WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
SHOW COLUMNS FROM wp_tla_data LIKE 'post_id'
WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
ALTER TABLE `wp_tla_data` ADD `post_id` BIGINT( 20 ) UNSIGNED NOT NULL DEFAULT '0' AFTER `id` ;
WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
ALTER TABLE `wp_tla_data` ADD INDEX ( `post_id` ) ;
WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
SELECT * FROM wp_tla_data
WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
SHOW COLUMNS FROM wp_tla_data LIKE 'post_id'
WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
ALTER TABLE `wp_tla_data` ADD `post_id` BIGINT( 20 ) UNSIGNED NOT NULL DEFAULT '0' AFTER `id` ;
WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
ALTER TABLE `wp_tla_data` ADD INDEX ( `post_id` ) ;
WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
SELECT * FROM wp_tla_data
WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
SHOW COLUMNS FROM wp_tla_data LIKE 'post_id'
WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
ALTER TABLE `wp_tla_data` ADD `post_id` BIGINT( 20 ) UNSIGNED NOT NULL DEFAULT '0' AFTER `id` ;
WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
ALTER TABLE `wp_tla_data` ADD INDEX ( `post_id` ) ;
WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
SELECT * FROM wp_tla_data
Duh, ini blog dan seluruh website saya sempat down beberapa hari nih. Gara2 telat bayar domain, hehe. Jadi malu.
Sekarang, karena sudah bayar, saya jadi semangat mau ngeblog lagi. Walaupun cuma satu post, tapi kan kelihatan kalau saya nggak percuma bayar domain dan hosting.
Tadinya saya mau bikin semacam “kaleidoskop” peristiwa2 yang paling berkesan selama tahun 2009. Tapi kok rasanya banyak hal yang terlalu pribadi ya. Sementara yang cukup “umum” kan sebagian besar sudah sering diceritakan. Ya sutra, ganti topik ah!
Ingat nggak, di awal kuliah saya pernah bilang, my chapter of life as a student will be a life without high heels. That is mostly true: saya jarang2 pakai high heels ke sekolah, kecuali ada presentasi yang menuntut saya berpakaian lebih rapi. Atau saya lagi pengen cecentilan pake sepatu boot saya yang setinggi lutut dan berhak (maksudnya bukan berhak as in berkewajiban ya) 7 senti.
Walaupun saya nggak fashionable amat, walaupun saya nggak langsing2 amat, nggak terawat2 amat seperti seorang artis sinetron berinisial AS yang sedang kuliah di Australia juga, sepertinya seru juga mencatat tentang fashion and beauty saya selama kuliah. Karena biar bagaimanapun, hampir satu dekade saya kerja jadi mbak2 kantoran (istilahnya Trinity “Naked Traveler”) yang punya pakem berpakaian tertentu, pastilah ada perubahan yang cukup signifikan dengan penampilan saya saat saya kuliah. Saya nggak mau lah pakai blazer ke kampus. Tapi tetap pengen kelihatan gaya, nggak harus kelihatan seperti ABG, tapi sesuai umur saya, gitu.
Deuh Neng, makan tuh gayaaaa!!!
Efek “makan gaya” adalah: bawaan saya ke Australia bulan Agustus lalu tuh asli banyak banget! Isinya sebagian besar tentu saja baju, sepatu, dan tas. Depkominfo yang baik hati berhasil dapat tiket pesawat dengan baggage allowance seberat 30kg. Tapi itu pun saya sudah nyaris overweight! Ya saya sadar diri aja, beasiswa pas2an, kan saya nggak mungkin banyak belanja di Adelaide. Jadi perlengkapan perang saya harus dibawa dari sini semua. Beberapa hal yang saya ingat pas berangkat:
koper_besar.zip dan 1 cabin_luggage.zip. Hebat juga ya saya packingnya, hehe.
Fashion
Saya datang ke Adelaide bulan Agustus, saat winter. Di sana winternya nggak dingin2 amat. Nggak harus pakai winter coat yang super tebal, pakai jaket dan cardigan sudah cukup. Saya sih hobi pakai cardigan dan dalaman tanktop, lalu pakai kalung. Bawahnya cukup jeans tanpa stocking dalaman. Kalau pakai rok, ya pakai stocking lah. Soal jaket, saya sukanya jaket yang agak panjang, biar nggak balapan kalau cardigan saya panjang juga. Tapi jaket pendek juga OK kok kalau pakai jeans.
Seperti kota2 lain di Australia, Adelaide bisa punya four seasons in a day. Alias, cuacanya bisa berganti2 hanya dalam hitungan jam. Ramalan cuaca jadi sahabat saya biar nggak salah kostum. Yang paling aman sih sedia baju berlapis: jaket, baju atau cardigan, dan t-shirt atau tanktop di dalamnya. Kadang saya pakai baju lengan pendek dengan dalaman lengan panjang, seperti gaya mbak2 berjilbab gitu lho. Nanti kalau cuaca dingin, dalaman dan/atau jaketnya dipakai. Atau saat suhu udara naik, saya ke kamar mandi untuk melepas dalamannya.
Musim dingin sih “gampang”: kalau kurang hangat tinggal tambah lapisan baju, beres deh. Yang seru kalau musim panas nih. Masa mau telanjang? Salah2 kulit malah kebakar: ya kebakar matahari, ya kebakar malu juga, hehe. Dan saat teman saya yang orang Amerika atau Filipina pakai tanktop bertali spaghetti ke sekolah, saya kok ngerasa nggak bisa ya mengikuti gaya berpakaian seperti itu.
Saya sih hobinya pakai celana pendek, rok atau dress yang berlengan, panjangnya minimkal sedikit di atas lutut. Kalau suhunya masih seperti di Bandung gitu, nggak terlalu panas, pakai bawahannya legging juga enak. Bahan dress yang nyaman adalah dari kaos, campuran lycra, atau katun seperti -tentunya- batik! Kalau pakai celana pendek juga begitu, saya senang sesekali pakai atasannya batik. Nasionalis, gaya, dan adeeeeemmm…
Untuk aksesorisnya, biar nggak keramean dan pas dengan tema “anak kuliahan” (halah!), saya nggak pernah pakai lebih dari dua macam. Less is more. Kalau sudah pakai kalung, nggak usah pakai anting. Kalau sudah pakai gelang besar, nggak usah pakai cincin besar. Saat musim dingin, bisa juga pakai syal yang selain bikin hangat, juga menggantikan fungsi kalung.
Saran dari orang asli Adelaide sih, sebaiknya musim panas pakai topi untuk menangkal sengatan matahari. Sayangnya saya belum pede pakai topi euy. Kacamata hitam juga penting, sampai2 sebelum berangkat saya pesan kacamata minus dengan lensa warna hitam. Bukan semata2 buat gaya, tapi juga karena sinar mataharinya sangat menyilaukan dan bikin saya pusing. Soal alas kaki, kalau musim panas sih tinggal pakai sandal. Untungnya kampus saya nggak reseh soal pakaian, mau pakai sandal jepit juga boleh2 saja. Saya sih sukanya pakai sepatu flats atau sandal gladiator.
Tiap hari saya bawa laptop ke sekolah. Masalahnya, saya sering bosan pakai ransel. Dan kadang kan tema baju saya nggak cocok dengan ransel. Jadi kadang saya bawa tas model cewe yang agak besar, biar laptop saya berikut bungkusnya bisa masuk situ. Tapi seringnya saya masih harus bawa tas tambahan, semacam tas belanja yang bisa dipakai berulang2, untuk tempat bekal makan siang (saya masak sendiri biar irit). Akhirnya malah seringkali dibalik: bekal dan kabel2 masuk ke handbag, laptop masuk ke tas belanja, hehe.
