WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
SHOW COLUMNS FROM wp_tla_data LIKE 'post_id'

WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
ALTER TABLE `wp_tla_data` ADD `post_id` BIGINT( 20 ) UNSIGNED NOT NULL DEFAULT '0' AFTER `id` ;

WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
ALTER TABLE `wp_tla_data` ADD INDEX ( `post_id` ) ;

WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
SELECT * FROM wp_tla_data


Warning: Cannot modify header information - headers already sent by (output started at /home/sloki/user/t81978/sites/jalankenangan.net/www/celoteh/wp-includes/wp-db.php:104) in /home/sloki/user/t81978/sites/jalankenangan.net/www/celoteh/wp-rss2.php on line 8
celoteh http://www.jalankenangan.net/celoteh karena celoteh kemarin adalah untuk hari ini dan esok Thu, 28 Jan 2010 14:46:48 +0000 http://wordpress.org/?v=2.0.5 en kilas balik semester pertama (2) - fashion and beauty http://www.jalankenangan.net/celoteh/?p=292 http://www.jalankenangan.net/celoteh/?p=292#comments Thu, 28 Jan 2010 14:46:48 +0000 yanti fesyen life without highheels http://www.jalankenangan.net/celoteh/?p=292

WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
SHOW COLUMNS FROM wp_tla_data LIKE 'post_id'

WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
ALTER TABLE `wp_tla_data` ADD `post_id` BIGINT( 20 ) UNSIGNED NOT NULL DEFAULT '0' AFTER `id` ;

WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
ALTER TABLE `wp_tla_data` ADD INDEX ( `post_id` ) ;

WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
SELECT * FROM wp_tla_data

Duh, ini blog dan seluruh website saya sempat down beberapa hari nih. Gara2 telat bayar domain, hehe. Jadi malu. Sekarang, karena sudah bayar, saya jadi semangat mau ngeblog lagi. Walaupun cuma satu post, tapi kan kelihatan kalau saya nggak percuma bayar domain dan hosting. Tadinya saya mau bikin semacam “kaleidoskop” peristiwa2 yang paling berkesan selama tahun 2009. [...]]]>

WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
SHOW COLUMNS FROM wp_tla_data LIKE 'post_id'

WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
ALTER TABLE `wp_tla_data` ADD `post_id` BIGINT( 20 ) UNSIGNED NOT NULL DEFAULT '0' AFTER `id` ;

WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
ALTER TABLE `wp_tla_data` ADD INDEX ( `post_id` ) ;

WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
SELECT * FROM wp_tla_data

Duh, ini blog dan seluruh website saya sempat down beberapa hari nih. Gara2 telat bayar domain, hehe. Jadi malu.
Sekarang, karena sudah bayar, saya jadi semangat mau ngeblog lagi. Walaupun cuma satu post, tapi kan kelihatan kalau saya nggak percuma bayar domain dan hosting.
Tadinya saya mau bikin semacam “kaleidoskop” peristiwa2 yang paling berkesan selama tahun 2009. Tapi kok rasanya banyak hal yang terlalu pribadi ya. Sementara yang cukup “umum” kan sebagian besar sudah sering diceritakan. Ya sutra, ganti topik ah!

Ingat nggak, di awal kuliah saya pernah bilang, my chapter of life as a student will be a life without high heels. That is mostly true: saya jarang2 pakai high heels ke sekolah, kecuali ada presentasi yang menuntut saya berpakaian lebih rapi. Atau saya lagi pengen cecentilan pake sepatu boot saya yang setinggi lutut dan berhak (maksudnya bukan berhak as in berkewajiban ya) 7 senti.

Walaupun saya nggak fashionable amat, walaupun saya nggak langsing2 amat, nggak terawat2 amat seperti seorang artis sinetron berinisial AS yang sedang kuliah di Australia juga, sepertinya seru juga mencatat tentang fashion and beauty saya selama kuliah. Karena biar bagaimanapun, hampir satu dekade saya kerja jadi mbak2 kantoran (istilahnya Trinity “Naked Traveler”) yang punya pakem berpakaian tertentu, pastilah ada perubahan yang cukup signifikan dengan penampilan saya saat saya kuliah. Saya nggak mau lah pakai blazer ke kampus. Tapi tetap pengen kelihatan gaya, nggak harus kelihatan seperti ABG, tapi sesuai umur saya, gitu.

Deuh Neng, makan tuh gayaaaa!!!

Efek “makan gaya” adalah: bawaan saya ke Australia bulan Agustus lalu tuh asli banyak banget! Isinya sebagian besar tentu saja baju, sepatu, dan tas. Depkominfo yang baik hati berhasil dapat tiket pesawat dengan baggage allowance seberat 30kg. Tapi itu pun saya sudah nyaris overweight! Ya saya sadar diri aja, beasiswa pas2an, kan saya nggak mungkin banyak belanja di Adelaide. Jadi perlengkapan perang saya harus dibawa dari sini semua. Beberapa hal yang saya ingat pas berangkat:

  • Adelaide punya musim dingin dan musim panas. Jadi saya harus menyiapkan kostum untuk rentang suhu 10° sampai 40° Celcius. Serius, musim panas di sana ekstrem banget. Seperti berdiri di depan hair dryer. Dan musim dinginnya, walaupun nggak terlalu dingin dan nggak bersalju, sangat “basah” dan anginnya kencang.
     
  • Pengalaman waktu S1 dulu, saya rada susah cari sepatu di negara2 Barat gara2 ukuran kaki saya relatif mini. Jadi saya siap2 dong, bawa 5 sepatu flats (yang dua pasang beli di kaki lima Jalan Kepatihan, haha!), 2 high heels, 1 boots pendek yang umurnya lebih tua dari Naila (waktu berangkat dipakai, biar nggak menuhin koper), plus 1 sandal. Semua bisa compressed jadi 1 koper_besar.zip dan 1 cabin_luggage.zip. Hebat juga ya saya packingnya, hehe.

    Pssst, sebulan di Adelaide, boots tua itu jebol, jadi ada alasan buat beli boots selutut yang keren itu. Pas lagi sale dan ada ukuran saya. Huhuy!!
     
  • “Kalau kopernya masih muat, bawa baju nasional atau kebaya,” begitu pesan Ika Swatika yang alumnus CMU sebelum saya berangkat. Ya dimuat2in dong, kan saya bangga sama baju tradisional Indonesia! Jadi saya bawa satu stel kebaya dan sarung batik, dress batik, dan beberapa atasan batik gaya untuk sehari2. Kalau ini sih kayaknya berhubungan sama signature style saya yang emang maniak batik. Tuh lihat foto di bawah, itu waktu Batik Day tanggal 2 Oktober 2009, saya ikutan juga kan!
     
  • Bawaan lain yang juga penting karena di Australia lebih mahal: perlengkapan lenong alias dandan, payung (penting!!), aksesoris sebangsanya kalung/gelang/anting2, dan buat saya sih hair dryer sang sahabat setia.

Fashion

Saya datang ke Adelaide bulan Agustus, saat winter. Di sana winternya nggak dingin2 amat. Nggak harus pakai winter coat yang super tebal, pakai jaket dan cardigan sudah cukup. Saya sih hobi pakai cardigan dan dalaman tanktop, lalu pakai kalung. Bawahnya cukup jeans tanpa stocking dalaman. Kalau pakai rok, ya pakai stocking lah. Soal jaket, saya sukanya jaket yang agak panjang, biar nggak balapan kalau cardigan saya panjang juga. Tapi jaket pendek juga OK kok kalau pakai jeans.

Seperti kota2 lain di Australia, Adelaide bisa punya four seasons in a day. Alias, cuacanya bisa berganti2 hanya dalam hitungan jam. Ramalan cuaca jadi sahabat saya biar nggak salah kostum. Yang paling aman sih sedia baju berlapis: jaket, baju atau cardigan, dan t-shirt atau tanktop di dalamnya. Kadang saya pakai baju lengan pendek dengan dalaman lengan panjang, seperti gaya mbak2 berjilbab gitu lho. Nanti kalau cuaca dingin, dalaman dan/atau jaketnya dipakai. Atau saat suhu udara naik, saya ke kamar mandi untuk melepas dalamannya.

Musim dingin sih “gampang”: kalau kurang hangat tinggal tambah lapisan baju, beres deh. Yang seru kalau musim panas nih. Masa mau telanjang? Salah2 kulit malah kebakar: ya kebakar matahari, ya kebakar malu juga, hehe. Dan saat teman saya yang orang Amerika atau Filipina pakai tanktop bertali spaghetti ke sekolah, saya kok ngerasa nggak bisa ya mengikuti gaya berpakaian seperti itu.

Saya sih hobinya pakai celana pendek, rok atau dress yang berlengan, panjangnya minimkal sedikit di atas lutut. Kalau suhunya masih seperti di Bandung gitu, nggak terlalu panas, pakai bawahannya legging juga enak. Bahan dress yang nyaman adalah dari kaos, campuran lycra, atau katun seperti -tentunya- batik! Kalau pakai celana pendek juga begitu, saya senang sesekali pakai atasannya batik. Nasionalis, gaya, dan adeeeeemmm…

Untuk aksesorisnya, biar nggak keramean dan pas dengan tema “anak kuliahan” (halah!), saya nggak pernah pakai lebih dari dua macam. Less is more. Kalau sudah pakai kalung, nggak usah pakai anting. Kalau sudah pakai gelang besar, nggak usah pakai cincin besar. Saat musim dingin, bisa juga pakai syal yang selain bikin hangat, juga menggantikan fungsi kalung.

Saran dari orang asli Adelaide sih, sebaiknya musim panas pakai topi untuk menangkal sengatan matahari. Sayangnya saya belum pede pakai topi euy. Kacamata hitam juga penting, sampai2 sebelum berangkat saya pesan kacamata minus dengan lensa warna hitam. Bukan semata2 buat gaya, tapi juga karena sinar mataharinya sangat menyilaukan dan bikin saya pusing. Soal alas kaki, kalau musim panas sih tinggal pakai sandal. Untungnya kampus saya nggak reseh soal pakaian, mau pakai sandal jepit juga boleh2 saja. Saya sih sukanya pakai sepatu flats atau sandal gladiator.

