WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
SHOW COLUMNS FROM wp_tla_data LIKE 'post_id'
WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
ALTER TABLE `wp_tla_data` ADD `post_id` BIGINT( 20 ) UNSIGNED NOT NULL DEFAULT '0' AFTER `id` ;
WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
ALTER TABLE `wp_tla_data` ADD INDEX ( `post_id` ) ;
WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
SELECT * FROM wp_tla_data
WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
SHOW COLUMNS FROM wp_tla_data LIKE 'post_id'
WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
ALTER TABLE `wp_tla_data` ADD `post_id` BIGINT( 20 ) UNSIGNED NOT NULL DEFAULT '0' AFTER `id` ;
WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
ALTER TABLE `wp_tla_data` ADD INDEX ( `post_id` ) ;
WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
SELECT * FROM wp_tla_data
WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
SHOW COLUMNS FROM wp_tla_data LIKE 'post_id'
WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
ALTER TABLE `wp_tla_data` ADD `post_id` BIGINT( 20 ) UNSIGNED NOT NULL DEFAULT '0' AFTER `id` ;
WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
ALTER TABLE `wp_tla_data` ADD INDEX ( `post_id` ) ;
WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
SELECT * FROM wp_tla_data
Anggaplah gue mengembik barusan sebagai tanda kehidupan di blog ini. Hehehe…
Banyak yang ingin gue ceritakan di blog ini sebetulnya. Diawali dengan batuk2nya Naila yang hampir sebulan lebih. TBC jelas bukan, karena tes Mantoux menyatakan negatif. Kemungkinan ada infeksi yang lalu memicu asmanya, yang diwarisi dari emaknya ini. Alhamdulillaah, setelah terapi obat dan beberapa kali fisioterapi di RS Advent, yang terdiri dari penguapan (nebulizer), penyinaran dengan lampu merah serta pijat, batuknya jauh berkurang.
Terus, kenapa mengembik?
Gue dan teman2 sedang tergila2 pada Shaun The Sheep. Naila sih sudah sejak lama suka dengan gerombolan domba ini. Apalagi dengan si Shaun, yang menurut Naila, “Itu loh, yang paling kurus tapi pintar!” Juga dengan Timmy, si bayi domba yang kadang masih suka ngempeng, “Itu seperti Neng ya!”
.
Tapi film animasi berdurasi 15 menitan ini memang lucu kok. Ceritanya berkisar tentang sebuah tanah pertanian dengan seorang petani, seekor anjing gembala bernama Bitzer, segerombolan domba, ayam, bebek, dan sejenisnya. Juga para tokoh antagonis, para babi dari tanah pertanian sebelah
.
Nggak heran kan kalau teman2 gue, usia 30 tahunan, juga ikut kena demam Shaun. Apalagi setelah Mas Ari men-supply banyak episode hasil donlotan dari kampusnya. Contoh salah satu episodenya bisa dilihat di sini. Sisanya bisa dicari di YouTube. Semoga nggak diblokir lagi
.
]]>
WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
SHOW COLUMNS FROM wp_tla_data LIKE 'post_id'
WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
ALTER TABLE `wp_tla_data` ADD `post_id` BIGINT( 20 ) UNSIGNED NOT NULL DEFAULT '0' AFTER `id` ;
WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
ALTER TABLE `wp_tla_data` ADD INDEX ( `post_id` ) ;
WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
SELECT * FROM wp_tla_data
WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
SHOW COLUMNS FROM wp_tla_data LIKE 'post_id'
WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
ALTER TABLE `wp_tla_data` ADD `post_id` BIGINT( 20 ) UNSIGNED NOT NULL DEFAULT '0' AFTER `id` ;
WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
ALTER TABLE `wp_tla_data` ADD INDEX ( `post_id` ) ;
WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
SELECT * FROM wp_tla_data
Pemain: Hugh Grant, Drew Barrymore
Sutradara/Skenario: Marc Lawrence
Genre: komedi romantis



Alex Fletcher (Hugh Grant) pernah menjadi pujaan di panggung musik pop dunia pada tahun delapanpuluhan bersama bandnya, PoP! yang terkesan parodi dari Wham!. Setelah perpecahan bandnya, Alex hanya menjadi penyanyi di event2 lokal. Penggemarnya tinggallah penggemarnya di masa muda dulu, yang sekarang tentunya sudah menjadi ibu2. Menulis lagu pun Alex nggak lagi percaya diri, karena ia kehilangan penulis liriknya di PoP! dulu.