Beauty
Soal kecantikan sebenarnya sangat erat dengan kesehatan kulit. Apalagi selama jadi mahasiswa, saya hampir nggak pernah pakai foundation kecuali untuk acara resmi. Jadi jelas kan, kulit yang sehat adalah kunci penampilan. Padahal kondisi dan situasi selama kuliah sangat nggak bersahabat buat kulit: udara kering, sering bergadang alias kurang tidur, dan sinar matahari yang sangat terik saat musim panas.
Untuk menjaga kesehatan kulit itu, saya rajin pakai body lotion dan sunblock di badan. Lalu pakai moisturizer merangkap anti aging serum untuk wajah, diikuti sunblock khusus wajah dengan SPF 30. Lingkungan yang kering membuat saya mengantongi lipbalm dan bawa hand cream ke mana2. Dan sebagai salah satu resolusi saya saat ulang tahun, never forget to apply eyecream! Yaaaa.. walaupun saya seorang ibu, punya anak, tapi saya lebih pengen kelihatan seperti mbak2 daripada ibu2. Dengan kata lain: awet muda, hehe.
Terus, gimana sih dandanan saya sehari2? Seperti saya sudah singgung tadi, saya jarang pakai foundation. Paling2 pakai concealer untuk menutupi bekas2 jerawat. Setelah itu pakai bedak tabur dan sedikit blush biar nggak pucat. Di bagian mata, saya cuma pakai eyeliner coklat dan maskara biar mata kelihatan lebih kinclong walaupun kurang tidur. Saya nggak pakai lipstik, cuma pakai lipgloss berwarna natural.
Yang juga penting adalah membentuk alis, karena alis adalah bingkai wajah. Selama ini sih saya selalu membentuk alis sendiri. Tapi kapan2 saya pengen nyoba juga ah, ke tempat “tukang alis” kenalannya teman sekelas saya Shweta. Hasil kerjaannya bagus, nggak terlalu tipis, dan tarifnya murah karena dia “praktek” di rumah.
Intinya, it’s not only about what you wear, but also how you wear it. Duh, emang ribet ya jadi cewe. Tapi saya nikmatin banget kok!
]]>WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
SHOW COLUMNS FROM wp_tla_data LIKE 'post_id'
WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
ALTER TABLE `wp_tla_data` ADD `post_id` BIGINT( 20 ) UNSIGNED NOT NULL DEFAULT '0' AFTER `id` ;
WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
ALTER TABLE `wp_tla_data` ADD INDEX ( `post_id` ) ;
WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
SELECT * FROM wp_tla_data
WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
SHOW COLUMNS FROM wp_tla_data LIKE 'post_id'
WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
ALTER TABLE `wp_tla_data` ADD `post_id` BIGINT( 20 ) UNSIGNED NOT NULL DEFAULT '0' AFTER `id` ;
WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
ALTER TABLE `wp_tla_data` ADD INDEX ( `post_id` ) ;
WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
SELECT * FROM wp_tla_data
Judul: Miracle Make-Up by Wawa Sugimurti
Penulis: Reni Kusumawardani
Rating: 

of 5 stars
Nama Wawa cukup tersohor sebagai seorang makeup artist senior di Indonesia. Pendidikan formalnya selaku insinyur sipil seakan mematahkan anggapan bahwa female engineers nggak suka dan nggak bisa dandan *curcol.com*.
Buku ini membahas rias wajah dari dasar. Memperkenalkan perbedaan, kegunaan, dan cara aplikasi foundation, concealer dan bedak. Penjelasannya singkat tapi padat dan jelas. Mulai dari jenis foundie yang sebaiknya dipilih untuk jenis kulit tertentu, sampai bagaimana cara memilih warna yang tepat.
Kemudian masuk ke bagian paling seru dari tata rias wajah, yaitu riasan mata. Rias matalah yang paling membedakan riasan sehari2 dengan riasan pesta. Dari rias matanya pula kita bisa menilai, apakah seseorang cenderung berdandan konservatif, atau malah berani tampil beda. Sebagian besar contoh riasan diberikan ilustrasi step-by-stepnya sehingga mudah diikuti.
Setelah dasar2 riasan mata dengan satu, dua dan tiga warna, Wawa menunjukkan berbagai contoh riasan. Smokey eyes, natural, romantis, dramatis, eksotis… Riasan2nya mudah ditiru dan pilihan warnanya dapat diaplikasikan dalam kehidupan nyata, hehe… Berbeda dengan kesan saya saat membolak balik halaman kecantikan majalah2 wanita yang bikin saya mikir, “Dandan kayak gitu, buat pergi ke mana sih jeuung?”.
Ada satu dua yang menurut saya too much, misalnya merias mata dengan beberapa warna saat mengenakan lipstik merah. Saya sih, cenderung merias mata dengan minimalis kalau bibir sudah pakai lipstik merah jreng jreng…
Wawa juga memberikan contoh2 tata rias untuk setiap usia, mulai dari 20-an sampai 50-an. Juga saran2 untuk kasus2 khusus, misalnya berkacamata, berkerudung, atau memiliki kantung mata.
Sayangnya masih ada beberapa petunjuk yang tidak berilustrasi. Misalnya cara mengaplikasikan bedak bronzer untuk shading alias menyempurnakan kontur wajah. Padahal bronzer seringkali muncul sebagai kosmetik yang digunakan pada berbagai tata rias dalam buku ini.
Mungkin karena buku ini ditujukan untuk pemula, masih banyak hal yang belum terangkat tuntas. Misalnya bagaimana membentuk alis sesuai bentuk wajah, penggunaan primer sebagai alas tata rias, penggunaan eyeshadow base, dan sebagainya.
Oh ya, salah satu nilai positif buku ini adalah harganya yang nggak terlalu mahal. Bandingkan dengan buku tata rias Gusnaldi yang harganya dua kali lipatnya
.
WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
SHOW COLUMNS FROM wp_tla_data LIKE 'post_id'
WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
ALTER TABLE `wp_tla_data` ADD `post_id` BIGINT( 20 ) UNSIGNED NOT NULL DEFAULT '0' AFTER `id` ;
WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
ALTER TABLE `wp_tla_data` ADD INDEX ( `post_id` ) ;
WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
SELECT * FROM wp_tla_data
WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
SHOW COLUMNS FROM wp_tla_data LIKE 'post_id'
WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
ALTER TABLE `wp_tla_data` ADD `post_id` BIGINT( 20 ) UNSIGNED NOT NULL DEFAULT '0' AFTER `id` ;
WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
ALTER TABLE `wp_tla_data` ADD INDEX ( `post_id` ) ;
WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
SELECT * FROM wp_tla_data
Gue punya bayi baru. Namanya Butik Geulis.
Berawal dari kegemaran gue belanja baju, muncul niat untuk “belanja untuk orang lain” alias untuk dijual lagi. Selain itu mungkin berjualan baju secara online (dan offline sebetulnya) adalah salah satu cara yang paling memungkinkan bagi gue untuk mencari penghasilan tambahan.
Saat ini Butik Geulis masih fokus pada pakaian batik untuk perempuan. Dengan desain yang gaya tentunyaaa.. Biar nggak dikira pake daster buat ke kantor, atau lagi jalan ke mal dikira mau ke kawinan anak Pak RT.