Tiap hari saya bawa laptop ke sekolah. Masalahnya, saya sering bosan pakai ransel. Dan kadang kan tema baju saya nggak cocok dengan ransel. Jadi kadang saya bawa tas model cewe yang agak besar, biar laptop saya berikut bungkusnya bisa masuk situ. Tapi seringnya saya masih harus bawa tas tambahan, semacam tas belanja yang bisa dipakai berulang2, untuk tempat bekal makan siang (saya masak sendiri biar irit). Akhirnya malah seringkali dibalik: bekal dan kabel2 masuk ke handbag, laptop masuk ke tas belanja, hehe.

Beauty

Soal kecantikan sebenarnya sangat erat dengan kesehatan kulit. Apalagi selama jadi mahasiswa, saya hampir nggak pernah pakai foundation kecuali untuk acara resmi. Jadi jelas kan, kulit yang sehat adalah kunci penampilan. Padahal kondisi dan situasi selama kuliah sangat nggak bersahabat buat kulit: udara kering, sering bergadang alias kurang tidur, dan sinar matahari yang sangat terik saat musim panas.

Untuk menjaga kesehatan kulit itu, saya rajin pakai body lotion dan sunblock di badan. Lalu pakai moisturizer merangkap anti aging serum untuk wajah, diikuti sunblock khusus wajah dengan SPF 30. Lingkungan yang kering membuat saya mengantongi lipbalm dan bawa hand cream ke mana2. Dan sebagai salah satu resolusi saya saat ulang tahun, never forget to apply eyecream! Yaaaa.. walaupun saya seorang ibu, punya anak, tapi saya lebih pengen kelihatan seperti mbak2 daripada ibu2. Dengan kata lain: awet muda, hehe.

Terus, gimana sih dandanan saya sehari2? Seperti saya sudah singgung tadi, saya jarang pakai foundation. Paling2 pakai concealer untuk menutupi bekas2 jerawat. Setelah itu pakai bedak tabur dan sedikit blush biar nggak pucat. Di bagian mata, saya cuma pakai eyeliner coklat dan maskara biar mata kelihatan lebih kinclong walaupun kurang tidur. Saya nggak pakai lipstik, cuma pakai lipgloss berwarna natural.

Yang juga penting adalah membentuk alis, karena alis adalah bingkai wajah. Selama ini sih saya selalu membentuk alis sendiri. Tapi kapan2 saya pengen nyoba juga ah, ke tempat “tukang alis” kenalannya teman sekelas saya Shweta. Hasil kerjaannya bagus, nggak terlalu tipis, dan tarifnya murah karena dia “praktek” di rumah.

Intinya, it’s not only about what you wear, but also how you wear it. Duh, emang ribet ya jadi cewe. Tapi saya nikmatin banget kok!

]]>
http://www.jalankenangan.net/celoteh/?feed=rss2&p=292
pangandaran http://www.jalankenangan.net/celoteh/?p=291 http://www.jalankenangan.net/celoteh/?p=291#comments Wed, 13 Jan 2010 15:52:14 +0000 yanti kisah kecil perjalanan http://www.jalankenangan.net/celoteh/?p=291

WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
SHOW COLUMNS FROM wp_tla_data LIKE 'post_id'

WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
ALTER TABLE `wp_tla_data` ADD `post_id` BIGINT( 20 ) UNSIGNED NOT NULL DEFAULT '0' AFTER `id` ;

WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
ALTER TABLE `wp_tla_data` ADD INDEX ( `post_id` ) ;

WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
SELECT * FROM wp_tla_data

Liburan lalu kita jalan melulu. nggak dari awal liburan banget juga memang, karena Abang baru libur tanggal 25. Jadi beberapa hari pertama Naila di rumah saja, dan saya sibuk ‘ngempesin badan’ biar nggak kebangetan gendutnya waktu liburan nanti. Kita ke Pangandaran tanggal 26 sampai 28, lalu ke Bogor tanggal 30, ke Jakarta tanggal 1, dan [...]]]>

WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
SHOW COLUMNS FROM wp_tla_data LIKE 'post_id'

WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
ALTER TABLE `wp_tla_data` ADD `post_id` BIGINT( 20 ) UNSIGNED NOT NULL DEFAULT '0' AFTER `id` ;

WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
ALTER TABLE `wp_tla_data` ADD INDEX ( `post_id` ) ;

WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
SELECT * FROM wp_tla_data

Liburan lalu kita jalan melulu. nggak dari awal liburan banget juga memang, karena Abang baru libur tanggal 25. Jadi beberapa hari pertama Naila di rumah saja, dan saya sibuk ‘ngempesin badan’ biar nggak kebangetan gendutnya waktu liburan nanti. Kita ke Pangandaran tanggal 26 sampai 28, lalu ke Bogor tanggal 30, ke Jakarta tanggal 1, dan kembali ke Bandung tanggal 3.

Seperti Nita juga, saya sempat khawatir nggak jadi liburan. Mau berangkat ke Pangandaran tgl 26 pagi, eh tanggal 24 malam Naila agak panas badannya. Alhamdulillah setelah diberi parasetamol dan dikompres, nggak naik2 lagi suhunya.

Day 1

Tanggal 26 kita berangkat jam 7 pagi, supaya jalan belum terlalu penuh. Alhamdulillaah lancar. Kita sempat berhenti sekali di SPBU sebelum Ciawi karena Naila mengeluh pusing. Maklum, antara Nagrek sampai Ciawi kan jalannya belok2 seperti rambut saya. Tapi syukur, kita nggak sampai muntah walaupun nggak ada yang makan obat anti mabuk.

Seperti waktu saya kecil, Naila nggak tidur di jalan. Dia sibuk memperhatikan, ini kota apa. Lalu saya menunjukkan tonggak batu putih (”pal”) di sisi jalan yang fungsinya menunjukkan jarak ke kota berikutnya. She was very excited.


Sampai di Pangandaran jam 11.30. Setelah bayar tiket masuk sebesar Rp.13.500,- untuk seisi mobil, kita langsung menuju hotel Mustika Ratu di Jalan Kalen Buaya. Kamarnya masih dibersihkan, jadi belum bisa check-in. Ya sudah, kebetulan jam makan siang. Kita ke daerah Pantai Timur, agak ke utara ada kumpulan resto seafood. Kita bisa memilih seafood mentahnya sendiri, ditimbang, lalu tinggal minta mau dimasak apa. Harga seafoodnya mah wajar, tapi kelapa mudanya nggak sopan! Lain kali kalau mau minum kelapa muda mending di warung2 aja. Siang ini kita makan bawal bakar, kerang simping saus tiram, dan ca kangkung.

Hotel kita ini letaknya nggak di tepi pantai, tapi lewat pintu belakangnya kita bisa mencapai pantai hanya dengan 3 menit jalan kaki. Rate-nya nggak terlalu mahal untuk hotel sekelasnya: saat musim liburan Tahun Baru yang lalu, untuk kamar standar yang dilengkapi AC dan TV hanya 400 ribu rupiah saja. Oke kan?

Kawasan Pangandaran ini bentuknya seperti semenanjung yang diapit dua teluk. Mirip2 bagian selatan Pulau Bali deh! Kalau di Bali ada Kuta di sisi barat semenanjung, di Pangandaran ada Pantai Barat. Di timurnya, kalau di Bali ada Sanur, di sini ada -logically- Pantai Timur. Di ujung selatan semenanjung terdapat Cagar Alam Pananjung.

Setelah istirahat di hotel, shalat, dll, kita ke Pantai Barat. Tujuan utama: main air! Nggak seperti waktu ke Anyer tahun 2007, atau ke Sikuai tahun 2008, kali ini Naila jauh lebih berani main dengan air laut. Pantainya sendiri walaupun ramai (thus agak kotor, hiks), tetap menyenangkan, lebar mirip Kuta cuma pasirnya hitam. Ada kawasan yang aman untuk berenang dan ada juga kawasan khusus untuk surfing. Bedanya di sini banyak kapal2 yang menawarkan wisata perahu ke Pasir Putih (sekitar 30 menit berlayar), atau bahkan mengelilingi semenanjung. Kios2nya juga tertata rapih. Pedagang2nya terbilang sopan dan ramah. Walaupun sempat dihantam tsunami tahun 2006 yang mengakibatkan kerusakan cukup parah, Pangandaran sanggup bangkit bahkan lebih baik daripada sebelum musibah.

Demi keamanan, pantai ini dilengkapi menara2 dan tim pengawas pantai. Dari menara2 itu selalu diumumkan bahwa pantai hanya dibuka untuk berenang dari jam 6 pagi sampai jam 5 sore, karena ombak di luar jam2 tersebut relatif besar dan berbahaya. By the way, saya baru tahu kalau pengawas pantai tuh punya nama keren: Badan Penyelamat Wisata Tirta (Balawista).

Habis maghrib kita cari makan. Biar nggak bosan, kita makan chinese food di Jalan Kidang Pananjung. Selesai makan Naila udah tepar, ngantuk. Ternyata biological clock-nya nggak berubah walaupun sedang liburan. Jam 19.30 sudah masuk ke standby mode. Jadi ya nggak ada deh yang namanya jalan2 menikmati malam. “Untung”nya cuaca mendukung: HUJAN DERAS!

Day 2

Paginya, dalam keadaan belum mandi dan belum sarapan, kita nyewa ATV. Karena musim libur jadi rada mahalan dikit nih, ATV ukuran besar yang muat 3 orang harganya jadi 150 ribu per jam. Kita jalan2 ke Pantai Timur. Berbeda dengan Pantai Barat, di Pantai Timur nggak boleh berenang. Tapi di sini tersedia olahraga air seperti banana boat, dan juga pelabuhan nelayan. Di Pantai Timur juga banyak warung2 yang menyediakan makanan untuk sarapan seperti kupat tahu atau bubur ayam, terutama bagi wisatawan yang menginap di pondokan2 yang nggak menyediakan makan pagi.

