<?xml version="1.0" encoding="utf-8"?>
<!-- generator="wordpress/2.0.5" -->
<rss version="2.0" 
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>celoteh</title>
	<link>http://www.jalankenangan.net/celoteh</link>
	<description>karena celoteh kemarin adalah untuk hari ini dan esok</description>
	<pubDate>Thu, 28 Jan 2010 14:46:48 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.0.5</generator>
	<language>en</language>
			<item>
		<title>uighur experience</title>
		<link>http://www.jalankenangan.net/celoteh/?p=288</link>
		<comments>http://www.jalankenangan.net/celoteh/?p=288#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 13 Sep 2009 15:40:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yanti</dc:creator>
		
		<category>keseharian</category>

		<category>life without highheels</category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.jalankenangan.net/celoteh/?p=288</guid>
		<description><![CDATA[Malam minggu kemarin, dalam rangka pembubaran (?) panitia Indopendence Day 2009, saya mendapatkan pengalaman kuliner yang unik dan menarik. Acara makan malam yang sedianya akan diadakan di Watermark, sebuah resto buffet yang rada &#8216;wah&#8217; di Glenelg, dipindahkan ke sebuah resto tak dikenal di 580 Port Road. Muti yang berbaik hati nebengin saya dan Sigit kemarin, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span class="first">M</span>alam minggu kemarin, dalam rangka pembubaran (?) panitia <strong>Indopendence Day 2009</strong>, saya mendapatkan pengalaman kuliner yang unik dan menarik. Acara makan malam yang sedianya akan diadakan di Watermark, sebuah resto buffet yang rada &#8216;wah&#8217; di Glenelg, dipindahkan ke sebuah resto tak dikenal di 580 Port Road. <strong>Muti</strong> yang berbaik hati nebengin saya dan <strong>Sigit</strong> kemarin, sampai harus berputar dua kali untuk menemukan resto mungil ini. Memang nggak seorangpun dari 18 orang peserta pernah makan di sini sebelumnya selain <strong>Angga</strong>, pak ketua.</p>
<p>Resto ini bernama <strong>Uighur</strong>, nama yang mana sumpah mati nggak berarti apa2 buat saya. Saya dan Sigit sempat sepakat bahwa nama ini berbau Mongolia. Jangan tanya kenapa, cuma <em>feeling</em> kok. Dan ketika memasuki restoran ini, saya seperti dikelilingi beberapa tanda tanya kecil2 di atas kepala. <u>Satu</u>, resto ini memajang logo halal besar, yang artinya dimiliki oleh muslim. <u>Dua</u>, pemiliknya berwajah oriental. <u>Tiga</u>, hiasan2 di resto ini berbau Timur Tengah. <u>Empat</u>, nama2 masakan di daftar menu tuh aneh2 banget, tapi ditulis dalam abjad Latin dan China. Euh, halo?</p>
<p><a id="more-288"></a><br />
<span class="shadow" style="float:left"><img src="http://crl.nmsu.edu/say/uighur/uighur_map.jpg" alt="Uyghur" /></span>Pulang dari sana, saya tanya Tante Wiki. Suku Uighur - atau tepatnya Uyghur - ternyata adalah bagian dari rumpun Turki yang tinggal di sisi paling barat China, dekat dengan Kazakhstan dan Mongolia. Seperti leluhurnya yang berasal dari Turki, mereka juga beragama Islam (Sunni). Merupakan bagian dari rute perdagangan yang tersohor sejak ribuan tahun yang lalu, <strong>Silk Road</strong> alias Jalan Sutra, sekarang kawasan itu menjadi bagian dari propinsi <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Xinjiang_Uyghur_Autonomous_Region">Xinjiang</a>. Walaupun secara resmi mereka menggunakan bahasa Mandarin, mereka tetap melestarikan bahasa asli Uyghur. Jadi empat pertanyaan saya di atas tadi terjawab sudah.</p>
<p>Makanannya sendiri sangat terpengaruh masakan Timur Tengah. Saya sempat kaget ketika hidangan pertama datang. Kebab alias semacam sate, dengan tusuk sate sebesar pedang (hiperbola.com). Bahan makanan yang paling banyak terdapat dalam menu adalah daging kambing dan ayam. Bumbu2nya pun rempah2 Timur Tengah, nggak pedas, tapi cukup &#8216;menyengat&#8217; lah. Beberapa hidangan disajikan dengan roti ala Turki. Walaupun begitu, pengaruh Cina juga terasa seperti pada <em>lamb stir-fry with spring onion</em>, atau <em>prawn stir-fry</em> yang aslinya tak mungkin dikenal di Uyghur yang terletak di tengah2 benua dan jauh dari pantai.</p>
<p><img class="blogimg" src="http://jalankenangan.net/images/12092009037a.jpg" alt="Arya &#038; Pedang Ayam :D" style="float:none" /></p>
<p>Semua porsi makanan berukuran jumbo. Jadi sebaiknya kita pesan makanan untuk di-<em>share</em> beramai2. Tapi yang paling menakjubkan sih harganya. Untuk porsi sebesar itu, harga makanan hanya dipatok $10 sampai $25. Menarik kan? Tapi kemarin sumpah deh, saya makan kambing2 enak itu sambil deg2an. Takut kolesterol naik tanpa permisi. Umur emang nggak bisa bohong, hehehe&#8230; </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.jalankenangan.net/celoteh/?feed=rss2&amp;p=288</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>ngebut menuju beasiswa (6) - essay dan hasilnya</title>
		<link>http://www.jalankenangan.net/celoteh/?p=283</link>
		<comments>http://www.jalankenangan.net/celoteh/?p=283#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 17 Jul 2009 18:24:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yanti</dc:creator>
		
		<category>keseharian</category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.jalankenangan.net/celoteh/?p=283</guid>
		<description><![CDATA[Waktu apply beasiswa bulan Februari lalu juga saya harus menjawab beberapa pertanyaan, masing2 sekitar 100-200 kata. Ya ujung2nya memang seperti essay. Tapi essay untuk aplikasi studi ke universitas biasanya berupa personal statement atau motivation letter yang utuh, harus terstruktur dan tentunya dalam bahasa Inggris. Haduuuh, susaaaah! Terus terang essay adalah salah satu momok terbesar saya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span class="first">W</span>aktu <em>apply</em> beasiswa bulan Februari lalu juga saya harus menjawab beberapa pertanyaan, masing2 sekitar 100-200 kata. Ya ujung2nya memang seperti essay. Tapi essay untuk aplikasi studi ke universitas biasanya berupa <em>personal statement</em> atau <em>motivation letter</em> yang utuh, harus terstruktur dan tentunya dalam bahasa Inggris. Haduuuh, susaaaah! Terus terang essay adalah salah satu momok terbesar saya dalam rangkaian proses ini. <em>I&#8217;m not a good writer, and definitely not in English!</em></p>
<p>Tapi tenang, semua pasti ada solusinya. Pertama2, cermati dulu syarat essay yang diminta di situs aplikasi universitas. <strong>Berapa kata panjangnya, dan apa saya yang harus dimuat di dalamnya</strong>. Ada yang bilang, buat saja dalam bahasa Indonesia dulu, lalu diterjemahkan. Yang jelas, saya harus bolak balik merevisi, menambahkan, mengurangi, meminta orang lain mengecek, sampai rasanya sudah &#8220;sempurna&#8221;. </p>
<p><a id="more-283"></a><br />
Ada <a href="http://www.articlesnatch.com/Article/Three-steps-to-write-a-winning-personal-statement-for-college-admission/439611">tips</a> yang cukup bagus tentang menulis <em>Personal Statement</em>. Juga ada beberapa <a href="http://www.scholarshipnet.info/scholarship-tips/sample-statement-of-purpose/">contoh</a>. Yang harus selalu diingat adalah kita menulis dengan jujur, nggak perlu berbunga2 dengan kalimat2 basi, atau justru <em>ngebodor</em>. Tapi tetap harus impresif loh ya!<br />
<strong><br />
Sebagai gambaran</strong>, saya menulis tentang ketertarikan saya pada dunia IT sejak dulu, juga alasannya. Lalu tentang latar belakang kuliah saya (yang judulnya <em>telco</em> tapi matkul pilihan yang saya ambil berbau IT semua <img src='http://www.jalankenangan.net/celoteh/wp-images/smilies/tongue.gif' alt=':P' class='wp-smiley' />  ), tentang pengalaman kerja saya di dunia IT, tentang cita2 saya ke depan. Juga tentang manfaat studi yang akan saya ambil ini untuk kemajuan pribadi, perusahaan, dan untuk Indonesia tertjintah. Lalu dihubungkan dengan program studi yang ditawarkan oleh universitas ybs. Periksa kurikulumnya di situs web mereka, dan pinter2nya kita saja bikin kalimat yang meyakinkan, hehe.</p>
<p>Oh ya, nggak ada salahnya juga pada essay ini saya mencantumkan kelebihan dan kekurangan saya. Juga beberapa kalimat lagi yang intinya menegaskan kenapa saya merasa mampu mengambil program studi tersebut</p>