Kenapa batik? Karena gue punya passion terhadap batik, jauh sebelum Dian Sastro dan 5 Wanita rajin pakai batik. Gue sudah selalu menjadi pencinta kain tradisional sebelum heboh batik di awal tahun ini. Entah itu songket Sumatra, batik dari Jawa, atau kain saree India. Gue juga cenderung fetish pada harum kain batik, hahahaha…
Kesan2nya punya usaha sampingan? Seru, seru!!!! Sekedar informasi, ada dua macam barang yang gue jual. Yang pertama adalah murni desain gue sendiri. Jadi gue harus berburu bahan batik dari supplier baik itu offline (di Pasar Baru misalnya) ataupun online. Lalu mencari model yang keren dan kira2 disukai orang lain. Menyerahkan pada penjahit kepercayaan, menjelaskan model yang gue mau, dan kadang berdiskusi panjang dulu kalau ternyata kainnya nggak cukup
. Sudah begitu, gue harus rajin memonitor dan mengejar2 kalau nggak selesai2, hehe…
Barang jenis kedua adalah yang gue ambil dari industri pakaian jadi (garment). Gue harus berusaha menilai barang dengan kacamata orang lain, alias, harus memahami apakah pasar akan menyukai barang itu. Menawar agar dapat harga grosir. Dan kadang kesal karena kancing2nya mudah lepas.

Yang paling seru tentunya saat memasarkannya, apalagi secara offline. Barang diacak2 semua padahal cuma beli satu, itu sih sudah biasa. Resiko jualan jeeuuuung!!!! Protes model dan ukuran, sudah biasa juga. Ya memang bayi gue ini masih punya banyak keterbatasan. Kurang bisa memahami permintaan pasar, kurang berani menambah modal juga mungkin. Belum lagi kalau ada yang menawar hampir setengah harga. Aduh Bu, saya teh belum buka kios di Kebonkalapa. Semua sudah harga pas, dan insya Allah gue nggak ngambil untung yang kebangetan gedenya kooook!!!
Tapi gue masih berusaha untuk maju terus pantang mundur dengan semangat bambu runcing dan kebangkitan nasional. Halah, apa sih
. Walaupun awalnya gue sendiri nggak yakin bahwa gue bisa atau dan punya bakat untuk berbisnis. Toh, semua capeknya terbayar saat melihat si pembeli mengenakan baju yang dibelinya dari gue. Apalagi kalau dia terlihat tambah cantik
. Atau menerima SMS dan pesan di YM bahwa barang sudah diterima, dan dia dipuji orang saat mengenakannya. Dan gue juga sudah dapat pujian dari Abang lho, walaupun secara terselubung, “Yang orang Padang tuh aku atau Neng sih? Kok bisa jualan juga?”
Meskipun bayi baru gue ini masih berskala kecil, tapi gue senang banget bisa menularkan kecantikan kepada orang lain. Eh, nggak ding, bercanda. Anggap saja barusan ada setan narsis lewat.. hihihih…
Updated: Butik Geulis punya logo baru!!! Makasih ya mas
).
WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
SHOW COLUMNS FROM wp_tla_data LIKE 'post_id'
WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
ALTER TABLE `wp_tla_data` ADD `post_id` BIGINT( 20 ) UNSIGNED NOT NULL DEFAULT '0' AFTER `id` ;
WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
ALTER TABLE `wp_tla_data` ADD INDEX ( `post_id` ) ;
WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
SELECT * FROM wp_tla_data
WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
SHOW COLUMNS FROM wp_tla_data LIKE 'post_id'
WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
ALTER TABLE `wp_tla_data` ADD `post_id` BIGINT( 20 ) UNSIGNED NOT NULL DEFAULT '0' AFTER `id` ;
WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
ALTER TABLE `wp_tla_data` ADD INDEX ( `post_id` ) ;
WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
SELECT * FROM wp_tla_data
Perempuan kalau dandan lama!!!! Begitu premis yang umum terdengar. Gue sih setuju2 saja dan nggak berusaha menyangkal itu. Tapi yang mengusik rasa penasaran, apa saja sih yang dilakukan dalam waktu selama itu? Lebih jauh lagi, apakah sekian banyak langkah2 yang dilakukan itu sudah benar, baik dalam segi necessity maupun urut2annya?
Sekian lama menjadi pemerhati situs2 fashion & beauty seperti Fashionesedaily, juga membolak balik majalah seperti Female dan Femina, gue mulai mengerti Standard Operation Procedure (SOP) untuk ngelenong alias berdandan (by the way busway, ada yang tahu kenapa dandan sering disebut ngelenong?
)
Apa yang gue tulis di sini, mungkin belum SOP yang selengkap-lengkapnya. Tapi inilah yang menurut gue cukup “jamak” dan applicable untuk dilakukan. OK, lanjuuuuuutt!!!!

Kegiatan seputar mengoles2 dan menggambari wajah, sebetulnya terbagi menjadi tiga bagian besar. Pembersihan (cleansing), perawatan kulit (skin care), dan berdandan (makeup). Mari kita lihat detilnya.

Dua langkah utama dalam membersihkan wajah adalah membersihkan dengan air dan sabun muka, lalu mengaplikasikan cairan penyegar (toner). Tapi sabun muka dan air saja nggak bisa membersihkan makeup, terutama yang tahan air. Maka kita harus membersihkan dengan make up remover sebangsa susu pembersih atau yang 2 in 1 (mengandung penyegar).
Kemudian setiap minggu, kulit dibersihkan dengan scrub dan masker. Gunanya untuk membersihkan pori2 dari komedo, mengangkat kulit mati agar kulit nggak kusam, dan membuat kondisi kulit menjadi lebih baik. Masker biasanya harus didiamkan selama 15 menit, baru kemudian dibersihkan dengan air hangat.
Kalau kamu mau lebih sering menggunakan scrub, bisa2 saja. Tapi pilih scrub yang butirannya halus agar kulit nggak menjadi “tipis” dan malah jadi sensitif.
Satu lagi yang gue baru belajar, susu pembersih dan cairan penyegar ternyata idealnya nggak digunakan berurutan. Karena penyegar seharusnya menjadi penutup, kegiatan segala kegiatan pembersihan muka dilakukan sebelumnya. Fungsinya, untuk mengecilkan pori2 wajah dan mengembalikan tingkat pH-nya setelah dibersihkan.
Saat seseorang melakukan kegiatan pembersihan wajah lengkap seperti ini, waktu yang dibutuhkan ternyata hampir setengah jam. Lama juga ya
.

Setelah wajah dibersihkan, mulailah kita menggunakan produk2 perawatan kulit. Gunakan krim mata dan pelembab bibir pada pagi dan sore. Krim mata yang baik bisa menghilangkan sembab dan lingkar kehitaman di sekitar mata, juga bisa mngencangkan dan mencegah keriput. Penting nih buat yang sudah tigapuluhan macam gue
.
Sementara untuk kulit wajah, langkah pertama adalah menggunakan serum, kalau mau. Serum adalah konsentrat zat2 tertentu, tergantung apa yang dibutuhkan untuk kulitmu. Ada serum untuk mengencangkan kulit dan mengurangi keriput, mengecilkan pori2, menghilangkan vlek2 hitam, atau mencerahkan warna kulit. Nah, zat2 ini harus digunakan sebelum menggunakan pelembap agar lebih mudah diserap oleh kulit (benar nggak Ta? atau jangan2 ini cuma jargon marketing?
). Karena itu juga, sebaiknya serum dibiarkan meresap sebelum membubuhkan pelembap.