Pagi itu ada nelayan2 yang baru datang dari laut. Sedih deh, tangkapannya nggak banyak. Nggak kebayang ya, berjam2 di tengah laut, dalam hujan dan ombak besar, tapi cuma dapat ikan kecil2 yang sepertinya kalau dilelang juga nggak seberapa.

Dari sana kita berkeliling2 lagi. Lucu juga, ATVnya bisa dipakai menyusuri Pantai Barat, jalan di pasir gitu. Dan ternyata pagi2 begini pantai sudah mirip cendol aja! Kita juga sempat lihat2 kaos2 souvenir. Kita bertiga beli kaos barong: Abang warna biru, saya warna pink, Naila warna kuning. Kata Naila, kita jadi barong family, hehe.

Highlight of the trip buat saya adalah: Green Canyon! Sehabis mandi dan sarapan, kita langsung menuju ke sana. Sengaja pagi2, karena kalau makin siang bakal makin penuh dan antri. Letak objek wisata ini sekitar 30 km ke arah barat, melewati kota kecamatan Parigi dan Cijulang. Untuk sampai ke Green Canyon itu sendiri, kita harus naik perahu dari Dermaga Ciseureuh. Bayar 75 ribu rupiah per perahu yang bisa muat sampai 5 orang, lalu dapat nomor antrian. Setiap perahu diawaki satu “pengemudi” merangkap guide, dan satu juru mesin. Alhamdulillaah, pagi itu jam 8.30, kita bisa langsung naik perahu menyusuri Sungai Cijulang ke arah hulu.

Air sungai tampak hijau, dengan tepian yang sesekali bertebing. Airnya tenang yang menandakan sungai cukup dalam. Konon dalamnya sekitar lima sampai tujuh meteran, dan ada buaya yang hidup di sini. Perjalanan dengan perahu memakan waktu kira2 20 menit, dan sampailah kita di canyon yang menyerupai terowongan atau goa. Inilah batas akhir perahu. Penduduk sekitar menyebut tempat ini Cukang Taneuh alias Jembatan Tanah. Memang bagian atas goa merupakan jalan setapak, sementara di dalam goa terdapat banyak stalagmit dan stalaktit. Dari kiri kanan tebing air menetes seperti tirai. Cantik sekali, walaupun kesannya agak misterius.

Kalau mau, di sini kita bisa turun dari perahu, baik sekedar berdiri di batu2 karang ataupun berenang ke arah hulu. Konon pemandangannya cantik, bisa berenang di Kolam Putri (semacam cekungan kecil), atau meloncat dari ketinggian Batu Payung. Untuk itu kena biaya tambahan sekitar seratus ribu rupiah. Guide di kapal kita akan memandu, dan barang2 bisa dititipkan di perahu yang dijaga juru mesin.

Karena sedang musim libur, ternyata ada beberapa pengemudi perahu yang belum terampil atau belum terbiasa menjalani rute ini pun “memaksakan diri” membawa perahu ke canyon. Beberapa perahu sempat nyangkut di antara bebatuan canyon. Maklum, tempatnya sempit, padahal perahu yang bercadik cukup lebar itu harus memutar arah. Sempat heboh juga waktu itu. Untungnya perahu kita dikemudikan orang yang sudah pengalaman.

Mantap bukan?

Dari sana kita menuju Pantai Batu Karas, sekitar 10 km ke arah barat daya. Pantai ini nggak terlalu luas, ada sedikit tebing2 karang, dan masih lebih alami. Di sini kita nggak boleh berenang, tapi pantai ini sangat cocok untuk surfing. Penginapan2 mulai banyak, dan juga ada surfing course bagi yang mau belajar.

Setelah ngemil2 roti dan perbekalan lain, kita kembali ke Pantai Timur Pangandaran untuk makan siang. Kali ini menunya seafood lagi: kepiting saus padang, tumis genjer, dan kerang simping saus tiram untuk Naila. Setelah istirahat sebentar, kita kembali menghabiskan sore di pantai sampai kita bertiga basah dan berpasir dari ujung rambut sampai ujung kaki.

Day 3

Huhuhu, hujaaaaan sejak pagi. Ya sud daripada berlama2 di Pangandaran yang basah dan kelabu, kita memutuskan untuk pulang pagi ini. Setelah sarapan, kita belanja oleh2: sawo, manggis, gula merah, ikan asin kecil2, dan jambal roti (sekitar 50 ribuan sekilonya). Sebaiknya beli ikan asin di kompleks pertokoan dekat Jalan Eyang Jagalautan, karena jambalnya benar2 kering dan nggak akan ber-ulat walaupun disimpan agak lama.

Perjalanan pulang ke Bandung alhamdulillaah juga lancar, walaupun relatif lebih ramai. Nggak macet sih, cuma sedikit oray-orayan alias uler2an dari sejak Jamanis sampai lepas Nagrek. Kita sempat berhenti makan siang dan shalat Zhuhur di resto Sunda Ponyo di Cicalengka, dan sampai di Bandung jam 14:30.

]]>
http://www.jalankenangan.net/celoteh/?feed=rss2&p=291
what motherhood has taught me so far? http://www.jalankenangan.net/celoteh/?p=290 http://www.jalankenangan.net/celoteh/?p=290#comments Wed, 23 Dec 2009 17:10:48 +0000 yanti ilham http://www.jalankenangan.net/celoteh/?p=290

WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
SHOW COLUMNS FROM wp_tla_data LIKE 'post_id'

WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
ALTER TABLE `wp_tla_data` ADD `post_id` BIGINT( 20 ) UNSIGNED NOT NULL DEFAULT '0' AFTER `id` ;

WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
ALTER TABLE `wp_tla_data` ADD INDEX ( `post_id` ) ;

WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
SELECT * FROM wp_tla_data

Two days ago, my friend Hanifa Ambadar contacted me. Also known as Hanzky, she is the founder of the most famous Indonesian fashion, beauty and style online media: Fashionesedaily.com. This site has now two sister sites: Mommies Daily and Fame n Frame. The first one is as the name told, all about being a mom. [...]]]>

WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
SHOW COLUMNS FROM wp_tla_data LIKE 'post_id'

WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
ALTER TABLE `wp_tla_data` ADD `post_id` BIGINT( 20 ) UNSIGNED NOT NULL DEFAULT '0' AFTER `id` ;

WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
ALTER TABLE `wp_tla_data` ADD INDEX ( `post_id` ) ;

WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
SELECT * FROM wp_tla_data

Two days ago, my friend Hanifa Ambadar contacted me. Also known as Hanzky, she is the founder of the most famous Indonesian fashion, beauty and style online media: Fashionesedaily.com. This site has now two sister sites: Mommies Daily and Fame n Frame. The first one is as the name told, all about being a mom. And the second site discusses on celebrity style.

Long story short, she asked me to contribute on a featured page of Mommies Daily which was released on Indonesian Mother’s Day, 22 December. I was supposed to write about what motherhood has taught me. Surprisingly, my writing was up on the page with those from other contributors, who are mostly famous women in Indonesian internet world. I am touched, Han, thank you :) .

This this what I wrote for that page:

I understand my mom better! Being the same working mother with a daughter, I am doing many things that my mom was doing. Like calling her from wherever I am, at least once daily to ask her the same questions: “How are you today? Have you enjoyed the school today? And what are you doing now? Have you had food?”. I understand about my mom’s concerns and worries, as much as her hopes for her daughter, since I share the same concerns and hopes now. And on top of that, I am even doing things I used to hate when my mom was doing back in my younger years. I used to get tensed when she was telling me to have proper food. But now I am doing it myself to my daughter. I used to think she was nosy when she was telling me things. But like it or not, I am telling Naila the same things she told me almost 30 years back.

After becoming a mother myself, I realised that being a mother is a continuous learning. Every stage of parenting has its own problems, tricks, but also its fun. One thing that I am still learning to do is to always think that Naila is a free and independent individual. I may not force her to be someone I want her to be. I just have to provide the foundation, and let her develop herself based on it. This is not always easy, since as a parent sometimes you want your child to be like you or even better than you. Or you want her doing things or become someone you always wanted yourself to but you could not.

On the other hand, it’s amazing to see how Naila always wants to be like me! I am like her role model, even though I don’t spend that much time with her. Since she was just able to talk a bit, like 1.5 years old or so, she used to say, “Neng mau seperti Bunda”. Well, Neng, I just want you to be “better” than me, in your own way :)

Selamat Hari Ibu, Happy Mother’s Day!

]]>
http://www.jalankenangan.net/celoteh/?feed=rss2&p=290
kilas balik semester pertama (1) - studi http://www.jalankenangan.net/celoteh/?p=289 http://www.jalankenangan.net/celoteh/?p=289#comments Tue, 22 Dec 2009 17:57:56 +0000 yanti life without highheels http://www.jalankenangan.net/celoteh/?p=289

WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
SHOW COLUMNS FROM wp_tla_data LIKE 'post_id'

WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
ALTER TABLE `wp_tla_data` ADD `post_id` BIGINT( 20 ) UNSIGNED NOT NULL DEFAULT '0' AFTER `id` ;

WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
ALTER TABLE `wp_tla_data` ADD INDEX ( `post_id` ) ;

WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
SELECT * FROM wp_tla_data

Beberapa waktu lalu saya dikontak oleh beberapa calon adik kelas yang akan kuliah di CMU bulan Januari 2010 yang akan datang. Sebenarnya saya mau bercerita tentang kesan2 semester pertama lewat pesan pribadi, tapi kemudian saya berubah pikiran. Tulisan ini moga2 bisa menjawab semua pertanyaan teman2, dan mungkin juga bisa berguna buat orang lain. Seperti sudah saya [...]]]>

WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
SHOW COLUMNS FROM wp_tla_data LIKE 'post_id'

WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
ALTER TABLE `wp_tla_data` ADD `post_id` BIGINT( 20 ) UNSIGNED NOT NULL DEFAULT '0' AFTER `id` ;

WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
ALTER TABLE `wp_tla_data` ADD INDEX ( `post_id` ) ;

WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
SELECT * FROM wp_tla_data

Beberapa waktu lalu saya dikontak oleh beberapa calon adik kelas yang akan kuliah di CMU bulan Januari 2010 yang akan datang. Sebenarnya saya mau bercerita tentang kesan2 semester pertama lewat pesan pribadi, tapi kemudian saya berubah pikiran. Tulisan ini moga2 bisa menjawab semua pertanyaan teman2, dan mungkin juga bisa berguna buat orang lain.