<p><span class="first">K</span>arena paspor saya sudah <em>wafat</em> bulan November 2008 lalu, saya harus buat paspor baru. Kebetulan saya (hihi ngaku deh) pakai biro jasa, jadi cuma perlu datang sekali ke kantor imigrasi untuk mengurus paspor. Betenya, pas hari saya datang itu, 6 Mei 2009, hujan lebat. Walaupun sudah pakai payung tetap saja hasil foto saya di paspor itu <em>kucluk</em> abis. Ih, sebel.</p>
<p>Dan sepulangnya dari kantor imigrasi, saya mendapati sebuah <em>buzz</em> dari <a href="http://www.facebook.com/profile.php?id=1316079734">Didin</a> di Yahoo! Messenger. <strong>Saya mendapatkan beasiswa luar negeri Depkominfo untuk studi S2 ke Australia.</strong> Walaupun saya langsung jadi gemetar, walaupun saya belum dapat sekolah, walaupun saya agak gamang menghadapi kenyataan ke depan, tetap saja, alhamdulillaah. Saya yakin, ini jawaban atas doa saya minta dipilihkan yang terbaik.</p>
<p><i>Saya sudah hampir berangkat, makanya saya harus NGEBUT menyelesaikan seri ngebut ini =))</i></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.jalankenangan.net/celoteh/?feed=rss2&amp;p=283</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>ngebut menuju beasiswa (5) - terjemahan ijasah dan surat rekomendasi</title>
		<link>http://www.jalankenangan.net/celoteh/?p=282</link>
		<comments>http://www.jalankenangan.net/celoteh/?p=282#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 17 Jul 2009 18:14:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yanti</dc:creator>
		
		<category>keseharian</category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.jalankenangan.net/celoteh/?p=282</guid>
		<description><![CDATA[Sembari menunggu hasil IELTS, saya mempersiapkan terjemahan ijasah dan surat rekomendasi. Untuk penerjemahan memang agak complicated karena ijasah saya berbahasa Jerman, dan harus diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh penerjemah tersumpah. Artinya saya harus mencari penerjemah tersumpah Jerman - Inggris yang berdomisili di Indonesia. Kan nggak mungkin saya terjemahkan Jerman - Indonesia lalu Indonesia - [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span class="first">S</span>embari menunggu <a href="http://www.jalankenangan.net/celoteh/?p=281">hasil IELTS</a>, saya mempersiapkan terjemahan ijasah dan surat rekomendasi. Untuk penerjemahan memang agak <em>complicated</em> karena ijasah saya berbahasa Jerman, dan harus diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh penerjemah tersumpah. Artinya saya harus mencari penerjemah tersumpah Jerman - Inggris yang berdomisili di Indonesia. Kan nggak mungkin saya terjemahkan Jerman - Indonesia lalu Indonesia - Inggris, itu mah jadi <em>lost in translation</em> atuh!</p>
<p>Berkat <a href="http://jalankenangan.net/images/ubersetzerliste.pdf">daftar penerjemah</a> dari <a href="http://www.jakarta.diplo.de">Kedutaan Besar Jerman</a>, saya menemukan alamat <strong>Ibu Ursula Suharto</strong>, satu2nya penerjemah tersumpah Jerman - Inggris. </p>
<p>Bersamaan dengan itu, saya menghubungi <em>International Office</em> di <a href="http://www.reutlingen-university.de">Reutlingen University</a> tempat saya kuliah dulu. Kata mereka, <u>jasa penerjemahan disediakan gratis, dengan cukup mengirimkan hasil <em>scan</em> ijasah lewat email</u>. </p>
<p><a id="more-282"></a><br />
Setelah melalui berbagai pertimbangan, salah satunya karena saya nggak perlu melegalisir ulang terjemahan tersebut, akhirnya saya memilih menggunakan jasa <em>International Office</em> eks kampus saya itu. Memang nggak lancar2 amat juga sih, karena kepotong liburan Paskah, plus mereka nggak mau mengirimkan <em>softcopy</em> hasil terjemahan (hanya mau lewat pos). Masalah lain, mereka tadinya nggak mau menerjemahkan transkrip lengkap. Baru bersedia setelah saya <em>forward</em>kan email dari <a href="http://www.usyd.edu.au/future_students/international_postgraduate_coursework/admissions/index.shtml">International Office</a> University of Sydney!</p>
<p>Oh ya, sebagian besar universitas di luar negeri memungkinkan kita <em>apply</em> secara online. Semua dokumen di-<em>scan</em> dan diunggah lewat situs tersebut. Nyaman dan mudah. Tapi tetap ada pengecualiannya: khusus untuk ijasah dan transkrip, kita tetap harus mengirimkan <em>hardcopy</em>  yang dilegalisir. Ada beberapa universitas di Australia yang menerima hasil <em>scan</em>, asalkan dikirim lewat (dengan asumsi sudah dicek keasliannya oleh) agen resmi pendidikan Australia seperti <a href="http://www.indonesia.idp.com/">IDP</a>.</p>
<p><strong>Surat Rekomendasi</strong></p>
<p>Sudah merupakan sesuatu yang umum di dunia Barat, bahwa orang membutuhkan surat rekomendasi untuk bisa mendapatkan tempat untuk kuliah, melamar pekerjaan, bahkan untuk bisa menyewa rumah! Tapi nggak semua universitas di Australia mensyaratkan surat rekomendasi, sebaliknya bisa dibilang semua universitas di Inggris mensyaratkan hal ini.</p>
<p>Pihak universitas biasanya meminta minimal dua surat rekomendasi. Kalau belum pernah bekerja, harus semuanya dari dosen yang pernah membimbing kita, sebaiknya sih pembimbing skripsi atau mantan dosen wali, atau dosen2 lain yang <strong>kenal kita secara personal</strong>. Sementara kalau sudah pernah bekerja, satu dari dosen seperti di atas, dan sisanya orang yang pernah bekerja sama dengan kita (sebaiknya <em>supervisor, team leader, manager</em>).</p>
<p>Apa yang harus ditulis dalam surat rekomendasi? Baca saja baik2 keterangan di situs aplikasi masing2 universitas, karena bisa jadi berbeda untuk tiap universitas. Juga di sana biasanya tercantum, <strong>bagaimana surat rekomendasi itu harus di-<em>submit</em></strong>: lewat pos dalam amplop tertutup yang ditandatangani bagian <em>lid</em>-nya, atau bisa disubmit lewat email oleh ybs., atau malah harus mengisi semacam form isian di situs aplikasi universitas. Tapi yang utama selalu ada poin2 berikut:</p>
<ul>
<li>Nama dan jabatan/profesi pemberi referensi</li>
<li>Hubungan pemberi referensi dengan kita, berapa lama kenal/bekerja sama</li>
<li>Kemampuan komunikasi, intelektual, analisis, dan kelebihan serta (mungkin) kekurangan kita menurut pemberi referensi</li>
<li>Kesimpulan, apakah pemberi referensi merekomendasikan kita untuk menjalani studi di jurusan yang kita <em>apply</em> itu</li>
</ul>
<p>Untuk referensi akademis, saya berusaha menghubungi profesor yang pernah membimbing saya menulis <em>Studienarbeit</em> alias &#8220;Tugas Kecil&#8221;. Beliau juga pernah mengajar berbagai mata kuliah selama 3 semester. <em>Secara</em> saya sudah hampir sepuluh tahun meninggalkan kampus (yup, udah tua kan gue!), agak susah juga mencari profesor yang tersisa. Alhamdulillaah, <strong>Prof.Dr.A.Oehler</strong> masih ingat sama saya, bahkan sama topik tugas yang pernah saya tulis di bawah bimbingan beliau. </p>
<p>Sementara untuk referensi dari kantor, saya minta kesediaan dua orang. Yang pertama tentunya kepala divisi saya saat itu. Yang kedua adalah seorang <em>partner in crime</em> dalam hal ngegaring dan nge<em>junk</em> di status FB <em>that happened to be my supervisor for seven years</em>. Yup, <a href="http://www.facebook.com/profile.php?id=1412492592">Oom Aji</a> =))
</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.jalankenangan.net/celoteh/?feed=rss2&amp;p=282</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>ngebut menuju beasiswa (4) - IELTS</title>
		<link>http://www.jalankenangan.net/celoteh/?p=281</link>
		<comments>http://www.jalankenangan.net/celoteh/?p=281#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 12 Jul 2009 10:28:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yanti</dc:creator>
		
		<category>keseharian</category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.jalankenangan.net/celoteh/?p=281</guid>
		<description><![CDATA[Untuk butir yang pertama dari to do list, saya putuskan untuk mengambil tes IELTS di IDP Bandung. Karena pendaftaran di universitas-universitas di Australia rata2 tutup akhir April atau pertengahan Mei, saya mencari tes yang diadakan beberapa hari ke depan. Pokoknya ASAP! 
