ya nggak ada deh yang namanya jalan2 menikmati malam. “Untung”nya cuaca mendukung: HUJAN DERAS!
Day 2
Paginya, dalam keadaan belum mandi dan belum sarapan, kita nyewa ATV. Karena musim libur jadi rada mahalan dikit nih, ATV ukuran besar yang muat 3 orang harganya jadi 150 ribu per jam. Kita jalan2 ke Pantai Timur. Berbeda dengan Pantai Barat, di Pantai Timur nggak boleh berenang. Tapi di sini tersedia olahraga air seperti banana boat, dan juga pelabuhan nelayan. Di Pantai Timur juga banyak warung2 yang menyediakan makanan untuk sarapan seperti kupat tahu atau bubur ayam, terutama bagi wisatawan yang menginap di pondokan2 yang nggak menyediakan makan pagi.
Pagi itu ada nelayan2 yang baru datang dari laut. Sedih deh, tangkapannya nggak banyak. Nggak kebayang ya, berjam2 di tengah laut, dalam hujan dan ombak besar, tapi cuma dapat ikan kecil2 yang sepertinya kalau dilelang juga nggak seberapa.

Dari sana kita berkeliling2 lagi. Lucu juga, ATVnya bisa dipakai menyusuri Pantai Barat, jalan di pasir gitu. Dan ternyata pagi2 begini pantai sudah mirip cendol aja! Kita juga sempat lihat2 kaos2 souvenir. Kita bertiga beli kaos barong: Abang warna biru, saya warna pink, Naila warna kuning. Kata Naila, kita jadi barong family, hehe.
Highlight of the trip buat saya adalah: Green Canyon! Sehabis mandi dan sarapan, kita langsung menuju ke sana. Sengaja pagi2, karena kalau makin siang bakal makin penuh dan antri. Letak objek wisata ini sekitar 30 km ke arah barat, melewati kota kecamatan Parigi dan Cijulang. Untuk sampai ke Green Canyon itu sendiri, kita harus naik perahu dari Dermaga Ciseureuh. Bayar 75 ribu rupiah per perahu yang bisa muat sampai 5 orang, lalu dapat nomor antrian. Setiap perahu diawaki satu “pengemudi” merangkap guide, dan satu juru mesin. Alhamdulillaah, pagi itu jam 8.30, kita bisa langsung naik perahu menyusuri Sungai Cijulang ke arah hulu.

Air sungai tampak hijau, dengan tepian yang sesekali bertebing. Airnya tenang yang menandakan sungai cukup dalam. Konon dalamnya sekitar lima sampai tujuh meteran, dan ada buaya yang hidup di sini. Perjalanan dengan perahu memakan waktu kira2 20 menit, dan sampailah kita di canyon yang menyerupai terowongan atau goa. Inilah batas akhir perahu. Penduduk sekitar menyebut tempat ini Cukang Taneuh alias Jembatan Tanah. Memang bagian atas goa merupakan jalan setapak, sementara di dalam goa terdapat banyak stalagmit dan stalaktit. Dari kiri kanan tebing air menetes seperti tirai. Cantik sekali, walaupun kesannya agak misterius.
Kalau mau, di sini kita bisa turun dari perahu, baik sekedar berdiri di batu2 karang ataupun berenang ke arah hulu. Konon pemandangannya cantik, bisa berenang di Kolam Putri (semacam cekungan kecil), atau meloncat dari ketinggian Batu Payung. Untuk itu kena biaya tambahan sekitar seratus ribu rupiah. Guide di kapal kita akan memandu, dan barang2 bisa dititipkan di perahu yang dijaga juru mesin.
Karena sedang musim libur, ternyata ada beberapa pengemudi perahu yang belum terampil atau belum terbiasa menjalani rute ini pun “memaksakan diri” membawa perahu ke canyon. Beberapa perahu sempat nyangkut di antara bebatuan canyon. Maklum, tempatnya sempit, padahal perahu yang bercadik cukup lebar itu harus memutar arah. Sempat heboh juga waktu itu. Untungnya perahu kita dikemudikan orang yang sudah pengalaman.

Mantap bukan?
Dari sana kita menuju Pantai Batu Karas, sekitar 10 km ke arah barat daya. Pantai ini nggak terlalu luas, ada sedikit tebing2 karang, dan masih lebih alami. Di sini kita nggak boleh berenang, tapi pantai ini sangat cocok untuk surfing. Penginapan2 mulai banyak, dan juga ada surfing course bagi yang mau belajar.

Setelah ngemil2 roti dan perbekalan lain, kita kembali ke Pantai Timur Pangandaran untuk makan siang. Kali ini menunya seafood lagi: kepiting saus padang, tumis genjer, dan kerang simping saus tiram untuk Naila. Setelah istirahat sebentar, kita kembali menghabiskan sore di pantai sampai kita bertiga basah dan berpasir dari ujung rambut sampai ujung kaki.
Day 3
Huhuhu, hujaaaaan sejak pagi. Ya sud daripada berlama2 di Pangandaran yang basah dan kelabu, kita memutuskan untuk pulang pagi ini. Setelah sarapan, kita belanja oleh2: sawo, manggis, gula merah, ikan asin kecil2, dan jambal roti (sekitar 50 ribuan sekilonya). Sebaiknya beli ikan asin di kompleks pertokoan dekat Jalan Eyang Jagalautan, karena jambalnya benar2 kering dan nggak akan ber-ulat walaupun disimpan agak lama.