Seperti sudah saya singgung sebelumnya, ada dua jurusan di CMU Australia, yaitu Master of Public Policy Management (PPM) dan Master of Information Technology (IT). Ada dua pilihan untuk menyelesaikan kuliah, yaitu secara penuh-waktu atau paruh-waktu. Mahasiswa asing umumnya mengambil program penuh-waktu, sementara program paruh-waktu biasanya diminati karyawan, dan bisa mengambil waktu sampai 5 tahun. Untuk program penuh-waktu jurusan PPM, kita bisa mengambil jalur 3 semester atau 5 semester. Sementara untuk IT hanya ada pilihan jalur 3 semester. Perlu diketahui bahwa yang disebut “semester” sebenarnya adalah caturwulan alias sepertiga tahun. Jadi jalur 3 semester akan memakan waktu satu tahun.


My heart is in the work
Di jurusan MSIT setiap mahasiswa harus menyelesaikan 144 unit alias kredit. Jadi dihitung2, minimal tiap semester ada 48 kredit yang harus diambil. Ada mata kuliah yang bobotnya 12 unit, yang artinya punya 12 pertemuan alias satu semester penuh, masing2 3 jam. Ada juga mata kuliah “mini” yang bobotnya 6 unit dan selesai cuma dalam 6 pertemuan alias setengah semester. Tapi yang namanya mini course ini bukannya lebih ringan, kadang malah bisa lebih berat. Karena materinya hanya beda2 tipis dengan yang satu semester penuh, tapi waktunya hanya separuh semester, maka biasanya mini course punya sejibun tugas.

Dari sekian banyak unit, untuk jurusan IT hanya ada 6 mata kuliah yang wajib, totalnya 66 unit. Sisanya mata kuliah pilihan. Ada dua catatan saya:

  • Untuk mata kuliah yang wajib, kalau kita merasa sudah cukup punya pengetahuan dan pengalaman dalam bidang tersebut, nggak ada salahnya menghubungi dosen mata kuliah tersebut untuk minta exemption. Artinya kita dibebaskan dari mata kuliah yang bersangkutan, dan sebagai ganti unitnya kita bisa mengambil mata kuliah pilihan lain. Jadi jumlah unit yang kita ambil harus tetap, totalnya 144 unit dalam setahun. Biasanya dosen akan memberikan ujian di minggu2 orientasi atau selambat2nya pada pertemuan pertama mata kuliah yang bersangkutan. Saya beruntung bisa dibebaskan dari Object Oriented Programming (Java) dan Database Management, walaupun gagal dibebaskan dari Object Oriented Analysis and Design.
  • Untuk mata kuliah pilihan, sebisa mungkin mengambil mata kuliah yang ditawarkan oleh dosen2 dari CMU Pittsburgh lewat video conference. Walaupun nggak bisa bertemu fisik dengan dosennya, teknologi ini memungkinkan komunikasi dua arah secara real time. Secara umum, dosen2 dari Pittsburgh memiliki kualitas yang baik.

Secara umum kuliah di CMU Australia cukup berat buat saya. Selain karena prosesor otak saya sudah tua dan kapasitas memorinya terbatas, materi disampaikan dalam tempo yang cepat dan ekspektasi dosen juga sangat tinggi. Tiada hari tanpa mengerjakan tugas. Hampir setiap minggu punya 7 hari kerja, karena saya tetap harus belajar atau mengerjakan tugas. Sesekali bergadang, walaupun Satria Bergitar bilang jangan. Dan menjelang akhir semester saya ingin berteriak seperti lagunya Oasis yang nggak pernah dirilis: “STOP THE CLOCKS!!!!!”. Habis gimana, waktu 24 jam pun rasanya nggak cukup. Huwaaaa!

Iya, iya, saya ngerti. Kamu pasti mau bilang, sekolah di mana2 pasti susah. Basi banget, nggak ada cerita lain ya? Well, sekarang saya mau cerita tentang tiga hal yang cukup unik selama semester pertama saya kuliah di CMU: tugas kelompok, partisipasi kelas dan blackboard, dan plagiarisme.

My desk at study roomTugas kelompok

Hampir semua mata kuliah yang saya ambil di semester pertama menuntut tugas atau proyek yang dikerjakan dalam kelompok. Setelah saya amati, yang krusial dalam tugas kelompok ternyata nggak cuma penguasaan materi atau bagaimana me-manage pembagian tugasnya, tapi juga memilih anggota tim yang tepat. Karena kadang ada orang yang bossy ingin selalu mengatur, atau malah ogah ikut kesepakatan tim karena merasa lebih tahu. Ada juga orang yang nggak berkontribusi dengan sejuta alasan.

Serunya lagi, ada orang yang menyenangkan sebagai teman, tapi kurang pas untuk bekerja sama dalam tim. Jadi memang sebaiknya kita dekat dengan semua teman. Dan juga tetap pasang mata dan telinga, biar jeli melihat siapa yang bisa dijadikan teman kerja dalam tim.

Partisipasi dalam kelas dan blackboard

Pada pertemuan pertama, semua dosen wajib menjelaskan silabus mata kuliah yang dibinanya. Juga skema penilaian untuk mata kuliah tersebut, misalnya berapa persen diambil dari tugas, berapa persen dari ujian, berapa persen dari tugas kelompok, dan seterusnya. Nah, hampir semua mata kuliah punya nilai class participation yang diambil dari partisipasi dan aktivitas kita di kelas, baik itu bertanya, menjawab pertanyaan dosen, berdiskusi, dan sebagainya. Jadi kalau kita diam saja di kelas ya rugi sendiri.

Yang kedua masih mirip2, adalah partisipasi blackboard. Blackboard adalah sumber informasi online serbaguna tentang mata kuliah yang kita ambil, di mana dosen bisa memasang materi kuliah, soal2 tugas, dan nilai tugas atau ujian kita dengan privasi dan keamanan terjamin. Blackboard juga dilengkapi dengan forum diskusi yang fungsinya mirip Kaskus, hehe.. Tergantung kebijakan masing2 dosen, kadang aktivitas dan kontribusi dalam diskusi2 di forum ini juga diperhitungkan dalam nilai akhir. Saya sendiri sempat kehilangan beberapa poin karena kurang aktif dalam forum diskusi Telecommunication Management. Jangan ditiru ya!

Plagiarisme

CMU cukup keras menerapkan aturan plagiarisme: ketahuan menyontek, menjiplak, mengkopi, atau lupa mencantumkan referensi akan berakibat fatal pada nilai kita. Banyak kasus teman2 di semester kemarin yang lupa mencantumkan referensi pada tugas Database Management, dan tugas itu tinggal mendapat nilai sekitar 30%. Sayang banget kan!

Masih berhubungan dengan plagiarisme dan tugas kelompok, saya punya pengalaman buruk nih. Jadi ceritanya, salah satu rekan satu tim saya mengerjakan tugas bagiannya dengan mengkopi mentah2 sebuah sumber dari internet. Sebagai compiler yang bertugas mengumpulkan semua bagian dari semua anggota tim, saya sempat curiga pada tulisan tersebut, dan mengingatkan dia untuk menulis ulang. Tapi karena dia nggak bereaksi, dan deadline semakin dekat, saya dan seorang rekan lain mencoba mem-paraphrase tulisan tersebut sebisa kami. Walaupun begitu, ternyata tetap ketahuan oleh dosen mata kuliah tersebut, dan kelompok kami dapat teguran keras.

Dosen tersebut bilang, sebagai sebuah tim, kalian jatuh bangun bersama2. Kali ini beliau hanya memberi nilai jelek pada individu yang melakukan plagiarisme tersebut. Tapi yang akan datang, bisa jadi akan ada dosen yang langsung memberi nilai nol pada seluruh anggota tim. Beliau bilang, seharusnya kalian semua bertanggung jawab atas kualitas tugas yang diserahkan. Saya jadi agak menyesal, kenapa nggak lebih “galak” dan membuang seluruh bagian bermasalah tersebut dari tugas. Nggak perlu merasa pakewuh terhadap yang bersangkutan. Ah sudahlah, toh saya masih sangat bersyukur karena saya pribadi masih mendapat nilai hampir penuh untuk tugas tersebut.

Lesson learned well.