Menurut website, ada tes IELTS yang akan diadakan di Bandung hari Sabtu berikutnya, 4 [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span class="first">U</span>ntuk butir yang pertama dari <a href="http://www.jalankenangan.net/celoteh/?p=280"><em>to do list</em></a>, saya putuskan untuk mengambil tes <a href="http://www.ielts.org">IELTS</a> di <a href="http://www.indonesia.idp.com/our_branches/bandung.aspx">IDP Bandung</a>. Karena pendaftaran di universitas-universitas di Australia rata2 tutup akhir April atau pertengahan Mei, saya mencari tes yang diadakan beberapa hari ke depan. Pokoknya <em>ASAP</em>! </p>
<p>Menurut <a href="http://www.indonesia.idp.com/ielts_information_2009/jadwal_tes_ielts_2009.aspx">website</a>, ada tes IELTS yang akan diadakan di Bandung hari Sabtu berikutnya, 4 April. <a href="http://www.ets.org/toefl/">International TOEFL</a> juga ada sih di Bandung, tapi IELTS bisa <em>paper-based</em> (TOEFL hanya bisa <em>internet-based</em>, males ah). Saya ingat banget, Kamis saya wawancara di Depkominfo. Hari Jumat pagi saya telepon IDP Bandung, diminta untuk telepon lagi jam 9 karena petugas IELTSnya baru datang jam segitu. Tepat jam 9 saya telepon lagi.</p>
<p><strong>Saya (Y)</strong>: <em>Mba masih bisa daftar IELTS untuk tanggal 4 besok?</em><br />
<strong>Mbaknya (M)</strong>: Boleh, paling lambat hari ini jam 10 ya<br />
<strong>Y</strong>: <em>HAH? Satu jam lagi?</em><br />
<a id="more-281"></a><strong>M</strong>: Iya<br />
<strong>Y</strong>: <em>OK deh mba saya sekarang ke sana</em><br />
<strong>M</strong>: Caranya harus bayar biayanya dulu mba, ke <a href="http://www.commbank.co.id">Commonwealth Bank</a> yang di Asia Afrika. Nomor <em>account</em>nya punya?<br />
<strong>Y</strong>: <em>Iya ini nemu di website</em><br />
<strong>M</strong>: Biayanya USD 180 ya, nanti tanya kurs saat ini berapa, bayarnya ke <em>account</em> yang rupiah.<br />
<strong>Y</strong>: (lemes) <em>OK deh mba, makasih ya<br />
</em><br />
Jadi bisa diduga, langkah berikutnya saya ke ATM di depan kantor. Tarik 2,2 juta rupiah, lalu NGEBUT sengebut2-nya ke Asia Afrika. Duh mana harus nunggu satu orang lagi pula di <em>teller</em>. Setelah urusan duit selesai, saya ngebut sambil pasrah ke IDP di Sulanjana. Sampai di IDP, jamnya Neng Desi bilang sudah jam 10:05. </p>
<p>Jadi begitu masuk, saya langsung nanya ke mbak2 yang menerima saya, <em>&#8220;Mba, kalo di sini udah jam 10 belum?&#8221;</em><br />
<strong>Mbaknya (M)</strong>: (bingung) Udah, kenapa emang mba?<br />
<strong>Y</strong>: <em>Mau daftar IELTS buat besok masih bisa?</em><br />
Mbak yang di depan memandang Mbak Petugas IELTS.<br />
Dan Mbak Petugas IELTS mengangguk!!!! Aduh, girangnya dakuuuu!!!</p>
<p><span class="first">S</span>aya cuma punya waktu satu hari buat mempersiapkan diri. Nggak main2, mempertaruhkan biaya tes sebesar dua juta lebih, bukan uang yang sedikit untuk saya. Tapi saya harus tetap optimis dan semangat kan? (lirik para motivator)</p>
<p>Pertama2, cari tahu tentang apa itu IELTS. Baca2 di <a href="http://www.ielts.org/PDF/Information_for_Candidates_2007.pdf">brosur resmi</a>nya, ya mirip jugalah dengan TOEFL. <strong>Persamaannya</strong>, </p>
<ul>
<li>Seperti juga International TOEFL, IELTS adalah tes bahasa Inggris untuk orang2 yang berbahasa ibu non-Inggris. Berlaku dua tahun, dan lumayan mahal, hehe.. </li>
<li>Sama2 menguji kemampuan membaca, mendengar, berbicara dan menulis dalam bahasa Inggris. Ini bedanya dengan Institutional TOEFL yang banyak diselenggarakan oleh lembaga2 bahasa: ada komponen berbicara dan menulis, dan nggak terlalu mementingkan tatabahasa (<em>grammar</em>).</li>
<li>Skor International TOEFL dan IELTS pun sama2 dirinci untuk setiap bagian (<em>reading, listening, writing, speaking</em>), selain tentu ada skor totalnya.</li>
</ul>
<p><strong>Perbedaannya</strong>:</p>
<ul>
<li>TOEFL lebih fokus ke penggunaan akademis, sementara IELTS punya dua macam tes: <em>academic</em> dan <em>general purpose</em>.</li>
<li>TOEFL di Indonesia harus <em>internet-based</em>, termasuk <em>speaking</em>-nya (tapi tetap hanya bisa dilakukan di tempat2 tertentu). IELTS bisa <em>paper-based</em> dan <em>speaking</em>-nya <em>one-on-one</em> dengan seorang <em>native speaker</em>.</li>
<li>TOEFL itu berbasis Amerika Utara, sementara IELTS berbasis Inggris, Australia dan negara2 Commonwealth lainnya.</li>
<li>Skala skor IELTS adalah 1 sampai 10. Sebagian besar universitas di Australia mensyaratkan skor minimal 6,5 dengan nilai <em>writing</em> minimal 6.</li>
</ul>
<p>Sebaiknya memang persiapan untuk menjalani sebuah tes dilakukan sejak jauh2 hari. Ada tips yang bisa dipraktekkan di <a href="http://about-scholarship.com/blog/2009/04/bagaimana-tips-supaya-nilai-toeflielts-bisa-bagus/">sini</a>. Sayangnya saya nggak sempat melakukan itu semua. Tapi saya nemu sebuah <a href="http://www.ielts-exam.net/">situs</a> yang sangat berguna untuk mengetahui tipe soal IELTS dan latihan sampe <em>m&eacute;jr&eacute;t</em>. Terutama saya memfokuskan diri pada latihan menulis dan mempersiapkan beberapa topik untuk <em>speaking</em>.</p>
<p><span class="first">A</span>pa daya, sejak Jumat sore Naila panas. Alhasil saya cuma sempat belajar sebentar di kantor. Malamnya ya boro2. Sabtu pagi itu, setelah mengantar saya ke tempat tes di TBI Dipati Ukur, Abang membawa Naila ke dokter. Parahnya lagi, Minggu pagi Naila mimisan, padahal Minggu siang itu saya tes <em>speaking</em>! Haduuuh, gini emang jadi ibu2 <img src='http://www.jalankenangan.net/celoteh/wp-images/smilies/sad.gif' alt=':(' class='wp-smiley' />  .</p>
<p><em>Secara</em> Naila nggak pernah mimisan sebelumnya, saya dan Abang membawa Naila ke dokter, lalu tes darah karena khawatir demam berdarah. Alhamdulillaah thrombositnya masih normal. Semua orang menenangkan saya: Naila <em>will be just fine</em>, mereka akan menjaga Naila selama saya tes. Saya berusaha tenang dan menjalani tes <em>speaking</em> jam dua siang itu, dengan hati super deg2an (yang tentunya bukan karena tegang mau ujian!). Saya ingat kebagian topik tentang sport, dan kemudian mengarah kepada sport dan anak2. </p>