Perjalanan pulang ke Bandung alhamdulillaah juga lancar, walaupun relatif lebih ramai. Nggak macet sih, cuma sedikit oray-orayan alias uler2an dari sejak Jamanis sampai lepas Nagrek. Kita sempat berhenti makan siang dan shalat Zhuhur di resto Sunda Ponyo di Cicalengka, dan sampai di Bandung jam 14:30.
]]>WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
SHOW COLUMNS FROM wp_tla_data LIKE 'post_id'
WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
ALTER TABLE `wp_tla_data` ADD `post_id` BIGINT( 20 ) UNSIGNED NOT NULL DEFAULT '0' AFTER `id` ;
WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
ALTER TABLE `wp_tla_data` ADD INDEX ( `post_id` ) ;
WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
SELECT * FROM wp_tla_data
WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
SHOW COLUMNS FROM wp_tla_data LIKE 'post_id'
WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
ALTER TABLE `wp_tla_data` ADD `post_id` BIGINT( 20 ) UNSIGNED NOT NULL DEFAULT '0' AFTER `id` ;
WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
ALTER TABLE `wp_tla_data` ADD INDEX ( `post_id` ) ;
WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
SELECT * FROM wp_tla_data
Selain semua “how-to” yang berhubungan dengan masalah akademis yang tentunya maha penting itu, yang paling ditunggu2 dalam Orientation Program adalah acara jalan2. Gratisan, fun, dan bisa mendekatkan semua teman dalam satu batch sebelum “the real fun” dalam masa perkuliahan tiba.
Di minggu pertama, acaranya adalah jalan2 keliling kota Adelaide. Kota ini didesain oleh Colonel William Light pada tahun 1837. Desain pusat kota ini berbentuk segiempat dengan jalan yang “kotak2″. Dijamin kita nggak akan lama kesasar deh!
Perjalanan dimulai dari kampus yang terletak di pusat kota Adelaide, Victoria Square, kita menyusuri North Terrace yang di sisinya banyak terdapat bangunan2 penting seperti Royal Adelaide Hospital, University of Adelaide, Museum of South Australia, Railway Station, dan sebagainya. Pihak universitas sempat mengingatkan, bahwa di Australia, memotret bangunan2 pemerintahan dan militer seperti pengadilan dan kantor polisi adalah terlarang.
Setelah itu kita dibawa ke Himeji Garden di South Terrace. Taman ini bergaya Jepang, termasuk dengan ‘taman batu’ alias stone garden yang notabene merupakan susunan batu2 dan kerikil khas taman Jepang. Pada hari itu banyak penduduk senior kota yang duduk di taman dan melukis di sana. Sangat menarik, bagaimana mereka menghabiskan hari tua yang penuh waktu luang.

Kita kembali menuju ke utara, ke Light’s Vision di Montefiore Hill, North Adelaide. Di sana berdiri patung Colonel Light, menunjuk ke arah kota Adelaide yang didesain olehnya. Dan setelah makan ala piknik di hamparan rumput Adelaide Botanic Garden, kita mampir ke Haigh’s Chocolate Factory. Cokelatnya eksklusif, tak diekspor keluar Australia, dan perusahaan ini masih tetap bertahan menjadi perusahaan keluarga sampai sekarang.
Acara ditutup dengan mengunjungi pantai paling terkenal di Adelaide, yaitu Glenelg. Cuaca hari itu sangat mendukung, untuk menikmati pantai. Walaupun air masih terasa dingin, teman saya Yunni yang asal China nekat bermain air karena ini adalah pengalaman pertamanya pergi ke pantai.
Foto2 City Tour ada di Facebook saya.
Adelaide Hills
Minggu kedua kita pergi ke daerah perbukitan di sebelah timur kota Adelaide. Berbeda dengan acara jalan2 yang pertama, cuaca kali ini cukup dingin, dengan gerimis dan angin berkecepatan sama dengan mobil di dalam kota. Tapi toh itu semua nggak mengurangi keceriaan kita semua.

Persinggahan pertama adalah Barossa Dam, sebuah bendungan sepanjang 140 m yang memiliki efek akustik yang unik. Kalau kita berbisik di ujung dinding bendungan yang satu, suara akan terdengar di ujung bendungan yang lain. Karena itu bendungan ini juga dikenal dengan nama “Whispering Wall”. Walaupun angin kencang menyambut kami di sana, kami tetap berjalan di atas dinding bendungan yang hanya selebar gang senggol itu, untuk mencoba efek unik ini.
Dari sana kami menuju Gumeracha, ke lokasi sebuah pabrik mainan kayu. Ada dua hal yang sangat menarik di sini selain factory outlet mainan. Yang pertama adalah “mainan kuda goyang” terbesar di Australia. Kuda yang memiliki panjang 10,5 meter dan tinggi total lebih dari 18 meter ini menjadi salah satu ikon negara Australia. Hal menarik lainnya adalah sebuah kebun binatang mini di mana kita bisa bermain dan memberi makan kangguru, kambing, dan bermain dengan burung merak.

Setelah acara makan siang (dan berteduh untuk kami yang berpuasa), kami bergerak ke Gorge National Park, masih dalam keadaan hujan rintik2. Bukan sebuah taman nasional yang besar, tapi di sini terdapat banyak jenis hewan. Mulai dari beraneka burung yang cantik2, kangguru, wallaby, kelelawar, sampai monyet. Yang menjadi highlight di sini adalah pada jam2 tertentu, kita bisa menggendong dan berfoto dengan koala. Lucu banget memang, ngemil2 daun kayu putih.Tapi taruhan, pasti mereka pasti bosen banget diajak berfoto begitu
.
Setelah mampir di (lagi2) pabrik coklat Melba, kami menuju Hahndorf. Cuaca berubah cerah, matahari muncul, tapi udara masih terasa dingin karena angin bertiup sangat kencang.