]]>
http://www.jalankenangan.net/celoteh/?feed=rss2&p=289
uighur experience http://www.jalankenangan.net/celoteh/?p=288 http://www.jalankenangan.net/celoteh/?p=288#comments Sun, 13 Sep 2009 15:40:07 +0000 yanti keseharian life without highheels http://www.jalankenangan.net/celoteh/?p=288

WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
SHOW COLUMNS FROM wp_tla_data LIKE 'post_id'

WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
ALTER TABLE `wp_tla_data` ADD `post_id` BIGINT( 20 ) UNSIGNED NOT NULL DEFAULT '0' AFTER `id` ;

WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
ALTER TABLE `wp_tla_data` ADD INDEX ( `post_id` ) ;

WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
SELECT * FROM wp_tla_data

Malam minggu kemarin, dalam rangka pembubaran (?) panitia Indopendence Day 2009, saya mendapatkan pengalaman kuliner yang unik dan menarik. Acara makan malam yang sedianya akan diadakan di Watermark, sebuah resto buffet yang rada ‘wah’ di Glenelg, dipindahkan ke sebuah resto tak dikenal di 580 Port Road. Muti yang berbaik hati nebengin saya dan Sigit kemarin, [...]]]>

WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
SHOW COLUMNS FROM wp_tla_data LIKE 'post_id'

WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
ALTER TABLE `wp_tla_data` ADD `post_id` BIGINT( 20 ) UNSIGNED NOT NULL DEFAULT '0' AFTER `id` ;

WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
ALTER TABLE `wp_tla_data` ADD INDEX ( `post_id` ) ;

WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
SELECT * FROM wp_tla_data

Malam minggu kemarin, dalam rangka pembubaran (?) panitia Indopendence Day 2009, saya mendapatkan pengalaman kuliner yang unik dan menarik. Acara makan malam yang sedianya akan diadakan di Watermark, sebuah resto buffet yang rada ‘wah’ di Glenelg, dipindahkan ke sebuah resto tak dikenal di 580 Port Road. Muti yang berbaik hati nebengin saya dan Sigit kemarin, sampai harus berputar dua kali untuk menemukan resto mungil ini. Memang nggak seorangpun dari 18 orang peserta pernah makan di sini sebelumnya selain Angga, pak ketua.

Resto ini bernama Uighur, nama yang mana sumpah mati nggak berarti apa2 buat saya. Saya dan Sigit sempat sepakat bahwa nama ini berbau Mongolia. Jangan tanya kenapa, cuma feeling kok. Dan ketika memasuki restoran ini, saya seperti dikelilingi beberapa tanda tanya kecil2 di atas kepala. Satu, resto ini memajang logo halal besar, yang artinya dimiliki oleh muslim. Dua, pemiliknya berwajah oriental. Tiga, hiasan2 di resto ini berbau Timur Tengah. Empat, nama2 masakan di daftar menu tuh aneh2 banget, tapi ditulis dalam abjad Latin dan China. Euh, halo?


UyghurPulang dari sana, saya tanya Tante Wiki. Suku Uighur - atau tepatnya Uyghur - ternyata adalah bagian dari rumpun Turki yang tinggal di sisi paling barat China, dekat dengan Kazakhstan dan Mongolia. Seperti leluhurnya yang berasal dari Turki, mereka juga beragama Islam (Sunni). Merupakan bagian dari rute perdagangan yang tersohor sejak ribuan tahun yang lalu, Silk Road alias Jalan Sutra, sekarang kawasan itu menjadi bagian dari propinsi Xinjiang. Walaupun secara resmi mereka menggunakan bahasa Mandarin, mereka tetap melestarikan bahasa asli Uyghur. Jadi empat pertanyaan saya di atas tadi terjawab sudah.

Makanannya sendiri sangat terpengaruh masakan Timur Tengah. Saya sempat kaget ketika hidangan pertama datang. Kebab alias semacam sate, dengan tusuk sate sebesar pedang (hiperbola.com). Bahan makanan yang paling banyak terdapat dalam menu adalah daging kambing dan ayam. Bumbu2nya pun rempah2 Timur Tengah, nggak pedas, tapi cukup ‘menyengat’ lah. Beberapa hidangan disajikan dengan roti ala Turki. Walaupun begitu, pengaruh Cina juga terasa seperti pada lamb stir-fry with spring onion, atau prawn stir-fry yang aslinya tak mungkin dikenal di Uyghur yang terletak di tengah2 benua dan jauh dari pantai.

Arya & Pedang Ayam :D

Semua porsi makanan berukuran jumbo. Jadi sebaiknya kita pesan makanan untuk di-share beramai2. Tapi yang paling menakjubkan sih harganya. Untuk porsi sebesar itu, harga makanan hanya dipatok $10 sampai $25. Menarik kan? Tapi kemarin sumpah deh, saya makan kambing2 enak itu sambil deg2an. Takut kolesterol naik tanpa permisi. Umur emang nggak bisa bohong, hehehe…

]]>
http://www.jalankenangan.net/celoteh/?feed=rss2&p=288
jalan2 gratisan http://www.jalankenangan.net/celoteh/?p=287 http://www.jalankenangan.net/celoteh/?p=287#comments Sat, 29 Aug 2009 10:07:36 +0000 yanti perjalanan life without highheels http://www.jalankenangan.net/celoteh/?p=287

WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
SHOW COLUMNS FROM wp_tla_data LIKE 'post_id'

WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
ALTER TABLE `wp_tla_data` ADD `post_id` BIGINT( 20 ) UNSIGNED NOT NULL DEFAULT '0' AFTER `id` ;

WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
ALTER TABLE `wp_tla_data` ADD INDEX ( `post_id` ) ;

WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
SELECT * FROM wp_tla_data

Selain semua “how-to” yang berhubungan dengan masalah akademis yang tentunya maha penting itu, yang paling ditunggu2 dalam Orientation Program adalah acara jalan2. Gratisan, fun, dan bisa mendekatkan semua teman dalam satu batch sebelum “the real fun” dalam masa perkuliahan tiba. Di minggu pertama, acaranya adalah jalan2 keliling kota Adelaide. Kota ini didesain oleh Colonel William Light [...]]]>

WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
SHOW COLUMNS FROM wp_tla_data LIKE 'post_id'

WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
ALTER TABLE `wp_tla_data` ADD `post_id` BIGINT( 20 ) UNSIGNED NOT NULL DEFAULT '0' AFTER `id` ;

WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
ALTER TABLE `wp_tla_data` ADD INDEX ( `post_id` ) ;

WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
SELECT * FROM wp_tla_data

Selain semua “how-to” yang berhubungan dengan masalah akademis yang tentunya maha penting itu, yang paling ditunggu2 dalam Orientation Program adalah acara jalan2. Gratisan, fun, dan bisa mendekatkan semua teman dalam satu batch sebelum “the real fun” dalam masa perkuliahan tiba.

Di minggu pertama, acaranya adalah jalan2 keliling kota Adelaide. Kota ini didesain oleh Colonel William Light pada tahun 1837. Desain pusat kota ini berbentuk segiempat dengan jalan yang “kotak2″. Dijamin kita nggak akan lama kesasar deh!


Stone gardenPerjalanan dimulai dari kampus yang terletak di pusat kota Adelaide, Victoria Square, kita menyusuri North Terrace yang di sisinya banyak terdapat bangunan2 penting seperti Royal Adelaide Hospital, University of Adelaide, Museum of South Australia, Railway Station, dan sebagainya. Pihak universitas sempat mengingatkan, bahwa di Australia, memotret bangunan2 pemerintahan dan militer seperti pengadilan dan kantor polisi adalah terlarang.

Setelah itu kita dibawa ke Himeji Garden di South Terrace. Taman ini bergaya Jepang, termasuk dengan ‘taman batu’ alias stone garden yang notabene merupakan susunan batu2 dan kerikil khas taman Jepang. Pada hari itu banyak penduduk senior kota yang duduk di taman dan melukis di sana. Sangat menarik, bagaimana mereka menghabiskan hari tua yang penuh waktu luang.

Picnic Haigh's Chocolate

Kita kembali menuju ke utara, ke Light’s Vision di Montefiore Hill, North Adelaide. Di sana berdiri patung Colonel Light, menunjuk ke arah kota Adelaide yang didesain olehnya. Dan setelah makan ala piknik di hamparan rumput Adelaide Botanic Garden, kita mampir ke Haigh’s Chocolate Factory. Cokelatnya eksklusif, tak diekspor keluar Australia, dan perusahaan ini masih tetap bertahan menjadi perusahaan keluarga sampai sekarang.

Glenelg and YunniAcara ditutup dengan mengunjungi pantai paling terkenal di Adelaide, yaitu Glenelg. Cuaca hari itu sangat mendukung, untuk menikmati pantai. Walaupun air masih terasa dingin, teman saya Yunni yang asal China nekat bermain air karena ini adalah pengalaman pertamanya pergi ke pantai.

Foto2 City Tour ada di Facebook saya.

Adelaide Hills

Minggu kedua kita pergi ke daerah perbukitan di sebelah timur kota Adelaide. Berbeda dengan acara jalan2 yang pertama, cuaca kali ini cukup dingin, dengan gerimis dan angin berkecepatan sama dengan mobil di dalam kota. Tapi toh itu semua nggak mengurangi keceriaan kita semua.

Adelaide Hills Trip Route Francis @ Whispering Wall

Persinggahan pertama adalah Barossa Dam, sebuah bendungan sepanjang 140 m yang memiliki efek akustik yang unik. Kalau kita berbisik di ujung dinding bendungan yang satu, suara akan terdengar di ujung bendungan yang lain. Karena itu bendungan ini juga dikenal dengan nama “Whispering Wall”. Walaupun angin kencang menyambut kami di sana, kami tetap berjalan di atas dinding bendungan yang hanya selebar gang senggol itu, untuk mencoba efek unik ini.

Dari sana kami menuju Gumeracha, ke lokasi sebuah pabrik mainan kayu. Ada dua hal yang sangat menarik di sini selain factory outlet mainan. Yang pertama adalah “mainan kuda goyang” terbesar di Australia. Kuda yang memiliki panjang 10,5 meter dan tinggi total lebih dari 18 meter ini menjadi salah satu ikon negara Australia. Hal menarik lainnya adalah sebuah kebun binatang mini di mana kita bisa bermain dan memberi makan kangguru, kambing, dan bermain dengan burung merak.

 Feeding Mama Kangaroo

Me cuddling KoalaSetelah acara makan siang (dan berteduh untuk kami yang berpuasa), kami bergerak ke Gorge National Park, masih dalam keadaan hujan rintik2. Bukan sebuah taman nasional yang besar, tapi di sini terdapat banyak jenis hewan. Mulai dari beraneka burung yang cantik2, kangguru, wallaby, kelelawar, sampai monyet. Yang menjadi highlight di sini adalah pada jam2 tertentu, kita bisa menggendong dan berfoto dengan koala. Lucu banget memang, ngemil2 daun kayu putih.Tapi taruhan, pasti mereka pasti bosen banget diajak berfoto begitu :P .