Siapa mengira, seorang artis muda yang superseksi dan superterkenal, Cora Corman (Haley Bennett) adalah seorang pengagum Alex sejak masa balita. Cora meminta Alex untuk menulis sebuah lagu yang nantinya akan dibawakan bersama. Tapi, waktu yang diberikan Cora hanya lima hari. Bukan hal mudah untuk Alex, yang sudah lama nggak menulis lagu. Apalagi ia harus mencari seseorang untuk membuat liriknya.
Saat Alex sedang mencari inspirasi, Sophie Fisher (Drew Barrymore), perawat tanaman di apartemennya, tiba2 meluncurkan kalimat2 indah dan berima. Alex dan Sophie bekerja siang malam menggubah lagu sesuai pesanan Cora, “Way Back Into Love” (bisa diunduh di sini).
Kata orang Jawa, witing tresno jalaran ora ono sing liyo. Ralat, witing tresno jalaran soko kulino
. Anak sekarang menyebutnya cin-lok. Alex dan Sophie nggak hanya menjadi tim dalam menulis lagu, tapi juga menjadi pasangan cinta.
Perbedaan pendapat muncul saat Cora yang terobsesi pada goyangan sensual, meminta lagu itu diubah menjadi berirama dance. Cinta Sophie pada karyanya membuatnya nggak rela karyanya itu kehilangan makna dan “jiwa”. Tapi Alex pasrah saja, yang penting ia bisa kembali eksis.
Cinta memang mempererat kerja sama mereka. Tapi apakah cinta mereka bisa mengatasi perbedaan pendapat dalam tim? Dan saat tim terpecah, apakah cinta pun masih bisa bertahan?
Dirilis di Amerika Serikat tepat pada hari Valentine, film komedi romantis ini memang cocok untuk mereka yang sedang mencari hiburan ringan. Sayangnya Alex yang dikisahkan sebagai orang Amerika, masih memiliki aksen Inggris yang kental. Dan chemistry antara Hugh Grant dan Drew Barrymore, entah kenapa kurang terasa. Walaupun begitu, cela2an konyol antara Alex dan Sophie, goyang pinggul Alex yang agak norak, lagu2 PoP! yang yang eighties banget, lumayan bikin ketawa. Apalagi buat generasi STW macam gue, yang pernah menjadi ABG di masa kejayaan delapanpuluhan.
Pertanyaan terakhir yang tersisa di benak gue adalah, mixing business with love, do or don’t?
WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
SHOW COLUMNS FROM wp_tla_data LIKE 'post_id'
WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
ALTER TABLE `wp_tla_data` ADD `post_id` BIGINT( 20 ) UNSIGNED NOT NULL DEFAULT '0' AFTER `id` ;
WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
ALTER TABLE `wp_tla_data` ADD INDEX ( `post_id` ) ;
WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
SELECT * FROM wp_tla_data
WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
SHOW COLUMNS FROM wp_tla_data LIKE 'post_id'
WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
ALTER TABLE `wp_tla_data` ADD `post_id` BIGINT( 20 ) UNSIGNED NOT NULL DEFAULT '0' AFTER `id` ;
WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
ALTER TABLE `wp_tla_data` ADD INDEX ( `post_id` ) ;
WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
SELECT * FROM wp_tla_data
Never say ‘goodbye’, say ‘until we meet again’..
Pemain: Shahrukh Khan, Rani Mukherjee, Abishek Bachchan, Preity Zinta
Sutradara/Skenario: Karan Johar
Genre: drama


Maya: “Bagaimana kalau cinta sejatiku datang setelah aku menikah?”