Hahndorf awalnya didirikan oleh pendatang dari Prusia yang dipimpin oleh Kapten Hahn tahun 1638. Pengaruh Jerman sangat terasa di sini. Banyak bangunan bergaya Jerman dengan konstruksi kayunya yang khas, toko2 yang menjual roti dan kue khas Jerman, sosis Jerman, dan tentunya bir Jerman
. Sayangnya harga di sini nggak murah, mengingat Hahndorf adalah kota turis.
Foto2 Hills Tour ada di Facebook saya.
]]>WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
SHOW COLUMNS FROM wp_tla_data LIKE 'post_id'
WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
ALTER TABLE `wp_tla_data` ADD `post_id` BIGINT( 20 ) UNSIGNED NOT NULL DEFAULT '0' AFTER `id` ;
WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
ALTER TABLE `wp_tla_data` ADD INDEX ( `post_id` ) ;
WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
SELECT * FROM wp_tla_data
WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
SHOW COLUMNS FROM wp_tla_data LIKE 'post_id'
WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
ALTER TABLE `wp_tla_data` ADD `post_id` BIGINT( 20 ) UNSIGNED NOT NULL DEFAULT '0' AFTER `id` ;
WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
ALTER TABLE `wp_tla_data` ADD INDEX ( `post_id` ) ;
WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
SELECT * FROM wp_tla_data
Seminggu ini segalanya berubah dalam hidup saya. Hampir setengah hari perjalanan telah mengantar saya ke Adelaide, berkat “tendangan sayang” dari Depkominfo yang mengirim saya mendarat di Carnegie Mellon University untuk mengambil Master of Information Technology.
Saya berangkat tanggal 5 Agustus malam bersama Fajar. Hari itu saya diantar Abang, Naila, Papa, Mama dan tante saya Bu Tuti ke bandara. Saya bilang hari itu, karena berhari2 sebelumnya saya “diantar” oleh puluhan teman dalam berbagai acara perpisahan dengan berbagai komunitas. Termasuk penglepasan oleh direksi sehari sebelumnya, yang sudah bikin saya merasa tersanjung karena direksi memberi perhatian begitu besar untuk melepas saya.
Lebih dari 30 kg bagasi juga ikut menemani saya. Sepuluh kilogram lebih banyak karena tiket saya one-way dan visa saya visa pelajar. Itupun rasanya masih kurang. Dasar cewe, sepertinya banyaaak yang harus dibawa. Tapi akhirnya saya menemukan beberapa poin penting:
Sekedar catatan, saya juga punya beberapa tips untuk terbang ke luar negeri secara umum:
Enam jam dalam burung besi Qantas ke Sydney lumayan menyenangkan. Saya sempat underestimate makanannya, yang ternyata enyakkkk! Hiburan juga terjamin, karena di kelas ekonomi ini penumpang mendapat display sendiri2 untuk menampilkan movie on demand. Akhirnya saya nonton “17 Again”-nya Zac Efron, BUKAN karena saya suka brondong yang satu ini ya, catet!
Dan setelah transit 3 jam di Sydney ditambah 2 jam penerbangan lokal, saya sampai di Adelaide. Kesannya? Sepi dan seperti “kota mainan” di SimCity. Karena sudah bulan Agustus yang berarti musim dingin sudah hampir berlalu, dan saya juga sudah pernah mengalami cuaca yang jauh lebih dingin daripada suhu belasan derajat Celcius saat ini, saya belum terlalu mengeluhkan soal cuaca.
Saya dijemput taksi yang dibayar kampus, langsung ke rumah. Rumah ini bisa dibilang dicarikan oleh pihak kampus. Saya tinggal di sebuah apartemen berkamar dua, dengan seorang teman sekelas dari India, Shweta. Rumah ini khusus untuk mahasiswa, nggak terlalu mahal, dan harga sewanya sudah termasuk listrik dan air. Mebel pun sudah lengkap alias furnished, kecuali bantal/selimut dan heater kecil yang bisa saya beli di semua toko yang menjual perlengkapan rumah. Letaknya di Kent Town, dipisahkan dengan Adelaide CBD di mana kampus saya berada oleh taman bernama Rymill Park, serta cuma sekitar 35 menit jalan kaki ke kampus (bisa pakai bis juga). Pasti ada rumah lain yang lebih murah, pasti ada rumah lain yang bisa saya huni bersama orang Indonesia, tapi pasti rumah2 itu jauh dari kampus. .
Di rumah ini ada sebuah common kitchen di mana kita bisa masak: ada kompor, microwave dan kulkas. Tapi masih harus menyediakan panci/wajan, piring, gelas, dan sendok garpu. Jadi di hari2 pertama saya sibuk bolak balik belanja melengkapi kamar dan perlengkapan masak. Alhamdulillah, saya nggak pernah punya sindrom khas perut melayu yang harus makan nasi. It does mean something when you’re away from home and have to prepare your meal on your own. Di sini nggak ada Bibi yang bisa saya suruh masak.
Segalanya memang berbeda. Banyak yang menanyakan apakah saya kangen rumah, kangen Naila. Tentu saja saya kangen setengah mati! Nggak cuma kangen orang2 yang saya sayangi. Saya juga kangen suasana lalu lintas Bandung yang biasanya bikin saya emosi pas pulang kantor, karena lalu lintas di sini damai banget. Saya kangen Neng Desi, karena saya di sini ke mana2 naik bis dan jalan kaki sambil kadang bertemu Getz silver di jalan. Saya kangen shopping di FO, karena di sini saya nggak punya keleluasaan finansial untuk shopping. Saya bahkan kangen dipanggil Neng atau Teteh karena di sini nggak ada yang manggil saya begitu. Dan masih banyak lagi.