<p>Entahlah, rasanya semua sudah diatur oleh Sang Maha Pengatur. Saya &#8220;tinggal&#8221; melakukan semaksimal yang saya bisa, berdoa sebanyak yang saya bisa, dan minta didoakan oleh orang2 yang menyayangi saya. Saya hanya minta diberi yang terbaik, karena Dia Maha Mengetahui, apakah sebaiknya saya lolos atau nggak.</p>
<p><strong><em>Moral of the story</em>: persiapan jauh2 hari SELALU lebih baik</strong>. Terhindar dari resiko diserempet angkot atau nyerempet BMW (amit2), dan bisa belajar lebih banyak walaupun pas <em>last minute</em> anak sakit.
</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.jalankenangan.net/celoteh/?feed=rss2&amp;p=281</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>ngebut menuju beasiswa (3) - wawancara</title>
		<link>http://www.jalankenangan.net/celoteh/?p=280</link>
		<comments>http://www.jalankenangan.net/celoteh/?p=280#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 10 Jul 2009 08:54:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yanti</dc:creator>
		
		<category>keseharian</category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.jalankenangan.net/celoteh/?p=280</guid>
		<description><![CDATA[Yuk, lanjut lagi ngebutnya. Saya ternyata dipanggil wawancara oleh panitia beasiswa. Agak susah dipercaya, mengingat hasil TOEFL dan TPA baru saya kirimkan di awal minggu itu.
To be honest, I&#8217;m not a big fan of interviews. Saya nggak pintar ngomong, nggak pintar &#8216;menjual&#8217; kelebihan. Tapi seorang teman saya bilang, yang penting jadi diri sendiri. Yanti yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span class="first">Y</span>uk, lanjut lagi ngebutnya. Saya ternyata <a href="http://www.jalankenangan.net/celoteh/?p=279">dipanggil wawancara</a> oleh panitia beasiswa. Agak susah dipercaya, mengingat hasil TOEFL dan TPA baru saya kirimkan di awal minggu itu.</p>
<p><em>To be honest, I&#8217;m not a big fan of interviews</em>. Saya nggak pintar ngomong, nggak pintar &#8216;menjual&#8217; kelebihan. Tapi seorang teman saya bilang, yang penting jadi diri sendiri. Yanti yang menyenangkan buat diajak ngobrol, dan coba sembunyikan dulu itu garing dan judesnya, hehe.</p>
<p>Tanggal 2 April saya datang ke Gedung Depkominfo di Medan Merdeka. Ketemu dan ngobrol2 dengan kandidat2 lain, antara lain dgn <a href="http://www.facebook.com/home.php#/profile.php?id=1316079734">Didin</a> yg ternyata temannya adik ipar saya (Bandung memang cuma selebar kolor superman), dan dgn <a href="http://www.facebook.com/dewi.muthia">Muthia</a> yg maniiiis. Ih, ternyata saya termasuk <strong>golongan manula untuk ukuran kandidat S2</strong>. Yang lain rata2 angkatan 2000an dan umurnya belum 30. Humm, kebayangnya saya lagi jadi tomat merah-tua-menjelang-busuk di antara tomat2 lain yang baru mau jadi merah, hehe.</p>
<p><a id="more-280"></a><br />
Wawancara itu sendiri, alhamdulillah lancar2 saja. Bu Gati dan rekannya - seorang bapak yang saya lupa namanya - malah banyak memberi bumbu ketawa. Wawancara yang berlangsung sekitar 30 menit dalam bahasa Inggris itupun jadi nggak terlalu menegangkan. Pertanyaannya seputar motivasi kenapa saya mau sekolah lagi, kenapa saya mengambil jurusan IT, lalu apa saja pengalaman saya di dunia kerja, dan kenapa saya selingkuh dari dunia <em>telco</em> ke dunia IT.</p>
<p><strong><em>To do list </em></strong></p>
<p>Entah kenapa optimisme saya bangkit saat wawancara itu. Tiba2 saya merasa punya peluang yang cukup besar. Apalagi saat di akhir wawancara, Bu Gati bilang, &#8216;<em>Wah ini Yanti harus cepat2 cari sekolah nih. Kan kalau diterima, harus berangkat tahun ini</em>&#8216;.</p>
<p>Saya jadi panik sendiri. Nggak ada yang bisa diajak ikut panik. Dan panik ini benar2 saya buat sendiri. Salah sendiri kemarin2 itu saya nggak cepat2 cari sekolah sejak awal daftar beasiswa. Hmm, tapi kan saya nggak akan ngira kalau punya peluang diterima. Wek <img src='http://www.jalankenangan.net/celoteh/wp-images/smilies/tongue.gif' alt=':P' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Terhitung sejak malam itu, saya jadi rajin bergadang. Tau sih, kata Bang Haji nggak boleh. Tapi ini ada tujuannya kok: <em>browsing</em>2 sekolah. Seperti sudah saya ceritakan sebelumnya, negara tujuan studi haruslah salah satu dari yang sudah ditetapkan Depkominfo: Inggris, Belanda, Perancis, Swedia atau Australia. Universitasnya pun sudah tertentu, seperti yang ada dalam <em>shortlist</em>.</p>
<p>Saya memilih Australia krn dekat, jadi harga tiket kalau2 mau pulang liburan pun masih terjangkau (Abang nggak bisa ikut, ingat kan?). Abang juga usul untuk mencari sekolah di Inggris, karena program master di sana hanya setahun.<br />
Jadi saya kombinasikan: prioritas pertama ada pada <strong>program2 master of IT di Australia yang lamanya cuma setahun, dan harus ada dalam <em>shortlist</em> universitas</strong> dari Depkominfo. Misalnya di <a href="http://www.usyd.edu.au/courses/?detail=1&#038;course_sef_id=Master_of_Information_Technology_420">University of Sydney</a>.</p>
<p>Terlepas dari ke universitas manapun saya memasukkan aplikasi, ada beberapa hal yang harus saya persiapkan:<br />
1. Tes bahasa Inggris yang diakui internasional, International TOEFL atau IELTS<br />
2. Terjemahan ijasah<br />
3. Rekomendasi (termasuk minimal satu dari profesor ketika studi S1 dulu)<br />
4. Essay<br />
5. Paspor, kalau2 jadi berangkat</p>
<p>Whoa, banyak ya PR saya. Di tulisan berikutnya ya <img src='http://www.jalankenangan.net/celoteh/wp-images/smilies/smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />
</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.jalankenangan.net/celoteh/?feed=rss2&amp;p=280</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>ngebut menuju beasiswa (2) - TOEFL dan TPA</title>
		<link>http://www.jalankenangan.net/celoteh/?p=279</link>
		<comments>http://www.jalankenangan.net/celoteh/?p=279#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 20 Jun 2009 15:19:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yanti</dc:creator>
		
		<category>keseharian</category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.jalankenangan.net/celoteh/?p=279</guid>
		<description><![CDATA[Mari kita lanjutkan acara kebut2an.