Setelah mampir di (lagi2) pabrik coklat Melba, kami menuju Hahndorf. Cuaca berubah cerah, matahari muncul, tapi udara masih terasa dingin karena angin bertiup sangat kencang.

HahndorfHahndorf awalnya didirikan oleh pendatang dari Prusia yang dipimpin oleh Kapten Hahn tahun 1638. Pengaruh Jerman sangat terasa di sini. Banyak bangunan bergaya Jerman dengan konstruksi kayunya yang khas, toko2 yang menjual roti dan kue khas Jerman, sosis Jerman, dan tentunya bir Jerman :) . Sayangnya harga di sini nggak murah, mengingat Hahndorf adalah kota turis.

Foto2 Hills Tour ada di Facebook saya.

]]>
http://www.jalankenangan.net/celoteh/?feed=rss2&p=287
CMU, kesan pertama http://www.jalankenangan.net/celoteh/?p=286 http://www.jalankenangan.net/celoteh/?p=286#comments Thu, 13 Aug 2009 14:37:14 +0000 yanti life without highheels http://www.jalankenangan.net/celoteh/?p=286

WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
SHOW COLUMNS FROM wp_tla_data LIKE 'post_id'

WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
ALTER TABLE `wp_tla_data` ADD `post_id` BIGINT( 20 ) UNSIGNED NOT NULL DEFAULT '0' AFTER `id` ;

WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
ALTER TABLE `wp_tla_data` ADD INDEX ( `post_id` ) ;

WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
SELECT * FROM wp_tla_data

Hampir seminggu saya resmi menjadi mahasiswa di Carnegie Mellon University (CMU) Adelaide. Mungkin belum banyak yang tahu, CMU di Adelaide adalah satu dari dua cabang CMU di seluruh dunia, dan merupakan universitas asing pertama di seluruh Australia. Di Adelaide CMU hanya punya dua jurusan: Master of Public Policy Management, dan Master of Information Technology. Kampusnya [...]]]>

WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
SHOW COLUMNS FROM wp_tla_data LIKE 'post_id'

WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
ALTER TABLE `wp_tla_data` ADD `post_id` BIGINT( 20 ) UNSIGNED NOT NULL DEFAULT '0' AFTER `id` ;

WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
ALTER TABLE `wp_tla_data` ADD INDEX ( `post_id` ) ;

WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
SELECT * FROM wp_tla_data

Hampir seminggu saya resmi menjadi mahasiswa di Carnegie Mellon University (CMU) Adelaide. Mungkin belum banyak yang tahu, CMU di Adelaide adalah satu dari dua cabang CMU di seluruh dunia, dan merupakan universitas asing pertama di seluruh Australia. Di Adelaide CMU hanya punya dua jurusan: Master of Public Policy Management, dan Master of Information Technology. Kampusnya pun terbilang kecil, menempati sebuah gedung tiga lantai yang punya nilai historis di Victoria Square.

Dengan total hanya sekitar seratus mahasiswa, nggak banyak orang di luar CMU yang tahu apa itu CMU, hehe.. Padahal konon, untuk Master of Information Technology, CMU Pittsburg adalah salah satu universitas terbaik di seluruh dunia.

Maka percakapan semacam ini sangat umum terjadi, dalam bahasa Indonesia, Inggris, atau apapun:

Q: Kuliah di mana, Adelaide Uni atau UniSA (South Australia)?
A: Di Carnegie Mellon University, di Victoria Square
Q: HAH? Emang di situ ada kampus? CMU apaan sih?
A: (menjelaskan kalimat ketiga dan keempat dari paragraf pertama di atas)

Kapan2 saya akan posting lebih banyak tentang Victoria Square dan bangunan tempat kampus saya berada.

Minggu pertama dan kedua di CMU adalah Introductory Academic and Orientation Program. Jangan bayangkan ini seperti masa orientasi kampus atau Ospek di Indonesia. Program yang ditawarkan benar2 berguna untuk membuat para mahasiswa baru merasa familiar dan homey di kampus, di Adelaide, dan di Australia secara umum.

CMU welcomes us!

Informasi yang ditawarkan kira2 ada empat bagian besar:

  1. Pengenalan akademik, seperti sesi singkat tentang cara menulis essay/paper, informasi tentang plagiarisme, pengenalan aturan2 studi (jumlah kredit, matkul prasyarat, dll), overview matkul yang ditawarkan, cara menyusun rencana studi, dan sejenisnya.
  2. Pengenalan kampus, seperti perkenalan dengan pimpinan, staf, para dosen, layanan2 yang tersedia di kampus, pengenalan ruangan2 di kampus, dan yang serupa dengan itu. Seperti di sekolah2 di Amerika, semua mahasiswa di sini punya locker kecil dengan gembok ala Amerika pula. Hehe, gaya banget deh!
  3. Pengenalan kehidupan di Adelaide, seperti akomodasi, pengenalan kota, transportasi, telepon seluler dan provider internet, budaya Australia, visa, kesehatan dan asuransi, serta isu keamanan.
  4. Sesi informal untuk berkenalan dan mencari pengalaman dari para senior dan/atau alumni.

Mereka juga memperkenalkan tempat2 perbelanjaan yang penting untuk berbelanja dan mencari makan siang, seperti Central Market dan Rundle Mall. Ini penting karena kampus kita nggak punya kantin, tapi lokasinya di pusat kota sehingga kita mudah untuk beli makan. Di Student Lounge tersedia air minum, kulkas, microwave untuk kepentingan makan ini juga :) .

Satu hal yang saya tangkap, kuliah di CMU sangat berat. Setiap mata kuliah menuntut begitu banyak tugas. Jangka waktu program yang hanya setahun membuat banyak materi menjadi dipadatkan. Jika mahasiswa di University of South Australia (UniSA) atau Flinders University banyak yang punya waktu untuk kerja paruh waktu, mahasiswa CMU jarang sekali punya kesempatan seperti itu. Paling2 menjadi asisten profesor atau pekerjaan sampingan lain di kampus. Saya yakin, senior2 saya di CMU seperti Ika dan Budi setuju akan hal ini.

Kita juga disarankan untuk segera mencari tempat tinggal permanen (bagi yang belum) dan settle down di Adelaide sebelum mulai punya banyak tugas nantinya. Dan yang sangat penting, bertemanlah! Karena teman sejati nggak akan meninggalkan kita di saat2 sulit.

Life won’t be so easy at CMU. Walaupun saya kuliah di “cabang Adelaide”, yang notabene sebuah “kelas jauh”, toh ijasah saya nantinya akan sama dengan lulusan CMU Pittsburg yang punya peringkat sangat tinggi di dunia. Mereka nggak akan menurunkan standar untuk CMU Adelaide, dan pasti akan banyak yang harus saya berikan dan kerjakan untuk mencapai standar itu. Sleepless nights, having Panda’s eyes, and becoming a Zombie. Tapi itu adalah harga yang harus dibayar.

Maybe I should put myself into this kind of survival test. And when I finish it later, then I can say that I really have achieved something.

]]>
http://www.jalankenangan.net/celoteh/?feed=rss2&p=286
life without highheels http://www.jalankenangan.net/celoteh/?p=285 http://www.jalankenangan.net/celoteh/?p=285#comments Wed, 12 Aug 2009 14:57:38 +0000 yanti perjalanan life without highheels http://www.jalankenangan.net/celoteh/?p=285

WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
SHOW COLUMNS FROM wp_tla_data LIKE 'post_id'

WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
ALTER TABLE `wp_tla_data` ADD `post_id` BIGINT( 20 ) UNSIGNED NOT NULL DEFAULT '0' AFTER `id` ;

WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
ALTER TABLE `wp_tla_data` ADD INDEX ( `post_id` ) ;

WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
SELECT * FROM wp_tla_data

Seminggu ini segalanya berubah dalam hidup saya. Hampir setengah hari perjalanan telah mengantar saya ke Adelaide, berkat “tendangan sayang” dari Depkominfo yang mengirim saya mendarat di Carnegie Mellon University untuk mengambil Master of Information Technology. Saya berangkat tanggal 5 Agustus malam bersama Fajar. Hari itu saya diantar Abang, Naila, Papa, Mama dan tante saya Bu Tuti [...]]]>

WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
SHOW COLUMNS FROM wp_tla_data LIKE 'post_id'

WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
ALTER TABLE `wp_tla_data` ADD `post_id` BIGINT( 20 ) UNSIGNED NOT NULL DEFAULT '0' AFTER `id` ;

WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
ALTER TABLE `wp_tla_data` ADD INDEX ( `post_id` ) ;

WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
SELECT * FROM wp_tla_data

Seminggu ini segalanya berubah dalam hidup saya. Hampir setengah hari perjalanan telah mengantar saya ke Adelaide, berkat “tendangan sayang” dari Depkominfo yang mengirim saya mendarat di Carnegie Mellon University untuk mengambil Master of Information Technology.

Saya berangkat tanggal 5 Agustus malam bersama Fajar. Hari itu saya diantar Abang, Naila, Papa, Mama dan tante saya Bu Tuti ke bandara. Saya bilang hari itu, karena berhari2 sebelumnya saya “diantar” oleh puluhan teman dalam berbagai acara perpisahan dengan berbagai komunitas. Termasuk penglepasan oleh direksi sehari sebelumnya, yang sudah bikin saya merasa tersanjung karena direksi memberi perhatian begitu besar untuk melepas saya.