Kangen itu manusiawi. Asal dalam batas wajar dan nggak jadi beban, harusnya nggak apa2 kan? Kangen bukan berarti saya nggak menikmati berada di sini. Saya masih merasa sangat adaptif dan fleksibel. Dan seharusnya saya bisa melewati satu tahun ini dengan baik. Puasa jauh dari rumah, Lebaran jauh dari rumah, bukankah saya sudah pernah melakukannya lima kali?
Banyak juga yang menanyakan kabar Naila. Di luar dugaan Naila nggak nangis sama sekali, baik di bandara maupun sesudahnya, sampai hari ini. Sepertinya usaha saya untuk memberi pengertian sejak pertama kali memulai proses aplikasi beasiswa, ada hasilnya. Dan memang, saya berusaha untuk nggak merusak suasana hatinya dengan menunjukkan emosi berlebihan. Saya percaya, anak sebetulnya butuh somebody to rely on, dan orang2 di sekitarnya harus menunjukkan bahwa kita bisa dan layak menjadi “sandaran” bagi mereka. Dan terlepas dari itu semua, saya kagum dan bangga banget punya anak seperti Naila
.
Iya, seminggu ini segalanya berubah dalam hidup saya. Sejak Senin lalu saya sudah mengikuti Introductory Academic and Orientation Program di kampus. Sesuatu yang jauh berbeda dengan keseharian saya di Bandung, sebagai karyawan yang juga sibuk ngurus anak. Tapi seperti kata Charles Darwin,
it is not the strongest of the species that survive, nor the most intelligent, but the one most responsive to change
.
Jadi sepertinya memang kita harus selalu siap dengan perubahan.
The next few months will be a life without high heels. Selamat datang di dunia mahasiswa, Neng
.
WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
SHOW COLUMNS FROM wp_tla_data LIKE 'post_id'
WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
ALTER TABLE `wp_tla_data` ADD `post_id` BIGINT( 20 ) UNSIGNED NOT NULL DEFAULT '0' AFTER `id` ;
WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
ALTER TABLE `wp_tla_data` ADD INDEX ( `post_id` ) ;
WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
SELECT * FROM wp_tla_data
WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
SHOW COLUMNS FROM wp_tla_data LIKE 'post_id'
WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
ALTER TABLE `wp_tla_data` ADD `post_id` BIGINT( 20 ) UNSIGNED NOT NULL DEFAULT '0' AFTER `id` ;
WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
ALTER TABLE `wp_tla_data` ADD INDEX ( `post_id` ) ;
WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
SELECT * FROM wp_tla_data
*tarik nafas panjang dulu sebelum membaca, bakal ngos2an karena panjang banget!*
Sejak nikah dengan Abang yang berdarah Minangkabau, saya selalu tertarik untuk mengunjungi Sumatera Barat. Nggak adanya kewajiban mudik ke sana karena mertua di Jakarta, membuat keinginan ini baru tercapai akhir tahun 2008 lalu.
Awal Oktober, setelah libur Lebaran, kita mulai merencanakan perjalanan ini. Tiket pesawat PP, hotel2, sewa mobil, semua sudah dipesan sejak jauh2 hari. Cenderung berhati2 memang, mengingat ini perjalanan terjauh yang pernah kita tempuh bersama Naila. Rute2 perjalanan yang kita rencanakan pun selalu mempertimbangkan kemampuan dan minatnya. Trekking, jalan yang terlalu jauh, dan petualangan2 yang menantang harus dibuang dari agenda kali ini.
Kita mendarat di Bandara Internasional Minangkabau, Kabupaten Padang Pariaman, pada hari Jumat siang dengan menggunakan maskapai Mandala. Bukan perjalanan yang mudah, karena harus duduk terpisah dari Abang, sementara Naila yang baru pertama kali terbang dengan pesawat jadi rewel karena sumbatan di telinganya (barotrauma.
Di bandara kita sudah dijemput supir mobil sewaan kita, Pak Edi. Dengan mobil Suzuki APVnya, kita mampir sebentar ke kota Padang memberikan oleh2 untuk seorang teman, lalu langsung menuju ke arah Bukittinggi.
Di nagari (desa) Pasar Usang, Kecamatan Batang Anai, kita berhenti untuk makan siang. Kebetulan ada rumah makan yang terletak di sebelah masjid besar, sehingga para laki2 bisa shalat Jumat. Di tukang gorengan depan rumah makan saya menemukan bayi kepiting yang digoreng dengan tepung bumbu. Renyah banget!
Nama2 kecamatan di Sumatera Barat ternyata cukup unik karena banyak menggunakan angka. Sebut saja “4 Koto Aur Malintang”, “7 Koto Sungai Sarik”, dan yang paling unik adalah daerah asal kakeknya Abang, Kecamatan 2 x 11 Enam Lingkung. Kata Abang, orang Minang selalu berhitung karena punya bakat dagang
.
Sekitar setengah jam perjalanan selepas istirahat, pemandangan berubah drastis. Dari sawah dan kebun yang cenderung datar, tiba2 bukit dan hutan menyambut. Kita ternyata sudah nggak jauh dari Lembah Anai. Air terjun Lembah Anai terletak di sebelah kiri jalan yang membelah Bukit Barisan itu. Sementara di sebelah kanan mengalir sungai Batang Anai yang berbatu2 besar, cantik sekali. Kita nggak lama singgah di sana, karena Naila ogah kecipratan air.