Untuk melengkapi persyaratan aplikasi beasiswa Depkominfo, saya harus melakukan tes TOEFL dan TPA. Tes TOEFL cukup yang berjenis ITP (Institutional Test Program), alias yang dilakukan oleh institusi lokal dan biasanya hanya berlaku lokal juga. Seperti sudah saya ceritakan sebelumnya, saya sudah daftar TOEFL di UPT Bahasa ITB.
Pada hari yang ditentukan, sekitar [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span class="first">M</span>ari kita lanjutkan acara <a href="http://www.jalankenangan.net/celoteh/?p=278">kebut2an</a>.</p>
<p>Untuk melengkapi persyaratan aplikasi beasiswa Depkominfo, saya harus melakukan tes TOEFL dan TPA. Tes TOEFL cukup yang berjenis <a href="http://www.ets.org/portal/site/ets/menuitem.1488512ecfd5b8849a77b13bc3921509/?vgnextoid=ebe32d3631df4010VgnVCM10000022f95190RCRD&#038;vgnextchannel=fe117f95494f4010VgnVCM10000022f95190RCRD">ITP</a> (<em>Institutional Test Program)</em>, alias yang dilakukan oleh institusi lokal dan biasanya hanya berlaku lokal juga. Seperti sudah saya ceritakan <a href="http://www.jalankenangan.net/celoteh/?p=278">sebelumnya</a>, saya sudah daftar TOEFL di <a href="http://www.lc.itb.ac.id/">UPT Bahasa ITB</a>.</p>
<p>Pada hari yang ditentukan, sekitar akhir Februari, saya menjalani test TOEFL tersebut. Benar2 tanpa persiapan, karena entah kenapa, malam sebelumnya saya malaaaaaas banget belajar. Jangan ditiru ya <img src='http://www.jalankenangan.net/celoteh/wp-images/smilies/smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> . Dan jangan dikira perjalanan kali ini bebas kebut2an loh.. Saya berangkat rada mepet dari kantor, dan berakibat pensil 2B saya ketinggalan! Ampun Nyaaahh!!!!!</p>
<p><a id="more-279"></a><br />
Jadi saya setengah lari2 dari tempat saya memarkir Neng Desi di pinggiran masjid Salman, ke kantin seberang lapangan basket untuk beli pensil. Lalu lari2 ke Labtek VIII, sekedar untuk tahu ruang tesnya. Lari2 lagi ke <em>basement</em> tempat diselenggarakannya tes. Dengan <em>high heels</em> ya, catat, <em>secara</em> saya memang jarang banget nggak pakai <em>high heels</em>. Alhamdulillaah, walaupun keringatan dan kaki pegal (tapi belum berhasil bikin saya kurusan) saya masih bisa menjalani tes dengan baik. Bahkan saat dua minggu kemudian hasilnya keluar, alhamdulillaah skor saya lumayan banget.</p>
<p><strong>Tes Potensi Akademik (TPA)</strong></p>
<p>Kali ini nggak pakai ngebut dong ah! Cape kaliii, ngebut mulu!</p>
<p>Jadi seminggu sebelum tes, saya beli buku contoh soal TPA di toko buku dekat rumah. Malam sebelum  berangkat ke Jakarta, saya dengan tertib berlatih mengerjakan soal. Nggak lama2 sih, sekitar 2 jam doang, untuk mengetahui <em>big picture</em> tesnya kira2 seperti apa. Besoknya saya pulang kantor lebih cepat, lalu  naik <a href="http://www.cititrans.co.id/">travel</a> ke Jakarta.</p>
<p>Tes Potensi Akademik adalah semacam tes <a href="http://www.ets.org/portal/site/ets/menuitem.fab2360b1645a1de9b3a0779f1751509/?vgnextoid=b195e3b5f64f4010VgnVCM10000022f95190RCRD">Graduate Record Examination</a> (GRE) versi Indonesia. Terdiri dari empat bagian besar yang harus dikerjakan selama kira2 3 jam, yaitu
<ol>
<li><strong>Verbal (bahasa)</strong>, meliputi tes sinonim (persamaan kata), antonim (lawan kata), padanan hubungan kata, dan pengelompokan kata. </li>
<li><strong>Numerik (angka)</strong>, meliputi tes aritmetik (menghitung), deret angka dan huruf, logika angka dan soal berhitung dalam cerita</li>
<li><strong>Logika</strong>, meliputi tes logika umum, analisis pernyataan dan kesimpulan (silogisme), logika cerita dan tes logika diagram (semacam diagram Venn)
</li>
<li><strong>Spasial(gambar)</strong>, meliputi padanan hubungan gambar, deret gambar, pengelompokan gambar, bayangan gambar dan identifikasi gambar. </li>
</ol>
<p>Menurut saya sih TPA nggak yang susaaaaah banget gitu, TAPI soalnya banyaaaaaaaaaaakkkkkk banget. Asli. Jadi nggak perlu khawatir kalau nggak bisa mengerjakan semua soal, karena sepertinya hampir nggak ada orang yang bisa mengerjakan semua soal kecuali yang jenius atau menghitung kancing. Cuma satu hal nih, mungkin karena saya cewe yg KATANYA secara kodrati kecerdasan spasialnya lebih lemah dibanding cowo, soal2 yang benda diputar2 (bayangan dan identifikasi) itu bener2 KARTU MATI buat saya, haha!</p>
<p>Sekedar tips:</p>
<ul>
<li>Sering2 latihan kali ya, soalnya kan muter2 di situ2</li>
<li>Jangan tergoda untuk <em>ngulik</em> di satu soal. Kerjakan yg bisa dulu, karena semua soal kan bobotnya sama</li>
<li>Kalau ada yang bisa dikira2 ya dikira2 aja, kalau dihitung malah kelamaan <img src='http://www.jalankenangan.net/celoteh/wp-images/smilies/grin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </li>
<li>Hafalkan bilangan 2 pangkat 1-10 sama 3 pangkat 1-5, juga kuadrat bilangan 1-20. Ini mempersingkat waktu coret2 <img src='http://www.jalankenangan.net/celoteh/wp-images/smilies/grin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </li>
<li>Ingat2 aritmetika dasar seperti pecahan, persentase</li>
<li>Tenang, nggak akan ada kalkulus rumit. Paling banter persamaan kuadrat, persamaan dengan 2 variabel, akar kuadrat, dan menghitung pecahan</li>
<li><em>Be creative</em> dalam menjawab soal2 deret</li>
<li>Khusus untuk tes verbal, sering2 baca koran atau majalah2 yg sering memuat istilah2 asing, dan pahami benar padanan artinya dalam bahasa Indonesia.</li>
</ul>
<p>Yang berhak mengadakan TPA ini adalah OTO (<em>Overseas Training Office</em>) <a href="http://pusbindiklatren.bappenas.go.id">Bappenas</a>. Jadi semua penyelenggara TPA, misalnya panitia seleksi S2 di universitas2, selalu bekerja sama dengan OTO Bappenas ini. Kita bisa saja ikut TPA di manapun, karena selama penyelenggaranya bekerja sama dengan Bappenas, pasti skornya diakui sebagai skor TPA yang sah. Informasi tentang jadwal TPA bisa didapat di  021-3911627. Waktu itu saya ikut di kelas jauh <a href="http://www.mmugm.ac.id/index.php?Itemid=143&#038;id=38&#038;option=com_content&#038;task=view">MM UGM</a> di Jakarta, biayanya sekitar 350 ribu rupiah. </p>
<p><strong>Dan hasilnya&#8230;</strong></p>
<p>Singkat kata, dua minggu kemudian saya sudah punya skor TOEFL dan TPA seperti yang disyaratkan Depkominfo. Lumayan banget ternyata, daripada lumanyuuuun.. Hasil2 tes segera saya fotokopi dan kirimkan ke panitia beasiswa. Seingat saya hari itu hari Selasa. Perkiraan saya sih Kamis tentunya panitia sudah menerima berkas2 tersebut. </p>
<p>Jumat jam lima sore, saya mendapat email undangan untuk wawancara di Depkominfo tanggal 2 April. Yang artinya saya sudah lolos seleksi tahap pertama. Jreng jreng!