Dev: “Ia tidak akan datang kalau kau tidak mencarinya.”
Percakapan di atas terjadi antara Dev Saran (Shahrukh Khan), dengan Maya (Rani Mukherjee) pada hari pernikahannya dengan Rishi Talwar (Abishek Bachchan). Seperti orang bijak sering berkata, bahwa tidak ada pernikahan antara dua orang yang benar2 cocok, yang ada hanyalah dicocok2an. Mungkin tidak seekstrem itu, tetapi intinya, kita sendirilah yang harus berusaha agar ikatan pernikahan itu abadi. Saling menyesuaikan diri dan berkomunikasi. Tidak perlu mencari2 cinta setelah pernikahan, apalagi karena alasan ketidakcocokan.

Karir Dev, suami Rhea (Preity Zinta) sebagai pemain sepakbola terhenti setelah sebuah kecelakaan yang mengakibatkan kakinya cacat. Rhea yang bekerja pada redaksi majalah mode, menjadi pencari nafkah utama dalam keluarganya. Kegagalan dirinya, ditambah dengan kesuksesan karir Rhea, membuat sifat pemarah Dev menjadi2. Kehidupan pernikahan mereka hambar.
Sementara Maya yang tak pernah benar2 mencintai Rishi, juga tidak bahagia dalam pernikahannya. Sifat guru taman kanak2 yang sangat teratur, kalem dan anti-pesta ini, sangat berkebalikan dengan suaminya yang dibesarkan seorang Ayah yang hedonis. Padahal Rishi sangat mencintai Maya, walaupun Maya tak bisa memberinya anak. Maya dan Rishi pun seakan menemui jalan buntu dalam komunikasi.
Berawal dari perasaan senasib saat pasangan masing2 begitu menikmati pesta, Maya dan Dev menjadi akrab. Keduanya bertukar saran untuk memperbaiki kehidupan pernikahan masing2. Agar Maya bersikap lebih sensual terhadap suaminya, dan Dev lebih romantis terhadap istrinya.
Ternyata malah mereka menemukan kecocokan. Cinta datang tanpa dicari, saat keduanya telah terikat pernikahan.

Dilihat dari satu sisi, cinta mereka adalah milik dua orang egois yang hanya mengasihani diri sendiri. Pernikahan yang hambar dan dingin adalah karena kegagalan dua orang, dan tidak bisa dibebankan kepada satu orang yang terus menerus berbuat salah.
Bukan salah Dev dan Maya ketika mereka saling tertarik, tetapi mereka menjadi salah ketika ketertarikan itu dipupuk subur sehingga tumbuh menjadi sebuah perselingkuhan.
Tapi di sisi lain, konon cinta tak pernah salah. Lalu apakah perceraian adalah solusinya? Mengorbankan ikatan suci dengan seorang tidak dicintai demi orang ketiga?
Lambat tapi tak membosankan
Sutradara Karan Johar mengangkat sebuah tema yang sensitif, terutama untuk publik India dan Asia pada umumnya. Tak seperti film2nya sebelum ini yang diwarnai kehidupan kampus dan agak komikal, seperti Kuch Kuch Hota Hai dan Kabhi Kushi Kabhie Gham, Kabhi Alvida Naa Kehna lebih dewasa. Setting kota New York membuat kesan modern dan open minded lebih terasa, walaupun masih ada kesan hanya “tempelan” belaka.
Dari keseluruhan pemain, akting komikal Amitabh Bachchan sebagai ayah Rishi adalah yang paling menonjol. Shahrukh Khan tetap dengan gayanya yang seperti biasa di awal film, tetapi semakin serius sebagai Dev yang menjadi pemarah. Sayangnya chemistry antara Shahrukh dan Rani yang terjalin indah dalam Chalte Chalte, tak begitu terasa dalam film ini.

Alur cerita berjalan lambat, terutama di separuh pertama. Tetapi adegan2 yang catchy, lagu2 yang indah dan dialog memikat membuat semuanya jadi tak membosankan. Patut dicatat lagu tema “Kabhi Alvida Naa Kehna” yang agak sendu, dan bernuansa “Kal Ho Naa Ho”. Juga “Rock n’ Roll Soniye” yang ngebeat.