Perjalanan menuju kota Padangpanjang memukau saya. Rel kereta api yang dibuat Belanda memang sudah tak digunakan lagi, tapi jembatan2nya tetap terawat. Dicat oranye sangat kontras dengan hijau hutan di belakangnya. Lima belas menit sampailah kita di Padangpanjang, kota terbesar di Kabupaten Tanah Datar yang berkontur naik turun di lereng Gunung Singgalang dan Gunung Marapi ini. Bangunan2 megah beratap bagonjong bertebaran di kota yang bersih ini. Komentar Naila, “Di sini kok rumah2nya bertanduk sih!”.
Antara Padangpanjang dan Bukittinggi ada beberapa tempat yang menarik untuk dikunjungi. Di Padangpanjang ada Sate Padang Mak Syukur yang juga membuka cabang di Jakarta. Lalu para penjual kue bika (semacam serabi, dari tepung beras dan kelapa) di nagari Koto Baru, Kecamatan Sapuluh Koto. Nggak jauh dari sana terdapat persimpangan ke kiri, ke arah nagari Pandai Sikek yang terkenal dengan songket benang emas dan sulam tangannya. Tapi karena terbatasnya waktu agar bisa melihat Danau Maninjau sebelum gelap, terpaksa tempat2 ini kita lewatkan.
Di nagari Padang Luar, Pak Edi membelokkan mobil ke kiri, menuju Maninjau. Jalannya hanya pas untuk dua mobil, tapi pemandangannya indah dan udaranya segar. Kita melalui beberapa desa kecil sebelum akhirnya sampai di Matur. Di sini terdapat persimpangan, lurus melalui Embun Pagi dan Kelok 44 ke Maninjau, sedangkan jalur ke kanan yang kita ambil, menuju Puncak Lawang.
Jalan ke Puncak Lawang lebih kecil, tapi sudah teraspal. Makin mendekati Puncak Lawang terdapat perkebunan tebu dan industri kecil pembuatan gula. Agak aneh buat saya, karena di Pulau Jawa perkebunan tebu biasanya terletak di dataran rendah.
Puncak Lawang adalah puncak tertinggi perbukitan di tepi timur Danau Maninjau. Dari ketinggian 900 m pandangan ke arah Danau Maninjau sangat jelas dan bersih. Di antara bukit2 di sisi barat tampak mengintip lepas pantai utara Pariaman.
Dari Puncak Lawang kita langsung menuju ke Bukittinggi. Waktu sudah tidak mengijinkan kita turun ke tepi Maninjau melalui Kelok 44 yang terkenal itu.
Kali ini Pak Edi mengajak kita melewati jalan di dasar Ngarai Sianok untuk kemudian muncul di Jalan Panorama, kota Bukittinggi. Lagi2 jalan yang kita lewati ini sempit, menanjak-menurun, dan penuh tikungan tajam. Benar2 bukan rute untuk yang langganan mabuk darat! Saya juga baru tahu bahwa di dasar Ngarai Sianok terdapat beberapa desa, yang bahkan dilalui rute angkot.
Kita menginap di Hotel Yuriko. Kamarnya lumayan, kelas hotel melati, tapi letaknya sangat strategis karena hanya berjarak 300 meter dari Jam Gadang yang merupakan pusat kota Bukittinggi. Musim liburan ini, Bukittinggi benar2 menjadi kota turis: hotel2 penuh, backpackers berkeliaran, dan berbagai dialek dari Malaysia hingga Jakarta terdengar di mana2.
Setelah mandi dan beristirahat sebentar, kita memutuskan mencari makan di seputar Jam Gadang. Ternyata taman di sekitarnya sangat ramai malam itu. Banyak pedagang mainan, kacang, juga jasa lukis wajah seperti di Malioboro. Naila senang sekali melihat mainan piring terbang yang bisa menyala, sehingga kita cukup lama juga berada di sana.
Rencananya kita mau makan di Simpang Raya. Memang sih, di seputar Jakarta – Bandung pun rumah makan ini punya banyak cabang. Tapi lokasinya strategis, dan masih lebih baik daripada makan di rumah makan Rindu Alam cabang Puncak toh?
Rencana tinggal rencana, karena Naila mengaku tidak lapar saat diajak masuk Simpang Raya. Beberapa langkah dari sana, di depan KFC, Naila dengan mata berbinar2 berkata, ”Nah kalo di sini aku lapar!” Ya sudah, ayam pop jatah buat besok saja deh.
Pagi ini Naila bangun agak siang, mungkin karena semalam tidurnya terganggu serangan asma. Untung bawa nebulizer kecil.
Berbelanja di kota Bukittinggi adalah tujuan pertama. Di Pasar Atas kita beli bahan baju dan selendang bersulam tangan khas Bukittinggi untuk oleh2, serta kerajinan crochet berupa taplak meja dan sarung bantal.
Masih untuk oleh2, kita mampir di Sanjai Nitta di jalan raya ke arah Padang untuk membeli berbagai makanan khas. Yang banyak ditawarkan di sini adalah keripik sanjai (singkong), dakak-dakak (sejenis keripik berbentuk kubus2 mungil berbumbu kunyit), dan berbagai jenis rendang kering dari daerah Payakumbuh.
Urusan belanja selesai, perjalanan dilanjutkan ke arah Payakumbuh sambil melalui beberapa tempat dalam kota Bukittinggi. Kita bertiga mengunjungi Taman Panorama untuk melihat Ngarai Sianok dari atas, setelah kemarin sore melewati dasar ngarai yang dalamnya 100 meter ini. Sayangnya Naila merasa nggak nyaman dengan angin besar di sana, sehingga kita nggak bisa berlama2. Sementara menyusuri Goa Jepang yang dulunya markas rahasia penjajah Jepang di dinding ngarai, sejak awal memang nggak direncanakan. Mana mau dia
.