</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.jalankenangan.net/celoteh/?feed=rss2&amp;p=279</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>ngebut menuju beasiswa (1) - aplikasi</title>
		<link>http://www.jalankenangan.net/celoteh/?p=278</link>
		<comments>http://www.jalankenangan.net/celoteh/?p=278#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 27 May 2009 10:32:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yanti</dc:creator>
		
		<category>keseharian</category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.jalankenangan.net/celoteh/?p=278</guid>
		<description><![CDATA[Perjalanan saya menuju beasiswa Depkominfo ini nggak terlalu panjang. Tapi sumpah, penuh liku yang bikin jantung deg2an. Semua serba mendadak dan mepet. Lho, memangnya saya nggak siap2 dari jauh2 hari? Jawabnya tentu saja: nggak  . 
(Kids, don&#8217;t try this at home. Pengalaman saya yang ini bukan untuk ditiru. Bagaimanapun, persiapan yang matang sejak jauh2 [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span class="first">P</span>erjalanan saya menuju <a href="http://www.depkominfo.go.id/program/hasil-seleksi-beasiswa-s2s3-ln/">beasiswa</a> Depkominfo ini nggak terlalu panjang. Tapi sumpah, penuh liku yang bikin jantung deg2an. Semua serba mendadak dan mepet. Lho, memangnya saya nggak siap2 dari jauh2 hari? Jawabnya tentu saja: nggak <img src='http://www.jalankenangan.net/celoteh/wp-images/smilies/smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> . </p>
<p>(<em>Kids, don&#8217;t try this at home.</em> Pengalaman saya yang ini <strong>bukan untuk ditiru</strong>. Bagaimanapun, persiapan yang matang sejak jauh2 hari selalu lebih baik.)</p>
<p>Sebenarnya saya senang sekolah. Bukan berarti nggak senang kerja. Tapi yang jelas, saya nggak seperti sebagian teman2 yang sekolah ke jenjang <em>postgraduate</em> karena terpaksa. Awal tahun 2008 saya sempat kepikiran untuk sekolah lagi, lalu <em>browsing</em> berbagai situs beasiswa. Sayangnya niat itu kepentok alasan khas ibu2: nanti Naila gimana?</p>
<p><a id="more-278"></a><br />
Saya ingat betul, salah satu beasiswa yang menarik minat saya adalah beasiswa luar negeri dari <a href="http://www.depkominfo.go.id">Departemen Komunikasi dan Informatika</a> (Depkominfo). Diberikan untuk kuliah S2 dan S3 di universitas2 yang telah ditetapkan di negara2: Inggris, Belanda, Perancis, Swedia dan Australia. Bidang studi yang diambil harus sesuai dengan misi dan lingkup Depkominfo, seperti hukum (<em>cyber</em> atau telekomunikasi), <em>e-commerce</em>, ilmu komunikasi, teknik elektro/telekomunikasi, atau teknik informatika. Seru kan?</p>
<p>Dasar saya phlegmatis sejati yang perlu dipecut2, waktu itu saya nggak berani <em>apply</em>. Ralat, <em>apply</em>-nya sih berani dan mau2 aja. Tapi saya nggak berani membayangkan konsekuensinya <strong>kalau</strong> diterima. <em>Expect the best, prepare for the worst</em>. Yang mana saya rada nggak jelas juga, dapat beasiswa S2 ke luar negeri meninggalkan keluarga itu <em>the best</em> atau <em>the worst</em> <img src='http://www.jalankenangan.net/celoteh/wp-images/smilies/tongue.gif' alt=':P' class='wp-smiley' />  .</p>
<p><span class="first">S</span>etahun berlalu begitu saja, sampai pada suatu hari di <strong>pertengahan Februari 2009</strong>, saya ditelpon oleh atasan. </p>
<p><strong>Boss (B)</strong>: <em>Yanti, ini ada beasiswa S2, berminat nggak?</em></p>
<p><strong>Yanti (Y)</strong>: S2 di mana Pak?</p>
<p><strong>B</strong>: <em>Hmm.. ITB mungkin ya? Eh sebentar saya liat dulu&#8230; (jeda sebentar) Oh ini ke luar negeri, ini banyak nih pilihan universitasnya.. Ada Inggris, Belanda, Australia&#8230; Gimana, mau ya?</em></p>
<p><strong>Y</strong>: Wah, saya boleh pikir2 dulu Pak?</p>
<p><strong>B</strong>: <em>Ya silakan dipikirkan.. Tapi saya berharap Yanti mau. Ini dari Depkominfo, diutamakan yang di bawah 35 tahun. Sementara dari perusahaan kita mensyaratkan, harus sudah bekerja 5 tahun dan belum pernah sekolah S2. Kayaknya cuma Yanti yang masuk kriteria itu.</em></p>
<p><strong>Y</strong>: Iya Pak. Saya bicarakan dulu di rumah ya Pak&#8230;</p>
<p>Sebenarnya saya masih punya pilihan untuk menolak ya? <em>But knowing my family</em>, saat itu saya berani taruhan bahwa mereka pasti akan mendorong saya untuk ikut proses seleksi beasiswa. Mirip seperti waktu tahun 2004 saya ke India 2 bulan lamanya, meninggalkan Naila yang masih bayi. Atau waktu saya tugas setahun lebih di Gandul, dan cuma pulang setiap akhir minggu mengunjungi Naila yang berumur 2-3 tahun. Tapi kan ini sekolah, minimal setahun dan nggak bisa sering2 pulang! Apalagi Abang nggak bisa dapat <em>unpaid leave</em> dari kantornya. Hanya pergi berdua dengan Naila, sepertinya juga kurang realistis. Keluarga khawatir, saya nggak fokus kuliah dan Naila juga nggak keurus. </p>
<p>Tapi toh seperti diduga, saya akhirnya mendapat lampu hijau untuk mendaftar beasiswa, dengan resiko diterima <img src='http://www.jalankenangan.net/celoteh/wp-images/smilies/grin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' />  . Syaratnya, saat liburan panjang saya pulang, dan kalau bisa cari program master yang cuma setahun. </p>
<p><span class="first">B</span>esoknya saat membaca dokumen2 beasiswa tersebut, saya kaget. Ternyata <em>deadline</em> aplikasi beasiswa tanggal 18 Februari. Yang artinya, ketika itu saya tinggal punya waktu <strong>satu</strong> hari saja. Aduh, kenapa Pak Boss kemarin nggak bilang apa2 ya? Bayangkan, saya harus:</p>
<ol>
<li>Mengisi formulir aplikasi yang berlembar2 itu, berikut menjawab beberapa pertanyaan esai yang ada di dalamnya.</li>
<li>Melampirkan pasfoto,  yang saya juga sudah nggak punya.</li>
<li>Punya nilai <a href="http://www.ets.org/toefl/">TOEFL</a> di atas 550. Paling lama diikuti 2 tahun yang lalu, padahal saya terakhir ikut TOEFL sebelum ke India tahun 2004.</li>
<li>Punya nilai Tes Potensi Akademik (TPA) yang diselenggarakan oleh <a href="http://pusbindiklatren.bappenas.go.id/">Bappenas</a>, yang mana saya belum pernah ikut sama sekali <img src='http://www.jalankenangan.net/celoteh/wp-images/smilies/grin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' />  .</li>