Setelah menggunakan pelembap, selalu gunakan tabir surya di siang hari, lalu diamkan beberapa saat sampai meresap. Salah satu penyebab utama penuaan pada kulit adalah sinar matahari. Walaupun kita selalu ada di dalam ruangan, atau cuaca sedang mendung, ancaman sinar matahari tetap ada. Yang lebih praktis sih menggunakan pelembap yg mengandung SPF. Gue pribadi masih bingung, karena sebetulnya tabir surya harus selalu digunakan kembali (reapply) setiap beberapa jam. Tapi kalau sudah full makeup, bagaimana caranya ya?
Sementara di malam hari gunakan krim malam. Idealnya krim malam mengandung zat aktif yang merangsang regenerasi sel2 kulit, yang bekerja selama kita tidur. Lebih jelasnya mengenai para pelembap ini, boleh tanya Lita.

Tahap pembersihan dan perawatan ini menurut gue sangat penting, karena kulit yang bagus adalah modal utama. Make up akan lebih menempel dan tahan lama pada kulit yang bagus. Plus, dandan tipis saja sudah terlihat bagus lho!
Okei, sekarang wajah sudah siap “dilukis”. Nggak seperti pada tahap pembersihan dan perawatan, hampir semua tahapan make up adalah optional. Buat gue pribadi, yang wajib cuma bedak tabur, maskara (bening) dan lipgloss. Tapi kalau sedang perlu dandan lengkap, semua gue awali dengan penggunaan primer. Gunanya untuk memberikan alas pada foundation sehingga mudah diratakan, dan kulit wajah pun terlihat rata.
Setelah itu, tutupi vlek2 dengan concealer, juga lingkaran hitam di bawah mata. Lalu gunakan foundation yg sewarna dengan kulit (bukan lebih putih, lihat keterangannya di sini). Setelah itu beri bedak tabur yang diratakan dengan kuas agar kulit nggak kelihatan berminyak. Kemudian, beri sedikit blush di tulang pipi.

Muka beres, sekarang tinggal urusan seputar mata dan bibir. Salah satu yang terpenting adalah membentuk alis, karena alis adalah bingkai wajah. Gue pribadi suka alis yang nggak terlalu tipis. Kemudian beri eyeliner untuk mempertegas bentuk mata, eyeshadow di kelopak mata dan highlight warna putih gading di tulang alis.
Lalu, tambahkan maskara pada bulu mata. Penting banget nih buat gue, sesuai pepatah Jawa mikul dhuwur, mendhem jero. Artinya, menonjolkan hal yang baik, misalnya bulu mata gue yang lentik
.
Terakhir, untuk bibir, oleskan lipstik dan/atau lipgloss. Gue pribadi hanya menggunakan itu, tanpa lipliner, karena gue lebih suka kesan natural. Tapi kalau mau tahapan yang sangat lengkap, bisa dilihat di situsnya Lunasol ini.
]]>WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
SHOW COLUMNS FROM wp_tla_data LIKE 'post_id'
WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
ALTER TABLE `wp_tla_data` ADD `post_id` BIGINT( 20 ) UNSIGNED NOT NULL DEFAULT '0' AFTER `id` ;
WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
ALTER TABLE `wp_tla_data` ADD INDEX ( `post_id` ) ;
WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
SELECT * FROM wp_tla_data
WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
SHOW COLUMNS FROM wp_tla_data LIKE 'post_id'
WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
ALTER TABLE `wp_tla_data` ADD `post_id` BIGINT( 20 ) UNSIGNED NOT NULL DEFAULT '0' AFTER `id` ;
WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
ALTER TABLE `wp_tla_data` ADD INDEX ( `post_id` ) ;
WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
SELECT * FROM wp_tla_data
Nggak kok Kke, ini ga bahas kamu atau blogmu
.
Apa yang istimewa dengan sepatu merah?
Yang jelas, warna merah saja sudah spesial. Mencrang, istilah bahasa Sunda untuk mencolok mata. Nggak hanya sepatu, segala sesuatu yang berwarna merah biasanya mendapat perhatian berbeda. Apalagi kalau dikenakan oleh perempuan.
Sebagian dari kita mungkin masih ingat dengan dongeng Sepatu Merah karya Hans Christian Andersen. Kisahnya tentang sepasang sepatu merah yang tak bisa berhenti menari, untuk menghukum Karen, pemiliknya yang egois dan gemar bersenang2. Sepatu merah memang hampir identik dengan ‘kenakalan’ dan sensualitas. Seperti menegaskan hal itu, sebuah serial semiporno Red Shoe Diaries pun tayang di tahun sembilanpuluhan.
Angels don’t wear red shoes, they say.
Gue justru berpikir sebaliknya. Apalagi tahun ini warna merah kembali in. Sepatu merah memang punya sentuhan adventurous, berani. Mengenakan sepasang sepatu merah yang cantik diyakini bisa mendongkrak mood, sekaligus memberikan kesan fashionable dalam sekejap. Baik itu sepatu model pumps, sandal, bahkan sepatu lari (sneakers) sekalipun.
Belum lama ini gue berniat membeli sepasang sepatu merah. It’s platform, peep-toe, patent pumps (lihat kamus sepatu di sini) dengan hak setinggi 6 cm, kira2 mirip seperti yang di gambar sebelah. Nggak terlalu mahal pula, nggak sampai 150 ribu rupiah (cheap chic rules!). Masalahnya, gue bingung what to wear with a pair of red shoes?
Hasil berkonsultasi dengan teman2 tercinta (Min, Mel, Nin, Mbak Tan, Tha, Fi, Gi, Nit, terima kasih untuk saran2 dan dorongannya untuk jadi beli
) membuat gue merasa yakin. Sepatu merah pas dipadukan dengan warna2 netral seperti putih-krem-khaki, abu2, biru tua, hitam atau jeans. Monochrome atau duotone, membuat si sepatu merah tampak lebih keren. Atau dengan pakaian bermotif yang memiliki aksen warna merah. Perhiasan keemasan, perak atau tembaga, juga manik2 kayu dan bebatuan berwarna netral akan pas dipadukan dengan merah.
Yang harus diingat, walaupun kamu (dan gue sebetulnya) penganut aliran matching-isme, jangan mengenakan terlalu banyak warna merah. Pilih salah satu atau dua saja, baju atau ikat pinggang atau tas atau scarf atau aksesoris lain, bahkan lipstik merah menyala sebagai padanannya. All over red akan membuat silau, dan salah2 kamu dituduh mencuri start kampanye partai politik
.
Beberapa ide dari teman2 gue untuk mengenakan sepatu merah misalnya:
Walaupun belum semua ide di atas berani gue terapkan, mungkin kamu berminat mencoba. Berani kan?
]]>WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
SHOW COLUMNS FROM wp_tla_data LIKE 'post_id'
WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
ALTER TABLE `wp_tla_data` ADD `post_id` BIGINT( 20 ) UNSIGNED NOT NULL DEFAULT '0' AFTER `id` ;
WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
ALTER TABLE `wp_tla_data` ADD INDEX ( `post_id` ) ;
WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
SELECT * FROM wp_tla_data
WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
SHOW COLUMNS FROM wp_tla_data LIKE 'post_id'
WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
ALTER TABLE `wp_tla_data` ADD `post_id` BIGINT( 20 ) UNSIGNED NOT NULL DEFAULT '0' AFTER `id` ;
WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
ALTER TABLE `wp_tla_data` ADD INDEX ( `post_id` ) ;
WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
SELECT * FROM wp_tla_data
Apa “dosa” terbesarmu pada dompet? Kalau gue, sepertinya sih tas tangan. Bersaing ketat dengan sepatu. Thank’s to my weight, gue nggak bisa terlalu banyak belanja belanji baju. Mau beli yang modelnya gue suka, nggak pantas atau nggak ada ukurannya. Mau beli yang ukurannya pas, modelnya ibu2 banget.