Melintasi benteng Fort de Kock, lalu Pak Edi mengambil jalan utama Padang – Pekanbaru. Setengah jam dari Payakumbuh, ibukota Kabupaten Limapuluh Kota, kita sampai di Lembah Harau. Saat berdiri di dasar lembah, rasanya seperti dibentengi tebing2 cadas yang berdiri megah, tegak lurus di sekeliling. Menurut saya lembah ini nggak kalah menakjubkan dari Ngarai Sianok yang lebih terkenal itu.
Setelah melalui hamparan sawah dan menyusuri jalan di tepi tebing, sampailah kita di air terjun yang juga terletak di tepi jalan raya. Kabarnya masih ada beberapa air terjun lain, tapi waktu nggak mengijinkan kita ke sana. Air terjun yang kita datangi ini nggak sederas air terjun Lembah Anai, tapi lebih lebar sehingga terlihat seperti tirai air yang cantik.
Puas di Harau, Pak Edi membawa kita kembali ke arah Payakumbuh, lalu membelok ke Batusangkar. Sepanjang jalan yang semakin menanjak, dataran rendah Payakumbuh terlihat sangat memukau. Tempat terindah untuk melihat pemandangan ini adalah di Tabek Patah, sekitar 16 km sebelum kota Batusangkar. Konon di sini dulunya terdapat sebuah kolam (”tabek”) yang kemudian patah menjadi dua bagian.
Nggak jauh dari sana, kita mencicipi teh dari daun murbei di tempat Pak Satria Budiman. Sampai di Batusangkar sudah cukup siang, perut lapar, dan jam makan siang Naila sudah lama berlalu. Kita diajak Pak Edi ke Nasi Kapau Uni Gadih, di tepi jalan raya Batusangkar – Sawahlunto. Setelah minta digorengkan ayam yang nggak pedas khusus untuk Naila, kita makan di depan jendela yang menghadap ke sawah. Setelah makan dan shalat, kita melintasi kota Batusangkar menuju Istano Basa Pagaruyung, yang letaknya 5 km dari pusat kota. Abang yang pernah tinggal lima tahun di Batusangkar jadi sibuk bernostalgia melihat rumah dan SDnya dulu.
Awal tahun 2007 lalu, Istana Pagaruyung terbakar habis karena disambar petir. Walaupun sesungguhnya istana inipun merupakan replika dari istana aslinya di Bukit Batu Patah yang terbakar tahun 1804, tetap saja saya miris melihat bangunan bersejarah itu ludes tak bersisa. Namun melihat kegiatan pembangunan kembali istana, hati saya agak terhibur. Istana yang baru ini akan dibangun dengan fondasi dan rangka beton. Hanya dinding istanalah yang nantinya akan terbuat dari kayu berukir seperti aslinya.
Di sekitar Istano Basa Pagaruyung terdapat beberapa istana kecil yang masih terawat baik. Kita berhenti di Istano Silindung Bulan untuk berfoto. Di bagian dalamnya terdapat empat bilik (“kamar” tidur) yang dipisahkan dengan tirai. Di ruang utama diletakkan meja2 rendah tempat makan bersama. Dinding bagian dalamnya yang berwarna gelap sangat kontras dengan tirai dan bantal2 yang sebagian besar berwarna merah, kuning dan keemasan. Ah, saya malah jadi sedih membayangkan indahnya Istano Basa Pagaruyung yang tentunya lebih besar, lebih megah dan lebih indah itu. Siapa tahu saya berkesempatan mengunjunginya lagi beberapa tahun mendatang.
Di hari ketiga, pagi2 kita sudah berangkat dari Bukittinggi ke Padang. Setelah early check-in di Hotel Nuansa yang terletak di pinggir pantai, kita menuju Dermaga Wisata Bahari di Muara untuk mengikuti one-day trip seharga 125 ribu rupiah ke Pulau Sikuai. Walaupun kapal baru berangkat pukul sepuluh pagi, sejak pukul 8.30 sudah banyak orang datang pada Minggu pagi itu.
Membawa Naila, kita memantau cuaca di situs BMG dan cuaca setempat pagi itu. Cuaca buruk yang sering hadir di musim hujan dapat membuat pelayaran tidak menyenangkan karena ombak besar. Untungnya cuaca cerah pagi itu. Naila yang sempat takut, akhirnya mulai menikmati pelayaran selama satu jam lebih itu.
Pulau Sikuai sebetulnya terletak nggak jauh dari lepas pantai Bungus, selatan kota Padang. Namun karena kapal berangkat dari Muara di dalam kota Padang, kita harus berlayar menyusuri pantai, melewati Teluk Bayur, hingga sampai di pulau kecil ini. Pantainya berpasir putih, dipagari pohon2 kelapa berjajar rapi, dan air biru yang nyaris tanpa ombak karena diapit semenanjung dan pulau2 kecil lainnya. Snorkeling melihat ikan2 aneka warna atau sekedar berjalan kaki mengelilingi pulau juga dapat dilakukan di pulau yang hanya memiliki satu resort hotel ini.
Naila senang sekali bermain pasir di pantai, ditunggui Bundanya yang minum kelapa muda dan makan rujak buah. Benar2 seperti surga dunia. Sayangnya pihak pengelola tampak kurang siap dengan banyaknya pengunjung hari itu, sehingga makan siang baru siap jam dua siang.