</ol>
<p>Karena sepekan itu saya sedang <em>training</em> di luar kantor, terpaksa saya bolos sehari untuk mengurus semua itu. Pagi2 saya ke studio foto, bikin foto langsung jadi beberapa buah. Setelah itu ke kantor. Telepon sana sini, saya dapat jadwal tes TOEFL berikutnya ada di <a href="http://www.lc.itb.ac.id/">ITB</a> minggu depannya, dan jadwal TPA yang akan diselenggarakan Bappenas baru ada dua minggu kemudian di kelas jauh <a href="http://www.mmugm.ac.id/index.php?Itemid=143&#038;id=38&#038;option=com_content&#038;task=view">MM UGM</a> di Jakarta. Padahal, masih ingat kan, <em>deadline</em> aplikasi beasiswanya besok!</p>
<p>Rada <em>desperate</em>, saya ke lantai delapan. Minta ngobrol2 dengan Manajer HRD yang langsung mengompori saya: <em>&#8220;Pokoknya kalo belum sampe mampus bener, jangan berhenti, Yan! Masukkan aplikasi besok, hasil2 tesnya disusulkan aja. Siapa tahu bisa. Kalau sudah rejeki kamu, nggak akan ke mana deh!&#8221;</em></p>
<p>Hmm, okei Buuuuu&#8230;Jadilah siang itu saya habiskan untuk &#8220;mengarang bebas&#8221; menjawab esai: tentang motivasi studi, latar belakang memilih pekerjaan/profesi saat ini, hubungan program studi yang dituju dengan pekerjaan saat ini, manfaat studi untuk negara Indonesia, rencana jangka panjang, dan mengapa saya merasa layak untuk mendapatkan beasiswa ini. Lebih dari 500 kata bahasa Indonesia ternyata bisa berhamburan dari ujung bolpen saya. Dalam keadaan kepepet tentunya, sehingga terus terang saya nggak sempat berpikir panjang. </p>
<p>Saya juga menyuruh <em>office boy</em> untuk memfotokopi ijasah dan akte kelahiran yang pagi itu saya bawa dari rumah, lalu beli materei. Setelah itu saya ngebut seperti supir angkot ke ITB, daftar TOEFL, dan ngebut lagi kembali ke kantor. Sementara itu, Bu Manajer HRD tercinta mengusahakan surat rekomendasi dari direksi keluar sore itu.</p>
<p><span class="first">E</span>soknya, tanggal 18, saya lagi2 bolos <em>training</em> (<em>ndilalah</em> gurunya sakit!). Naik kereta paling pagi ke Jakarta, dijemput di Gambir oleh Abang yang hari itu ijin masuk siang (<em>so sweet</em> deh..). Saya ke MM UGM di Gondangdia, daftar TPA, lalu ke Depkominfo di Medan Merdeka untuk menyerahkan aplikasi. Saya sempat bertanya, apakah masih memungkinkan menyusulkan nilai TOEFL dan TPA. Kata seorang petugas di sana, selama seleksi belum dilakukan ya masih bisa. Artinya saya masih punya harapan. Walaupun jujur saja, waktu itu saya sudah nggak berharap apa2, dan menjalani semuanya hanya untuk menyenangkan Bu Manajer HRD dan si Mamah yang sepertinya lebih bersemangat daripada saya <img src='http://www.jalankenangan.net/celoteh/wp-images/smilies/grin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> .</p>
<p>Setelah nyicip <a href="http://www.pancious.com/">Pancious Pancake</a> di Pacific Place (teuteuuup yaa.. makan nomer satu!), saya ke <em>pool</em> <a href="http://www.cititrans.co.id/">Cititrans</a> di SCBD dan pulang ke Bandung. Capek. Saat menulis dan mengingat2 semua saja saya capek. Kalau kamu capek bacanya, saya juga bisa maklum. Jadi lanjutannya kapan2 ya&#8230;
</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.jalankenangan.net/celoteh/?feed=rss2&amp;p=278</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>masuk koran :)</title>
		<link>http://www.jalankenangan.net/celoteh/?p=276</link>
		<comments>http://www.jalankenangan.net/celoteh/?p=276#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 16 Feb 2009 16:41:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yanti</dc:creator>
		
		<category>keseharian</category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.jalankenangan.net/celoteh/?p=276</guid>
		<description><![CDATA[Alhamdulillah. Singkatnya, tulisan liburan akhir tahun di Sumatera Barat dimuat di koran Seputar Indonesia edisi nasional hari Sabtu, 14 Februari 2009 lalu. Terima kasih Sindo!
Kata Naila, &#8220;Kok aku bisa masuk koran?&#8221;  
 

]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Alhamdulillah. Singkatnya, <a href="http://www.jalankenangan.net/celoteh/?p=271">tulisan</a> liburan akhir tahun di Sumatera Barat dimuat di koran <a href="http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/213229/">Seputar Indonesia</a> edisi nasional hari Sabtu, 14 Februari 2009 lalu. Terima kasih <a href="http://www.seputar-indonesia.com">Sindo</a>!</p>
<p>Kata Naila, <em>&#8220;Kok aku bisa masuk koran?&#8221;</em> <img src='http://www.jalankenangan.net/celoteh/wp-images/smilies/grin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p><a href="http://farm4.static.flickr.com/3275/3285173382_4534fb54fe_o.jpg" title="sindo_minang1 by Dharwiyanti R., on Flickr"><img src="http://farm4.static.flickr.com/3275/3285173382_6d4ac93f08_t.jpg" width="100" height="82" alt="sindo_minang1" /></a> <a href="http://farm4.static.flickr.com/3484/3285173384_0c2ae8a9b4_o.jpg" title="sindo_minang2 by Dharwiyanti R., on Flickr"><img src="http://farm4.static.flickr.com/3484/3285173384_c8ac4fa10f_t.jpg" width="100" height="82" alt="sindo_minang2" /></a>
</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.jalankenangan.net/celoteh/?feed=rss2&amp;p=276</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>fun lebaran :)</title>
		<link>http://www.jalankenangan.net/celoteh/?p=267</link>
		<comments>http://www.jalankenangan.net/celoteh/?p=267#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 10 Oct 2008 10:02:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yanti</dc:creator>
		
		<category>keseharian</category>

		<category>kisah kecil</category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.jalankenangan.net/celoteh/?p=267</guid>
		<description><![CDATA[Sebelum bulan Syawal habis dan cerita Lebaran jadi basi, kita cerita2 dulu deh di sini. Pertama2 tentunya, kami keluarga Jalankenangan mohon maaf lahir batin, dan semoga Allah menerima ibadah2 kita semua di bulan Ramadhan sebagai amal shalih yang bisa menyucikan diri kita masing2. Amin.