Adegan yang paling membuat miris adalah ketika Rhea bercerita kepada Dev bahwa ia menolak pindah ke London, walaupun itu berarti menolak promosi karir. Dev yang terlanjur merasa minder dengan kesuksesan Rhea, malah menganggap itu sebagai penghinaan tak langsung.
Juga saat Rhea mengkonfrontasi Maya saat bertemu di pesta pernikahan kedua Rishi. Tidak membabi buta, namun cukup pedas.
Sayangnya ada beberapa hal yang terkesan dipaksakan. Bagaimana Dev dan Maya bertemu kembali di stasiun tiga tahun setelah pertemuan pertama mereka, karena teror Black Beast penculik anak. Bahwa keduanya kemudian begitu sering bertemu hanya untuk saling memberi saran (atau memang hanya alasan?). Bahwa Rhea langsung meminta cerai dari Dev saat suaminya itu mengaku telah berselingkuh (kekesalan yang telah memuncak?). Dan bahwa Dev begitu mudah meninggalkan anaknya, padahal konon kelahiran anaknya adalah saat yang paling membahagiakannya.
Tetapi dalam sebuah film India yang pandai memainkan emosi dengan adegan2 dramatis, hal2 seperti itu menjadi tidak begitu penting. Kabhi Alvida Naa Kehna tetap menarik untuk ditonton. Tiga jam yang membawa penonton pada berbagai perenungan.
PS: Film ini adalah film India pertama yang gue tonton di bioskop. Di luar dugaan gue, ada sekitar 20 orang penonton siang itu, dan tak seorangpun meninggalkan bioskop sebelum film selesai
.
Sponsor: Kabhi Alvida Naa Kehna (Bonus - Free Stardust Award 2004 Dvd)
WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
SHOW COLUMNS FROM wp_tla_data LIKE 'post_id'
WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
ALTER TABLE `wp_tla_data` ADD `post_id` BIGINT( 20 ) UNSIGNED NOT NULL DEFAULT '0' AFTER `id` ;
WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
ALTER TABLE `wp_tla_data` ADD INDEX ( `post_id` ) ;
WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
SELECT * FROM wp_tla_data
WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
SHOW COLUMNS FROM wp_tla_data LIKE 'post_id'
WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
ALTER TABLE `wp_tla_data` ADD `post_id` BIGINT( 20 ) UNSIGNED NOT NULL DEFAULT '0' AFTER `id` ;
WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
ALTER TABLE `wp_tla_data` ADD INDEX ( `post_id` ) ;
WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
SELECT * FROM wp_tla_data
Minggu lalu gue baru nonton “V for Vendetta”. Telat memang, sampai2 di bioskopnya pun cuma berempat
.
Pemain: Hugo Weaving, Natalie Portman, Stephen Rea
Sutradara: James McTeigue
Skenario: Andy & Larry Wachowski
Genre: thriller, action





Film karya James McTeigue yang skenarionya digarap oleh Larry dan Andy Wachowski (trilogi “Matrix”) berdasarkan komik (graphic novel) karya Alan Moore ini ide ceritanya nendang banget, pas banget buat keadaan di Indonesia dan dunia pada saat ini: pemerintahan yg manipulatif dan totaliter sekaligus sok religius sesuai slogan “Strength through unity, unity through faith”. Maka membabat habis penganut kepercayaan dan ideologi lain, para homoseksual, bahkan berbagai karya seni, atas nama agama. Sensor yang ketat. Propaganda2 pemerintah dan rekayasa berita di media. Polisi yang “pagar makan tanaman”. Pengekangan seperti jam malam berkedok keselamatan rakyat. Teror2 dan intimidasi terhadap rakyat untuk memperkokoh posisi pemerintah sebagai “penyelamat” dari kekacauan, wabah penyakit, dan kemiskinan.