Kegembiraan kita nggak berlangsung lama
. Jam setengah tiga tiba2 datang badai, disertai angin kencang, hujan deras, kabut tebal dan ombak tinggi. Manusia boleh berencana dan berhati2, tapi cuaca ternyata nggak bisa ditebak. Kapal yang sedianya kembali ke Padang jam empat sore terpaksa ditunda menunggu cuaca membaik. Ratusan orang menunggu di dalam restoran dan lobi hotel, sehingga bisa dibayangkan betapa crowded-nya suasana saat itu.
Jam 6 sore kapal diberangkatkan. Tapi jumlah penumpang yang saya perkirakan lebih dari 200 orang itu nggak dapat terangkut sekaligus. Nasib membuat kita termasuk dalam rombongan yang nggak terangkut dan harus menunggu kapal berikutnya. Saat saya merasa kecewa itulah, ternyata Tuhan bermaksud melindungi Naila dari pengalaman yang lebih buruk. Kapal yang diberangkatkan barusan, kembali ke Sikuai karena dihadang ombak yang bermeter2 tingginya. ”Penumpang pada menangis, Bu. Saya sempat trauma naik kapal”, kisah Ibu Ruri yang pergi bersama suami, anak2 dan keluarga kakaknya.
Badai menawan kita di Sikuai. Lagi2 pengelola hotel kurang tanggap menyiapkan penginapan darurat. Makan malam dengan menu yang sama seperti siangnya, nasi goreng, baru muncul jam sepuluh malam. Kita dan beberapa keluarga lain yang membawa anak kecil akhirnya membuat pos di pub. Panggungnya yang hangat kita gunakan untuk membaringkan anak2. Dialasi sarung untuk shalat Ayahnya dan berbantalkan tas Bundanya, alhamdulillaah Naila bisa tidur nyenyak.
Jam enam paginya kita kembali ke Padang. Lebih dari 150 orang dijejalkan dalam satu kapal kecil, agak mengabaikan faktor keselamatan sepertinya. Sisa2 badai semalam masih cukup terasa, laut belum setenang kemarin pagi saat kita berangkat. Alhamdulillaah, kita bertiga nggak mabuk laut seperti sebagian besar penumpang. Nggak terlalu banyak menggerakkan kepala, selalu mengamati dan bersiap akan datangnya ombak, dan mendapatkan udara segar adalah resep yang kita praktikkan.
Hotel yang sudah kita bayar untuk semalam, terpaksa hanya dapat kita manfaatkan beberapa jam saja. Mandi dan beristirahat di atas kasur empuk tentu saja sangat kita rindukan setelah tegang semalaman ditawan badai dan tidur2 ayam dengan tubuh melengkung.
Siangnya setelah puas beristirahat, kita makan siang di restoran Nelayan tak jauh dari hotel. Salah satu restoran seafood paling terkenal (dan cukup mahal) di Padang ini menyajikan berbagai jenis ikan, cumi2, kepiting dan udang ala masakan Cina. Bahan bakunya memang supersegar, sehingga walaupun bumbunya standar, masakan tetap terasa nikmat.
Karena penerbangan kita ditunda hingga lewat jam lima sore, kita memuat semua barang ke dalam bagasi taksi dan berkeliling kota Padang. Karena belum terlalu lapar, kita pergi ke toko cindera mata ”Silungkang & Pandai Sikek” di Jl.Sudirman. Seperti namanya, toko ini terutama menjual songket, sarung, bordir dan sulam dari Silungkang dan Pandai Sikek, juga Koto Gadang. Harganya hamper sama dengan di Pasar Atas Bukittinggi.
Penjualnya menjelaskan, songket Pandai Sikek memiliki ciri khas lebih banyak benang emas, dan otomatis harganya juga lebih mahal. Sementara songket Silungkang terlihat seperti sarung, yang memang merupakan tenun khas Silungkang, dengan ornamen benang emas yang nggak terlalu banyak. Songket Koto Gadang memiliki lebih sedikit lagi benang emas, dengan kain katun tenunan tangan berwarna gelap. Songket Pandai Sikek dihargai 1,3 juta sampai 3 juta rupiah, songket Silungkang mulai 500 ribu rupiah ke atas, dan songket Koto Gadang harganya mulai 350 ribu rupiah. Mahal? Memang sih, tapi di Jakarta bisa sampai 2 kali lipatnya.
Saya yang rada fetish kain tradisional, membeli songket Silungkang, tanpa rencana. Untung bisa gesek tanpa biaya tambahan
. Dan sebelum saya tambah kalap, kita menuju daerah Kampung Cina untuk makan es duren Ganti Nan Lamo”. Berbeda dengan es duren Sakinah khas Bandung, es duren Padang ini mirip es campur dengan saus durian yang kental dan sedikit susu kental manis coklat. Rasanya? Luar biasa.
Akhirnya saatnya tiba bagi kita untuk menuju ke Bandara Minangkabau. Saya berjanji dalam hati, akan kembali kemari. Masih banyak tujuan wisata kuliner yang belum dicicipi, seperti Gulai Itiak Kedai Ngarai, Gulai Ikan Pauh Piaman, atau Sate Padang Mak Syukur. Saya ingin singgah di Singkarak, Danau Kembar dan menyusuri bekas tambang batubara di Sawahlunto. Dan siapa tahu, saat itu Istano Basa Pagaruyung sudah selesai dipugar.
Selamat tinggal, Ranah Minang. Sampai jumpa lagi!