Kembali ke tas tangan. Semua orang juga tahu bahwa tas tangan wanita itu sangat beragam model dan warnanya. Jadi nggak heran kan, kalau gue dan banyak perempuan lain merasa selalu memerlukan tas tangan baru. Ada tas untuk ke kantor, untuk jalan2 sama anak (yang tentunya harus memuat setidaknya satu diaper cadangan dan satu botol susu atau satu kotak susu UHT), dan tas yang berkesan mewah untuk ke pesta. Belum lagi warnanya. Walaupun gue bukan penggemar tas yang berwarna terlalu spesifik alias nggak netral, setidaknya harus ada tas warna hitam, coklat, dan putih.
Istilah2 yang sering digunakan seputar tas tangan bisa jadi membingungkan. Yuk kita lihat kamus singkat bergambar di bawah ini. Mungkin nggak terlalu lengkap, tapi rasanya bisa membantu.
![]() |
![]() |
| Backpack Ransel, disandang di punggung dengan dua buah tali penyandang. Awalnya merupakan tas barang. |
Barrel Bentuknya memanjang dengan penampang bundar, menyerupai silinder. |
![]() |
![]() |
| Belt bag Tas pinggang. Seringkali bisa juga dipakai tanpa ikat pinggangnya sehingga menjadi clutch. |
Bucket Tas besar berbentuk menyerupai ember, biasanya dengan risleting atas dan tali bahu. |
![]() |
![]() |
| Clutch Semua jenis tas yang tak punya tali/pegangan, sehingga harus dipegang tangan. bentuknya bisa bermacam2, biasanya hobo atau frame. |
Drawstring Tas dengan ‘kancing’ berupa tali yang ditarik. |
![]() |
![]() |
| Duffel Tas dari bahan kanvas atau sintetis, berukuran besar dan biasa untuk membawa perlengkapan olahraga atau barang lainnya. |
Envelope Tas datar berbentuk segi empat dengan tutup menyerupai amplop. Bisa berupa clutch, dengan pegangan pendek ataupun tali bahu. |
![]() |
![]() |
| Frame Dikenal juga dengan pouch, memiliki struktur yang masif, biasanya berbingkai logam di bagian atasnya. |
Hobo Tas yang lembut, berbentuk seperti bulan sabit. Bisa berpegangan pendek ataupun bertali bahu. |
![]() |
![]() |
| Messenger bag Disebut juga postman bag, tas dengan tali bahu panjang diselempangkan menyilang di badan. |
Minaudiere Tas pesta berbahan keras, biasanya bertabur kristal atau batu2an. |
![]() |
![]() |
| Quilt bag Tas dari bahan kulit yang dijahit-tindas (quilted) |
Satchel Tas dengan dasar yang lebar dan datar, dengan ritsleting atau kancing lain di bagian atas. Pegangannya biasanya sepasang. |
![]() |
![]() |
| Tote Dikenal juga dengan shopper. tas besar segi empat. |
Wristlet Tas dengan pegangan yang biasa dipakai pada pergelangan tangan. |
| semua foto2 diambil dari Zappos | |
Model favorit gue untuk ke kantor adalah satchel yang universal dan nggak lekang jaman itu. Untuk jalan2, boleh juga tote dan hobo, walaupun kalau harus bawa banyak barang gue pakai tote juga.
Sekarang ini model frame juga kembali naik daun. Agak mengingatkan pada tas Eyang waktu gue kecil dulu, tas model begini biasanya untuk dipakai ke acara formal/pesta. Sementara beberapa bulan terakhir agaknya quilted bag sedang banyak digemari.
]]>WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
SHOW COLUMNS FROM wp_tla_data LIKE 'post_id'
WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
ALTER TABLE `wp_tla_data` ADD `post_id` BIGINT( 20 ) UNSIGNED NOT NULL DEFAULT '0' AFTER `id` ;
WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
ALTER TABLE `wp_tla_data` ADD INDEX ( `post_id` ) ;
WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
SELECT * FROM wp_tla_data
WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
SHOW COLUMNS FROM wp_tla_data LIKE 'post_id'
WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
ALTER TABLE `wp_tla_data` ADD `post_id` BIGINT( 20 ) UNSIGNED NOT NULL DEFAULT '0' AFTER `id` ;
WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
ALTER TABLE `wp_tla_data` ADD INDEX ( `post_id` ) ;
WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
SELECT * FROM wp_tla_data
Siapa yang tak kenal jenis pakaian legendaris ini? Hampir semua orang menyukai jenis pakaian yang dulunya identik dengan pekerja kasar ini. Jeans memang praktis: cocok dipadankan dengan aneka atasan, nyaman dipakai dan “tahan banting”. Plus, ia tak pernah ketinggalan jaman, apalagi model2 yang klasik.
(Awalnya) Tidak Benar2 Amerika
Walaupun identik dengan budaya Amerika, ternyata jeans pertama kali dibuat di Genoa, Italia sekitar tahun 1560-an untuk para pasukan Angkatan Laut. Dalam bahasa Perancis celana panjang ini disebut bleu de Génes, dibaca “blu jin”, yang berarti biru Genoa, karena warnanya yang khas. Bahan yang digunakan adalah bahan denim yang berasal dari Nimes (Perancis: de Nimes - dari Nimes). Celana serupa diketahui telah dipakai para pekerja di Inggris pada tahun 1840-an.
Dan tahukah kamu, bahwa Levi Strauss yang dianggap sebagai penemu jeans adalah seorang imigran keturunan Yahudi yang kelahiran Jerman? Levi terlahir sebagai Loeb Strauss di Buttenheim, Bayern (Bavaria) dan migrasi ke New York pada tahun 1847 pada usia 18 tahun. Karena demam emas yang melanda saat itu, ia pindah ke San Francisco enam tahun kemudian. Tidak untuk mengadu nasib sebagai pencari emas, melainkan untuk berdagang sebagai perwakilan perusahaan kakaknya yang berpusat di New York.
Tahun 1872 Jacob Davis, seorang penjahit asal Reno, Nevada bercerita pada Levi bahwa ia memasangkan kancing logam pada ujung2 saku celana yang dibuatnya. Ini membuat celana tersebut menjadi lebih kuat sehingga disukai para pekerja kasar. Pelanggan toko Levi ini mengajaknya bekerja sama untuk mematenkan desain tersebut. Pate didapat setahun kemudian, dan celana jeans pertama pun mulai diproduksi sebagai industri rumahan. Baru pada tahun 1880 Levi mendirikan pabrik celana jeans pertama.
Desain yang sekarang dikenal sebagai Levi’s 501 itu memiliki lima buah saku. Dua saku besar di belakang, dua saku besar di depan, dan satu lagi saku kecil di dalam saku depan sebelah kanan. Aslinya, saku kecil ini didesain untuk menyimpan jam saku dan uang logam, oleh karena itu sering disebut dengan istilah coin (Inggris: uang logam). Para pencari emas menggunakannya untuk menyimpan butiran2 emas ukuran kecil.
Celana jeans kemudian menjadi tren dalam fesyen, terutama sejak dipopulerkan oleh para aktor Hollywood di tahun limapuluhan. Sebut saja Elvis Presley, James Dean, dan Marlon Brando. Merk2 lain seperti Lee Cooper dan Wrangler pun bermunculan. Flower Generation di tahun tujuhpuluhan juga gemar mengenakan jeans flare alias lebar di bawah dengan berbagai aplikasi, bordir, juga eyelets.
Berbagai Model Jeans
Saat ini kita mengenal berbagai model dan tipe celana yang sempat dilarang di Jerman Timur pada tahun 50-an ini. Kita sering mendengar istilah low rise, skinny, loose fit, boot cut dan sebagainya. Membingungkan? Tidak juga, kok!