Film berdurasi lebih dari dua jam ini mengambil setting Inggris abad ke-22 di bawah rezim totaliter kanselir Adam Sutler (John Hurt) yang penampilannya mengingatkan pada Adolf Hitler. Seseorang yang menyebut dirinya V (Hugo Weaving), yang selalu mengenakan kostum dan topeng ala Guy Fawkes mulai melancarkan teror kepada pemerintah sekaligus berpropaganda mengingatkan rakyatnya untuk melawan.
People should not be afraid of their governments,
governments should be afraid of their people.
Pada malam di mana ia bertemu Evey (Natalie Portman), seorang pegawai stasiun televisi yang melanggar jam malam, V melakukan terornya yang pertama, meledakkan pengadilan kriminal London, Old Baley. V lalu memberikan ancamannya untuk meledakkan gedung parlemen Inggris yang terkenal dengan Big Ben-nya itu pada malam tanggal 5 November, seperti yang direncanakan Guy Fawkes berabad2 sebelumnya. Itu berarti para Fingerman, polisi khusus bentukan rezim yang dipimpin Finch (Stephen Rea), punya waktu hampir setahun untuk menangkap V.
Sementara itu V pun punya misi pribadi, membalas dendam kepada sejumlah orang dari masa lalunya. Vendetta, revenge. Evey yang orangtuanya menjadi korban pemusnahan penguasa juga mendapatkan kesempatan untuk membalaskan dendamnya sendiri. Bahkan pada akhirnya ia menjadi tangan kanan sekaligus penerus perjuangan V.

V berjuang untuk revolusi, mengembalikan demokrasi. Anarkis, tapi somehow secara puitis dan romantis. Dilihat dari sisi itu memang kelihatan banget kalo film ini adalah re-interpretasi dari komik yang dibuat Moore dalam dekade delapanpuluhan dan benafaskan semangat anti-Thatcher. Dan anarkisme adalah salah satu hal yang bisa diinterpretasikan secara negatif dalam film ini. Apakah film ini mentolerir terorisme untuk memperjuangkan sebuah ideologi? Selintas cara V tak jauh beda dengan peristiwa 9/11 atau peledakan bom Bali. Walaupun yang diperjuangkan V adalah sebuah “kebenaran”, bukankah “kebenaran” juga menjadi relatif?
Gue terus terang menunggu2 momen V membuka topengnya. As a little spoiler, hal itu nggak pernah terjadi. Tapi toh nggak penting, karena seperti kalimatnya sendiri, V lebih dari sekedar daging di balik topengnya. Di balik topeng Guy Fawkes yg dipakainya, V adalah sebuah ide. Ide untuk perubahan dan pembebasan. Daging bisa mati, tapi ide itu bulletproof. Dan di tengah rakyat yang tertekan tapi belum juga melakukan perlawanan, V dengan kostum dan kelakuan anehnya menjadi sebuah ikon baru.
Dari semua pemain, yang paling patut dicatat adalah Hugo Weaving. Aktingnya keren bangeD deh. Walaupun nggak kelihatan ekspresinya karena pakai topeng, tapi bahasa tubuhnya benar2 “berbicara”.
I would say, V for Vendetta, R for Revolution, W for Worth-See.
Informasi lebih lengkap tentang “V for Vendetta”.
]]>WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
SHOW COLUMNS FROM wp_tla_data LIKE 'post_id'
WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
ALTER TABLE `wp_tla_data` ADD `post_id` BIGINT( 20 ) UNSIGNED NOT NULL DEFAULT '0' AFTER `id` ;
WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
ALTER TABLE `wp_tla_data` ADD INDEX ( `post_id` ) ;
WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
SELECT * FROM wp_tla_data
WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
SHOW COLUMNS FROM wp_tla_data LIKE 'post_id'
WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
ALTER TABLE `wp_tla_data` ADD `post_id` BIGINT( 20 ) UNSIGNED NOT NULL DEFAULT '0' AFTER `id` ;
WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
ALTER TABLE `wp_tla_data` ADD INDEX ( `post_id` ) ;
WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
SELECT * FROM wp_tla_data
Rabu lalu akhirnya gue nonton Jomblo sama Abang di Cinere21. Kenapa Abang akhirnya mau? Karena syutingnya berlangsung di antaranya di Kampus Cap Gadjah!