*eh, kamu belum ketiduran kan bacanya?*
]]>WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
SHOW COLUMNS FROM wp_tla_data LIKE 'post_id'
WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
ALTER TABLE `wp_tla_data` ADD `post_id` BIGINT( 20 ) UNSIGNED NOT NULL DEFAULT '0' AFTER `id` ;
WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
ALTER TABLE `wp_tla_data` ADD INDEX ( `post_id` ) ;
WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
SELECT * FROM wp_tla_data
WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
SHOW COLUMNS FROM wp_tla_data LIKE 'post_id'
WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
ALTER TABLE `wp_tla_data` ADD `post_id` BIGINT( 20 ) UNSIGNED NOT NULL DEFAULT '0' AFTER `id` ;
WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
ALTER TABLE `wp_tla_data` ADD INDEX ( `post_id` ) ;
WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
SELECT * FROM wp_tla_data
Akhirnya jadi juga kita berlibur! Setelah bingung mau ke mana, akhirnya diputuskan untuk pergi ke Ciater hari Senin lalu, saat Ayahbunda sama2 bisa mengambil cuti. Ciater adalah sebuah desa dengan mata air panas alami dengan kandungan belerang yang cukup tinggi. Letaknya sekitar 50 km di dari kota Bandung. Melewati Lembang ke arah Subang, kira2 10 km dari jalan masuk ke kawah Tangkubanparahu.
Di sekitar sumber air Ciater kemudian dibangun hotel dan tempat pemandian Sari Ater. Tiket masuk Sari Ater memang nggak bisa dibilang murah untuk ukuran “hiburan massal”, yaitu sepuluh ribu rupiah untuk mobil ditambah 12500 rupiah perorangnya. Walaupun begitu, pengunjungnya di masa liburan sangat banyak.

Karena Boss Kecil nggak suka tempat yang terlalu ramai, kita memutuskan untuk berenang di kolam Kunang-kunang yang terletak dalam kompleks Ciater Spa Resort. Untuk pengunjung yang bukan tamu hotel, harga tiketnya 25000 rupiah untuk dewasa dan 15000 untuk anak2. Kolamnya ada tiga buah, relatif nggak besar, plus satu kolam berendam untuk anak2.
Awalnya Naila tetap ogah berenang, meskipun kelihatan sekali dia suka tempatnya. Tapi setelah sepuluh menit di sana, ditambah lagi bujukan Ayah yang pura2 pundung (“Ah Ayah nggak mau berenang kalau nggak ditemenin Naila”), akhirnya Naila mau berganti baju renang dan mengikuti Ayahbunda ke kolam.
Ternyata berendam itu asyik lho! Sayang nggak ada foto Naila sedang berendam, karena Naila nggak mau jauh2 dari Bunda yang gelambir2 lemaknya terekspos kalau pakai baju renang
Pulangnya kita makan di Sindang Reret Cikole. Mau memetik stroberi, sayangnya gagal karena sudah habis dipetik pada hari Minggu sebelumnya. Ya sudah, lain kali saja ya Naila, kan dekat dari Bandung
.
Dan hari Selasanya Bunda masih cuti. Setelah daftar ulang di KB Al Biruni, Naila diajak Bunda ke Pizza Hut baru di BIP. Sekalian Bunda (lagi2) lihat2 sepatu. Di sana Bunda janjian dengan Tante Ninin yang sedang liburan di Indonesia, dan Tante Nita plus Gaga. Setelah makan, kita keliling2 BIP sebentar.
]]>WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
SHOW COLUMNS FROM wp_tla_data LIKE 'post_id'
WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
ALTER TABLE `wp_tla_data` ADD `post_id` BIGINT( 20 ) UNSIGNED NOT NULL DEFAULT '0' AFTER `id` ;
WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
ALTER TABLE `wp_tla_data` ADD INDEX ( `post_id` ) ;
WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
SELECT * FROM wp_tla_data
WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
SHOW COLUMNS FROM wp_tla_data LIKE 'post_id'
WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
ALTER TABLE `wp_tla_data` ADD `post_id` BIGINT( 20 ) UNSIGNED NOT NULL DEFAULT '0' AFTER `id` ;
WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
ALTER TABLE `wp_tla_data` ADD INDEX ( `post_id` ) ;
WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
SELECT * FROM wp_tla_data
Liburan long weekend lalu Naila dan Ayahbunda pergi ke Jakarta. Mengunjungi Kakek-Nenek sekaligus melarikan diri dari Bandung yang diserbu turis Jakarta. Kamis pagi kita berangkat ke Jakarta bareng Om Rizal, suami Tante Nila, adik Ayah yang bungsu.
Sorenya Bunda pengen ke Senayan City, makan Burger King (hari ini dietnya libur, kata Bunda). Jadi sore itu, Naila, Ayahbunda, Tante Sri dan Om Irwan ke sana. Tapi begitu lihat antrian yang seperti mau foto bareng Britney Spears, kita akhirnya makan di Wendy’s yang juga (sudah) nggak ada di Bandung
.
Hari Jumatnya, Naila dan Ayahbunda diajak ke Anyer oleh Tante Nila dan Om Rizal. Setelah pakai aksi ogah mandi, akhirnya kita berangkat juga. Alhamdulillah, waktu itu ombak Anyer belum setinggi sore harinya. Naila yang belum pernah ke pantai ternyata antusias sekali. Sama senangnya seperti Bundanya, anak gunung yang cinta pantai
.
Setelah Ayah dan Om Rizal shalat Jumat, Naila minta rendam kaki. Tapi waktu ada ombak kencang setinggi lututnya, Naila kaget dan “mau udah”.

Sabtu siang kita kembali ke Bandung, supaya hari Minggu kita masih bisa istirahat di rumah. Sayangnya Naila bawa oleh2 flu nih, jadi batuk2.
Foto2 Anyer lainnya ada di gelar gambar atau Flickr Bunda.
]]>