Lebih dari 30 kg bagasi juga ikut menemani saya. Sepuluh kilogram lebih banyak karena tiket saya one-way dan visa saya visa pelajar. Itupun rasanya masih kurang. Dasar cewe, sepertinya banyaaak yang harus dibawa. Tapi akhirnya saya menemukan beberapa poin penting:

  • Nggak bisa hidup tanpa sambal? Takut nggak bisa menemukan mie instan di negara tujuan? Jangan takut, kamu kan “cuma” ke negara lain, bukan ke planet Mars. Walaupun mungkin kamu akan sulit menemukan tempe, tapi sambal botol, kecap, mie, dan sejenisnya bisa didapat di toko Asia. Lagipula banyak negara yang cukup ketat melarang masuknya makanan segar maupun kemasan, seperti Australia.
    Jadi daripada menghabiskan kuota bagasi dengan makanan, lebih baik diisi barang lain yang sepertinya lebih berguna. Pakaian misalnya, jauh lebih murah dibeli di Indonesia. Jadi setidaknya perlengkapan dasar seperti pakaian dalam, kaus kaki, t-shirt, sweater, bahkan jaket musim dingin pun bisa dibawa dari Indonesia.
  • Pakaian yang tipis2 seperti kaus dalam/singlet, tank top, kaus kaki, stocking, syal, dan sejenisnya, lebih baik jangan dilipat. Mending digulung saja, dijamin kopermu bakal muat lebih banyak.
  • Pada dasarnya, apa yang harus dibawa atau menjadi prioritas untuk masuk koper, sangat tergantung pada kebutuhan masing2 orang. Saya sih nggak bawa buku sama sekali, tapi ada beberapa e-book di laptop saya. Saya juga nggak bawa rice cooker karena saya fasih bikin nasi dengan cara ngeliwet. Saya juga nggak bawa selimut misalnya. Tapi saya bawa sepatu beberapa pasang, juga tas beberapa biji. Kenapa? Ya karena saya penggila tas dan sepatu, ingat?

Sekedar catatan, saya juga punya beberapa tips untuk terbang ke luar negeri secara umum:

  • Persiapkan bagasi carry-on (tentengan) sedemikian rupa sehingga tidak berisi barang2 yang dilarang masuk pesawat, seperti benda tajam dan cairan di atas 100 ml per botolnya. Ini termasuk gunting kuku, korek kuping, sabun, sampo, body lotion, air mineral. Kamu bakal kaget melihat koleksi sabun cair dari keamanan bandara yang sedang getol2nya membuka semua bagasi tentengan di pintu gate ruang tunggu.
  • Pastikan dokumen perjalanan seperti paspor, tiket dan boarding pass ada di tempat yang mudah diambil, seperti tas selempang kecil atau saku jaket, karena kita bakal bolak balik membutuhkan dokumen2 itu. Jangan lupa bawa bolpen untuk mengisi berbagai form. Juga nggak ada salahnya menyiapkan dokumen2 seperti Confirmation of Enrolment dan Scholarship Award Letter dalam tas tentengan.
  • Cek in dua jam sebelum keberangkatan, dan datang ke gate 30-60 menit sebelum boarding. Saat cek in, tanyakan apakah saat transit kita harus mengambil bagasi dulu, atau bagasi langsung diambil di tujuan akhir.
  • Langsung berpakaian sesuai dengan cuaca di kota tujuan. Kalau kota tujuannya dingin, siapkan beberapa lapis pakaian dan/atau jaket dalam tas tentengan. Tinggal dipakai bila perlu.
  • Persiapkan uang dalam mata uang lokal secukupnya. Nggak usah banyak2 sih, seperlunya saja. Penting terutama kalau kita sampai di kota tujuan di luar jam kerja atau pada akhir minggu.

Enam jam dalam burung besi Qantas ke Sydney lumayan menyenangkan. Saya sempat underestimate makanannya, yang ternyata enyakkkk! Hiburan juga terjamin, karena di kelas ekonomi ini penumpang mendapat display sendiri2 untuk menampilkan movie on demand. Akhirnya saya nonton “17 Again”-nya Zac Efron, BUKAN karena saya suka brondong yang satu ini ya, catet!

Dan setelah transit 3 jam di Sydney ditambah 2 jam penerbangan lokal, saya sampai di Adelaide. Kesannya? Sepi dan seperti “kota mainan” di SimCity. Karena sudah bulan Agustus yang berarti musim dingin sudah hampir berlalu, dan saya juga sudah pernah mengalami cuaca yang jauh lebih dingin daripada suhu belasan derajat Celcius saat ini, saya belum terlalu mengeluhkan soal cuaca.

Kent Town Student VillageSaya dijemput taksi yang dibayar kampus, langsung ke rumah. Rumah ini bisa dibilang dicarikan oleh pihak kampus. Saya tinggal di sebuah apartemen berkamar dua, dengan seorang teman sekelas dari India, Shweta. Rumah ini khusus untuk mahasiswa, nggak terlalu mahal, dan harga sewanya sudah termasuk listrik dan air. Mebel pun sudah lengkap alias furnished, kecuali bantal/selimut dan heater kecil yang bisa saya beli di semua toko yang menjual perlengkapan rumah. Letaknya di Kent Town, dipisahkan dengan Adelaide CBD di mana kampus saya berada oleh taman bernama Rymill Park, serta cuma sekitar 35 menit jalan kaki ke kampus (bisa pakai bis juga). Pasti ada rumah lain yang lebih murah, pasti ada rumah lain yang bisa saya huni bersama orang Indonesia, tapi pasti rumah2 itu jauh dari kampus. .

Kent Town Student VillageDi rumah ini ada sebuah common kitchen di mana kita bisa masak: ada kompor, microwave dan kulkas. Tapi masih harus menyediakan panci/wajan, piring, gelas, dan sendok garpu. Jadi di hari2 pertama saya sibuk bolak balik belanja melengkapi kamar dan perlengkapan masak. Alhamdulillah, saya nggak pernah punya sindrom khas perut melayu yang harus makan nasi. It does mean something when you’re away from home and have to prepare your meal on your own. Di sini nggak ada Bibi yang bisa saya suruh masak.

Segalanya memang berbeda. Banyak yang menanyakan apakah saya kangen rumah, kangen Naila. Tentu saja saya kangen setengah mati! Nggak cuma kangen orang2 yang saya sayangi. Saya juga kangen suasana lalu lintas Bandung yang biasanya bikin saya emosi pas pulang kantor, karena lalu lintas di sini damai banget. Saya kangen Neng Desi, karena saya di sini ke mana2 naik bis dan jalan kaki sambil kadang bertemu Getz silver di jalan. Saya kangen shopping di FO, karena di sini saya nggak punya keleluasaan finansial untuk shopping. Saya bahkan kangen dipanggil Neng atau Teteh karena di sini nggak ada yang manggil saya begitu. Dan masih banyak lagi.

Kangen itu manusiawi. Asal dalam batas wajar dan nggak jadi beban, harusnya nggak apa2 kan? Kangen bukan berarti saya nggak menikmati berada di sini. Saya masih merasa sangat adaptif dan fleksibel. Dan seharusnya saya bisa melewati satu tahun ini dengan baik. Puasa jauh dari rumah, Lebaran jauh dari rumah, bukankah saya sudah pernah melakukannya lima kali?

Banyak juga yang menanyakan kabar Naila. Di luar dugaan Naila nggak nangis sama sekali, baik di bandara maupun sesudahnya, sampai hari ini. Sepertinya usaha saya untuk memberi pengertian sejak pertama kali memulai proses aplikasi beasiswa, ada hasilnya. Dan memang, saya berusaha untuk nggak merusak suasana hatinya dengan menunjukkan emosi berlebihan. Saya percaya, anak sebetulnya butuh somebody to rely on, dan orang2 di sekitarnya harus menunjukkan bahwa kita bisa dan layak menjadi “sandaran” bagi mereka. Dan terlepas dari itu semua, saya kagum dan bangga banget punya anak seperti Naila :) .

Iya, seminggu ini segalanya berubah dalam hidup saya. Sejak Senin lalu saya sudah mengikuti Introductory Academic and Orientation Program di kampus. Sesuatu yang jauh berbeda dengan keseharian saya di Bandung, sebagai karyawan yang juga sibuk ngurus anak. Tapi seperti kata Charles Darwin,

it is not the strongest of the species that survive, nor the most intelligent, but the one most responsive to change

.

Jadi sepertinya memang kita harus selalu siap dengan perubahan.

The next few months will be a life without high heels. Selamat datang di dunia mahasiswa, Neng :) .

]]>
http://www.jalankenangan.net/celoteh/?feed=rss2&p=285
keseharian di TK http://www.jalankenangan.net/celoteh/?p=284 http://www.jalankenangan.net/celoteh/?p=284#comments Wed, 05 Aug 2009 00:15:46 +0000 yanti kisah kecil http://www.jalankenangan.net/celoteh/?p=284

WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
SHOW COLUMNS FROM wp_tla_data LIKE 'post_id'

WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
ALTER TABLE `wp_tla_data` ADD `post_id` BIGINT( 20 ) UNSIGNED NOT NULL DEFAULT '0' AFTER `id` ;

WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
ALTER TABLE `wp_tla_data` ADD INDEX ( `post_id` ) ;

WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
SELECT * FROM wp_tla_data

Sudah lebih dua minggu Naila duduk di TK B. Dipikir2, Bunda bahkan belum pernah menulis tentang pengalaman dan keseharian Naila di TK. Karena hari ini Bunda mau berangkat ke Adelaide, sepertinya Bunda harus mencatat kenangan yang tersisa di sini, sebelum nanti lupa lagi. Salah satu hal yang terasa cukup berat di TK Taruna Bakti adalah jam [...]]]>

WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
SHOW COLUMNS FROM wp_tla_data LIKE 'post_id'

WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
ALTER TABLE `wp_tla_data` ADD `post_id` BIGINT( 20 ) UNSIGNED NOT NULL DEFAULT '0' AFTER `id` ;

WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
ALTER TABLE `wp_tla_data` ADD INDEX ( `post_id` ) ;

WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
SELECT * FROM wp_tla_data

Sudah lebih dua minggu Naila duduk di TK B. Dipikir2, Bunda bahkan belum pernah menulis tentang pengalaman dan keseharian Naila di TK. Karena hari ini Bunda mau berangkat ke Adelaide, sepertinya Bunda harus mencatat kenangan yang tersisa di sini, sebelum nanti lupa lagi.