Pemain: Ringgo Agus Rahman, Christian Sugiono, Dennis Adhiswara, Rizky Hanggono
Sutradara: Hanung Bramantyo
Skenario: Salman Aristo, Adhitya Mulya


Film ini menceritakan empat sahabat mahasiswa jurusan teknik yang -awalnya- jomblo karena alasannya masing2: Agus (Ringgo Rahman) sang tokoh sentral yang belum menemukan wanita(h) idamannya (iyah, ujungnya pake H, seperti layaknya orang Sunda), Bimo (Dennis Adishwara) yang ditolak melulu, Olip (Rizky Hanggono) yang nggak punya nyali, dan Doni (Christian Sugiono) yang ogah terikat. Representasi cowo2 ITB? Kira2 sendiri aja deh, asal jangan mencoba mengira2 Abang related ke tokoh yang mana, hehe..
Tetapi dalam perkembangannya, Agus akhirnya punya seorang pacar, lalu dua orang. Doni jadian dengan cewe yang dikecengin Olip selama 3 tahun. Dan Bimo menggaruk2 daerah segitiga terlarangnya. Oh, ga nyambung ya?
Kekuatan Jomblo sebenarnya ada pada bukunya. Tapi membuat film dari sebuah buku laris, apalagi ‘memindahkan’ segenap kekuatan dan kelucuannya, sama sekali nggak mudah. Dan menurut gue Hanung Bramantyo cukup berhasil melakukannya. Ini tentunya didukung skenario adaptasi yang apik, yang bahkan ikut dikerjakan oleh Adhitya Mulya, sang penulis bukunya sendiri.
Ada bagian2 yang hilang, seperti dilindas truk manggis atau adegan MLnya Agus dengan Lani. Sebaliknya ada adegan yang hanya muncul di film, seperti bagaimana Agus & Lani membatalkan niatnya untuk ML itu, yang menurut gue dangkal dan nggak logis. Tapi adegan Olip merayakan ulang tahun Asri dengan puluhan lilin, malah sangat kuat dan menyentuh, menunjukkan kemampuan Hanung.
Yang paling nendang buat gue malah sebetulnya bukan masalah jomblo menjomblonya. Entah kenapa sejak baca bukunya pun, yang paling menyentuh gue adalah kasusnya Agus yang mendua, dan akhirnya memilih untuk memutuskan selingkuhannya walaupun ia lebih cocok dan lebih bahagia saat bersama selingkuhannya.
Lani: Orang kan mencari yang terbaik Gus!
Agus: Tapi kalau saya begitu, mungkin kapan2 saya akan mutusin kamu dengan alasan yang sama!
Permainan Ringgo sebagai Agus patut dicatat. Padahal gue & adek gue sempat underestimate karena tampangnya terlalu cakep untuk peran Agus, dan kurang lekoh nyunda (padahal ternyata lumayan juga). Sebagai pendatang baru aktingnya OK banget. Bandingkan dengan Rizky yang walaupun sudah beberapa kali main film dan tampangnya tipe gue, tapi aktingnya PDA. Dennis sebagai Bimo mungkin dirasa terlalu berlebihan, tapi menurut gue itu karena tuntutan perannya harus yang senorak2nya seorang cowo bisa norak.
And to mention the girls yang cantik2
. Richa Novisha lumayan untuk peran Rita, si gadis Sunda nan keibuan. Nadia Saphira aktingnya paling OK di antara para jelita. VJ Rianti, menurut gue agak jauh dari bayangan gue semula. Asri jadi nggak seanggun di bukunya, dan jadi berwajah Indo. Mungkin ini kebijaksanaan pembuat film untuk menekankan bahwa Asri itu cantik banget dan nggak lazim ada di kampus (ITB)
. Apalagi Karenina sebagai Febi, kok rasanya nggak pas banget ya?