Dilihat dari potongannya, secara garis besar ada tiga hal yang harus diperhatikan: rise alias “tinggi pinggang”, fit alias seberapa ketat jeans melekat pada paha, dan ankle alias lebar tungkai.
Celana yang sampai tahun limapuluhan masih dikenal sebagai waist overall ini bisa jatuh tepat pada pinggang, di atas, atau di bawahnya.
| High rise: | bagian pinggang celana jatuh di atas pusar, saat ini sedang tidak tren. |
| Standard rise: | bagian pinggang celana sedikit jatuh di bawah pusar. |
| Low rise: | bagian pinggang celana jatuh sekitar 3 cm di bawah pusar, kira2 pada tulang panggul. |
| Ultra-low rise: | bagian pinggang celana jatuh sekitar 5 cm di bawah pusar, di bawah tulang panggul |
Sementara dilihat dari tingkat keketatannya, kita mengenal slim fit yang relatif ketat, lalu berturut2 regular fit, relaxed fit, dan yang paling longgar loose fit alias baggy.
Model jeans juga dibedakan menurut lebar celana di bagian tungkai, khususnya pada celana wanita.
![]() Skinny, melekat ketat pada tungkai. |
![]() Straight, pada paha, lutut, tungkai sampai tumit sama lebarnya. |
![]() Boot Cut, agak ketat pada paha, agak elebar mulai dari lutut hingga tumit. |
![]() Flare, mirip boot cut, tetapi lebih lebar menyerupai bel. |
Untuk semua bentuk tubuh
Tubuh ideal? Ah, itu mungkin hanya milik para supermodel. Tapi toh dengan kekurangan2 yang dimiliki, kita tetap bisa mengenakan celana jeans. Asal tahu model yang tepat sehingga kekurangan2 itu tidak terlalu menonjol.
Kaki panjang:
Pilih jeans low rise atau ultra-low rise yang tidak terlalu ketat dengan aplikasi atau jahitan melintang. Pilihan untuk si kaki panjang sangat terbuka, mulai dari skinny sampai flare.
Kaki pendek:
Pilih jeans low rise yang pas pada tubuh (slim fit) dengan ujung bawah yang agak lebar (boot cut, jangan flare) tanpa banyak detil dan aplikasi. Kalau perlu, pilih detil atau jahitan vertikal.
Warna gelap membuat kaki terlihat panjang. Panjang celana harus menutupi sebagian alas kaki.
Bokong/pinggul besar:
Pilih jeans low rise dengan ujung bawah yang agak lebar (boot cut) untuk menyeimbangkan bentuk tubuh. Ujung bawah yang menyempit membuat kesan “emak2″
.
Saku berkancing dengan letak agak rendah malah membuat bokong besar tak lagi terlihat. Saku dengan jarak yang cukup dekat satu sama lain pun bisa membantu.
Bokong kurang berisi (tepos):
Kenakan jeans yang tidak terlalu longgar. Pilih saku belakang yang letaknya agak tinggi, untuk lebih membentuk bokong.
Perut besar:
Pilih jeans standard rise yang tidak terlalu ketat (regular atau relaxed fit) dengan detil vertikal dan ujung melebar (boot cut atau flare). Low rise membuat bagian atas perut semakin terlihat membuncit (efek muffin). Saku depan diagonal dan warna gelap juga menguntungkan.
Masih bingung? Mudah saja. Celana jeans berwarna biru agak gelap, low rise, regular fit dengan sedikit efek boot cut akan selalu aman dipakai. Untuk semua bentuk tubuh dan dipadankan dengan atasan apapun.
Referensi:
Sketsa: http://www.kohlscorporation.com/ecom/valueadded/denim.htm
Foto2: http://levisstore.com
Tulisan: http://www.pimkie.de/mode/jeansguide
WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
SHOW COLUMNS FROM wp_tla_data LIKE 'post_id'
WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
ALTER TABLE `wp_tla_data` ADD `post_id` BIGINT( 20 ) UNSIGNED NOT NULL DEFAULT '0' AFTER `id` ;
WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
ALTER TABLE `wp_tla_data` ADD INDEX ( `post_id` ) ;
WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
SELECT * FROM wp_tla_data
WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
SHOW COLUMNS FROM wp_tla_data LIKE 'post_id'
WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
ALTER TABLE `wp_tla_data` ADD `post_id` BIGINT( 20 ) UNSIGNED NOT NULL DEFAULT '0' AFTER `id` ;
WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
ALTER TABLE `wp_tla_data` ADD INDEX ( `post_id` ) ;
WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
SELECT * FROM wp_tla_data
Sama seperti Jeng Eka, gue bukan pengikut setia fesyen, tapi senang mengamati tren. Mungkin ini karena gue tinggal di Bandung ya, di mana banyak pabrik konveksi dan toko baju. Semua memang ada di sini, mulai dari distro kaum indie sampai butik baju muslim untuk emak2 berkartu kredit platinum. Memang, di Jakarta juga semua ada. Tapi di Bandung, semua masih dalam jarak terjangkau dengan maksimum 2 kali ganti angkot.
Jangan salah, gue sudah 2 tahun nggak pernah ke FO. Waktu gue cuma wiken, dan wiken ke FO sangat nggak nyaman.
Apalagi Bandung terkenal dengan cewe2nya yang fashionable, dan dianugerahi fisik yang menunjang untuk itu. Istilah jaman dulu, mengutip lagu “Mojang Priangan” - yang baru2 ini gue diingatkan Jeng Nita - : dierok dhenok, disinjang lenjang, dikabaya nambihan cahayana
.
Berbicara tentang cewe Bandung, artikel di Kompas ini mungkin cukup mengejutkan. Ketika mereka dianggap sebagai ikon kecantikan perempuan Indonesia, pada saat yang sama perempuan Bandunglah yang paling tidak percaya diri dengan kecantikannya. Sedikit off topic, menurut artikel yang sama, perempuan Eropa dan Amerika yang sering kita yakini percaya diri dan bebas dari standar basi seperti ‘kulit putih dan rambut panjang’ malah lebih tidak PD dengan kecantikannya, dibanding perempuan Asia.
Ups, mereka juga punya standar basi kok, ‘mata biru, rambut pirang, dan kulit mulus kecoklatan’
.
Kembali ke topik semula. Gue bukan pengikut mode karena nggak punya modal. Yang pertama modal uang
, karena gue masih punya kewajiban memfasilitasi input (susu) & output (diapers) Naila. Untungnya gue masih bisa menyisihkan sejumlah dana kecantikan, misalnya baru2 ini untuk sepotong baby doll kembang2 tanpa lengan (yang tentunya gue lapisi dalamnya, karena untuk itulah manusia menciptakan kaos putih) dari Kepatihan seharga nggak sampai 30 ribu rupiah.
Yang kedua tentunya modal bodi
. Nggak semua model dan gaya yang sedang tren cocok diterapkan di tubuh gue yang secara hiperbola bisa digambarkan sebagai “kalau ditendang bisa gelinding dari Sukaluyu sampai Tegallega”. Juga yang terlalu terbuka, atau yang terlalu - istilah orang Jawa- ausgeflippt alias berlebihan, pasti lewat dari wishlist gue
.
“Cewe lo sekretaris di mana?”
Gue cukup senang memperhatikan penampilan. Setidaknya untuk membuat tampang gue kalau ke luar rumah agak berbeda dengan ketika baru bangun tidur. Nggak menor2 amat sih, tapi gue cukup akrab dengan foundation, lipstick dan mascara, bukan cuma dengan bedak bayi
. Merknya juga bukan yang supermahal, cukup Revlon atau Oriflame sahaja: murah meriah.