Salah satu hal yang terasa cukup berat di TK Taruna Bakti adalah jam masuknya yang terbilang pagi: jam 7.00. Wah, tiap pagi ada ‘gempa bumi’ di rumah. Karena walaupun Naila dibangunkan jam 5.30, tetap saja kita nggak pernah berangkat lebih pagi dari 06.30. Padahal Jl.Suci macetnya amit2.

Walaupun selalu heboh pagi2, di TK ini Naila belajar mandiri. Tahu Naila ‘gengsian’, Bunda sering ‘menantang’ Naila untuk melakukan sendiri hal2 yang ia sudah bisa melakukan sendiri. Sejak bulan2 awal sekolah, Naila mandi sendiri, sikat gigi sendiri, pakai minyak telon sendiri. Pakai baju pun hanya dibantu saat menarik ritsleting. Sarapan roti juga sendiri, walaupun lama banget. Mending lah, daripada waktu dicoba sarapan nasi, disuapi pun cuma habis 3 suap dalam waktu 30 menit! Hehe..


Berbeda dengan TK jaman sekarang yang rasio guru-muridnya bisa 1:8 bahkan kurang, di TK Taruna Bakti ada 16-25 anak dalam kelas, dengan 1 guru. Baik-buruknya rasio seperti ini tentu banyak, tinggal ditimbang2 sendiri oleh para orang tua. Tapi sejauh ini sih Naila nggak ada masalah. Di TK A kemarin, Naila di kelas Ibu Ika, dan sekarang TK B dengan Ibu Herna.

Pulang sekolah sekitar jam 10.30. Biasanya Naila dijemput Bibi dan pulang naik angkot. Jadi hanya pagi2 yang diantar Bunda pakai Neng Desi. Tapi sekali seminggu, biasanya hari Rabu, Bunda usahakan kabur dari kantor untuk menjemput Naila. Kalau nggak, Naila suka ngadat sih, hehe..

Naila yang nggak punya teman sebaya di rumah, alhamdulillah nggak ada masalah bersosialisasi di sekolah. Naila punya ‘geng’, hehe, 5 cewe2 mungil, centil dan ceriwis. Sekali2 pernah juga sih, clash sampai ada yang nangis. Katanya sih karena ada yang judes. Tapi waktu dipisah sama Bu Ika, dipindah duduknya atau disuruh main dengan yang lain, pada keukeuh nggak mau. Malah ada yang mau nangis megangin kursinya, takut dipindah, hahaha! Dasar anak sekarang.

Naila and the gang

Waktu TK A dulu, mainan favorit Naila adalah main pasir. Entah gimana mainnya, yang jelas setiap pulang sekolah, Naila bawa pasir di rambut dan sepatunya. Dan gara2 main pasir ini, pernah ada pasir yang menempel di mata, sampai Naila harus dibius di klinik mata untuk mengambilnya. Kapok? Nggak.

Bahasa Inggris diperkenalkan dua kali seminggu di sekolah. Seminggu sekali Naila belajar main pianika. Pelajaran komputer, pengenalan kesehatan gigi dan ekstrakurikuler juga begitu. Naila memilih ekskul vokal, di antara pilihan2 menggambar dan angklung. Tiap Senin pagi pun Naila upacara bendera, jadi sudah hafal lagu Indonesia Raya dan beberapa lagu wajib.

Setiap bulan sekali sekolah mengadakan kegiatan luar sekolah seperti kunjungan ke kebun binatang, Museum Geologi, kebun stroberi, dan sebagainya. Dan beberapa kali Naila diikutsertakan dalam lomba sebagai wakil sekolah. Bahkan sempat juara harapan lomba menyanyi solo dan lomba paduan suara.

Tim Paduan Suara TK Taruna Bakti

Flying FoxAcara kenaikan kelas diadakan di rumah makan dan tempat outbond Sindang Reret, Cikole, Lembang. Nggak disangka, Naila berani lho ikutan flying fox! Mungkin karena semua teman2nya berani, jadi ya Naila ikut berani.

Juara KelasSelama setahun, Ayahbunda melihat perkembangan Naila semakin baik. Menurut Bu Herna, guru Naila di TK B ini, Naila sangat mandiri dan nggak manja, padahal anak satu2nya sejauh ini. Ya, menurut Ayahbunda, anak satu2nya nggak boleh jadi alasan untuk memanjakan. Bahkan Naila mendapat hadiah juara kedua di kelas TK A3 kemarin. Walaupun tentu kriterianya masih sangat subyektif, Ayahbunda bangga sekali. Semoga Naila tetap mempertahankan prestasi, kemandirian dan kematangannya, bahkan semakin baik ya Nai!

]]>
http://www.jalankenangan.net/celoteh/?feed=rss2&p=284
ngebut menuju beasiswa (6) - essay dan hasilnya http://www.jalankenangan.net/celoteh/?p=283 http://www.jalankenangan.net/celoteh/?p=283#comments Fri, 17 Jul 2009 18:24:37 +0000 yanti keseharian http://www.jalankenangan.net/celoteh/?p=283

WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
SHOW COLUMNS FROM wp_tla_data LIKE 'post_id'

WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
ALTER TABLE `wp_tla_data` ADD `post_id` BIGINT( 20 ) UNSIGNED NOT NULL DEFAULT '0' AFTER `id` ;

WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
ALTER TABLE `wp_tla_data` ADD INDEX ( `post_id` ) ;

WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
SELECT * FROM wp_tla_data

Waktu apply beasiswa bulan Februari lalu juga saya harus menjawab beberapa pertanyaan, masing2 sekitar 100-200 kata. Ya ujung2nya memang seperti essay. Tapi essay untuk aplikasi studi ke universitas biasanya berupa personal statement atau motivation letter yang utuh, harus terstruktur dan tentunya dalam bahasa Inggris. Haduuuh, susaaaah! Terus terang essay adalah salah satu momok terbesar saya [...]]]>

WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
SHOW COLUMNS FROM wp_tla_data LIKE 'post_id'

WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
ALTER TABLE `wp_tla_data` ADD `post_id` BIGINT( 20 ) UNSIGNED NOT NULL DEFAULT '0' AFTER `id` ;

WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
ALTER TABLE `wp_tla_data` ADD INDEX ( `post_id` ) ;

WordPress database error: [Can't find file: 'wp_tla_data' (errno: 2)]
SELECT * FROM wp_tla_data

Waktu apply beasiswa bulan Februari lalu juga saya harus menjawab beberapa pertanyaan, masing2 sekitar 100-200 kata. Ya ujung2nya memang seperti essay. Tapi essay untuk aplikasi studi ke universitas biasanya berupa personal statement atau motivation letter yang utuh, harus terstruktur dan tentunya dalam bahasa Inggris. Haduuuh, susaaaah! Terus terang essay adalah salah satu momok terbesar saya dalam rangkaian proses ini. I’m not a good writer, and definitely not in English!

Tapi tenang, semua pasti ada solusinya. Pertama2, cermati dulu syarat essay yang diminta di situs aplikasi universitas. Berapa kata panjangnya, dan apa saya yang harus dimuat di dalamnya. Ada yang bilang, buat saja dalam bahasa Indonesia dulu, lalu diterjemahkan. Yang jelas, saya harus bolak balik merevisi, menambahkan, mengurangi, meminta orang lain mengecek, sampai rasanya sudah “sempurna”.


Ada tips yang cukup bagus tentang menulis Personal Statement. Juga ada beberapa contoh. Yang harus selalu diingat adalah kita menulis dengan jujur, nggak perlu berbunga2 dengan kalimat2 basi, atau justru ngebodor. Tapi tetap harus impresif loh ya!

Sebagai gambaran
, saya menulis tentang ketertarikan saya pada dunia IT sejak dulu, juga alasannya. Lalu tentang latar belakang kuliah saya (yang judulnya telco tapi matkul pilihan yang saya ambil berbau IT semua :P ), tentang pengalaman kerja saya di dunia IT, tentang cita2 saya ke depan. Juga tentang manfaat studi yang akan saya ambil ini untuk kemajuan pribadi, perusahaan, dan untuk Indonesia tertjintah. Lalu dihubungkan dengan program studi yang ditawarkan oleh universitas ybs. Periksa kurikulumnya di situs web mereka, dan pinter2nya kita saja bikin kalimat yang meyakinkan, hehe.

Oh ya, nggak ada salahnya juga pada essay ini saya mencantumkan kelebihan dan kekurangan saya. Juga beberapa kalimat lagi yang intinya menegaskan kenapa saya merasa mampu mengambil program studi tersebut

Karena paspor saya sudah wafat bulan November 2008 lalu, saya harus buat paspor baru. Kebetulan saya (hihi ngaku deh) pakai biro jasa, jadi cuma perlu datang sekali ke kantor imigrasi untuk mengurus paspor. Betenya, pas hari saya datang itu, 6 Mei 2009, hujan lebat. Walaupun sudah pakai payung tetap saja hasil foto saya di paspor itu kucluk abis. Ih, sebel.

Dan sepulangnya dari kantor imigrasi, saya mendapati sebuah buzz dari Didin di Yahoo! Messenger. Saya mendapatkan beasiswa luar negeri Depkominfo untuk studi S2 ke Australia. Walaupun saya langsung jadi gemetar, walaupun saya belum dapat sekolah, walaupun saya agak gamang menghadapi kenyataan ke depan, tetap saja, alhamdulillaah. Saya yakin, ini jawaban atas doa saya minta dipilihkan yang terbaik.

Saya sudah hampir berangkat, makanya saya harus NGEBUT menyelesaikan seri ngebut ini =))

]]>
http://www.jalankenangan.net/celoteh/?feed=rss2&p=283