Satu lagi, selera humor adalah sesuatu yang sangat relatif. Buat sebagian orang, Jomblo lucu banget. Buat sebagian yang lain, film ini garing atau jayus. Tapi buat gue humor dalam Jomblo sangat mengena, Bandung banget. Bahkan sampai makian “anjing” yang gampang ditemui dari mulut bocah SMP di Bandung. Hanung juga berhasil memvisualisasikan adegan2 komikal dalam buku, juga dengan bantuan animasi di sana sini.
Kesimpulannya, Jomblo termasuk salah satu film Indonesia yang penting dalam dekade ini. Bukan award level memang, tapi patut dicatat karena membawa angin segar, dan toh juga nggak jelek.
Dialog2nya, seperti juga dalam bukunya, kadang cerdas, tapi kadang terlalu berkesan berkhotbah. Yah, maklum lah, namanya juga mahasiswa
. Dan ada satu line Rita pada Agus yang membuat Abang langsung ketawa sambil melirik gue,
“Neng gendut ya?”
Intonasinya, cara bertanyanya, word by word… Konon itu gue banget!!!
WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
SHOW COLUMNS FROM wp_tla_data LIKE 'post_id'
WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
ALTER TABLE `wp_tla_data` ADD `post_id` BIGINT( 20 ) UNSIGNED NOT NULL DEFAULT '0' AFTER `id` ;
WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
ALTER TABLE `wp_tla_data` ADD INDEX ( `post_id` ) ;
WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
SELECT * FROM wp_tla_data
WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
SHOW COLUMNS FROM wp_tla_data LIKE 'post_id'
WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
ALTER TABLE `wp_tla_data` ADD `post_id` BIGINT( 20 ) UNSIGNED NOT NULL DEFAULT '0' AFTER `id` ;
WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
ALTER TABLE `wp_tla_data` ADD INDEX ( `post_id` ) ;
WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
SELECT * FROM wp_tla_data
Kisah cinta abadi tak hanya milik pasangan Rama-Shinta, Laila-Majenun, Romeo-Juliet atau bahkan Bonnie-Clyde. Setidaknya satu lagi muncul dari film ini: pasangan Veer-Zaara.
Pemain: Shahrukh Khan, Preity Zinta, Rani Mukherjee
Sutradara: Yash Chopra
Skenario: Aditya Chopra



“Veer-Zaara” disutradarai Yash Chopra, sutradara senior Bollywood yang terakhir kali membesut “Dil To Pagal hai” tujuh tahun yang lalu. Sebuah film romantis berlatar belakang konflik India-Pakistan, yang sukses membius penonton dengan obsesi cinta namun sarat dengan idealisme dan pesan humanisme: kasih sayang antar manusia lintas batas, kesetaraan perempuan, dan perjodohan atas dasar politik dan harta yang harus diakhiri.
Film ini bercerita tentang Veer Pratap Singh (Shahrukh Khan), komandan squadron pesawat Indian Air Force, yang jatuh cinta pada Zaara Hayaat Khan (Preity Zinta), putri seorang politikus Pakistan. Zaara yang manis dan cerdas itu telah bertunangan dengan seorang laki-laki pilihan orang tuanya, Raza (Manoj Bajpai). Sebelum mereka menikah, Zaara pergi ke India untuk memenuhi permintaan terakhir pengasuhnya waktu kecil yang berasal dari sana, yaitu untuk menghanyutkan abunya ke Sungai Gangga.
Ketika bis yang ditumpanginya mengalami kecelakaan, Zaara diselamatkan oleh Veer, dan mereka jatuh cinta. Veer lalu mengajak Zaara mengunjungi orangtua angkatnya (diperankan oleh the famous old couple Amitabh Bachchan dan Hema Malini) di Punjab, yang juga langsung menyukai Zaara. Tetapi sebelum Veer sempat mengungkapkan perasaaannya, Zaara dijemput oleh Raza yang terbang dari Lahore khusus untuk mencarinya.