Tapi rupanya kegemaran gue ini bertentangan dengan stigma bahwa female engineer itu pasti lusuh kelunturan H2SO4, atau bermuka beton, atau bertampang seperti habis kesetrum. Serba salah memang jadi perempuan di profesi ini. Pernah ada orang yang bertanya ke Abang setelah siangnya bertemu dengan kita berdua, “Cewe lo sekretaris di mana?”.
Emang yang boleh dandan cuma sekretaris ya? DZIGH!!!!!
Dewa Penyelamat
Di tengah berbagai dilema seputar kedua modal di atas tadi, penjahit adalah dewa penyelamat buat gue. Terutama untuk baju2 kantor yang tentunya mendominasi isi lemari gue, karena setidaknya gue butuh 5 stel (masa satu stel dipakai dua kali dalam seminggu sih?
), gue memilih membeli bahan di King’s Kepatihan atau Pasar Baru untuk kemudian dijahitkan.
Sayangnya, para dewa penyelamat itu rupanya juga nggak ada yang sempurna.
Misalnya Mbak Ria, yang tinggal di Perumnas dekat rumah. Selaku spesialis kebaya, jahitannya OK banget dan tarifnya nggak mahal. Tapi karena orangnya perfeksionis dan ingin menekan harga, beliau ini lamaaaaaaa banget jahitnya. Kadang sepotong kebaya bisa sebulan.
Masih seputar kebaya, ada Tante Listya dari Kebonwaru yang cukup terkenal di Bandung. Jahitannya top banget, cepat, bisa pasang payet dan mote sekalian
, tapi tarifnya ratusan ribu. Selain kebaya untuk nikah dulu, gue nyaris nggak pernah jahit di tempat beliau ini.
Untuk baju kerja, ada Piagam di Cikutra. Lumayan rapi, walaupun sering mulur janji tapi masih cukup cepat, tapi sekarang tarifnya bisa 15o ribu untuk satu stel blazer-celana panjang. Sempat nyoba di Sekeloa, langganannya Mama, tapi menurut gue sih, style jahitannya emak2 banget.
You say: “Yeah Yanti.. Who do you think you are?”
I say: “Gue Ibu2 Muda, IIM, bukan Emak2″![]()
Lalu ada Teh Lulu, langganan Ibu2 di kantor. Dia datang jam istirahat, kita ketemu di mushala cewe, lalu 2 minggu kemudian beliau akan kembali di tempat dan waktu yang sama dengan hasil jahitan yang OK dan relatif murah. Sayangnya beliau ini sekarang lagi ‘cuti melahirkan’, dan untuk datang langsung ke rumahnya di Leuwipanjang (yang jahit suaminya sih, Teh Lulu cuma “Account Executive”nya), kita terserang penyakit H, hoream.
I think I need another ’saviour’ deh
.
Jangan sarankan gue untuk jahit baju sendiri ya, gue tipe orang yang butuh banyak tidur ![]()
Wishlist
Lagi pengen setelan kerja (bawahannya rok) bahan tweed. Punya sih bahannya, warna hijau tua, beli di outletnya Hugo Boss di Metzingen dulu. Tapi kebayang panasnya berbaju seperti itu di Indonesia.
Lalu, pengen setelan celana-blazer warna abu2.



Kemarin beli bahan tipis motif paisley, kira2 seperti yang di gambar kiri tapi warnanya keunguan. Rencananya mau dibuat rok selutut. Atasannya dari bahan yang lama nggak dijahitkan, polos, warna ungu terong, juga agak tipis. Maunya sih pakai ruffles seperti di gambar tengah. Pakai kalung berbandul batu, atau yang mendekati gaya bohemian, bagus mungkin ya?
]]>WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
SHOW COLUMNS FROM wp_tla_data LIKE 'post_id'
WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
ALTER TABLE `wp_tla_data` ADD `post_id` BIGINT( 20 ) UNSIGNED NOT NULL DEFAULT '0' AFTER `id` ;
WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
ALTER TABLE `wp_tla_data` ADD INDEX ( `post_id` ) ;
WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
SELECT * FROM wp_tla_data
WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
SHOW COLUMNS FROM wp_tla_data LIKE 'post_id'
WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
ALTER TABLE `wp_tla_data` ADD `post_id` BIGINT( 20 ) UNSIGNED NOT NULL DEFAULT '0' AFTER `id` ;
WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
ALTER TABLE `wp_tla_data` ADD INDEX ( `post_id` ) ;
WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
SELECT * FROM wp_tla_data
Ribet dan sulit adalah dua kata yang mungkin langsung terbayang saat kita diharuskan mengenakan busana nasional. Akhirnya kita lalu lebih memilih mengenakan gaun modern pada acara-acara resmi. Benarkah berbusana nasional itu ribet? Bisa jadi, tapi kalau kita tahu trik-triknya, mungkin kesan ribet itu bisa dikurangi seminimal mungkin.
Tidak Harus Kebaya
Busana nasional kita sebetulnya tidak hanya kebaya yang secara tradisional biasa dikenakan perempuan dari Pulau Jawa dan Bali. Kita punya banyak pilihan lain, seperti baju kurung dari Sumatera atau baju bodo dari Makassar. Tetapi mengingat kepraktisan mendapatkannya, agaknya kebaya dan baju kurung merupakan alternatif yang paling banyak dan mudah dipilih.

Kebaya pun ada berbagai macam model. Ada kebaya Sunda yang berkerah V atau berkerah siku, ada kebaya Jawa yang berkutubaru (kain yang melintang di tengah-tengah dada), kebaya Kartini yang berkerah lipat, dan sebagainya. Sebetulnya, model kebaya yang kita kenakan tidak terlalu menjadi masalah. Yang penting enak dipakai, dan kita PD mengenakannya.
Sekarang ini model Kartini dan kebaya Sunda lebih populer dibanding kebaya Jawa berkutubaru. Selain itu kita mengenal kebaya encim yang sebetulnya mirip kebaya Sunda juga, terbuat dari bahan katun atau sejenisnya, dan berbordir. Warnanya biasanya putih. Selain model tradisional, model kebaya modern seperti berleher sabrina atau berkerah cina bisa menjadi pilihan.
Baju kurung adalah alternatif yang sangat praktis. Atasannya panjang (setengah paha atau lebih), berkancing belakang, berkerah bulat (kadang dibelah di tengah), lengannya tigaperempat atau panjang, dan bisa diberi bordir atau payet. Modelnya tidak seketat kebaya, sehingga tetap bisa dipakai walaupun kita sedang “khilaf” kelebihan ngemil.
Agar kita percaya diri, pilih model yang sesuai dengan usia, warna kulit dan postur tubuh. Misalnya, kalau kita berpostur agak gempal, jangan mengenakan atasan yang terlalu ketat. Bordir yang penuh dan mewah tentunya lebih cocok dikenakan perempuan matang berusia di atas 35 tahun. Dan jika Anda mengenakan busana Muslimah, jangan memilih atasan yang ketat, menerawang dan terlalu pendek. Lebih baik panjangkan sedikit kebaya Anda agar menutupi pinggul.
Yang lebih menentukan dalam memilih baju nasional untuk suatu acara tertentu adalah kualitas bahan dan warnanya. Kalau acara sangat resmi di malam hari, di mana dresscode-nya adalah gaun malam warna hitam, sebaiknya kita juga mengenakan baju nasional berwarna gelap (setidaknya atasannya). Sebaliknya kalau acara siang hari, lebih baik kenakan warna yg lembut/muda. Kalau acaranya informal atau setengah resmi, jangan kenakan ornamen yang terlalu banyak berkilau-kilau (glitter atau payet).