Yak, balik ke ke cerita Lebaran. Tahun ini giliran Lebaran di Jakarta, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span class="first">S</span>ebelum bulan Syawal habis dan cerita Lebaran jadi basi, kita cerita2 dulu deh di sini. Pertama2 tentunya, kami keluarga Jalankenangan mohon maaf lahir batin, dan semoga Allah menerima ibadah2 kita semua di bulan Ramadhan sebagai amal shalih yang bisa menyucikan diri kita masing2. Amin.</p>
<p>Yak, balik ke ke cerita Lebaran. Tahun ini giliran Lebaran di Jakarta, di rumah Kakek-Neneknya Naila dari pihak Ayah. Kita datang di Jakarta tanggal 29 September menjelang buka puasa, dan kembali ke Bandung hari Jumat pagi tanggal 3 Oktober.</p>
<p><a id="more-267"></a><br />
<span class="shadow" style="float:left"><img src="http://farm4.static.flickr.com/3243/2928234493_fb888f9a84_m.jpg" width="178" height="240" alt="khalisha" /></span>Alhamdulillaah, Naila sudah berkembang semakin &#8220;dewasa&#8221;. Walaupun masih malas ketemu orang baru yang sok akrab, tapi seenggak2nya Naila sudah nggak pernah nangis2 lagi. Nggak pernah minta nge-<em>mall</em> lagi, dan nggak terus2an &#8220;mengerami telur&#8221; di kamar yang kebetulan berAC dengan alasan <a href="http://www.jalankenangan.net/celoteh/?p=180">ngadem</a>. Bahkan shalat Ied di masjid dekat rumah Nenek yang panasnya luar biasa pun, Naila <u>betah</u> duduk sampai ceramah yang panjangnya seperti film India itu selesai (lamaaaaaa banget ya bow!).</p>
<p>Sepertinya sih, salah satu penyebab perubahan Naila adalah karena sekarang ada adik sepupunya yang tinggal di rumah Nenek. Namanya <strong>Khalisha</strong>, anak Tante Susi dan Om Parno, umurnya hampir setahun. Waktu Khalisha baru lahir, Naila nggak pernah mau dekat2, katanya sih <em>&#8220;takut adek nangis&#8221;</em>. Dulu Naila memang kurang suka bayi kecil yang cuma bisa nangis dan nggak bisa diajak main. Tapi sejak beberapa bulan terakhir, sejak Khalisha sudah bisa duduk, makan, dan diajak main, ceritanya jadi lain. Dan sejak <strong>Harits</strong>, anak Tante Nila lahir bulan Juni lalu, yang kebetulan memang nggak gampang nangis, Naila semakin suka pada bayi.</p>
<p><span class="shadow" style="float:right"><img src="http://farm4.static.flickr.com/3071/2925152155_1f0dd5fa80_m.jpg"  alt="Naila dan Rania, sepupunya, di hari Lebaran" /></span>Diajak bersilaturahmi ke sana sini pun sudah nggak terlalu susah lagi. Ya kadang kalau rumahnya agak gelap atau <em>keueung</em> memang Naila kurang suka. Tapi kalau ada teman seumuran, dan/atau suasananya cukup nyaman, Ayahbunda sudah nggak perlu kerepotan lagi. Sip kan?</p>
<p>Jadi, bener nih, sama sekali nggak nge-<em>mall</em> selama di Jakarta?</p>
<p><em>Ya iya lah, masa ya iya dong. Neng juga Naila(h), bukan Naidong!</em> <img src='http://www.jalankenangan.net/celoteh/wp-images/smilies/grin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' />
</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.jalankenangan.net/celoteh/?feed=rss2&amp;p=267</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>19 agustus</title>
		<link>http://www.jalankenangan.net/celoteh/?p=263</link>
		<comments>http://www.jalankenangan.net/celoteh/?p=263#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 19 Aug 2008 07:48:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yanti</dc:creator>
		
		<category>keseharian</category>

		<category>ilham</category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.jalankenangan.net/celoteh/?p=263</guid>
		<description><![CDATA[Tadi pagi saat mengingat tanggal, tiba2 gue teringat sesuatu. Sudah berbelas2 tahun ini gue lupa sebetulnya, dan entah kenapa tadi pagi tiba2 keingat lagi.
Jadi pengen ketawa&#8230;
Ingat apa sih?
Begini. Hari ini ada seorang bapak2 ulang tahun. Umurnya nggak lama lagi bakal mencapai setengah abad. Udah tua ya booooow&#8230; 
Ya, trus? Siapa dia? Kenapa kok gue tau [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span class="first">T</span>adi pagi saat mengingat tanggal, tiba2 gue teringat sesuatu. Sudah berbelas2 tahun ini gue lupa sebetulnya, dan entah kenapa tadi pagi tiba2 keingat lagi.</p>
<p>Jadi pengen ketawa&#8230;</p>
<p>Ingat apa sih?</p>
<p>Begini. Hari ini ada seorang bapak2 ulang tahun. Umurnya nggak lama lagi bakal mencapai setengah abad. Udah tua ya booooow&#8230; </p>
<p>Ya, trus? Siapa dia? Kenapa kok gue tau ultahnya, dan kenapa gue jadi pengen ketawa?</p>
<p><a id="more-263"></a></p>
<p>Soalnya 20 tahun yang lalu gue tergila2 sama dia <img src="http://www.jalankenangan.net/celoteh/wp-images/smilies/laugh.gif" />. Namanya Rolf Magnus Joakim Larsson, tapi lebih dikenal sebagai <strong>Joey Tempest</strong>. Vokalis band rock tahun 80-an ini menjadi beken setelah merilis album <a href="http://www.youtube.com/watch?v=LpJ_phCLWQE">The Final Countdown</a> bersama band-nya, <a href="http://www.europetheband.com">Europe</a>, di tahun 1986. Ya maklum dong, walaupun kulit masih kencang dan suara masih seperti anak SMA (kata mbak <a href="http://tentangkami.wordpress.com">Indah Juli</a>, hihihihi), gue kan angkatan delapanpuluhan!</p>
<p>Kadang nggak habis pikir juga ya, karena sekarang sih kalau gue liat2, dia nggak yang cakeeeeeeeeep banget gitu <img serc="http://www.jalankenangan.net/celoteh/wp-images/smilies/blush.gif" />. Rambutnya (waktu itu) gede banget sesuai tren pada jamannya. Bodinya OKlah, tinggi-langsing-lumayan berisi. Dandanannya khas rocker delapanpuluhan yang glamor dan &#8220;tertata&#8221;, nggak <em>effortless</em> seperti rocker <em>grunge</em> tahun sembilanpuluhan.</p>
<p>Sebelum tergusur <strong>Jon Bon Jovi</strong> yang bertahan sampai gue nikah, Pak Joey ini adalah idola masa ABG gue. Yang mana gue, nggak seperti ABG pada jaman itu, lebih suka tipe2 rocker dibanding tipe boyband manis seperti Tommy Page atau Joe McIntyre. Deretan idola gue lainnya, ada <strong>Bret Michaels</strong>-nya Poison, <strong>Jani Lane</strong>-nya Warrant (woy, jeng <a href="http://babyhakunamatata.multiply.com">Ket</a> <img src='http://www.jalankenangan.net/celoteh/wp-images/smilies/wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' />  ). Bahkan, dengan terpaksa gue harus malu2 mengakui bahwa gue pernah suka sama <strong>Mike Tramp</strong>-nya Mbak Ayu Khadijah Azhari&#8230; hihihihi&#8230;</p>
<p>Ya sud, sekarang giliran kamu. Cerita dong, siapa idola masa ABGmu! Oh ya, <em>last but not least</em>, selamat ulang tahun ya Pak Joey!
</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.jalankenangan.net/celoteh/?feed=rss2&amp;p=263</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>