Terpisah jarak, Zaara dan Veer tetap tidak bisa melupakan satu sama lain. Pembantu Zaara (Divya Dutta) berusaha menyatukan cinta mereka berdua dengan menghubungi sang kekasih di India. Akhirnya Veer keluar dari pekerjaannya dan pergi ke Lahore. Untung tak dapat diraih, walaupun ia sempat bertemu Zaara, gadis pujaannya tetap menikah dengan Raza dan ia ditangkap atas tuduhan spionase.
Duapuluh dua tahun kemudian, seorang pengacara junior Pakistan bernama Saamiya Siddiqui (Rani Mukherjee) berusaha menolong Veer yang sekian lama mendekam di penjara dan tak pernah berbicara dengan siapapun. Ketika akhirnya Veer mau berbicara, ia menceritakan seluruh kisahnya kepada Saamiya, yang kemudian berusaha memperjuangkan qaidi (tahanan) nomor 786 ini, baik untuk kebebasannya di sidang pengadilan maupun untuk menemukan kembali cintanya yang hilang.
Berakhir dengan sebuah happy ending yang dramatis khas film India, memanjakan penonton eskapis yang ingin melarikan diri dari pahitnya realita hidup, “Veer-Zaara” ditunjang dialog yang prima garapan Aditya Chopra, putra Yash yang juga sukses menyutradarai “Dilwale Dulhaniya Le Jayenge” dan “Mohabbatein”. Dialog di pengadilan antara Saamiya dengan lawannya (Anupham Kher) adalah salah satu contoh terbaik untuk itu.
Musik yang romantis dan evergreen, sebuah selingan yang menyenangkan di antara booming lagu soundtrack berirama techno dan remix garapan almarhum Madan Mohan, membuat penonton semakin terhanyut dalam cerita. Film ini memang bukan film trendy seperti “Kal Ho Naa Ho”, tapi lebih cenderung bernuansa klasik sehingga mungkin lebih menarik untuk target kalangan yang lebih matang. Seperti lagu “Do Pal” yang sendu, tapi sempat menjadi hit di India pada trimester akhir tahun 2004 lalu:
The caravan stopped for a few moments,
and then where did you walk off, and where did I?
This story of hearts lasted only a few moments,
and then where did you go, and where did I?
Was that you, or was it a scent on the breeze?
Was that you, or was there color bursting in all four directions?
Was that you, or was it some light on the road?
Was that you, or was it a song echoing in the atmosphere?
Did I find you, or did I find my destination?
Was that you, or was it simply a moment touched by magic?
Pemilihan pemain film ini adalah salah sebuah kunci keberhasilan. Tiga megabintang perfilman India yang menyandang gelarnya bukan hanya karena fisik tetapi juga karena kemampuan akting. Shahrukh tampil seperti biasa, agak komikal, terutama pada awal-awal film di mana ia memerankan Veer muda. Tetapi keberhasilannya memainkan peran Veer tua boleh diacungi jempol. Preity pun mampu terlihat sederhana dan alami tetapi tetap anggun dan aristokrat seperti yang dituntut oleh perannya kali ini. Sementara Rani tampil sangat memikat walaupun ia tidak tampil dalam porsi sebanyak kedua pemeran utama. Bisa dibilang ialah yang mencuri perhatian dan membuat penonton tak pernah puas dengan kemunculannya. Para pemeran pembantu pun memberikan dukungan sepenuhnya dalam film ini, misalnya Kiron Kher yang memerankan ibu Zaara.
Secara keseluruhan, film dengan gambar-gambar yang cantik yang sudah tayang pada dua Selasa malam di Indosiar ini sangat layak ditonton. Tak heran, “Veer-Zaara” mendapatkan anugerah film terbaik dalam “Zee Cine Awards 2005″ dan “Filmfare Awards 2004″. Jangan malu ikut tertawa dan menitikkan air mata, karena memang film yang dirilis pada Diwali tahun lalu (pertengahan November) ini mampu memainkan emosi penonton. Agak berlebihan kadang, tapi bukankah itu yang dicari dari sebuah film India?
]]>