Bahan yang banyak dipakai adalah bahan katun atau sutra (bisa juga sutra Thailand) yang dibordir, atau bahan lace (orang Indonesia menyebutnya “brokat”). Bahan yang paling mahal dan halus adalah lace Perancis, tapi jika harganya semeter bisa membuat Anda khawatir tak makan sebulan, lace Jepang bisa menjadi pilihan yang tak kalah bagus. Pada acara-acara formal, kenakan baju dari bahan yang agak mengilat dan berkesan mewah, misalnya lace, sutra atau organdi. Untuk acara informal, kenakan bahan katun. Bahan katun juga sangat dianjurkan untuk acara di siang hari atau dalam ruangan tidak berAC karena nyaman dikenakan.
Jangan lupa melapisi kebaya dengan lapisan dalaman yang warnanya sesuai. Modelnya bisa berupa voering yang dijahit pada kebaya, atau kamisol (kemben) yang lepasan. Kamisol sebetulnya lebih bagus jatuhnya, tetapi tidak semua penjahit mampu membuat kamisol yang pas. Jika Anda berbusana Muslimah, sebaiknya gunakan voering di seluruh bagian kebaya, termasuk lengan. Pilih bahan pelapis yang tipis dan nyaman agar tidak panas. Untuk pakaian dalamnya, sebaiknya pakai longtorso (korset) yang sekaligus bisa menahan kain panjang setelah diikat.
Kain dan Selendang

Pasangan yang tepat untuk baju nasional tentunya kain panjang, baik yang masih tradisional atau yang telah dimodifikasi sehingga berkesan modern. Pada acara-acara formal, sebaiknya busana nasional Anda dipercantik dengan selendang. Sebaliknya, pada acara informal atau kekeluargaan, selendang tidak mutlak diperlukan. Apalagi jika Anda dituntut untuk banyak bergerak, selendang akan mengganggu kelincahan Anda. Itu sebabnya pakaian pengantin Jawa dan orang tuanya (yang notabene banyak bersalaman dengan para tamu) tidak dilengkapi selendang.
Bahan kain panjang untuk pasangan busana nasional bisa bermacam-macam. Traditionally, batik dari Pulau Jawa berbahan mori, sejenis katun yang agak tebal. Bahan ini sangat nyaman dan adem. Kain batik tradisional Jawa tidak memiliki selendang yang matching. Jadi kalau mau memakai selendang, gunakan selendang dari bahan yang jatuh dan agak transparan seperti organdi atau chiffon. Warnanya bisa yang senada dengan kebaya, atau malah warna kontrasnya. Selendang bisa diberi bordir atau ornamen lain seperti rumbai-rumbai dan payet, tapi usahakan warnanya tetap senada dengan warna selendang agar tidak “bertabrakan” dengan komponen warna lain.
Sekarang ini terutama batik pesisir (Pekalongan, Cirebonan, Lasem, dll) banyak dibuat di atas kain sutra, satu stel dengan selendangnya. Batik pesisir memiliki motif yang khas, biasanya corak flora atau fauna (daun-daunan, bunga atau burung merak) dengan warna warni yang beragam, mulai dari kemerahan sampai kehijauan dan biru. Batik pesisir biasanya tidak digunakan dengan diwiru (lipit-lipit kecil di ujung kain) seperti batik SOlo/Jogja, tetapi seperti kain sarung yang dililit saja.
Alternatif dari kain batik adalah kain sarung ala Sumatera (songket) atau Makassar (atau daerah-daerah lain di Nusantara ini). Songket agak kaku bahannya, penuh dengan benang emas, dan biasanya juga satu stel dengan selendangnya, biasa dikenakan berpasangan dengan baju kurung.
Batik tradisional yang berwiru ala Solo/Jogja biasanya dililitkan cukup ketat dan meruncing di bawah. Sementara sarung yang tidak berwiru serta songket dapat dikenakan agak longgar. Agar lebih praktis, Anda dapat meminta penjahit untuk menjahit kain tersebut tanpa memotongnya.
Kalau kainnya sudah bermotif ramai, jangan memadankan dengan atasan yang ramai dengan motif dan warna. Lebih baik pilih atasan polos hiasannya cukup bordir dengan benang sewarna kain (atau senada) dan payet. Sebaliknya kalau kainnya bermotif dan berwarna “kalem” (misalnya warna sogan khas Solo), jangan takut bermain dengan berbagai corak dan motif kebaya.
Bagi Anda yang masih berusia muda, dan acara yang dihadiri tidak terlalu formal, kebaya atau baju kurung dapat dipadankan dengan celana panjang atau rok panjang polos. Bahkan pada acara informal, kebaya encim atau baju kurung dapat dikenakan bersama celana jeans.
Bagi Anda yang berkerudung, pilih kerudung berwarna polos yang senada dengan kebaya atau baju kurung dari bahan yang lembut dan jatuh. Selendang bisa juga dikenakan dikepala untuk mempercantik kerudung Anda.
Pelengkap yang Mempercantik
Jika berbusana nasional, alas kaki yang paling tepat tentunya sepasang selop yang cantik. Pada acara formal di malam hari, kenakan selop yang berkesan mewah dengan aksen kilau atau bebatuan. Warna selop sebaiknya sesuai dengan warna kain panjang atau bawahan yang Anda kenakan agar tidak berkesan bertabrakan, atau pilih warna-warna netral seperti hitam atau putih. Sebagai alternatif, selop sewarna dengan warna bahan perhiasan dapat juga menjadi pilihan, misalnya selop perak jika Anda menggunakan perhiasan perak. Selop tertutup lebih memberikan kesan resmi dibandingkan dengan selop terbuka.
Jangan lupa membawa tas tangan kecil yang cocok dengan selop Anda.
Bagaimana dengan tinggi hak selop? Kalau Anda mengenakan kain panjang berwiru, biasanya kain dikenakan sebatas mata kaki, sehingga selop yang sesuai adalah yang bertinggi sedang (sekitar 5 cm) agar tetap proporsional. Sebaliknya jika mengenakan kain sarung atau songket, Anda dapat dengan leluasa memilih selop bertumit lebih tinggi. Selop bertumit rendah atau datar sebaiknya hanya dikenakan pada acara informal atau jika Anda sedang hamil atau mengalami alasan kesehatan lainnya. Namun tentu saja, keputusan terakhir tetap di tangan Anda. Lebih baik memilih selop yang nyaman daripada sepasang selop yang membuat Anda tidak mampu berjalan ke mana-mana sepanjang acara.
Terakhir, pakailah perhiasan yang agak “lebih” daripada yang biasa dikenakan sehari-hari, tanpa harus berlebihan. Pilih satu warna perhiasan yang sesuai dengan warna pakaian: keemasan atau keperakan. Jika memilih perhiasan dengan bebatuan, sesuaikan juga warnanya. Kalau Anda sudah mengenakan bros besar, Anda tidak perlu lagi mengenakan kalung. Untuk wajah, berdandanlah sedikit lebih dari biasanya, dengan tetap menjadi diri sendiri. Kalau rambut Anda panjang buatlah sanggul cepol atau diblow rapi, tetapi sanggul tradisional tetap merupakan pilihan ideal jika Anda mengenakan kain batik tradisional yang berwiru. Sementara jika rambut Anda sangat pendek, tatalah dengan gel agar terlihat rapi dan berbeda.
Selamat berbusana nasional!
]]>